ROTI BAKAR

ROTI BAKAR
* Slice 192, Iftar Jama'i


__ADS_3

Ba'da sholat ashar, Qeena lanjut tilawah Al Qur'an, karena jam setengah lima nanti dia mulai menyiapkan hidangan berbuka, kali ini Pak Dzul ingin semua berkumpul di rumahnya.


Fajar pulang jaga jam dua siang, jam empat sore udah sampe rumah. Dafi pulang pas Qeena lagi menyiapkan hidangan di dapur. Dafi langsung mandi, tadi dia udah sholat ashar dulu di kantor sekaligus berpamitan sama orang kantor.


Jam lima sore, Dafi turun dari kamarnya memakai sarung dan kurta kaosnya, dilengkapi pake peci ala santri. Dia membawa Al Qur'an, karena tadi ba'da subuh baru baca satu juz. Kebiasaan dulu sebagai santri masih melekat, minimal harus bisa tiga kali khatam di Pesantren, makanya kalo ada waktu luang sambil melepas lelah, dia memilih membaca Al Qur'an. Bacaannya sengaja dikeraskan agar yang di rumah mendengar dan mendapatkan pahala seperti yang baca.


"Mas Dafi kalo baca Al Qur'an kenceng gitu Mba?" tanya Qeena ke Mba Mini yang lagi nyuci perabotan disebelah Qeena yang lagi membuat mie goreng.


"Kadang sih, tapi biasanya kalo kenceng kaya gitu, lagi nyindir seseorang" jelas Mba Mini.


"Nyindir siapa?" tanya Qeena.


"Ga liat emang dari pagi, Ibu selonjoran di sofa sambil main HP mulu, ga ada ibadahnya" bisik Mba Mini.


"Waduh nyindirnya bikin kena mental itu .. hehehe, Qeena pasti kena deh nih, soalnya belum satu juz hari ini, abis cape dari pagi" ucap Qeena dengan suara kecil.


"Kita juga ditantang sama Mas Dafi. Kalo yang bisa khatam walaupun satu kali, pasti dikasih uang tambahan. Tahun kemarin tuh Mas Narto sama Mas Anto dikasih gope karena khatam" ujar Mba Mini.


"Pokoknya siapa aja bisa dapat gitu? asal khatam doang syaratnya?" tanya Qeena.


"Iya .. ga di cek juga kapan bacanya. Kata Mas Dafi .. kalo bohong mah urusan kita sama Allah, dia hanya membayar janji aja buat kita semua termotivasi. Wong Pak Dzul aja dua tahun yang lalu dikasih kok karena khatam, tahun kemarin ngga karena kan lagi sibuk banget deh pokoknya, pulang aja malam terus" cerita Mba Mini.


Jam lima lewat dua puluh menit semua takjil udah matang semua. Rian tengah tiduran di lantai sambil menempelkan perutnya di ubin yang dingin.


"Mas Rian ngapain tiduran disini?" tanya Qeena sambil menghampiri.


"Laparrrr" dengan intonasi yang ga jelas dan lemas.


"Mas Rian hebat deh, bisa kuat sampe maghrib. Qeena ada hadiah" kata Qeena yang duduk disampingnya Rian.


"Apa?" tanya Rian antusias tapi dia lemas.


"Qeena bikinin orek tempe sama bening oyong pake soun buat Mas Rian .. mau makan buat nanti maghrib?" tawar Qeena.


Rian langsung mengangguk dan mengajak Qeena ke dapur buat ambil.

__ADS_1


"Udah disiapin kok .. sekarang Mas Rian ambil meja makannya dulu" pinta Qeena.


Dengan penuh semangat dan sisa tenaga, Rian mengambil meja makannya dan diletakkan dekat Qeena.


Dafi masih membaca Al Qur'an tapi sesekali memperhatikan gerak-gerik Qeena dan Rian. Fajar tertidur di sofa sama kaya Izma. Pak Dzul sedang tilawah di Musholla rumahnya. Bu Fia masih asyik ketawa-ketiwi sambil mengetik sesuatu di HP nya.


Mak Nuha dan lainnya makin sibuk nyiapin semua hidangan berbuka. Setelah tertata rapih, mereka menonton acara kultum di televisi. Dafi dan Pak Dzul sudah meletakkan Al Qur'an nya, masih ada waktu sepuluh menit menjelang berbuka.


"Ketika seorang lelaki memutuskan untuk menikah maka harus menyadari bahwa siap memulai untuk menciptakan keluarga baru yaitu kita dan istri, bukan dengan orang tua kita atau orang tuanya. Orang tua hanya bagian dari kehidupan baru yang kita mulai, bukan pemeran utama. Bahasan kali ini lebih ke mertua. Wahai para mertua, engkau pun harus menyadari ketika anak lelakimu menikah artinya dia akan menjadi pemimpin dan imam dalam sebuah keluarga baru, maka janganlah engkau turut campur kecuali dalam hal kebaikan. Mertua jangan pernah mengkritik segala kekurangan menantu karena pastinya anak lelaki kita juga punya kekurangan dimata istri dan mertuanya. Maka ketika anakmu menikah, istri yg lebih tau segala kekurangan anakmu, jangan membicarakan kekurangan menantumu kepada orang lain karena menantumu pun bisa membuka segala kekurangan anakmu. Para mertua pun sudah merasakan bagaimana menjadi seorang menantu, jadi tau bagaimana rasanya kalo rumah tangga ada kisruh campur tangan mertua. Ingat tugas kita sebagai orang tua hanya menasehati bukan mencampuri. Wahai mertua .. jangan engkau bandingkan menantumu dengan menantu yang lain, apa kita sudi dibandingkan dengan mertua yang lain? Wahai mertua .. jika mempunyai anak perempuan, maka ingatlah bahwa suatu saat anak perempuan kita akan menjadi menantu orang lain, apa kita ikhlas kalo anak perempuan diperlakukan sama seperti kita memperlakukan menantu secara ga baik? Maka berbaiklah kepada menantu kita agar anak kita pun diperlakukan secara baik oleh mertuanya" isi kultum tersebut.


Entah kenapa otomatis, semua memandang kearah Qeena dan Bu Fia bergantian sambil menahan ketawa.


"Pada kenapa nahan ketawa kaya gitu?" tanya Bu Fia rada kesal.


"Kok bisa pas ya" ujar Pak Dzul bersuara.


"Pas apaan Yah?" kata Bu Fia.


"Pas banget denger kaya gitu .. pas mau adzan maghrib .. jadi bisa minum biar ga emosi" Pak Dzul berusaha mencairkan suasana.


"Ide bagus nih Mas .. kan kalo udah kita tata di piring, jadinya ga rebutan makanan nantinya" jawab Izma.


Qeena merapihkan makanan di mejanya Rian. Dafi duduk disebelah Rian. Dihadapannya udah ada air putih dan tiga butir kurma.


Semua udah memilih hidangan berbukanya masing-masing, hanya Dafi yang belum milih. Tapi Qeena ga enak hati mau makan duluan karena melihat Dafi hanya akan berbuka pakai kurma. Dia pun ikutan kaya Dafi.


Adzan maghrib berkumandang. Dafi yang membatalkan shaumnya dengan cara sederhana, kalo yang lain mah udah langsung menyerang hidangan yang ada.


Setelah lima menit menikmati kurma dan air putih, Dafi mengajak semua sholat. Tapi hanya Qeena yang ikut berjama'ah karena rasanya ga enak dia makan sedangkan Dafi masih belum makan.


"Nanti dulu Mas .. baru juga adzan. Nih kolak biji salak juga belum sampe lambung, masih baru lewatin kerongkongan" kata Izma.


Rian tampak lahap memakan nasi pakai sayur bening oyong kesukaannya. Walaupun makannya belum terlalu rapih, tapi udah jauh lebih baik semenjak dirawat sama Qeena. Bahkan ini adalah shaum pertama dalam hidupnya Rian.


Qeena mencium tangan Dafi selepas sholat. Dafi mengusap kepalanya Qeena. Semua mengamati sambil menikmati hidangan.

__ADS_1


"Neng ... seperti ini aja udah sebuah kenikmatan yang ga bisa Mas dustakan. Bersama-sama, kita isi hati ini dengan kecintaan kepada Allah Yang Maha Menciptakan. Bersama-sama, kita bangun keluarga yang saling menguatkan untuk terus mengejar ridhoNya. Bersama-sama, kita bangun keluarga yang menebar manfaat untuk banyak orang. Mas mau berangkat lusa ke Semarang, janji ya kita harus meluangkan waktu untuk menelepon atau chat setiap hari untuk sekedar bertanya kabar hari ini. Neng... nanti .. seiring berjalannya waktu, kita pastinya akan menemui kekurangan masing-masing diantara kita. Saling mengingatkan ya Neng buat tetap berusaha berpikir tanpa emosi untuk mengambil keputusan yang tepat. Mas mohon .. jangan menyerah dalam menjalani rumah tangga sama Mas. Seberapa pun sulitnya rintangan yang kita hadapi .. please ... teruslah berjalan menuju keridhoan-Nya. Itu aja yang Mas minta sama kamu Neng. Bismillahirrahmanirrahim .. Mas siap berada satu shaf didepanmu, apa kamu siap selalu berada satu shaf dibelakang Mas?" ucap Dafi yang ga melepaskan genggaman tangannya ke tangan Qeena.


Qeena bingung juga ditembak seperti itu. Sebagai wanita normal, siapa yang ga meleleh dengan ucapan seromantis itu. Tapi bersamaan itu pula ada rasa khawatir takut tersakiti, rasa ga nyaman atas penolakan Bu Fia terhadap dirinya dan kisah masa lalu yang belum ada ujungnya.


"Woyyy ... untung udah buka... jadi sebagai jones ya masih bisa ngunyah bakwan daripada gigitin bantal dipojokan" ucap Fajar.


"Mas Dafi ... Mba Parti baperr ... ya ampun Mas ... kok bisa sih ngomongnya begitu, kayanya Mas Dafi yang Mba Parti kenal tuh banyakan diem, tapi ternyata diam-diam menghanyutkan" kata Mba Parti sambil mengusap air mata pake ujung jilbab instannya.


"Mas .. makan nih Mas... emang mandangin istrinya bikin kenyang ya? kalo Ayah mah mending makan mie goreng pake gorengan yang enak banget ini deh" ujar Pak Dzul.


"Ayah kok gitu sih, mentang-mentang anak udah gede jadi ga romantis lagi" protes Bu Fia.


"Bun .. kita kalo kaya Mas Dafi sama Qeena ya udah ga pantes kali. Mereka masih belum mikirin beli susu anak, memenuhi kebutuhan rumah dan anak sekolah, belum lagi tiap anak punya masalahnya sendiri .. jadi masih indah-indah aja rumah tangganya. Masih bisa saling tatap selepas sholat .. kalo kita udah harus mikir anak-anak gimana besok" canda Pak Dzul.


"Pak .. lama-lama saya berasa jadi kaum fakir asmara deh .. mau kaya gitu jugaaaa" lanjut Mba Parti.


"Makanya move on dong Parti .. dunia ga sesempit pikiran kita" nasehat Pak Dzul.


"Itulah Pak .. dulu trauma .. sekarang udah tua siapa yang mau coba" jawab Mba Parti.


"Ya Allah, penuhilah hati anak-anak kami dengan cahaya dan hikmah, jadikan mereka hamba-hambaMu yang pantas menerima nikmat dan perbaikilah diri mereka. Mas Dafi .. Emak titipkan Qeena dalam dekapanmu. Mak yakin kalian akan lebih kuat kalo bersama" ucap Mak Nuha dalam hatinya. Ga terasa ada bulir hangat jatuh dipipinya, buru-buru Mak Nuha mengusap air mata tersebut agar ga ketahuan sama siapapun.


Qeena melipat mukenanya. Dafi mengajak Qeena menikmati hidangan. Qeena mengambilkan makanan buat Dafi.


"Mas mau apa?" tanya Qeena.


"Apa aja yang Neng sediain .. Mas makan" jawab Dafi dengan penuh senyum.


"Yuk sholat yuk ... kali aja nih otak kita bisa adem, bisa meleduk nih liatin kemesraan mereka terus. Perut kenyang sih .. tapi hati jomblo tuh karena kosong, jadi bawaannya lapar mulu ..hehehe" canda Fajar.


"Iya nih Mas .. bisa-bisa puasa kita ga ada artinya gegara iri dengki sama mereka.. hahahaha" sahut Izma.


"Kalo masih baru mah ya.. apa aja disiapin .. coba setahun lagi, pasti bilangnya gini .. emang ga bisa ambil sendiri? udah tau ada di meja tuh makanan, manja aja pengen dilayanin, udah mah cape seharian sama kerjaan rumah and the bla and the bla ..." celetuk Mas Anto.


Semua ketawa mendengar celetukan Mas Anto.

__ADS_1


 


__ADS_2