ROTI BAKAR

ROTI BAKAR
* Slice 124, Ikhlas


__ADS_3

Naluri kerakusan harta didalam diri Iyus timbul. Setelah tau kalo Qeena anaknya, dia ingin Qeena jadi mantu dikeluarga Pak Dzul, apalagi tujuannya kalo bukan ingin menguasai harta lewat Qeena. Bayangan hidup senang sudah menari dipelupuk matanya.


"Sudahlah ... malu aib dibicarakan panjang seperti ini. Saya pamit mau pulang" potong Qeena yang udah lelah jiwa raga.


Dafi menghampiri Mak Nuha, secara gentleman dia belum meminta maaf ke Mak Nuha.


"Mak ... maafin Mas ya" kata Dafi tulus.


"Percuma Mas ... ga ngerubah keadaan kan maaf dari Emak" ucap Mak Nuha.


"Mak .. Mas cuma minta kepercayaan dari Emak. Mas ga pernah ada pikiran sedikit pun berbuat seperti itu, apalagi sama Qeena. Maaf ya Mak, kalo mau kesempatan itu selalu ada buat Mas. Mas punya calon istri yang keluarganya sangat percaya sama Mas, bisa aja kami berbuat apapun atas dasar suka sama suka, tapi kami ga melakukannya karena sama-sama paham kalo itu dosa. Mak tau juga kan bagaimana Mas menempatkan diri sebagai seorang Kakak buat Qeena, layaknya seorang Kakak pasti akan menjaga adiknya. Mas akan selesaikan ini Mak" ujar Dafi sambil mencium tangan Mak Nuha tapi Mak Nuha buru-buru menarik tangannya.


Kini Dafi berlutut didepan Mak Nuha.


"Mak ... Mak Nuha adalah sosok wanita yang sangat baik dengan kesabaran yang luar biasa" ungkap Dafi.


Rupanya Iyus ga suka dengan lakonan Dafi, dia harus mengambil momen menekan Dafi agar segala rencana busuknya bisa tercapai.


Bu Fia tampak pucat wajahnya. Iyus memang masih melindungi dirinya. Tapi kebayang dimasa yang akan datang dia akan diperas sama Iyus.


Iyus menarik kaosnya Dafi dengan kasar hingga Dafi berdiri. Dafi ga mau melawan karena malah akan memperkeruh suasana yang ada.


"Kamu udah berbuat zina sama anak saya, maka kamu harus bertanggung jawab" ucap Iyus marah.


"Sabar Pak ... saya udah jelaskan berkali-kali, kalo saya ga berbuat apapun terhadap Qeena" ucap Dafi membela diri.


"Emang kamu tau kalo kamu ga ngapa-ngapain anak saya? Banyak saksi yang melihat kamu berpelukan di ranjang kan? kamu kira anak saya tissue begitu abis dipake kamu buang?" kata Iyus marah.


"Anak saya ga mungkin mau sama anak kampung kaya Qeena, dia udah mau menikah habis lebaran ini dan calonnya anak pejabat di daerah" ucap Bu Fia yang terpancing emosi.


"Saya ga mau tau ya ... saya minta anak saya dinikahi sekarang juga" kata Iyus.


"Stop semua ... saya putuskan Dafi harus menikah sama Qeena sekarang juga. Sudah ada keluarga dari Qeena kan? Jadi mau tunggu apa lagi" perintah Pak Dzul.


"Tapi Ayah...ini ga adil. Mas ga berbuat apapun sama Qeena" bela Dafi.


"Ga berbuat apapun? kamu lupa udah memeluknya bahkan bibir kamu menyentuh keningnya?" lantang Pak Dzul bicara.


"Ayah ... gimana rencana pernikahan Dafi sama Zahwa, semua udah berjalan persiapannya, abis lebaran kan mereka akan nikah" kata Bu Fia.


"Nanti kita pikirkan bersama. Yang penting Ayah ga mau Mas melakukan dosa dan lepas tanggung jawab" kata Pak Dzul tegas.


"Ayah...tolong pertimbangkan cerita Mas yang tadi, lagipula Dafi sudah mengkhitbah wanita lain. Data kami pun sudah masuk ke kantor" ucap Dafi memelas.

__ADS_1


"Itu semua bisa dibatalkan. Ini demi nama baik keluarga dan kehormatan Qeena sebagai wanita, Ayah ingin kalian menikah secara agama sekarang, besok baru kalian urus administrasinya. Ayah harus menjalankan kewajiban sebagai pimpinan keluarga. Bukan Ayah ga bijak dengan mencari kebenaran cerita. Tapi Mas pikirkan harga diri dan kehormatan Qeena" kata Pak Dzul.


Dafi udah ga bisa berkata apa-apa lagi. Fajar makin kesal dengan keputusan Ayahnya.


"Ayah ga gini dong keputusannya, kalo memang mereka terbukti, boleh deh disuruh nikah, ini kan semua belum ada bukti" protes Fajar.


"Izma .. tolong kamu pinjamkan baju buat Qeena dan kasih bedak sedikit biar mukanya ga pucat ... Fajar ... bantu Mas Dafi buat bersiap. Disini kan ada mubaligh yang siap sebagai penghulu yaitu Faizal (adik sepupunya Pak Dzul)" perintah Pak Dzul.


Yang paling bergejolak pastinya Dafi. Otak statistiknya ga mampu menghitung probabilitas kejadian yang akan datang, tau begini dia akan langsung menuju rumah Tantenya dulu dari Bandara.


Dafi kembali mandi, setelahnya dia memakai baju kokonya yang masih baru, kemudian sholat dua rakaat untuk meminta kesabaran dan agar dimantapkan buat menikah dengan Qeena.


Mungkin kali ini adalah sholat yang dirasa paling khusyu dan sedih buat Dafi. Cukup lama dia berdo'a. Fajar memperhatikan tingkah polah Dafi, ia duduk ditempat tidur milik Dafi yang masih rapih karena dari tadi datang dia belum merebahkan badannya di kamar ini.


"Mas, Ayah udah nunggu, mau tunggu apa lagi?" Ingat Fajar.


"Ini konspirasi Jar. Mas sengaja dijebak. Pak Iyus pasti mengenali Qeena anaknya dari lama, tapi dia cari momen yang tepat, nah saat inilah yang tepat. Dia ingin Qeena jadi mantu dirumah ini biar dia bisa menikmati apa yang kita punya" ungkap Dafi dengan lembutnya.


"Ga usah lempar batu sembunyi tanganlah Mas, udah Mas nikmatin terus mau lepasin begitu aja. Mas, kalo yang tidur tadi bukan Mas Dafi, mungkin Fajar bersedia menikahi Qeena, tapi ini Mas sendiri, kakaknya Fajar, mana mungkin Fajar sanggup menggantikan posisi itu" kata Fajar.


"Kamu dokter Jar ... tau persis apa yang menimpa kami, oke kalo semua maunya begitu, kamu jangan pernah menyesal udah nyerahin Qeena ke Mas" kata Dafi.


"Mas ga serius kan nikah sama Qeena? Mas hanya mau ini ga berbelit-belit? Nanti Mas ceraikan dia kan? Mas udah punya Zahwa yang Mas cintai kan?" berondong Fajar.


Tapi Dafi udah ga menjawab pertanyaan Fajar dan keluar dari kamarnya.


"Mas Dafi .... Kalo Mas ga ikhlas menikahi Qeena, Mak ga maksa. Biarkan kami pergi, jangan pernah mencari kami lagi. Kalaupun bertemu lebih baik kita anggap ga pernah saling kenal. Mak udah ngalamin yang namanya hidup dalam rumah tangga yang berantakan. Sampe kering deh air mata meratapi semuanya. Mak ga mau Qeena mengalami hal yang sama. Mas Dafi ga perlu mikirin gimana nasib Qeena kedepannya, Mak siap sama apapun nantinya" ucap Mak Nuha tampak susah payah menahan kesedihannya.


"Mak..." ucap Dafi ga enak hati.


"Mak tau kok kalo hati Mas Dafi sudah dengan wanita lain. Sebentar lagi mau nikah kan? Menikahlah sesuai rencana Mas Dafi, semoga Mas Dafi berbahagia dengan pilihan Mas Dafi. Mas itu orang baik, menjadi orang yang selalu memberikan pundaknya buat Emak disaat Emak butuh bersandar, Mas selalu bantu perekonomian Emak kapanpun Emak butuhkan. Terima kasih atas segalanya. Qeena adalah satu-satunya harta yang Mak punya. Dia akan Mak serahkan ke lelaki yang bisa menerima dia apa adanya, bukan seperti ini Mas" lanjut Mak Nuha.


"Mak ... segala yang terjadi sudah takdir Allah, mungkin inilah takdir yang harus Mas jalani. Jangan khawatir Mak, sekarang Mas udah ikhlas. Mas akan nikahi Qeena tanpa kata terpaksa. Urusan sama calon Mas akan Mas selesaikan dengan baik. Inilah rahasia jodoh mungkin Mak ... Sekarang Mas hanya minta do'a restu Mak ... Dafi yang akan gantian jaga Qeena. Mas khawatir sama Pak Iyus sebenarnya Mak..." ujar Dafi.


"Kenapa? Mas takut sama Bapaknya Qeena?" ucap Mak Nuha bingung.


"Bukan takut Mak .. hanya khawatir kehidupan Emak dan Qeena akan terganggu dengan kehadirannya. Ijinkan Mas menjaga Emak dan Qeena. Mas udah ada gambaran pasti Pak Iyus akan mempersulit Emak dan Qeena. Kalo Mas ikhlas jadi mantu Emak ... apa Mak Ikhlas jadi mertuanya Mas?" tanya Dafi.


"Mas ...." ucap Mak Nuha dengan bibir bergetar kemudian memeluk Dafi.


"Mak ... dulu Emak selalu cerita tentang siapa Qeena dan kesakitan yang Emak rasakan. Mas pernah terucap dalam hati, ingin rasanya bisa melindungi Emak. Rupanya ucapan Mas jadi do'a ... hari ini Allah kabulkan" kata Dafi dengan penuh ketegaran.


Mak Nuha masuk ke kamar Izma. Rambut Qeena sedang dikeringkan pake hair dryer karena tadi dia mandi wajib dulu sebelum berganti baju. Qeena memakai gamis putih milik Izma yang masih baru, pemberian Nenek Sri sebelum masuk ICU. Jadi Nenek Sri membeli gamis di marketplace, tapi ternyata kekecilan, jadi diserahkan ke Izma.

__ADS_1


Ruang keluarga sudah dirapihkan sebagai tempat akad nikah.


"Kasian Qeena ya" bisik Pak Shaka.


"Inilah jodoh Yah ... sama kaya saya dan Erin dulu, menikah buat menyelamatkan adik biar ga jadi kasus ke polisi" jawab Aa' Zay pelan.


"Tapi Qeena masih muda" kata Pak Shaka lagi.


"Lebih muda Erin Yah... masih sekolah malah .. ya semoga mereka berdua panjang jodoh. Saat pertama ngeliat Dafi ga tau kenapa langsung ingat Qeena. Rupanya love sense Aa' masih jalan ya .. hehehe, hari ini mereka nikah walaupun pake drama. Tapi Aa' yakin kok kalo Dafi itu lelaki yang memegang ucapannya. Aa' yakin dia siap dan mau menikahi Qeena. Dia kan keliatan banget sayang sama Mak Nuha. Mak Nuha juga sering nyebut nama dia kalo lagi cerita. Malah jarang nyebut nama Fajar. Rupanya Allah mentakdirkan mereka jadi Ibu dan Anak ..." kata Aa' Zay dengan mata berkaca-kaca.


Iyus udah bersiap menjadi wali nikah dari Qeena. Dafi pun sudah duduk dihadapan sepupu Ayahnya yang bertindak sebagai penghulu.


"Ini benar Bapak kandungnya Qeena?" tanya sepupunya Pak Dzul.


"Kalaupun benar Pak Iyus ini Ayah kandung Qeena, beliau ga berhak menjadi wali nikah Qeena karena Qeena tidak bisa bernasab sama Ayahnya" lugas Dafi menolak.


"Jangan sembarangan ya .. dia tuh anak kandung saya, tanya aja sama Nuha siapa Ayahnya Qeena" ujar Iyus marah.


"Benar apa yang Mas Dafi bilang. Bapak Iyus ini tidak bisa menjadi walinya Qeena" gantian Mak Nuha angkat bicara.


Akhirnya Dafi mengajak sepupunya Pak Dzul untuk berbincang sejenak di kamar tamu. Dafi menceritakan kalo Qeena adalah anak diluar nikah. Dafi tidak mau aib ini menjadi tersebar kalo tadi dia bicara dimuka umum.


"Baik Mas Dafi .. benar apa yang Mas tadi bilang, Ayahnya tidak bisa menjadi wali. Yang sabar Mas Dafi, saya juga yakin Mas ga akan berbuat hina seperti ini. Ikhlaskan hati, semoga ini jodoh yang Allah pilihkan buat Mas. Apapun yang terjadi adalah takdir dari Allah. Jangan ada kata terpaksa atau ada niat untuk berpisah ketika seorang lelaki sudah mengucapkan akad nikah. Ini perjanjian kita sama Allah, bukan sama manusia. Mas siap bertanggungjawab terhadap istri Mas kelak?" tanya Sepupunya Pak Dzul.


"Insyaa Allah saya siap" kata Dafi tegas.


Dafi dan sepupunya Pak Dzul kembali ke ruang keluarga.


"Sudah siap Mas Dafi?" tanya Sepupunya Pak Dzul.


"Ya saya siap" kata Dafi.


"Qeena bagaimana? sudah bisa menerima kalo Mas Dafi akan menjadi suami kamu?" tanya sepupunya Pak Dzul meyakinkan.


Qeena memandang wajah Emaknya yang berada tepat disampingnya. Emaknya mengangguk.


"Iya ...." jawab Qeena pelan, nyaris ga terdengar.


Ijab kabul dilaksanakan, Dafi pun mengucapkan akad dengan baik dan lancar. Dia menyerahkan uang satu juta rupiah sebagai mas kawinnya karena dia tadi di Bandara sempat mengambil uang segitu.


Mak Nuha dan Qeena menangis sambil berpelukan, saling menguatkan satu sama lain. Fajar yang berada disamping Ayahnya merasa perih mengiris melihat wanita yang dicintainya sejak kecil, kini sudah menjadi kakak iparnya.


Fajar mengutuk dirinya sendiri kenapa dia ga berani mengambil tanggung jawab Qeena saat kakaknya menolak untuk menikahi Qeena.

__ADS_1


Bu Fia terdiam membisu, ada ketakutan kalo dia menolak permintaan Pak Dzul maka akan ketauan semua rencana busuknya.


Iyuslah yang paling berbahagia atas pernikahan ini. Apalagi dia tau kalo Dafi punya karier yang akan bagus kedepannya, bayangan pundi-pundi uang udah menari dipelupuk matanya.


__ADS_2