
"Jangan becanda gitu dong Mas, masa masalah serius dibawa becanda" protes Izma setelah Leo pulang.
"Masalah? emang masalahnya apa? bukannya ini perihal lamaran?" tanya Dafi sok bingung.
"Mas Dafi kan anak tertua, harusnya jadi contoh dong buat adik-adik, ini malah aneh gitu. Mas kan biasanya dewasa, bijak .. kenapa ketularan Mas Fajar sih yang rada somplak" lanjut Izma.
"Emang Mas sejenis virus apa? segala menularkan" sahut Fajar.
"Ini Mas berdua kenapa sih? abis kajian malah aneh sikapnya" ujar Izma heran melihat kedua kakaknya seaneh tadi.
Dafi dan Fajar masih aja ketawa melihat Izma yang cemberut.
"Sini deh ... sini duduk ditengah-tengah kita" ajak Dafi.
Izma mengikuti keinginan kakaknya.
"Ma... masalah pernikahan itu ga bisa sekedar modal suka dan sayang" buka Dafi.
"Wait .. wait ... Mas ga inget sejarah pernikahan Mas?" balik Izma nanya.
"Ya itu mah satu dalam seratus juta kasusnya. Please deh ga usah nyambungin sama pernikahan Mas sama Qeena. Kita beda orang, beda takdir, beda keadaan.. ya pokoknya beda semua lah. Mas tau kamu juga suka sama Leo, tapi jangan dijual murah dong adik Mas yang paling cantik ini. Kamu itu salah satu amanah Ayah yang harus Mas jaga. Semoga ga salah langkah dan ga salah memilih orang" kata Dafi.
"Kami nih bersikap santai, semata-mata biar ga tegang. Leo kayanya serius banget, kaya dosen lagi ngajar mahasiswa. Kan biar dia juga tau, beginilah keluarga kita, bebas tapi sopan. Mas mau kamu tuh melakukan sholat istikharah dulu, berbincang dulu sama Bunda dan kita semua. Kita bahas plus minusnya, kamu bisa terima ga kondisinya nanti. Pokoknya Ma .. kita akan lakukan yang terbaik buat our beloved princess" tambah Fajar.
"Ahhh so sweeeeettt banget sih.." kata Izma sambil memeluk kakaknya.
Tiba-tiba Andra udah merembet di kakinya Dafi bawa mobil-mobilan.
"Ada yang ngiri nih Ayahnya dipeluk-peluk" ucap Dafi yang langsung menggendong anaknya.
Izma langsung mencubit pipi bakpaonya Andra.
"Mas .. kok ga sarapan?" tanya Qeena yang datang menghampiri Dafi.
"Abis belum ditawarin sarapan sama ayang" jawab Dafi.
"Kambuh deh errornya.. malu Mas sok manja gitu, udah punya buntut juga" sahut Izma.
"Sirik ya belum punya ayang? jadi ga ada yang nawarin sarapan .. hahaha" kata Dafi.
"Emang ayang itu ibu kantin segala nawarin sarapan?" jawab Izma.
Alifa juga menghampiri Fajar.
"Kalila mana?" tanya Fajar.
"Tidur, tadi kan Mas berangkat ke Mesjid dia bangun terus ngajak main sepeda, jadinya sekarang cape" jawab Alifa.
"Ohhhhh" kata Fajar.
__ADS_1
"Mas udah minum kopi belum pagi ini?" tanya Alifa ke Fajar.
"Belum lah .. kan belum dibikinin sama ayang" jawab Fajar ga mau kalah sama Dafi.
"Rasanya weekend gini mau lanjutin tidur ah .. kan belum punya ayang .. jadi ga ada yang diurusin dan diingetin ini itu" ucap Izma sambil berjalan menuju kamarnya.
"Dia sewot tuh..." ledek Fajar.
"Apaan itu sewot? happy weekend all... saatnya rebahan mumpung belum disuruh ayang bikin kopi atau nawarin sarapan" canda Izma.
💐
Sore hari, tampak Bu Fia termenung didekat kolam renang yang sudah dipagar sekelilingnya agar Kalila dan Andra ga langsung bisa nyemplung ke kolam. Dafi yang melihat Bu Fia sendirian, langsung menghampiri.
"Kenapa Bun? kok bengong sendirian, kayanya ada yang dipikirin ya?" tembak Dafi saat melihat Bu Fia.
"Lagi mikirin Izma" jawab Bu Fia.
"Apa yang Bunda khawatirkan?" tanya Dafi.
"Akhirnya sampai juga ya pada masa anak perempuan dibawa sama orang yang mencintai dia. Kayanya gimana gitu" kata Bu Fia dengan mata berkaca-kaca.
"Fitrahnya Bun, kita kan juga mau melihat Izma menapaki dunia baru" ucap Dafi.
"Ya sebagai orang tua, tentu Bunda gembira kalo Izma menemukan tambatan hatinya. Wajar kan Bunda ngerasa ada kesedihan yang cukup mendalam. Putri yang dilahirkan penuh perjuangan, dibesarkan dengan cinta, dirawat dengan kasih sayang dan pada akhirnya tumbuh dewasa, kemudian harus berpisah dengan orang tua setelah menikah. Seakan ada yang hilang aja" jelas Bu Fia.
"Ada juga rasa takut kalo Izma akan lebih sibuk dengan keluarga barunya dan ga lagi punya banyak waktu untuk orangtua, terutama Bunda. Kan Bunda udah sendirian, ga ada Ayah yang menemani. Setelah Ayah tiada, kalian semua sibuk, punya mantu juga punya kesibukan masing-masing. Cuma Izma yang nemenin Bunda tidur, hangout bareng, curhat ala wanita. Alhamdulillah sekarang udah punya cucu, jadinya Bunda ada kegiatan momong mereka" ucap Bu Fia rada sedih.
"Cukup beralasan kok kekhawatiran Bunda, pastinya kelak Izma akan lebih sibuk dengan keluarga barunya dan ga lagi punya banyak waktu buat kita, kalo pisah rumah ya Bun. Tapi kan nanti kita bisa bicarakan kedepannya bagaimana. Yang terpenting apa kita terima atau ngga pinangan Leo" ujar Dafi.
"Dia dibesarkan dengan cinta dan pengorbanan hingga bisa hidup layak dan mendapatkan pendidikan yang baik. Apakah kehidupan rumah tangganya kelak akan bahagia dan jauh dari mara bahaya?" lanjut Bu Fia.
"Balik lagi pembahasannya kesitu... Bun .. menikah berarti memulai hidup berdua, menghadapi susah senang bersama dan tentu saja berjuang bersama. Semua sudah ada rejekinya Bun. Kita do'akan aja yang baik-baik buat mereka. kita sebagai kakak juga ga akan lepas tangan. Mangan ra mangan sing penting kumpul" kata Dafi.
"Tuh kan... Mas Dafi aslinya ya kaya gini, tenang dan bijak kalo diajak ngobrol serius. Ngga kaya tadi pagi pas ada Mas Leo" ucap Izma yang datang tiba-tiba dari arah belakang.
"Nguping aja pembicaraan orang tua" protes Dafi.
"Terus jadinya gimana nih?" tanya Izma.
"Oh ternyata dia udah gatel pengen kawin Bun.. dari tadi nanyain mulu. Sholat belum, shaum belum, ngobrol panjang belum.. " papar Dafi.
"Mas kok gitu sih, kan Izma minta pendapat" sahut Izma.
"Do you love him?" tembak Dafi.
Izma dan Bu Fia saling berpandangan.
"Ma .. jawab dong?" tanya Dafi.
__ADS_1
"Gimana ya Mas .. ya emang dia tuh banyak penggemar, muka emang ga cakep-cakep banget, tapi sabar dan ngemong banget" jawab Izma.
"Ini lagi ngomongin Leo apa ngomongin Mas?" canda Dafi.
"Tuh kannnn... mulai deh isengnya" protes Izma.
"Pernikahan yang akan kamu jalani bukan hal sederhana yang cukup hanya bermodalkan cinta. Butuh tanggung jawab besar dan kesediaan untuk menerima segala hal yang terdapat didalamnya. Dari cara pemikiran kalian yang harus diubah, tindakan dan perilaku yang harus diperbaiki. Dan berbagai hal lainnya yang mesti kamu pahami baik sebagai ibu rumah tangga. Keputusan menikah artinya dunia kita akan jadi berbeda. Kita yang dulunya suka rebahan, harus siap buat rapihin rumah atau banting tulang lebih giat lagi buat memenuhi kebutuhan hidup. Nggak ada lagi kata santai-santai karena kebutuhan nggak kenal waktu. Kamu yang suka kumpul sama teman, jadi harus dibatasi. Nggak mungkin juga kan kamu udah nikah tapi masih suka kelayapan. Terus harus siap dengan kesibukan yang hanya itu-itu saja, kalo nggak pintar untuk melakukan aktifitas yang penuh inisiatif ditengah kehidupan yang monoton, pasti bakal terasa ngebosenin" papar Dafi.
"Dulu Mas mikir gitu juga?" tanya Izma serius.
"Pastilah.. apalagi Mas mempersiapkan sejak muda karena ada keinginan buat menikah muda. Apalagi sebagai lelaki, perlu bekal yang cukup. Yang pertama itu pekerjaan, harus mikirin gaji yang didapatkan cukup ga buat memenuhi kebutuhan istri hidup. Makanya harus muter otak biar dapur ngebul" ujar Dafi.
"Pantes ya Mas kerja bagai kuda" kata Izma.
"Menikah juga ga sekedar tentang kamu dan dia aja, tetapi juga menyangkut bersatunya dua keluarga. Apa kamu sudah siap membagi waktu, menerima suasana baru dan pastinya watak yang makin beragam. Sekarang minta petunjuk sama Allah. Kami sebagai orang tua ya hanya bisa mendukung kalo memang itu baik buat kamu. Mas liat juga Leo itu lelaki yang baik. Tapi Mas juga perlu tau lebih dalam dulu tentang dia dan keluarganya. Kalo bisa tolong bilang ke Leo untuk memberikan waktu buat kamu meminta petunjuk Allah. Nanti datangnya dua Minggu lagi aja, semoga kamu udah dapat jawaban atas do'a kamu. Selamat tambah dewasa ya Ma .. karena sebagai wanita dewasa, kamu berhak memilih calon pendamping hidup. Kebahagiaan kamu adalah kebahagiaan Mas juga. I love you" ungkap Dafi.
Izma memeluk kakaknya dari belakang.
"Semua orang dilahirkan ga sempurna Mas Tapi bagi Izma, Mas sempurna sebagai seorang kakak. Mas selalu menguatkan dalam situasi yang sulit, Mas juga selalu melindungi dalam keadaan takut. Makasih Mas.. Izma juga sayang banget sama Mas" ucap Izma.
"Ada berita apa ini segala nangis gitu, aroma-aroma adik meminta restu ke kakak nih" kata Qeena yang ikut bergabung.
"Iya nih .. udah mau dilamar cowok kok masih aja manja dan cengeng. Malu loh kalo keliatan Leo" canda Dafi.
Andra nangis minta renang setiap kali liat kolam renang.
"Besok ya renangnya, kan tadi pagi udah lama renangnya" kata Qeena.
Andra makin ga mau tau minta renang. Dafi kemudian menggendongnya.
"Mas Andra .. main sepeda yuk, nanti Ayah dorong keluar" ajak Dafi sambil mengambil sepeda kecil milik Andra.
Dafi mendorong sepeda tersebut keluar pagar rumah. Lama rasanya ga keliling daerah sini. Sepanjang jalan banyak yang gemes sama Andra. Tapi Dafi udah bilang jangan dicubit-cubit anaknya.
"Mas Dafi rajin nih ajak jalan putranya" kata Pak RT yang lagi duduk di poskamling.
Dafi menghampiri dan bersalaman.
"Iya nih Pak RT, anak saya banyak main di rumah aja, jadi ya sesekali diajak main keluar begini, biar ga kaget ketemu banyak orang" ujar Dafi.
"Abisnya Bapaknya sibuk keluar kota, Ibunya juga sibuk usaha. Ya mau ga mau anaknya cuma di rumah aja" jawab Pak RT.
"Begitulah Pak .. makanya saya mau rutinin ajak Andra jalan-jalan keliling daerah sini. Anak saya ga rewel sih kalo diajak ke tempat baru, ketemu sama orang, tapi dia suka mendadak diam kalo di situasi baru. Mungkin karena kalo diluar begini kan ga semua orang fokus ke dia seperti orang-orang di rumah" alasan Dafi.
"Berarti harus sering dilatih, biar gampang bergaul kaya Bapaknya. Gimana nih Mas Dafi, ada pemilihan RW dua bulan lagi, banyak warga dukung Mas Dafi loh" kata Pak RT.
"Waduh .. saya masih belum bisa fokus urus warga Pak .. yang lain saja, Bapak aja yang maju ke pemilihan RW, kan belum pernah ketua RW terpilih dari RT sini" usul Dafi.
"Saya mah cukup jadi RT aja Mas.. pusing kalo jadi RW, lebih banyak lagi yang dipikirin" lanjut Pak RT.
__ADS_1