
Sepulang dari membeli bahan kue dan beberapa loyang baru, Qeena menuju rumah Pak Dzul, membawakan roti kopi kesukaan Bu Fia karena dia belum menjenguk Bu Fia.
Keluarga Pak Dzul kumpul lengkap hari ini. Lagi ngobrol di teras belakang. Qeena mencium tangan Pak Dzul kemudian ke Bu Fia. Tapi Bu Fia buru-buru menarik tangannya.
"Udah sehat Tante?" tanya Qeena basa basi yang mengambil duduk disampingnya Izma.
"Beginilah" jawab Bu Fia.
"Qeena .. bawa roti nih .. ga ada dorongannya apa?" tanya Fajar.
"Ya masa ngopi pake roti kopi Mas .. air putih aja gimana?" tawar Qeena
"Bolehlah .. daripada ga ada sama sekali" ujar Fajar
"Qeena ambilin ya" kata Qeena bersiap bangun dari duduknya.
"Neng ... duduk .. jangan kolokan ya Jar .. ambil sendiri, tuh pintu dapur deket" ucap Dafi.
Qeena kembali duduk.
"Ya ileh Masss .. masa cuma minta ambilin air aja cemburu .. chilin brooo" kata Fajar.
"Kamu juga sih Jar .. demen banget ngerepotin Qeena. Harusnya sadar kalo Qeena itu Kakak ipar, masa disuruh-suruh ambilin minum" nasehat Pak Dzul.
"Bun .. dimakan ya rotinya, Qeena tadi yang punya ide beliin ini, katanya sering liat Bunda makan roti kopi" ujar Dafi.
"Kalo cuma ide doang mah anak TK juga bisa. Emang bisa beli roti pake ide? tetep aja kan butuh pake duit bayarnya. Duitnya juga pasti duit kamu" ucap Bu Fia santai.
"Bun..." bisik Pak Dzul sambil nyenggol tangannya Bu Fia.
"Saya permisi dulu .. mau nyiapin buat mulai bikin orderan" pamit Qeena.
"Mulai bikin kue kering ya?" tanya Pak Dzul.
__ADS_1
"Iya .. biar pas sepuluh hari Ramadhan, sudah bisa selesai orderannya. Mas Dafi kasih nasehat yang bikin saya jadi mikir panjang, jadi perlu dikebut" jawab Qeena sambil kembali duduk.
"Nasehatin apa Mas Dafinya?" tanya Pak Dzul kepo.
"Ya mengingatkan kalo Ramadhan itu bulan istimewa, memang bagi penjual kue seperti saya pasti akan panen orderan, tapi harus bisa seimbang antara ibadah sama nyari uangnya. Jangan gara-gara nyari uang, semua dikorbankan. Saya udah melalui delapan belas Ramadhan yang penuh perjuangan dan bisa dibilang ga bisa maksimal dalam beribadah. Apalagi sejak SMP, sampe saya harus sholat tarawihnya di rumah sendiri karena jaga toko sampe jam delapan malam. Ga pernah saya sholat di Mesjid. Sekedar buat khatam Al-Qur'an aja sampe kebut-kebutan diakhir Ramadhan. Lanjut SMA disini, belum sempat ketemu Ramadhan, kami memulai hidup baru di Ciloto. Memulai sesuatu yang baru bukan hal yang mudah bagi kami, biarpun kami upayakan beribadah yang lebih baik lagi karena masih sepi orderan, tapi otak kami terus mikir bagaimana cara melanjutkan hidup dan cukup mengisi perut, kalo bukan karena Aa' Zay sekeluarga .. mungkin kami ga tau akan jadi apa sekarang ini" cerita Qeena masih sekuat tenaga menahan air matanya agar ga menetes.
Izma mengusap punggung Qeena. Dafi menghampiri Qeena, jongkok dihadapan Qeena sambil menepuk pundaknya Qeena beberapa kali.
"Karena Mas tau bagaimana rasanya merasa sendirian? Bukan karena ga ada orang lain, tapi karena kita menanggung beban yang hanya kita yang tanggung sendirian, tanpa tau kepada siapa harus berbagi. Masih beruntung kamu masih punya iman untuk ga terjerumus dalam tindakan sesat yang hina. Tapi .. diluaran sana, masih banyak orang lain yang ga seberuntung kamu. Yang memilih menuntaskan masalahnya di dunia ini dengan cara singkat. Kamu hanya bisa mengadu pada Allah, betul memang kamu dapat kelegaan. Tapi, jauh dalam relung hati kamu, butuh manusia lainnya untuk tempat berbagi juga didengar.Β Sekarang ada Mas .. ada keluarga Mas yang siap berbagi beban dengan kamu. Jangan pernah memandang selalu kebelakang, perlu emang.. tapi cukup sesekali buat makin bersyukur atas apa yang udah kamu lewati. Angkat Kepala kamu Qeena, persoalan ga hanya selesai dengan air mata, kamu bisa sukses kedepannya kalo kamu mau kerja keras mulai hari ini. Mas akan senantiasa mendukung kamu" nasehat Dafi menguatkan.
"Mas.... baperrrr" ujar Izma yang malah menitikkan air mata.
"Woy... inget ada dua jomblo ini .. kok malah bikin kepengen punya pasangan kaya gitu" ucap Fajar.
"Mas .. sejak kapan bisa berpuitis ria kaya gitu? kirain Ayah cuma data dan angka aja bisanya" puji Pak Dzul.
Bu Fia merasa ga nyaman dan mau ninggalin teras.
"Ga usah pergi Tante .. saya yang akan pergi" ujar Qeena sambil berlalu menuju rumah Dafi.
π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·
#Assalamualaikum. Saya Dafi, suaminya Qeena. Kapan kita bisa ketemu? saya tunggu kabarnya# isi chat Dafi.
"Dia mau apa coba? kadang ngeri-ngeri sedap kalo ketemu sama dia. Paling ga dia punya kartu As .. video itu bisa aja ada ditangan polisi kalo gw ga bisa diajak kerjasama nih. Ribet banget tuh bocah bego.. bisa-bisanya ngerekam semua kejadian. Gw sampe ga mikir ada Rian disitu ya... bego banget sih Yus .. mana otak cemerlang Lo .. gimana jawabnya nih .. kalo bilang ngga pasti dia akan bilang tentang video itu dan ngancem lapor polisi. Kalo di iya in, pasti gw bakalan dipaksa bikin kesepakatan, tuh orang kan pinter banget ngomongnya" lanjut Iyus.
"Ngapah bengong bae sih Yus? kaya ayam kelolodan karet" ujar Nyaknya Iyus yang bikin Iyus kaget.
"Ga Nyak .. ada temen aja yang ngajakin ketemu, urusan cuan Nyak" kata Iyus bohong.
"Lah enak.. kaga kerja tapi dapat cuan" jawab Nyaknya Iyus.
"Hari gini mah Nyak, kerja pake otak .. bukan sekedar otot" ucap Iyus gaya.
__ADS_1
"Lah.. Lo sekarang emang kerjanya ngapain sih sebenarnya? kaga ngarti kalo kerja pake otak tuh gimana? maksudnya mikir gitu? emang Lu pinter Yus? lah jaman sekolah aja selalu rangking terakhir, pegimana bisa Lu kerja yang isinya mikir mulu" ungkap Nyaknya Iyus.
"Tenang aja dah Nyak .. do'ain aja anak ganteng yang satu ini dapat rejeki segera, lumayan pan Nyak .. buat beli daging pas munggahan" kata Iyus sambil nyengir.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Chef Ale kembali mengirimkan chat ke Qeena, menanyakan kapan waktunya buat bisa pemotretan, Qeena minta waktu buat bikin kesepakatan dulu sama Dafi, lagipula dia udah mulai bikin kue, jadi paling waktu luang setelah Idul Fitri.
Seminggu sebelum Ramadhan, Fajar diangkat sumpah menjadi seorang dokter, semua meluangkan waktu untuk datang ke acara tersebut. Pak Dzul dan Bu Fia membelikan mobil buat Fajar sebagai hadiah. Mobil lama yang biasa buat keluarga sudah dijual buat upgrade ke mobil yang baru.
Dafi menyerahkan kunci motornya buat Fajar. Motor Dafi tipe lama yang sangat disukai sama Fajar. Sekarang Dafi udah naik bus jemputan dari kantornya, jadi jarang bawa kendaraan sendiri.
π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·
Mulai dari tahun 2010, setiap dokter yang baru lulus harus mengikuti Program Internsip Dokter Indonsia (PIDI), yang lebih dikenal sebagai internsip, bisa diartikan sebagai program pemahiran dan pemandirian bagi dokter baru dalam menjalankan praktek kedokteran.
Sebelum bisa praktek secara mandiri, mereka yang baru lulus pendidikan kedokteran harus melalui tahap ini selama setahun. Program internsip dijalani di Rumah Sakit dan Puskesmas yang ditunjuk oleh Kementerian Kesehatan di Kota/Kabupaten seluruh Indonesia.
Fajar sudah mendaftarkan diri, makanya dia sudah memberikan jawaban ke Aa' Zay, belum bisa bergabung di Kliniknya.
Kemarin diumumkan kalo Fajar akan ditempatkan disalah satu Puskesmas didaerah Cisarua, jadi kalo dia ada waktu mungkin bisa bantu sedikit di Kliniknya Aa' Zay.
Internsip ini adalah satu pengalaman yang paling mendebarkan. Ketika masih kuliah atau dibeberapa stase, tidak bertanggung jawab terhadap pasien sama sekali, ada dokter senior yang bertanggung jawab, tugas para dokter muda hanya membantu aja. Kalaupun ada beberapa dokter, sebelum internsip, sudah bekerja di klinik-klinik dan mengobati pasien secara mandiri. Tapi biasanya kasus yang ditangani hanya penyakit ringan.
Di saat internsip inilah para dokter diwajibkan menangani, memeriksa dan mengobati berbagai pasien dengan bermacam-macam kondisinya. Para dokter internsip juga bertanggung jawab penuh terhadap kondisi pasien yang ditanganinya. Pasien pun tidak akan peduli apakah mereka merupakan internsip atau bukan, yang pasien tahu hanyalah mereka itu dokter.
Di bangku kuliah, paling banyak dipelajari ilmu teori. Saat masih mahasiswa, ilmu-ilmu kedokteran dasar seperti anatomi dan fisiologi memiliki porsi paling besar dibanding ilmu klinis. Baru saat tahap koas ilmu kilnis banyak dipelajari, tapi itu pun tidak seberapa karena jarang memegang pasien secara langsung, dimasa internsip inilah waktu mendalami ilmu klinis praktis. Banyak hal yang baru diketahui setelah bekerja sebagai dokter. Contohnya, pasien yang sesak hebat karena gangguan jantung bisa menjadi lega setelah diberi obat pembuat banyak air kencing. Jika ada pasien yang datang tidak sadarkan diri, hal yang paling pertama diperiksa adalah gula darah. Inilah yang kadang agak jauh berbeda dengan ilmu yang dipelajari dibangku kuliah.
Yang jelas saat internsip merasa menjadi dokter seutuhnya karena akhirnya dipanggil "dokter".
Karena program ini ditujukan untuk seluruh dokter dari Sabang sampai Merauke, terjadilah interaksi dengan dokter-dokter internsip dari macam-macam daerah. Dalam satu kelompok internsip, bisa terdapat dokter dari kota, propinsi, hingga pulau yang berbeda. Orang yang berasal dari Solo yang lembut bisa aja dapat bertemu dengan sejawat dari Medan yang bicaranya keras.
Tiap dokter dari kampus yang berbeda akan membawa ilmu yang berbeda, kebiasaan yang berbeda, juga pola pikir yang tidak sama. Hal ini tentu membuat wawasan jadi lebih luas. Proses saling bertukar pengetahuan dan pengalaman.
__ADS_1
Tidak sedikit pula yang akhirnya bertemu belahan jiwa saat menjalani internsip. Cara bertemunya pun bermacam-macam. Bahkan ada pula yang menikah dengan bukan sejawatnya, melainkan dengan orang asli daerah tempatnya internsip.
Besaran biaya hidup dasar (BHD) bagi dokter internsip sangatlah minim. Kira-kira sekitar dua juta lima ratus ribu perbulan kalo didaerah terpencil, tapi kalo di kota malah bisa lebih kecil dan ga dapat fasilitas seperti rumah dinas dan kendaraan. BHD itupun belum termasuk dipotong pajak.