ROTI BAKAR

ROTI BAKAR
* Slice 76, Cinta tanpa syarat


__ADS_3

Nuha dan Qeena duduk di bangku depan TV. Dibukanya album foto yang kecil, yang tadi belum sempat Qeena liat.


Lembar bagian depan ada fotonya saat masih bayi. Kemudian foto pernikahan Bapak dan Ibu kandungnya. Diperhatikan dengan seksama foto-foto itu. Sepertinya Qeena ingat sosok yang ada didalam foto, sangat familier dimatanya. Kembali ia tegaskan sosok laki-laki yang berfoto juga bersama Nuha. Foto-foto Imah menggendong bayi, wajahnya saat muda dan hampir mirip sama Qeena sekarang.


"Ini Pak Iyus?" tanya Qeena meyakinkan.


"Iya ... kamu kenal?" kata Nuha balik nanya.


"Ini supir kantornya Tante Fia. Qeena pernah ketemu dua kali sama Pak Iyus" jelas Qeena.


"Dunia sempit ya ..." jawab Nuha.


"Ya Allah .... ini Mak Imah?" kata Qeena pelan dan menutup mulutnya begitu melihat foto Imah tanpa make up.


"Kamu kenal juga?" tanya Nuha heran.


"Mak inget kan kalo dulu Qeena pernah cerita kalo suka bantuin pedagang sayur yang deket rumah Om Dzul? yang udah tua tapi tinggal sendirian? Itu Mak Imah .. apa orang yang didalam foto ini benar Pak Iyus dan Mak Imah? mereka orang tua kandung Qeena?" ujar Qeena meyakinkan.


"Ya ..." jawab Nuha mencoba menahan air matanya.


"Bener Mak? Mak Imah adalah ibu kandung Qeena? Pak Iyus adalah bapak kandung Qeena?" ucap Qeena seolah ga percaya dengan mengulang pertanyaannya.


"Ya ... mereka orang tua kandung kamu Qeena" jawab Nuha terus mencoba menahan air matanya.


"Pantes ya Mak ... dulu saat Qeena bantu Mak Imah di warung, sama orang suka disangka Ibu dan anak karena wajah kita rada mirip. Sebenarnya udah lama pengen tanya ke Emak, tapi Qeena takut Mak sedih. Lagipula Mak Imah ga pernah memberi tau identitasnya ke Qeena. Cerita tentang anaknya pun ga pernah tuntas. Nah kalo Pak Iyus ini sempat kaget kalo ada Qeena di rumah Om Dzul. Beliau seakan melihat sosok yang dikenal. Tapi ya mungkin ga kenal juga kan sama Qeena karena sedari kecil Qeena udah pergi sama Emak" lanjut Qeena yang akhirnya ikut mellow terbawa perasaan.


Sebenarnya Nuha ga sanggup melanjutkan cerita masa lalu Qeena, lukanya masih jelas terasa hingga detik ini. Luka karena pengkhianatan seorang suami serta kekasaran yang didapati secara fisik dan mental dari orang yang amat sangat dicintainya.


"Mak ... kalo Emak belum siap cerita ... Qeena ga paksa kok, Qeena tau pasti berat buat Emak" ujar Qeena sedih melihat Emaknya menangis.


"Sudah saatnya Qeena .. sudah saatnya kamu tau" jawab Mak Nuha sambil mengusap air matanya dengan daster yang dikenakan.

__ADS_1


"Mak ... Qeena janji ... Qeena akan terus sama Emak walau apapun yang terjadi" ucap Qeena sambil memegang telapak tangan Emaknya dan dicium berkali-kali.


Nuha menarik nafas panjang, pelan-pelan diusapnya kepala Qeena. Nuha memutuskan untuk menceritakan semuanya tanpa menutupi semua kisah kelam kedua orang tua kandungnya Qeena dan kisah Nuha sendiri.


Terputarlah rangkaian kalimat Mak Nuha diotaknya, dicoba untuk runut dalam bercerita.


"Emak jatuh cinta pada pria yang Emak anggap bisa menjadikan Emak menjadi istri sholehah, pria yang dengannya Emak ingin rajut asa membina rumah tangga yang samawa ... pria yang Emak harap terus bersama hingga kami menutup mata. Semua berubah saat sudah menikah, Emak baru kenal dia yang sesungguhnya. Saat pacaran ga pernah menunjukkan gelagat buruk, mulutnya sangat manis hingga Emak terbuai segala ucapannya. Emak terima semua dengan ikhlas, walaupun Emak harus jungkir balik mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan makan dan rokoknya tiap hari. Emak kerja di pabrik Bakpau milik mertua, ya ... Kakek kamu Qeena... Babe Naim ... yang kita pernah ke makamnya. Bapakmu sangat galak dan selalu memaksa, tapi sekali lagi atas nama cinta, Emak bertahan. Emak ga membuka aibnya kepada siapapun. Hari ini, kamu jadi orang pertama yang tau bagaimana sakit hatinya Emak terhadap Bapak kamu. Makian, cacian, suruhan bahkan melayani diatas ranjang tanpa kenal waktu dan ga mau tau Emak cape atau engga .. terjadi tiap hari seperti itu" cerita Nuha, mengalir deras air mata dikedua pipinya.


"Dulu Emak hanya berpikir .. pria ini adalah pilihan Emak sendiri, jadi ga boleh menyesal, menjadi pelabuhan cinta pertama dan terakhir Emak. Menjadi ladang pahala buat Emak karena berbakti terhadap suami. Tapi semua yang Emak lakukan ga ada artinya dimata beliau. Perangainya ga berubah. Emak pernah hamil, tapi anak itu ga bisa diselamatkan. Hancur banget hati Emak saat itu menerima kenyataan kehilangan anak. Belum cukup sakit badan dan sakit hati yang Emak rasa, datang seorang wanita dalam keadaan hamil meminta pertanggungjawaban Bapakmu ... wanita itu adalah Imah. Imah sudah hamil duluan sebelum menikah sama Bapak kamu. Kebayang ga .. mereka berzina saat Emak masih terikat pernikahan sama Bapak kamu dan dalam kondisi hamil? Imah tau kalo Bapak kamu sudah beristri, tapi sepertinya mulut manis Bapakmu membuat Imah ga sanggup menolak pesonanya dan jatuh cinta hingga menyerahkan segalanya. Karena ga tega melihat Imah yang belum lulus SMA saat itu, harus melahirkan tanpa suami, Emak rela dimadu dan tinggal seatap bersama. Bapakmu tetap keperangainya, ga mau kerja dan hanya berpangku tangan dibawah ketiak orang tua. Imah saat hamil, ga memperhatikan kandungannya, jarang ke bidan dan meminum vitamin. Saat kamu lahir, Imah masih sangat muda, jadi belum berpikir panjang kalo dia sudah punya tanggung jawab baru ... yaitu kamu. Kedua orang tua kamu malah enjoy sama pergaulan anak muda. Hidupnya pun salah arah hingga tega ninggalin kamu. Emak yang ngurus kamu sejak pulang dari bidan. Bahkan mereka ga peduli kondisi kamu. Emak yang berjuang buat beliin susu dan kebutuhan kamu. Alhamdulillah kamu anak yang pengertian, diajak kerja ga rewel" cerita Nuha sedih.


"Astaghfirullah... bahkan binatang pun masih sayang dan peduli sama anaknya, tapi mereka malah ...." kata Qeena sambil geleng-geleng kepala ga sanggup meneruskan kata-katanya.


"Setelah Imah pergi ninggalin rumah, Engkong akhirnya ketemu lagi sama Imah dan memergoki tengah berzina dengan pacarnya di sebuah kost an. Engkong terkena stroke hingga akhirnya ga bisa diselamatkan. Bapakmu pun ikut pergi entah kemana, ditunggu ga pulang-pulang. Karena Enyak kamu ga mau kita numpang di rumahnya, akhirnya kita terusir dari rumah Engkong. Ga ada yang bela kita saat itu. Bisa aja sih Emak tinggalin kamu atau ngasih kamu ke keluarga Imah, tapi hati kecil Emak ga tega karena sejak lahir, kamu diurus sama Emak. Kamu udah kaya darah daging Emak" lanjut Nuha.


"Jadi Emak yang memutuskan membawa Qeena?" tanya Qeena.


"Ya ... kamu anak Emak .. anak yang bukan dilahirkan dari rahim Emak tapi dikirim sama Allah buat Emak. Dari bayi .. Emak yang urus layaknya anak sendiri karena Imah ga mau ngurusin kamu" kata Nuha sambil memeluk Qeena.


"Sejak saat itu Mak janji sama diri sendiri, cukup Mak disakiti oleh laki-laki ... Mak ga mau menikah lagi. Hanya akan fokus besarin kamu. Inilah kenapa Mak keras sama kamu, harus ngaji dan tau tentang aturan agama sedari kecil, karena Mak ga mau kamu salah bergaul dan melakukan hal yang sama seperti yang orang tua kamu lakukan. Emak selalu berdo'a biar kamu ga salah langkah. Tapi ... satu pesan Emak, jangan membenci mereka Qeena ... Cukup Emak yang hidup dalam kebencian terhadap orang tua kamu terutama Bapak kamu. Kelak kalo Allah menakdirkan kalian bertemu.. maafkan kami semua yang ga bisa jadi orang tua terbaik buat kamu. Maafin Bapakmu yang ga bisa memberikan nafkah dan kasih sayang serta melindungi kamu sedari kecil. Maafin Ibumu yang ga memberikan ASI nya serta belaian kasih sayangnya. Maafin Emak juga yang keras mendidikmu dan hanya bisa mengajak kamu hidup susah. Maafin kami semua Qeena ... Terbanglah yang tinggi Qeena, kamu harus bisa merubah kondisi kita, bukan untuk membuktikan ke orang lain. Tapi biar kamu bisa mencari dan menjemput orang tua kandung serta membahagiakan mereka dengan segala kemampuan yang kamu punya. Kamu juga harus bisa membantu Qeena-Qeena lain yang kehidupannya mengalami hal yang sama bahkan lebih parah dari kamu. Makanya Emak khawatir saat Damar terlihat suka sama kamu, Emak khawatir kamu disakiti sama laki-laki. Dulu Mas Fajar juga bilang suka dan ingin kamu jadi istrinya kelak. Emak liat dia serius, dia sayang sama kamu dari dulu, cintanya tulus sama kamu, Emak rasa dia bisa mengubah hidup kamu Qeena, laki-laki seperti Mas Fajar bisa memberikan kamu segalanya, dia bisa mencukupi kamu, bisa kasih cinta dan kasih sayang, orang tuanya juga baik, keluarganya udah kamu kenal. Kalo Emak ga ada umur, mungkin Emak akan ikhlas kamu diurus sama Mas Fajar" ucap Nuha.


Ga terasa air mata masih terus menetes membanjiri kerah dasternya.


"Gak Mak ... Qeena hanya mau sama Emak aja, Qeena ga mau sama yang lain. Cukup Emak aja sama Qeena sampe kapanpun .. Mak janji ya akan terus disamping Qeena, Mak harus liat Qeena berhasil jadi anak yang Mak lantunkan di sepertiga malam Mak .. ayo Mak .. kita kerja keras lagi. Dunia boleh keras sama kita, tapi kita punya Allah Yang Maha Segalanya. Kita bisa Mak" ucap Qeena yakin.


"Ya ..." jawab Nuha sambil tersenyum.


"Terus kenapa kita kabur seperti ini Mak?" tanya Qeena.


"Ingat kan dulu kita dikejar-kejar sama laki-laki?" ujar Nuha.


"Ya.." jawab Qeena.

__ADS_1


"Itu Bapakmu ... Mas Iyus ... dia tau keberadaan kita. Emak kira kalo suatu saat ketemu, Mak siap buat bilang kamu anaknya. Tapi ternyata Emak masih takut kehilangan kamu. Emak takut kamu memilihnya dibanding Emak. Emak juga takut Bapakmu menyiksa kita berdua seperti yang dulu dia lakukan sama Emak. Satu setengah tahun ini Emak mikir sambil meminta petunjuk sama Allah. Ya kamu berhak tau. Sekarang Qeena .. kamu tau kan siapa orang tua kandung dan keberadaan mereka. Emak kembalikan ke kamu, kalo mau ketemu mereka ya silahkan. Bawa foto ini dan akte kelahiran sebagai bukti kalo kamu itu Qeena, anak mereka" saran Nuha.


"Ga Mak ... walaupun Qeena tau keberadaan mereka, biarlah menjadi masa lalu. Anggap aja Qeena ga pernah kenal mereka. Qeena cuma tau kalo orang tua Qeena itu Emak ... Emaklah satu-satunya orang tua Qeena" sahut Qeena penuh dengan amarah dan kecewa terhadap orang tuanya.


Adzan subuh menghentikan pembicaraan Ibu dan anak ini. Mereka sholat berjama'ah. Mengadahkan tangan ke Sang Pencipta, pemilik segala alam dan isinya.


Bahkan keduanya tidur tergeletak di lantai masih lengkap dengan mukenanya.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Saat keluar kamar, Aa' Zay mendapati Erin tertidur di sofa ruang keluarga. Dia mengecup kening Erin seperti yang ia lakukan tiap pagi. Erin bangun.


"Kok tidur disini? Aa' bangun kamu udah ga ada di tempat tidur. Kirain udah sibuk di dapur" kata Aa' Zay sambil menggendong Erin menuju kamar mereka.


"A' ... Aa' sayang kan sama Erin?" tanya Erin.


"Kenapa nanya begitu? Aa' menikahi kamu, berarti Aa' hanya ingin menghabiskan waktu hidup Aa' sama kamu" ucap Aa' Zay sambil meletakkan tubuh Erin di ranjang.


Dikecupnya sekali lagi Erin dengan penuh kasih sayang.


"Aa' sholat subuh di Mesjid dulu ya" pamit Aa' Zay.


πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€


Yuk bisa yuk baca karya author lainnya


* Senja


* Warung


* Aku, Dirimu & Dirinya

__ADS_1


* Harta, Tahta & Tutug Oncom


__ADS_2