
"Qeena ... sadar ga udah menyakiti dua lelaki sekaligus? Mas Fajar adalah lelaki yang baik, udah dari kecil kita kenal dia. Bahkan Emak setuju aja kalo kamu memilih dia. Tapi rupanya hati kamu lebih sreg ke Damar ... Emak juga terima, karena Damar juga baik dan berjanji ke Emak ga akan menyakiti kamu. Tapi Emak ga nyangka kalo kamu menerima pinangan Damar hanya untuk menghindari Mas Fajar. Bahkan kamu juga mempermainkan Damar karena pembatalan sepihak seperti ini. Mau taro dimana muka Emak ke keluarga Damar?" marah Mak Nuha.
"Maaf Mak..." sesal Qeena.
"Salah kalo minta maaf ke Emak... mohon ampunan Allah ... kemudian ke Mas Fajar dan Damar beserta keluarganya. Kayanya emang udah saatnya kita pindah Qeena. Tawaran Aa' Zay kayanya bagus buat masa depan kita. Kita bisa jauh dari kesemrawutan yang kamu bikin sekarang dam benar kata Aa' Zay, usaha kita bisa lebih maju di daerah perkotaan" tutur Mak Nuha.
Qeena masih diam membisu, baginya adalah pukulan terbesar ketika Emaknya merasa kecewa terhadap dirinya.
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
Iyus sudah tau tempat tinggalnya Imah. Pagi ini dia berencana menemui Imah lagi.
"Imah ... Imah ... keluar...." kata Iyus sambil mengetuk pintu rumah Imah.
"Imah ... Imah ... jangan pura-pura ga dengar" teriak Iyus.
Rupanya teriakan Iyus membuat tetangga sebelah rumah Mak Imah keluar.
"Ada apa ya Pak ... Mak Imahnya ga ada di rumah" kata tetangga.
"Kemana dia?" tanya Iyus.
"Sudah dijemput semalam, bilangnya dijemput sama keluarganya. Beliau bilang mau pindah, sayuran juga dibagi-bagi ke tetangga. Rumah ini ga taunya sudah Mak Imah jual sebulan yang lalu, motor yang biasa buat belanja katanya dikasih ke warga sini yang mau pake, jadi inventaris RT" cerita tetangga.
"Kok buru-buru" ujar Iyus lagi.
"Saya ga tau Pak ... Bapak siapanya Mak Imah?" tanya tetangga.
"Ga perlu tau, ada nomer telepon dia ga?" tanya Iyus songong.
"Ga Pak ... beliau ga punya HP" jawab tetangga yang terpaksa berbohong karena gelagat Iyus sangat mencurigakan.
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
Dafi masih memikirkan obrolan sama Aa' Zay saat di Bandara.
"Kayanya pernah kenal deh sama orang yang tadi ... tapi dimana dan kapan ya? perasaan juga pernah ada orang yang cerita tentang roti beberapa tahun yang lalu sampe pengen dianter ke rumah pembuatnya ... aduhhh... kok bisa lupa sih.. dimana ya itu ..." kata Dafi saat dalam perjalanan menuju Sungai Penuh.
Ditempat yang berbeda Aa' Zay pun kayanya pernah kenal sama orang yang bernama Dafi. Tapi karena Aa' Zay banyak rekan jadinya pasti banyak yang namanya mirip.
"Lelaki tadi yang pernah ketemu di Ciloto bukan ya? yang pernah mau ketemu sama Mak Nuha gegara roti yang dia makan mirip sama roti kenangan dia masa kecil" ucap Aa' Zay.
Dafi masih juga mengulang satu persatu memory otaknya biar ingat siapa Aa' Zay ini. Dia melihat foto-foto di laptopnya dan akhirnya ketemu foto saat dia berada di Ciloto, di meja makan sebuah Villa ada sepiring roti, ya ... roti yang familier dilidahnya.
πππππππππππππ
Sehari setelah pertemuannya dengan Aa' Zay, Dafi terus teringat sama Mak Nuha dan Qeena. Fajar dan Ayahnya ga mau kasih tau kontaknya Qeena ke Dafi, tapi Ayah bilang kalo Qeena tinggal di kampung dan usaha buat roti.
Dafi mencari nomer HP Aa' Zay, dia merasa menemukan puzzle yang selama ini berantakan di otaknya.
"Assalamualaikum A' ... maaf saya ganggu ga ya?" sapa Dafi.
__ADS_1
"Waalaikumsalam.. ga kok, saya lagi santai nih di hotel" kata Aa' Zay.
"Bisa ketemu besok selepas saya pulang kerja? Aa' dimana ya besok?" tanya Dafi.
"Kebetulan besok saya dan rombongan mau ke Danau Kaco dan malamnya akan stay di Sungai Penuh, bukannya kamu tinggal disana ya?" ujar Aa' Zay.
"Ya A' ..besok saya ketemu ya... hotelnya dimana, nanti saya yang kesana" kata Dafi.
"Ada apa ya? kayanya ada yang penting?" tanya Aa' Zay belum paham.
"Besok saya jelaskan semua A' ..kayanya ada petunjuk dari roti yang kemarin kita makan. Aa' ingat ga kita pernah ketemu sebelum ini, ya sekitar dua tahun yang lalu saya ke Ciloto, nginep di Villa bareng teman motoran saya. Nyicipin roti juga kan, sampe minta antar ketemu pembuatnya, tapi ternyata mereka lagi pergi" jelas Dafi.
"Ya Allah .. pantes kayanya kok pernah kenal tapi lupa dimana" ucap Aa' Zay.
"Oke deh A' insyaa Allah besok saya ketempatnya Aa' .. banyak yang mau saya tanya. Makasih sebelumnya A' ... assalamualaikum" kata Dafi.
"Waalaikumsalam" jawab Aa' Zay.
Aa' Zay masih belum paham sama maksudnya Dafi.
"Apa Dafi kenal sama Mak Nuha dan Qeena?" tanya Aa' Zay ngomong sendiri sama HP nya.
πππππππππππππ
Qeena datang ke rumah Damar bersama Mak Nuha. Mereka diterima secara baik sama keluarga Damar.
"Bapak .. Ibu ... saya atas nama pribadi dan Emak saya, menghaturkan permohonan maaf yang sebesar-besarnya ke keluarga Kak Damar. Saya memang tidak punya itikad baik terhadap hubungan saya dan Mas Damar. Sampe tanpa sadar saya menorehkan luka kehati Kak Damar. Padahal Kak Damar adalah lelaki baik yang pernah saya kenal tiga tahun belakangan ini. Semua keputusan saya ambil tanpa berbincang sama Emak saya, jadi saya harap jangan menyalahkan Emak saya, cukup salahkan saya aja" ucap Qeena sambil menunduk.
"Pak .. Bu ... kedatangan saya juga kesini untuk memberitahu kalo saya ga bisa terima Kak Damar. Saya belum punya pikiran buat menikah secepatnya, bahkan saya juga belum tertarik dengan lelaki manapun. Jadi rencana pertunangan ga bisa kita teruskan. Kak Damar berhak mendapatkan wanita yang lebih dari saya" ujar Qeena serius.
"Qeena ... apa maksudnya sih?" tanya Damar kesal.
"Maaf ya Kak Damar... Qeena ga bisa. Maaf kalo menyakiti Kak Damar" ujar Qeena lagi.
Qeena dan Mak Nuha pamit pulang. Damar bersiap buat menyusul mereka tapi ditahan sama Bapaknya.
"Mar .. kasih lah mereka waktu buat berdua. Qeena dan Nuha pasti tau apa yang terbaik buat mereka. Ingat Damar.. kalo jodoh juga pasti akan ketemu, sekarang kamu ambil positifnya... belajar yang serius lagi kuliahnya, cepat lulus, nanti baru mikirin kawin" saran Bapaknya Damar.
"Tapi Pah ... Qeena itu first love Damar" ujar Damar.
"Mar ... kalo kamu keras kepala seperti ini, adanya Qeena kesal dan menjauh dari kamu. Walaupun Papa ga tau kisahnya, tapi selama yang kita kenal kan Qeena besar tanpa ada kehadiran seorang Ayah dalam hidupnya. Mungkin dia belum bisa terima kehadiran pria dalam hidupnya" papar Bapaknya Damar.
πππππππππππππ
Malam harinya Dafi menemui Aa' Zay di hotel dan mengajaknya makan malam diluar hotel.
"Mumpung Aa' disini, kita wisata kuliner dulu. Tadi kan udah wisata alam ... cape ya jalannya ke Danau Kaco" basa basi Dafi.
"Iya nih, cape banget" sahut Aa' Zay.
Mereka naik motornya Dafi menuju ke sebuah rumah makan.
__ADS_1
"Apa nih yang jagoan disini?" tanya Aa' Zay.
"Ada gulai ikan semah dan soto .. tapi kali ini dendeng batokok juaranya disini" saran Dafi.
"Sama aja kaya resto Padang" jawab Aa' Zay.
"Sesama Sumatra pasti ada kemiripan A' tapi kalo daerah lain dendengnya agak kering seperti makan keripik. Tapi kalo disini, dendeng batokok bertekstur lembut dan rasa daging terjaga dengan bumbu yang berani ditemani lado (cabe) merah encer khas Sungai Penuh" promo Dafi.
Setelah menikmati makan malamnya, mereka melanjutkan berbincang.
"A' .. saya mau tanya ... yang buat roti dan selai namanya Mak Nuha dan Qeena?" tembak Dafi langsung.
"Kamu kenal sama mereka?" tanya Aa' Zay balik.
"Dia anak asuh Ayah saya" jawab Dafi.
"Tunggu... tunggu.. Apa kamu itu anaknya Pak Dzul juga? kakaknya Fajar?" ujar Aa' Zay mencoba merangkai silsilah.
"Ya.. saya anak sulungnya Pak Dzul. Mereka sudah tau keberadaan Qeena, tapi merahasiakannya dari saya. Ga paham juga kenapa begitu, padahal kan saya ga ada masalah sama Qeena atau Mak Nuha" jelas Dafi.
"Ya ... Mak Nuha dan Qeena tinggal di rumah milik Kakek saya. Sedari melarikan diri dari Jakarta ya langsung disana. Hampir aja ya kalian ketemu dulu, tapi takdir belum memihak" kata Aa' Zay.
"Aa' tau kenapa dia pergi dari Jakarta?" tanya Dafi.
"Mak Nuha pernah bilang kalo beliau belum siap mempertemukan Qeena dengan orang tua kandungnya. Mak Nuha khawatir Qeena akan dijual sama Bapaknya, secara kan dia cantik" jelas Aa' Zay.
"Mak Nuha nyebut nama orang tua Qeena ga?" kepo Dafi.
"Ngga ... tapi kayanya lelaki ga bener, tega menyakiti Mak Nuha dengan perselingkuhannya terus menikah lagi dan tega menjual istrinya sendiri demi rupiah" kata Aa' Zay.
"Itulah yang saya kadang penasaran.. Mak Nuha ga pernah nyebut nama, berarti saat itu, Mak Nuha udah ketemu sama orang tua kandung Qeena ya sampe lari dari Jakarta" analisa Dafi.
"Ya ... Bapaknya sudah tau keberadaan Qeena, jadinya lebih baik kabur" sahut Aa' Zay.
"By the way ... Aa' punya foto Mak Nuha atau Qeena ga? ya buat meyakinkan saya kalo itu orang yang sama" pinta Dafi.
"Ada ... sempat foto sama keluarga saya ... tunggu ya cari dulu" ucap Aa' Zay.
Aa' Zay mencari foto di HP nya kemudian menunjukkan ke Dafi.
"Ya ... ini Mak Nuha dan Qeena... boleh saya minta nomer HP nya?" tanya Dafi.
"Maaf ya... saya ga bisa kasih nomernya atas ijin Qeena. Lagipula kan Fajar tau, kenapa ga minta sama dia. Kita kan ga saling tau gimana Dafi dan Qeena.. siapa tau kan kalian sebenarnya musuh. Qeena sekarang ada dibawah pengasuhan saya. Jadi keselamatannya adalah tanggung jawab saya" ucap Aa' Zay.
"Baik A' ... saya paham, boleh ga saya minta ijin telpon dia? pakai HP Aa' aja, mau menyapa Mak Nuha dan Qeena. Saya pernah bermimpi tentang Qeena ... seolah dia sedang dalam bahaya" pinta Dafi.
"Saya chat Qeena dulu ya, apa dia mau terima telepon dari kamu. Kalo dalam bahaya sepertinya ngga. Tapi dia sakit jiwanya" ujar Aa' Zay.
"Maksudnya dia ada gangguan jiwa?" tanya Dafi kaget.
"Bukan... dia kehilangan sosok Ayah, kemudian datang bertubi-tubi dalam hidupnya cerita kekerasan lelaki terhadap wanita, kayanya udah dalam tahap trauma. Sampe Minggu lalu membatalkan pertunangan dengan sepupu saya tanpa sebab yang jelas" cerita Aa' Zay.
__ADS_1
"Ya ... semuda itu dia udah mengalami guncangan hebat dalam hidupnya... terimakasih ya A' .. udah ngelindungin dia" kata Dafi.