
Qeena lagi tiduran di kamarnya. Dafi yang baru pulang dari Klinik langsung mandi dulu karena bau keringat dan ada sisa tanah menempel ditubuhnya. Setelah selesai mandi, Dafi ikut tiduran di ranjang bersama Qeena.
"Semalam ga makan, tadi pagi juga ga keliatan sarapan, udah siang begini anak Ayah udah makan belum ya?" tanya Dafi sambil mengusap perutnya Qeena.
Qeena masih aja manyun.
"Apa? belum makan? Dede emangnya mau makan apa? nasi, mie goreng, kwetiau, gado-gado, ketoprak, soto, pizza atau apa gitu?" lanjut Dafi ngomong sama perutnya Qeena.
Qeena pura-pura tidur.
"Kalo diajak jalan-jalan mau ga? atau mau dipesenin makanan aja via ojol? Ayah juga lapar nih, tadi makanan yang dikasih sama para warga udah ludes buat orang yang ikut memakamkan Rian. Sekarang tuh dibawah lagi ngeborong gerobak bakso, mie ayam sama siomay .. Dede mau?" lanjut Dafi.
Qeena masih pura-pura tidur.
"Gimana Dede makannya ya? mungkin kalo Ayah bisa sulap, udah bisa masukin makanan ke perut" kata Dafi masih ngomong sendiri sambil mencium perutnya Qeena.
Telepon Dafi berbunyi, ada panggilan dari nomer Bapaknya Zahwa. Dafi sengaja memencet tombol loud speaker dan tiduran dibelakangnya Qeena.
Bapaknya Zahwa mengucapkan terima kasih ke Dafi atas bantuannya ke Zahwa semalam, sekaligus menyampaikan rasa duka cita terhadap kepergian Rian.
"Sekarang mau langsung pulang Pak?" tanya Dafi.
"Besok naik pesawat paling pagi, kami baru aja sampai di Hotel sore ini, ga tau deh nasib Zahwa kalo ga ketemu kamu. Sekali lagi makasih banyak ya" ujar Bapaknya Zahwa.
"Ya kebetulan saya melintas disana Pak, mungkin kalo orang lain bisa aja melakukan hal yang sama, gimana kondisi Zahwa sekarang Pak? semalam keliatannya takut banget sampe tangan saya dipegangin terus. Mau tanya-tanya juga saya ga sempat karena mau buru-buru sampe rumah" papar Dafi.
"Alhamdulillah udah tenang dan bisa cerita semua kejadiannya" jawab Bapaknya Zahwa.
"Emang ada kejadian apa ya Pak? ya kalo boleh tau aja sih, kalo ga boleh tau juga gapapa" lanjut Dafi.
HP diambil sama Zahwa. Dia akan bercerita, masih ada suara berat seperti habis nangis.
__ADS_1
"Mas ... makasih ya" ucap Zahwa.
"Ya .. kamu udah oke? kalo ga mau cerita juga gapapa" jawab Dafi.
"Mas masih ingat kan banyak pengajian-pengajian orang baru didaerah sekitar tempat tinggal Wa. Ceritanya kan sepulang dari Semarang waktu itu, ikut aktif lagi di pengajian Mesjid, diajak sama teman SMA. Agak jauh dari rumah. Ya karena kita kan butuh terus upgrade ilmu, akhirnya ikut deh, itung-itung menambah wawasan Wa tentang agama. Tiga Minggu ikut pengajian itu, ga ada yang aneh-aneh, nah akhirnya kita diajak sama para ustadzahnya ikut ke Jakarta, ada acara khitanan massal kabarnya, kami diminta buat membantu karena akan ada dua ratus anak yatim piatu dan dhuafa yang akan dikhitan secara massal. Sangat meyakinkan ada pamflet yang dikasih ke kami dan foto-foto para peserta yang udah terdaftar. Ijin sama Papa boleh ikut ke Jakarta, akhirnya pas hari yang ditentukan, kita dijemput pake mobil, ada beberapa teman SMA lainnya juga ikut. Semua akomodasi dan transportasi mereka tanggung. Perjalanan darat lumayan deh sampe di Jambi, terus naik pesawat ke Jakarta. Dari Bandara Halim Perdanakusuma kami dijemput sama bis tanggung gitu menuju kesebuah rumah yang tergolong lumayan mewah, rumah tingkat dengan isi rumah yang serba apik dan dibelakang rumahnya ada kolam renang. Disana rupanya tempat berkumpul dari berbagai wilayah. Ada kali sekitar lima puluh orang. Gak begitu lama datanglah seorang bapak-bapak, perawakannya tinggi besar, kulit putih dan bersih kelihatan seperti orang alim. Infonya itu suaminya ustadzah. Beliau memberikan ceramah. Dengerin ceraman si Bapak terus terang ga satupun yang Wa percaya, karena gak nyambung aja pake logika. Walau begitu ya dengarin aja. Terus HP kami dikumpulkan dulu agar lebih fokus ibadah, alasannya kalo megang HP pasti banyak gangguan dalam beribadah. Selesai ceramah ternyata si Bapak menyuruh kami untuk ambil wudhu, kita mau sholat berjama'ah. Nah ajakan solat berjama'ah tentu dong kita semua terima. Satu persatu orang yang hadir bergiliran ngambil wudhu, selesai ambil wudhu, ada yang tanya mau pinjam mukena karena ga bawa. Eh dijawab sholat gak perlu pakai mukena, jadi tuh sholat pakai baju biasa saja walaupun gak pakai hijab juga gapapa. Masing-masing orang harus merentangan tangan dahulu sebagai jarak sholatnya, jadi ga rapat shafnya. Laki-laki dan perempuan boleh dimana saja ga perlu terpisah, karena di Mekkah depan Ka'bah pun bersenggolan tidak membatalkan wudhu. Wa yang merasa keanehan begini tuh ya gak enak banget. Ini bukan ajaran agama kita. Akhirnya nekat kabur saat sholat masih berlangsung. Wa ga bawa apa-apa karena dipikiran Wa harus pergi dari rumah itu. Ya rencananya kabur mau ke kantor polisi. Ada yang ngejar tapi Wa berhasil kabur dari mereka. Lari ga tentu arah karena ga tau mau kemana, ga ingat ke rumah Mas Dafi. Sebenarnya juga bingung pas mutusin mau kabur, gak tau gimana caranya kabur, tapi melihat keanehan begitu, Wa gak peduli dan harus bisa pergi. Berbekal kaki, Wa lari sekencang-kencangnya tanpa alas kaki. Setelah jauh dan dirasa aman ya duduk karena cape. Sampe akhirnya ketemu Mas Dafi buat nolongin. Kondisi Mas Dafi yang berduka jadi ga bisa menolong Wa lebih lanjut lagi kecuali menunggu pihak keluarga menjemput" cerita Zahwa menahan kesedihan.
"Ya Allah .. terus gimana sama nasib teman-teman kamu?" tanya Dafi.
"Ini Wa mau ke kantor polisi, ya masih ingat dikit-dikit jalannya. Walaupun tipis kemungkinan mereka masih ada disana" kata Zahwa.
"Ini pengajian sesat buat kearah perbuatan kriminal atau perdagangan manusia?" ujar Dafi.
"Ga tau juga Mas" jawab Zahwa.
"Ya udah .. semoga laporan kamu bisa ditindaklanjuti, maaf ya Mas ga bisa bantu, masih ada pengajian malam ini" ucap Dafi.
"Gapapa Mas .." kata Zahwa.
Qeena udah membuka matanya dan membalikkan tubuhnya kearah Dafi.
"Aamiin ya rabbal'alamin" jawab Dafi.
Kemudian Dafi melanjutkan perbincangan sama Bapaknya Zahwa karena Zahwa kembali menangis. Bapaknya Zahwa juga sudah mentransfer uang Dafi yang terpakai, tadi sudah minta nomer rekening Dafi.
Sambungan telepon sudah terputus. Dafi meletakkan HP nya di meja. Dia hendak tidur karena rasa kantuk mulai menyerang. Baru aja mau menutup matanya. Qeena udah memeluknya dari samping.
"Mas ... lapar... " kata Qeena memanja.
"Nah kan ... ngambek sampe ga makan, udah tau yang makan tuh berdua" sahut Dafi.
"Mau makan" rengek Qeena.
__ADS_1
"Ya makanlah, itu dibawah masih ada gerobak jualannya" jawab Dafi sambil merem.
"Tadi aja nawarin segala rupa, sekarang malah cuek. Mas mah begitu, ga sayang sama Qeena" kata Qeena ngambek.
"Ampun deh Neng .. jangan gitu dong, Mas cape kan dari semalam nyupir sendiri terus ngurusin ini itu, sebentar aja Mas mau istirahat dulu" ujar Dafi.
"Tuh De ... Ayah kamu mah gitu ... janjinya sampe mau ajak jalan-jalan, wong kebawah aja ga mau. Ya udah kita jalan-jalan berdua aja ya De, cari makanan yang enak. Siapa tau di restoran kita ketemu sama Chef atau owner-nya yang ganteng" kata Qeena sambil berbicara sama perutnya.
"Wait ... wait ... wait ... ayo Mas anterin kebawah. Kalo ga cocok baru pesan ojol. Masih ga cocok juga, ya kita cari keluar. Kelar dong ya ngambeknya? percayalah Neng .. Mas ga mungkin macam-macam sama Zahwa, kami masih tau batasannya" ujar Dafi sambil memegang tangannya Qeena dan membimbingnya turun dari tangga.
"Ya lagian ga cerita" ngotot Qeena.
"Gimana mau cerita kalo situasi lagi gitu ditambah kamu udah terbakar cemburu" sahut Dafi.
🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️
Ternyata memang penyesalan itu terkadang datang terlambat, sekali kita menyia-nyiakan seseorang dan akhirnya dia pergi sebelum kita sempat meminta maaf padanya serta mengubah sikap kita terhadapnya, waktu akan terus berputar dan ga akan pernah kembali ke masa lalu sesuai dengan yang kita mau. Inilah yang Bu Fia rasakan. Bisa dibilang dulu sikap Bu Fia terhadap Rian itu sangat kejam bahkan tidak pantas disebut sebagai seorang ibu.
Bu Fia membedakan Rian dari anaknya yang lain karena keistimewaan yang ga bisa beliau terima. Bu Fia selalu menomorduakan Rian. Walaupun setelah kepergian Pak Dzul, pelan-pelan semua berubah, atas campur tangan Qeena tentunya. Kematian Rian rasanya seperti disambar petir di siang bolong, hati Bu Fia benar-benar hancur, ga tau harus berkata apa.
Apalagi pagi ini, Bu Fia menemukan buku harian Rian. Tulisannya acak-acakan. Buku ini mulai terisi ga jauh dari tanggal pernikahan Dafi. Saat itu memang Rian sudah lumayan bisa membaca dan menulis.
#Kenapa Bunda selalu marah ya sama Rian?#
#Maafin Rian ya Bun. Kapan Bunda mau main sama Rian?#
#Rian pengen dipeluk sama Bunda#
Seputar itu aja isi tiap lembarnya. Rupanya memory Rian penuh akan rasa haus kasih sayang seorang Bunda.
Terlihat dari tulisannya kalo Rian sangat bersemangat belajar menjadi "anak normal" dimata Bu Fia. Teringat perkataan Qeena yang dulu membuat Bu Fia tersadar.
__ADS_1
"Selama bertahun tahun dia belajar banyak hal agar bisa terlihat normal, dia memang istimewa, namun dia juga seorang manusia dan dia adalah anak yang lahir dari cinta dalam keluarga ini, kenapa sampai tega mengabaikannya?" ucap Qeena saat itu.
Bu Fia menangis di tempat tidur Rian, menyesali segala kesalahan dimasa lalu, mengapa bisa setega itu melakukan semua hal yang ga baik ke seorang anak yang sama sekali ga berdosa seperti Rian.