ROTI BAKAR

ROTI BAKAR
* Slice 286, Langkah Mak Imah


__ADS_3

"Mas ... ada tamu" kata Qeena membangunkan Dafi yang kembali tidur seusai sholat subuh.


"Siapa tamu pagi-pagi begini? itu tamu mau numpang sarapan kali ya?" ujar Dafi malas-malasan begitu liat jam didindingnya menunjukkan jam enam lewat empat puluh lima menit.


"Ayo bangun..." ucap Qeena lagi sambil mengusap kepalanya Dafi.


"Kalo diusap-usap begini malah bikin bangun yang lain Neng" canda Dafi.


"Udah deh ga usah ngelawak aja. Kasian tamunya nungguin tuh" pinta Qeena.


"Siapa sih? Pa RT ngajak kerja bakti? atau ada yang mau pinjam uang?" tanya Dafi.


"Mas Dion" jawab Qeena sambil merapihkan tempat tidur.


"Yeilahhh... tamu ga penting, pagi-pagi pula" kata Dafi rada malas.


"Temuin aja dulu, siapa tau dia punya penawaran yang menggiurkan buat Mas" ucap Qeena.


Dafi mencuci mukanya dulu biar tampak segar, kemudian dia turun tangga dan menemui Dion di teras rumah. Qeena memang belum mempersilahkan masuk karena Dafi masih tidur tadi.


"Masuk aja kedalam, ga enak diluar ngobrolnya" ajak Dafi.


Keduanya berjalan dan duduk di kursi ruang tamu.


"Mau minum teh apa kopi?" tanya Dafi.


"Terserah Mas aja" jawab Dion.


"Neng ... tolong bikinin kopi dua ya, punya Dion ga usah banyak gula dan ga usah diaduk" kata Dafi.


Dion memang paling takjub sama kakak kelasnya ini, selalu paham sama kebiasaan semua orang yang dekat sama dia.


"Ada apa nih pagi-pagi datang? mau ngundang apa gimana?" tanya Dafi dengan cueknya.


"Kemarin saya terima surat somasi untuk menjawab apa yang Mas minta sebelum pengajuan ke pihak berwajib" buka Dion.


"Terus sudah susun jawaban somasi saya? itu sebagai salah satu upaya damai loh dari saya" ujar Dafi.


"Tapi kenapa bukan dari biro hukum Pak Pramudya ya Mas? bukannya beliau kuasa hukum Mas Dafi?" tanya Dion.


"Penting ya pertanyaan itu saya jawab?" tanya balik Dafi.


Dion malah diam, Qeena menyajikan kopi hangat buat Dafi dan Dion, dia juga meletakkan kue bolu yang sudah dipotong sebagai kudapan.


"Saya batal nikah Mas karena masalah ini" ucap Dion sedih.


"Karena calon mertua akhirnya tau bagaimana belangnya kamu ya?" tanya Dafi.


"Kok Mas tau? kan masalah ini belum bergulir. Orang tua saya aja belum tau Mas" kata Dion heran.


"Kan calon mertua kamu itu Pak Pramudya, so pasti tau dong belang calon menantunya" jawab Dafi sambil tersenyum.


"Mas tau kalo...." ujar Dion menggantung.


"Saya tau sebelum Pak Pramudya jadi kuasa hukum saya. Sebelum somasi saya layangkan ke kamu, saya udah memutuskan kontrak dengan Pak Pramudya menjadi kuasa hukum saya. Mungkin ini kasus yang ga seberapa nilainya, tapi punya catatan kriminal pasti membuat calon mertua kesel kan?" sahut Dafi penuh kemenangan.


"Maaf Mas ... saya khilaf" jawab Dion.


"Manusia emang tempatnya khilaf. Tapi apa yang saya minta cuma kejujuran aja kok. Kita bukan kerjasama setahun dua tahun. Kenal pun lama. Kalo kamu ga merasa adil dalam pembagian keuntungan, kenapa ga kita duduk bareng aja buat membahas ulang. Saya tau kok ga fokus lagi kesana, tapi pendapatan keuntungan saya untuk adik-adik yang kurang beruntung. Saya uang dari mana kalo ga dari sana. Tau kan kerjaan saya gaji seberapa sih, ditambah saya juga punya keluarga. Sesimple itu sebenarnya yang saya minta" kata Dafi.


"Saya gelap mata Mas, ya karena dekat sama putrinya Pak Pramudya, gaya hidup saya harus bisa mengimbangi. Sampe saya lupa sama niat awal kita" papar Dion.


"Sekarang berasa ya kalo ngikutin gaya hidup ga akan ada kelarnya. Mungkin Allah kasih teguran juga dengan batalnya nikah, biar ga menjalin toxic relationship. Wake up bro .. kemana Dion yang dulu" kata Dafi.


"Iya Mas .. saya sadar sekarang" ucap Dion mulai merasa menyesal.


"So ... gimana sekarang?" tanya Dafi tanpa basa basi.


"Saya datang menawarkan perjanjian baru buat kita Mas" ujar Dion.


"Langsung aja .. berapa persen kamu mau kasih ke saya buat melepaskan diri dari kepemilikan tempat les?" tembak Dafi.


"Mas lima puluh lima .. saya empat puluh lima" jawab Dion.

__ADS_1


"Enam puluh persen deal ... ga ada tuntutan hukum, semua jadi milik kamu kalo udah kamu bayar bagian saya. Ga perlu ganti nama karena brandnya udah kuat. Dan yang lebih penting, saya akan bantu ngomong sama Pak Pramudya biar kamu bisa menikah sama anaknya. Dengan catatan emang kamu udah cinta mentok banget sama anaknya Pak Pramudya" tawar Dafi.


"Terlalu banyak Mas kalo pembagiannya segitu" ujar Dion.


"Sekarang minta berapa buat kamu angkat kaki dari tempat les? siapa tau secara itungan masuk dan saya jadi pemilik tunggal. Saya bisa kok bayar profesional untuk mengelola tempat itu" makin Dafi menunjukkan tajinya.


"Saya pikir-pikir dulu ya Mas" pinta Dion.


"Kenapa harus serakah sih? Apa belum cukup persahabatan kita selama ini memberi banyak keuntungan buat kamu? Maaf ya ... jangan lupa kalo kamu punya biaya kuliah dari tempat itu. Coba kamu pandang muka orang tua dan keluarga lainnya .. kalo tau kamu menafkahi mereka dengan cara yang ga baik, mungkin mereka akan marah. Jangan mah udah cape nyari rejeki halal, harus kepleset jadi haram karena korupsi .. udah gitu dosanya dibagi pula ke keluarga. Tega banget kamu" lanjut Dafi.


"Saya pamit dulu Mas, nanti saya kabarin" jawab Dion rada kikuk.


"Abisin dulu kopinya, sayang kan udah dibuatin. Ga perlu datang ke rumah. Kamu kirim chat aja ke saya. Saya mau memberikan ketenangan buat istri saya. Jadi ga mau melibatkan dia. Dengan mendengar pembicaraan kita, mau ga mau dia pasti jadi kepikiran. Satu lagi .. jangan pernah libatkan dia dalam masalah kita" ucap Dafi tegas.


🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒


Bu Fia udah rapih, dandanannya simple aja, pakai kaos dan celana kulot warna navy. Alifa memang ga mau ikut karena Kalila masih diare.


Dengan raut wajah sumringah dan hati yang bahagia karena mau diajak jalan sama Dafi, Bu Fia langsung masuk kedalam rumah Dafi.


"Astaghfirullah..... Mas... Qeena ... ampun deh Bunda sama kalian berdua" pekik Bu Fia yang membuat kaget pasangan ini.


Ternyata Dafi lagi memeluk Qeena dari belakang, padahal Qeena lagi nyuci piring, awalnya Qeena emang rada terganggu sama perlakuan Dafi, tapi akhirnya keduanya larut dalam permainan nakal dan berakhir dengan ciuman agak-agak panas, sepanas air untuk membuat kopi.


Keduanya mengakhiri "ciuman panas" mereka.


"Kebiasaan kalo adegan panas kenapa pintu ga pernah dikunci sih?" omel Bu Fia.


"Demi Bun... Demiiii" jawab Dafi.


"Demi apa?" tanya Bu Fia.


"Demi punya anak lagi, demi menguatkan cinta kita berdua. Kan istri itu tempatnya Mas nyari kesenangan plus ketenangan" ucap Dafi dengan santainya.


"Kalo diliat anak dibawah umur gimana?" tanya Bu Fia.


Dafi dan Qeena spontan celingukan.


"Kenapa pada bingung?" tanya Bu Fia.


"Kalila" kata Bu Fia.


"Ya Allah... Kalila mana paham Bun.. yang dia tau cuma ASI mamanya doang .. hehehe" ujar Dafi sambil geleng-geleng kepala.


"Awas ya nanti di Mall peluk-pelukan, Bunda cubit pokoknya" ucap Bu Fia.


"Udah kaya abege pacaran terus pergi bareng Ibunya ke Mall .. banyak peraturan" kata Dafi.


"Ya udah sana mandi" pinta Bu Fia.


"Mas sebelum subuh juga udah mandi Bun, paling tinggal cuci muka aja terus ganti baju" jawab Dafi.


"Qeena.. udah mandi?" tanya Bu Fia.


"Udah Bun .. ini lagi bebenah dulu, kan Mas abis sarapan. Kita jalan jam sepuluh kan Bun?" ucap Qeena.


"Jam sembilan aja jalannya" jawab Bu Fia.


"Mall juga masih sepi Bun jam segitu, lagian Mall cuma setengah jam juga udah sampe" kata Dafi sambil naik tangga menuju kamarnya.


"Emang mau ke Mall mana?" tanya Bu Fia.


"Bukannya yang deket rumah aja?" Dafi malah balik tanya.


"Bukan .. Bunda mau ke AIUEO Mall yang di Tangsel" jawab Bu Fia.


"Jauh amat Bun" kata Dafi.


"Disana tuh segala ada, termasuk makanan ala-ala Jepang yang Bunda suka" ucap Bu Fia.


"Di Jaksel kan ada tuh Mall sejenis" ujar Dafi.


"Kata Mas bebas milih" protes Bu Fia.

__ADS_1


"Ga sekalian aja ke Mall di Yogyakarta atau di Surabaya yang Mall nya berderet-deret panjang?" tantang Dafi.


"Emang Mas mau anterin?" ucap Bu Fia.


"Apa sih yang ga buat Ratuku" gombal Dafi sambil masuk kamar.


Qeena udah rapih bebenahnya. Dia ambil baju dari ruang nyetrika dan masuk ke kamar mandi buat mandi lagi karena bau keringat.


🍒


"Tadi Bunda liat ada tamu, siapa Mas?" ujar Bu Fia kepo.


"Dion" jawab Dafi.


"Dion mana ya?" tanya Bu Fia lagi.


"Yang kerjasama tempat les. Ayah kenal kok" jawab Dafi males-malesan.


"Oh ya Qeena... Besok produksi ga?" kata Bu Fia.


"Besok ngga Bun, Qeena kan buka kursus buat para Ibu-ibu sekitar rumah. Yang murah-murah aja. Bikin bomboloni sama puding" jelas Qeena.


"Oh jadi .. banyak yang ikut?" ujar Bu Fia.


"Qeena batasin lima dulu Bun, takutnya kebanyakan malah bingung nanti perhatiinnya" kata Qeena.


"Kamu mah pinter banget cari duitnya, orderan kue lagi sepi, kamu buka kursus" puji Bu Fia.


"Nah itulah Bun kenapa Mas setuju nikah sama dia, wanita pekerja keras yang ga gengsian. Pedomannya simpel .. lebih baik dapat cuan sedikit daripada ga sama sekali" sahut Dafi sambil mencubit pipi Qeena dengan gemasnya.


"Mulai deh ... kamu lagi nyetir loh Mas .. fokus ke jalan, jangan ngelirik istrinya terus" ingat Bu Fia.


🌺


Seminggu setelah pernikahan keponakannya Mak Imah, giliran Mak Imah yang akan dipinang. Dafi dan Qeena diminta datang sama Mak Imah (beliau meminta persyaratan ke orang tuanya, mau menerima pinangan kalo Qeena hadir, Dafi ga mau kejadian penolakan terhadap Qeena terulang kembali, mau ga mau dia ikut mendampingi).


Qeena dan Dafi duduk di bangku halaman rumah, ga masuk kedalam kumpul sama keluarganya Mak Imah.


Rombongan keluarga yang mau melamar Mak Imah memasuki rumah orang tuanya Mak Imah. Walaupun sudah sangat dewasa, wajah Mak Imah sangat cantik, apalagi dirias dengan baik oleh orang salon.


Dafi tampak mengikuti acara dengan santai, berbeda sama Qeena yang sangat keliatan ga nyaman. Omongan tetanggalah yang membuat ketidaknyamanan itu tercipta.


"Imah emang takdirnya jadi pelakor kali, ga dulu ga sekarang, jadi yang kedua mulu" ujar tetangga.


"Tapi yang ini mah tajir, kaga kaya yang dulu, udah jelek ... ga punya duit lagi" kata tetangga lainnya.


Acara ramah tamah keluarga dilanjutkan dengan makan siang bersama. Sang calon Ayah sambungnya Qeena menghampiri Dafi dan bersalaman dengan hangatnya.


"Ini Mas Dafi ya .. Anaknya Mas Dzul" ucap lelaki sebaya Ayahnya.


"Iya Pak .. lama ga ketemu" kata Dafi ga kalah ramahnya.


"Masih saudara? siapanya Imah?" tanya Pak Bintang.


"Saya mantunya Mak Imah, ini putrinya .. Qeena" kenal Dafi.


"Loh kok ga didalam, kok Imah ga bilang kalo ada anaknya hadir" ujar Pak Bintang.


"Istri saya ini dari tadi lagi mual aja Pak, daripada nanti didalam bisa mengganggu acara, jadi ya lebih baik disini aja, banyak udara jadi segar" alasan Dafi yang terpaksa berbohong karena ga mau penilaian terhadap keluarga Mak Imah jadi jelek.


"Lagi isi?" tanya Pak Bintang.


"Dido'akan aja" jawab Dafi.


"Gimana kabarnya Mas Dzul, terakhir ketemu Mas Dafi baru kuliah ya" kata Pak Bintang.


"Ayah sudah ga ada Pak, setahun lebih" jawab Dafi.


"Innalilahi wa innailaihi rojiun.. maaf saya ga dengar. Soalnya saya lagi fokus ke daerah Bali dan Nusa Tenggara, ngerjain proyek disana" kata Pak Bintang.


"Gapapa Pak .. " jawab Dafi.


"Ini anaknya Imah cantik sekali ya .. Mas emang pinter nih cari pasangan" puji Pak Bintang.

__ADS_1


"Qeena .. ini Pak Bintang dulu rekanan Ayah kalo ada proyek di kementerian. Dulu Mas sering ketemu kalo pas anter Ayah ke proyek. Siapa sangka sekarang mau jadi Ayah mertua saya ya" ujar Dafi.


Qeena sudah tersenyum, ga ada kata yang bisa dia ucap karena kecewa sama pilihan Mak Imah. Bukan dia melarang Mak Imah buat menikah lagi. Tapi Qeena ga mau Mak Imah terjerumus kelubang yang sama setelah menikah dengan Pak Bintang.


__ADS_2