
Qeena bergegas menuju agen toko perlengkapan kue yang ga jauh dari rumah, dia berjalan kaki dan rencananya nanti pulangnya baru naik ojek.
Pas pulang, Qeena ketemu sama Fajar yang bawa mobil, ga ada jadwal praktek, dia lagi meeting sama temannya yang merencanakan membuka praktek bersama jika ijin praktek mereka sudah turun.
Fajar meletakkan belanjaan Qeena dibagian belakang. Qeena duduk disampingnya.
"Banyak orderan nih" kata Fajar.
"Alhamdulillah" jawab Qeena.
"Kok tampangnya ga happy, kan ada orderan, biasanya kalo ada orderan tuh muka cerah ceria" ujar Fajar.
"Ngantuk" jawab Qeena.
"Ngantuk apa kangen sama yang di Semarang?" ledek Fajar.
"Ngantuk... beneran deh" jawab Qeena.
"Makin cantik aja deh Qeena .. beruntung banget ya Mas Dafi bisa nikah sama seorang wanita seperfect kamu. Herannya kenapa ga menolak Mas Dafi ya? padahal pernah loh nolak Mas sama Damar juga. Apa udah lama punya perasaan lebih ke Mas Dafi?" tanya Fajar serius.
"Dia mungkin bukan tipe yang diidamkan, dia emang bukan seorang yang membuat jatuh cinta, dia juga bukan pahlawan yang selalu menolong disaat terjatuh. Tapi dia selalu ada diwaktu yang tepat. Dia ga sekedar mengisi kekosongan tapi dia mampu menjadikan Qeena lebih percaya diri dan paham apa yang Qeena inginkan. Walaupun hubungan kami berawal dari hal yang ga pernah kami bayangkan sebelumnya, tapi menerima takdir saat ini adalah jalan yang terbaik" ujar Qeena santai.
"Mas Dafi dan kamu sama-sama beruntung, saling melengkapi, saling mendukung .. semoga semua rencana kalian berjalan dengan lancar. Sakit emang merelakan kamu, apalagi sama Kakak sendiri, tapi melihat kamu lebih semangat, melihat kamu lebih bersinar, melihat kamu sering tertawa dan tersenyum .. itu adalah sebuah anugerah terindah yang pernah Mas liat" ungkap Fajar.
"Makasih ya Mas .. selalu menjadi teman yang baik selama ini, menjadi tempat berkeluh kesah .. semoga Mas bisa menemukan wanita baik yang layak buat Mas" ujar Qeena.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Selepas Dzuhur, semua orderannya Pak Shaka udah selesai. Malah akhirnya Qeena dan Mak Nuha jadinya akan menuju Mesjid di komplek perumahannya Pak Shaka, ada mubaligh terkenal mengisi ceramah sholat tarawih hari ini. Dan mereka sangat tertarik.
Dafi udah mengijinkan bahkan Pak Shaka menjamin beliau sendiri yang akan mengantar langsung Qeena dan Mak Nuha pulang ke rumah seusai sholat tarawih.
Qeena juga sudah menelpon Pak Dzul untuk ijin, agar Pak Dzul ga khawatir kalo Qeena pulangnya agak malam.
🏵️
Saat menunggu waktu berbuka, Qeena ngobrol sama Pak Shaka. Mak Nuha ngobrol keluarganya Iqbal.
"Jadi cape ya Qeena .. order dadakan"basa basi Pak Shaka.
"Ga Pak .. Alhamdulillah semua orderan udah ga ada, jadi santai" ucap Qeena.
"Kamu kaya lagi sedih, kenapa? kangen sama Mas Dafinya ya?" tanya Pak Shaka.
"Pak ... sebagai seorang Ayah ... Bapak sayang ga sama anak?" ujar Qeena dengan tatapan kosong.
"Pasti dong .. kenapa nanya begitu? ada masalah sama Ayah kamu?" ucap Pak Shaka.
"Bahkan saya ga tau apa sedang ada masalah sama beliau? kan saya ga pernah tau rasanya ga bermasalah sama beliau" jawab Qeena.
"Ada yang mau dishare? anggap aja Bapak ini orang tua yang bisa kamu mintakan pendapat" kata Pak Shaka.
"Seberapa sayang Bapak ke Mas Iqbal dan Teh Erin?" tanya Qeena makin aneh.
__ADS_1
"Kata-kata kayanya ga mampu menggambarkan kasih sayang Bapak ke mereka berdua. Mereka adalah alasan Bapak menjalani kehidupan ini dengan penuh rasa syukur dan selalu semangat. Bapak sedikitnya tau masalah kamu dan orang tua kamu Qeena .. Bapak ga nyalahin kalo kamu kurang suka sama kehadirannya dalam hidup kamu yang sebenarnya udah mulai tertata rapih. Sekarang semua kembali sama kamu, Bapak cuma bisa mendo'akan yang baik buat kamu dan semua pihak yang ikut terlibat didalamnya" ungkap Pak Shaka.
"Kenapa saya yang harus menanggung kisah masa lalu orang tua saya Pak?" kata Qeena.
"Ga ada seorang anak yang menanggung dosa orang tuanya .. kalo kisah orang tuanya mungkin ada. Orang yang ga suka dan tau kisah kamu pasti terus mengungkit hal itu buat menyerang kamu, so .. buktikan kamu berbeda dari orang tua kamu. Buktikan kalo kamu bisa lebih baik dari mereka. Kamu emang ga bisa mengubah dunia begitu aja, tapi kamu bisa membuat dunia lebih ramah bagi kamu. Paham kan maksud Bapak?" ucap Pak Shaka yang menepuk pundaknya Qeena.
Qeena seperti mendapatkan dukungan dari seorang Bapak, makanya dia ga menarik pundaknya ketika Pak Shaka menyentuhnya.
"Maaf .. Bapak jadi megang kamu, Bapak ga ada maksud apapun, tapi biasanya Bapak akan menepuk pundak anak-anak Bapak sebagai wujud bangga dan yakin kalo anak-anak bisa menjalani ceritanya masing-masing" ujar Pak Shaka.
"Kisah saya hanya berputar disana aja Pak .. sekarang kesabaran saya kayanya udah habis buat menghadapi orang yang ga suka sama saya ... udah terlalu sakit dihina sejak kecil Pak.. rasanya mau pergi dari mereka semua" kata Qeena.
"Kenapa harus pergi? justru kamu harus buktikan ke mereka Qeena .. biar mereka bisa liat kalo kamu spesial" semangat Pak Shaka.
"Bisa apa saya Pak? uang ga ada, harta ga punya, nama baik ... jabatan ... keluarga harmonis ... itu hanya sekedar bayangan. Pake apa saya membuktikannya?" tanya Qeena.
"Selain do'a .. kamu masih punya semangat. Bukankah Mas Dafi selalu ada mendukung kamu? waktu terakhir ketemu Mas Dafi, Bapak sangat suka pemikirannya yang ingin kursusin kamu kebeberapa tempat, bagaimana dia ingin kamu maju dan punya toko kue impian kamu. Katanya .. kamu berjuang cari ilmu bikin kue yang enak dan dia akan berjuang memfasilitasi semua yang kamu butuhkan" papar Pak Shaka.
"Kasian Pak sama dia .. tugasnya didunia ini hanya sekedar mewujudkan mimpi orang lain. Tapi mimpinya sendiri selalu direnggut paksa. Apalagi sekarang .. Mimpinya buat bersanding dengan wanita yang dicintai harus kandas karena pernikahan kami" ujar Qeena.
"Bapak liat dia dan kamu happy aja sama kondisi ini, bukannya dia lagi membuktikan kalo akan membangun mimpi baru sama kamu?" tanya Pak Shaka.
"Ibunya ga suka sama saya Pak" pecah juga unek-unek Qeena.
"Jadi kamu dari tadi muter-muter cuma sekedar mau kasih tau kalo Ibunya Mas Dafi ga setuju?" ujar Pak Shaka.
Qeena menarik nafas panjang tanda dia lelah batinnya.
"Erin juga dulu ga disukai sama Bundanya Aa' Zay. Tapi akhirnya dia bisa membuktikan kalo dia layak menjadi pendamping putera kesayangannya. Orang tua itu punya kacamata batin Qeena. Mungkin fase sekarang, Bu Fia hanya sedang merasa khawatir kalo Mas Dafi akan berubah. Dia khawatir kalah saing sama kamu. Wajar kan seorang Ibu mertua seperti itu. Klasik antara menantu dan mertua perempuan. Sabar aja Qeena .. jangan kamu malah memposisikan Mas Dafi berada ditengah-tengah. Dia masih jadi milik orang tuanya sampai kapanpun, beda sama kamu. Bapak rasa Mas Dafi juga lagi memikirkan formula yang tepat buat menyatukan kamu dan Ibunya. Dukung aja langkahnya Qeena. Suami emang ga selalu benar, tapi suami yang paham itu ga akan mengarahkan kamu ke jalan yang salah" nasehat Pak Shaka.
Pak Shaka kaget juga Qeena melakukan hal ini, karena selama ini Qeena ga mau salaman sama dia. Pak Shaka kemudian kembali menepuk pundaknya Qeena.
"Kamu sekarang udah tau kan harus kemana kalo butuh teman ngobrol" ucap Pak Shaka.
"Udah mau adzan .. kita bersiap Pak" ajak Qeena.
Pak Shaka dan Qeena jalan beriringan, udah mulai ada senyum dibibirnya Qeena walaupun masih tipis.
"Pak ... nanti gantian ya, saya undang Bapak berbuka di rumah saya" ucap Qeena.
"Wah .. ditunggu loh undangannya. Soalnya Bapak mau nyiapin perut dulu biar bisa masuk makanan lezat dalam jumlah banyak" canda Pak Shaka.
"Bener ya .. nanti kalo Mas Dafi udah pulang aja ya biar rame" kata Qeena.
"Siappp" jawab Pak Shaka.
🏵️
"Bun .. kayanya udah sehatan, besok udah mulai shaum lagi dong" tanya Pak Dzul seusai pulang sholat tarawih.
"Iya .. besok juga udah masuk kerja lagi" jawab Bu Fia.
"Kenapa sih Bun .. keliatannya Bunda kaya orang linglung?" tanya Pak Dzul.
__ADS_1
"Ga .. ga ada apa-apa, cuma lagi lemes aja" kata Bu Fia menutupi masalahnya.
Pak Dzul keluar dari kamar, walaupun dia tau Qeena dimana, tapi rasanya ga tenang kalo Qeena belum sampe rumah.
⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️
Flashback...
Setelah mengirimkan rekaman percakapannya dan Pak Iyus ke Bu Fia, Dafi langsung menelpon. Ga pake basa basi, Dafi langsung minta klarifikasi.
"Kenapa Bun? kenapa harus Bunda yang jadi dalangnya? mau taro dimana muka kita dihadapan Qeena dan Mak Nuha?" tanya Dafi penuh kekecewaan.
"Qeena udah tau?" ujar Bu Fia penasaran.
"Tau ... dan sampe sekarang Mas ga bisa komunikasi sama dia" adu Dafi.
"Terus masalahnya apa? kalo dia kecewa sama Bunda terus ga mau lanjutin pernikahan ya udah .. gitu aja kok repot" jawab Bu Fia tanpa beban.
"Bun .. Bunda paham ga kalo apa yang Bunda lakukan itu bisa jadi masalah hukum? Qeena bisa aja laporin Bunda dengan segala bukti yang ada, apalagi Pak Iyus itu kan Bapaknya Qeena .. bisa aja kan beliau membela Qeena" beber Dafi.
"Bapak sama anak tuh sama ... mereka bakalan diam kalo udah disumpel uang" kata Bu Fia.
"Bun... punya hati nurani ga sih? apa udah mati?" ucap Dafi.
"Ini nih yang Bunda ga suka Mas dekat sama Qeena .. jadinya Mas ga hormat sama orang tua. Tau sendiri dia dibesarkan dalam keluarga berantakan, jadinya ga paham cara hormat sama orang tua" jawab Bu Fia.
"Bun ... bukankah nasib Bunda dan dia sama? sama-sama dibesarkan oleh Ibu tunggal? tapi nasib Bunda lebih beruntung karena ketemu Mbah yang kemudian menjodohkan Bunda sama Ayah" kata Dafi.
"Jangan bilang kamu udah cinta sama dia ya? terus perasaan kamu ke Zahwa gimana? ga mungkin dong ilang gitu aja perasaan kamu selama dua tahun terakhir ini" tukas Bu Fia.
"Ketika Mas mengucap ijab kabul malam itu, segala perasaan Mas ke Zahwa ilang gitu aja Bun. Dan Mas baru merasakan bentuk cinta yang sesungguhnya bersama Qeena. Sebuah cinta yang kami bangun lewat sebuah pernikahan terlebih dahulu bukan cinta yang kami bangun dulu baru merencanakan menikah. Bukankah seperti itu anjuran dalam agama?" tanya Dafi.
"Mas cuma terpesona sama kecantikan fisik aja" cegah Bu Fia.
"Laki-laki mana yang bisa menolak pesona seorang Qeena? cantik parasnya dan baik hatinya" kata Dafi.
"Terus ini nelpon sekedar mau muji dia atau gimana?" balik Bu Fia.
"Jangan pernah menghina dia lagi seperti yang Bunda lakukan di mobil setelah Bunda ditolong sama dia dibawa ke klinik" ucap Dafi tegas.
"Apa yang Bunda bilang kenyataan kok" kata Bu Fia membela dirinya sendiri.
"Mau Ayah dan seluruh keluarga tau kalo Bunda adalah otak dari rencana menjebak Qeena menikah sama Rian tapi malah salah sasaran jadinya sama Mas? atau Bunda mau masuk ke penjara dengan tuduhan perbuatan tidak menyenangkan? Qeena punya kartu As Bunda .. sewaktu-waktu dia pasti akan keluarkan kalo terus Bunda uji kesabarannya. Udah tau kan gimana Qeena kalo marah? itu belum seberapa Bun .. bahkan dia mampu kok hidup tanpa kita saat di Ciloto dulu. Dia lebih kuat dibanding bayangan kita. Tempaan hidupnya sangat dahsyat, jadi membentuk karakternya menjadi keras, walaupun selama ini dia coba tutupi dengan diam" papar Dafi.
"Jadi kamu ngancam Bunda?" tanya Bu Fia.
"Kalo saat itu datang, Mas akan berdiri dibelakang Qeena .. ya Mas akan ikut menjebloskan Bunda dan Pak Iyus ke penjara kalo ga mau berubah juga. Mungkin tempat itu cocok buat mencuci otak Bunda dan Pak Iyus" ancam Dafi.
"Kamu mau jadi anak durhaka?" hardik Bu Fia.
"Bun .. kalo ini satu-satunya jalan yang bisa membuka mata hati Bunda.. why not? Mas ingin kita ga hanya jadi keluarga didunia ini Bun .. tapi bisa juga sesyurga kelak" kata Dafi.
Sambungan telepon langsung ditutup sama Bu Fia.
__ADS_1
"Kurang ajar Iyus .. udah dikasih uang masih aja ngoceh sama Mas Dafi .. emang ga bisa dipercaya tuh orang. Harus bikin perhitungan nih sama dia" ujar Bu Fia marah.