ROTI BAKAR

ROTI BAKAR
* Slice 201, Menyelesaikan masalah jilid dua


__ADS_3

Bu Fia akhirnya memutuskan buat ikut sama Dafi dan Qeena, karena Dafi udah mulai mengancam Bundanya, kalo ga ikut maka akan dilanjutkan ke proses hukum. Karena khawatir nama baiknya tercemar, beliau mengikuti keinginan Dafi.


"Bun .. Mas mau selesaikan ini diluar rumah itu karena masih menjaga nama baik Bunda. Kalo Ayah dan adik-adik tau gimana? mereka pasti marah dan kecewa. Apalagi Ayah .. Bunda siap Ayah marah kalo tau ceritanya kaya gini?" alasan Dafi yang membuat Bu Fia jadi mikir.


"Emang mau ngapain sih segala bawa-bawa Qeena? kan kamu bisa ngomong sama Qeena buat tutup mulut" tanya Bu Fia.


"Mas mau semua berdamai. Mas ga mau menangin Bunda atau Qeena. Makanya semua harus duduk tenang dan bareng-bareng biar selesai masalahnya. Mau sampai kapan sih drama mantu versus mertua ini berlangsung? Kalo semua keras kepala, ga akan selesai masalah ini. Lagipula posisi Bunda kan yang salah, udah merencanakan sebuah kejahatan yang bisa berujung fatal buat masa depan Qeena .. yaitu nikah sama Rian. Tega Bunda menghancurkan hidupnya begitu aja? Tapi liat kan Bun ... pertolongan Allah itu dekat. Allah menukar posisi Rian sama Mas. Bukan berarti Mas lebih baik dari Rian, tapi paling ngga .. Qeena masih bisa melanjutkan mimpinya dibawah bimbingan Mas. Qeena pun punya kesalahan yang sama, udah bertindak kurang sopan sama Bunda karena tekanan emosi dalam dirinya, dia masih muda .. jadi emosinya belum stabil. So please .. kita selesaikan semua sekarang. Ada Mas yang siap menjadi penengah diantara Bunda dan Qeena. Percayalah Bun .. Dafi akan dalam posisi netral" pinta Dafi.


"Ada juga ya. anak muda minta maaf ke orang tua, masa dibalik. Jaman udah edan. Dimana logika kamu sih Mas? Mas Dafi yang Bunda kenal itu pintar membaca situasi" ucap Bunda.


"Karena pintar membaca situasi jadi hal ini perlu Mas ambil tindakan. Islah istilah kita bilangnya. Mas harap setelah ini, udah ga ada lagi beban dikedua belah pihak. Mas sayang sama semuanya Bun. Toh sekarang Qeena juga udah jadi istri Mas, pernikahan itu udah terjadi kan?" ujar Dafi.


"Kamu tuh cuma terpesona sama mukanya doang Mas, dia ga baik buat dijadikan istri" kata Bu Fia.


"Gimana Bunda bisa nilai dia baik atau ngga kalo Bunda ga mau membuka mata buat menilai dia secara utuh sebagai Qeena secara pribadi. Bunda selalu menilai dia dari siapa orang tuanya, masa lalu yang dia aja ga tau kenapa bisa terjadi. Bunda hanya bisa melihat keburukan yang ga dia lakukan sama sekali. Bun... memang dulu Ayah sempat membantu dia buat sekolah, tapi uang yang Ayah keluarin itu ga sebanding sama kasih sayang yang Mak Nuha berikan ke kami berempat. Mak Nuha menjadi sosok Ibu yang selama ini hilang dari kami. Mendengarkan curhatan dan menyediakan pelukan buat kami dimasa transisi masa remaja. Qeena pun ga pernah meminta apapun ke kita semua kecuali kita yang kasih. Dia emang sempat tinggal disini, tapi ga gratis kan Bun? dia pegang kerjaan kaya asisten rumah tangga selama disini. Saat dia pindah ke kost an milik Ayah juga dia bantu nyapu ngepel disana menggantikan tugas Mas Anto. Sekarang apa lagi alasan membencinya Bun? maaf .. apa Bunda juga ga merasa pernah ada diposisi seperti dia? dibesarkan oleh orang tua tunggal dan pastinya dalam kondisi ekonomi yang terbatas bahkan cenderung kurang. Bun .. harusnya Bunda bersyukur ga mengalami perihnya hidup seperti dia. Dan sekarang Bunda punya kesempatan dari Allah buat berbuat yang lebih baik terhadap orang yang bernasib sama seperti Bunda. Bunda beruntung ketemu Mbah Akung yang malah menjodohkan Bunda sama Ayah. Emang saat menolong Bunda, Mbah tau bagaimana tabiat Bunda? Ga kan? Mbah ikhlas menolong Bunda karena kemampuan yang Bunda miliki, kenapa sekarang Bunda ga memakai sudut pandang Mbah dalam menilai Qeena?" ungkap Dafi dengan nada diatur agar Bundanya ga tersinggung.


"Mas .. tapi sekarang kan kita udah tau siapa Bapaknya Qeena .. Iyus tuh ngga banget. Tukang mabok, mainin cewe, cuma supir, kelakuannya minus, ga punya tanggung jawab sama apapun.." jawab Bu Fia.


"Terus Qeena yang harus nanggung kelakuan orang tuanya yang kaya gitu?" tanya Dafi.


"Mau taro dimana muka Bunda Mas .. orang taunya kamu bakalan nikah sama Zahwa. Anak dari rekan kerjanya Ayah .. sama-sama pejabat. Zahwa juga punya karier yang bagus kaya Mas, walaupun sekarang masih dalam tahap merintis seperti Mas" papar Bu Fia.


"Cuma karena malu punya besan kaya Pak Iyus?" selidik Dafi.


"Lagian apa bagusnya sih Qeena? cuma lulusan SMA doang, di undangan ga ada titel tuh ga bonafid. Tau sendiri teman dan rekan kerja Bunda tuh orang-orang berkelas" jawab Bu Fia.


"Mas bisa ga pake titel yang Mas punya kok Bun biar sama ga ada titelnya. Bukannya skill kita lah yang orang nilai ketika kerja atau usaha? emang menjamin titel berderet-deret terus dia punya kemampuan bertahan hidup yang mumpuni? Buka mata Bun .. semua makhluk dihadapan Allah sama, yang membedakan hanya ketakwaannya aja" nasehat Dafi.


"Mau diajak kemana sih emangnya? bawel banget deh" Bu Fia mencoba ngeles.


"Yang jelas tempat dimana Bunda dan Qeena bisa saling ngobrol" jawab Dafi santai.


"Di rumah Mas kan bisa" ujar Bu Fia.


"Justru ini harus diselesaikan antara kita dulu, biar ga rame kemana-mana. Mas berusaha menjaga harga diri Bunda dan Qeena. Mas ga mau Ayah dan Mak Nuha malah marah sama Bunda" kata Dafi.


Akhirnya Bu Fia menyerah juga, beliau duduk disebelah Dafi, di kursi bagian depan, Qeena disuruh duduk di kursi belakang. Qeena ga masalah karena bisa meluruskan kakinya yang terasa sakit kalo dalam posisi duduk normal.


Pak Dzul dan Fajar yang melihat ketiganya pergi bareng merasa ada yang ganjil.

__ADS_1


"Kenapa ya sampe Mas Dafi pulang tiba-tiba dan sekarang pergi sama Bunda dan Qeena? Kenapa Ayah ga diajak ya?" tanya Pak Dzul rada curiga.


"Apa ada hubungannya sama perang dingin diantara Qeena sama Bunda ya Yah?" balik Fajar bertanya.


"Perang dingin? maksudnya gimana?" ucap Pak Dzul ga paham.


"Iya .. perang dingin .. makanya Qeena mana mau sahur dan berbuka bareng kita lagi. Itu gara-gara Bunda, jadinya ngambek deh Qeena nya" kata Fajar keceplosan.


"Kayanya ada yang Ayah ga tau nih, bisa dijelasin?" jawab Pak Dzul.


"Ehm .. ehm .. tanya sama Mas Anto aja ya Yah .. Fajar ngantuk nih, nanti jaga malam. Lagian saksi matanya kan Mas Anto" tutur Fajar sambil naik ke lantai atas menuju kamarnya.


🌺


Pak Dzul langsung manggil Mas Anto buat dimintai keterangan. Awalnya Mas Anto bingung harus menjelaskan dari mana, serba salah memang posisinya. Hingga akhirnya diceritakan semua dari awal hingga pertengkaran itu terjadi.


"Intinya saya ga tau persis awalnya gimana Pak. Tapi ya wajar aja Mba Qeena marah, wong udah nolong malah dihina-hina. Saya juga kalo jadi Mba Qeena pasti marah. Tapi Mba Qeena emang marahnya ekstrim Pak .. kan disuruh keluar dari mobil sama Ibu, dibanting kenceng banget pintu mobil, sampe diliatin orang-orang, mana macet lagi jalanan. Untung kaca film gelap, jadinya ga keliatan dari luar. Malu juga Pak diliatin orang pas kejadian itu" adu Mas Anto.


"Ya udah sana kerja lagi" kata Pak Dzul.


"Pak .. jangan bilang ke Bu Fia dan Mba Qeena ya kalo saya cerita ke Bapak" ujar Mas Anto.


Iyus berdandan super rapih hari ini, dia udah janjian sama Dafi, katanya mau diajak ngabuburit. Iyus juga udah bilang buat kasih dia uang buat jajan, Dafi pun menyanggupi asal Iyus mau bertemu secara langsung.


🌺


"Kok kita berhenti dekat stasiun gini, nunggu siapa sih Mas?" tanya Bu Fia.


"Nanti juga Bunda kenal" jawab Dafi.


Iyus menelpon Dafi dan diinfokan kalo langsung naik aja ke mobil dari pintu belakang. Hari ini Dafi membawa mobilnya Izma yang kecil.


Pintu belakang terbuka, Iyus masuk tanpa liat-liat ada siapa didalamnya. Hampir aja kaki Qeena didudukin sama Iyus, untunglah Qeena masih punya refleks kaki yang bagus, walaupun setelahnya merasa sakit kakinya.


Dafi langsung mengunci pintu dari depan agar Iyus ga bisa keluar. Dafi mencium tangan Iyus sebagai tanda menghormati.


"Qeena.. cium tangan Bapak" pinta Dafi.


Dengan ogah-ogahan, Qeena mencium tangan Iyus.

__ADS_1


"Ini kamu mau menjebak Bunda ya Mas?" pikir Bu Fia.


"Sekarang udah kumpul kan? ga mungkin kita ke restoran karena kita semua lagi shaum. Jadi selesaikan aja di mobil. Mas mau denger tentang semua hal" buka Dafi dengan serius.


Dafi berusaha tetap fokus dalam menyetir.


"Pak Iyus .. benar kejadian malam itu atas instruksi Bunda?" mulai Dafi menginterogasi.


Bu Fia dan Iyus saling lirik lewat kaca depan. Dafi melihat tapi pura-pura ga tau.


"Iya" jata Iyus.


"Eh .. jangan nuduh ya" jawab Bu Fia.


"Udahlah Bu .. udah ketauan ada rekaman video dari HP Rian, masih mau berkelit" ucap Iyus.


"Rekaman video itu cuma kamu ya, mana buktinya saya terlibat?" balik Bu Fia.


"Terus sekarang Ibu mau lepas tangan gitu aja? hadeuuhhh.. cape deh" ujar Iyus.


Qeena masih diam mengamati kedua orang tua dihadapannya yang seperti sedang melakoni adegan dagelan.


"Udah kan Mas Dafi? sekarang gw mau turun, mana duitnya sini" pinta Iyus.


"Sebentar lagi, belum pegang uang cash" ucap Dafi santai.


"Transfer juga gapapa Mas .. kaya biasanya" lanjut Iyus.


Mobil berhenti tepat di minimarket yang berhadapan sama Kantor Polisi.


"Bunda dan Pak Iyus .. segala bukti sudah saya bawa .. ada rekaman video, rekaman suara pengakuan Pak Iyus bahkan foto-foto yang Pak Iyus kirim ke Bunda buat memeras udah saya bawa. Korbannya pun .. Qeena .. udah saya bawa. Dan dalang semua kejadian yang membuat jadi seperti ini pun udah ada di mobil ini semua" papar Dafi.


"Wah .. Lo mau ngejebak ya?" marah Iyus.


"Apaan sih Mas" Bu Fia ikut bereaksi.


"Qeena .... kalo kamu bilang laporkan .. maka mobil ini akan nyebrang dan masuk ke parkiran Kantor Polisi. Kita serahkan tersangka dan barang buktinya sekalian. Gimana?" tanya Dafi.


Qeena memandang penuh amarah kearah Bu Fia dan Iyus. Sekarang tampak Iyus dan Bu Fia langsung menunduk, ga sesombong tadi lagaknya. Dafi masih dengan sabar menunggu keputusan Qeena.

__ADS_1


__ADS_2