
"Ya Allah ...." ucap Qeena ga percaya sambil menutup mulutnya
Qeena ga percaya sama pemandangan yang tersaji didepan matanya, otaknya segera meminta kakinya buat meninggalkan Villa ini secepatnya.
Qeena langsung menyelinap kearah pintu keluar Villa. Setengah berlari dia mempercepat langkahnya. Dia berusaha ga ada seseorang yang melihat kepergiannya.
Tanpa Qeena sadari, lelaki itu menangkap wajah Qeena dengan jelas dan ikut mengejarnya. Lelaki tersebut juga keluar dari Villa dengan hati-hati agar tidak menarik perhatian semua orang yang ada di Villa.
Karena lama ga muncul-muncul, Damar bergegas kearah dapur. Dia ingin menemui Qeena disana. Khawatir juga kalo Qeena ga menemukan piring plastik yang dicari.
Begitu sampai dapur, Damar bertemu Kang Maman.
"Kang liat Qeena?" tanya Damar.
"Tadi Mba Qeena kesini, tapi ngambil piring plastik aja terus pergi lagi kedepan" ucap Kang Maman.
"Lah kok dia ga nyampe-nyampe? apa ke kamar mandi dulu?" tanya Damar.
"Masa ke kamar mandi lama, ada kali sepuluh menit yang lalu keluar dari dapur" jawab Kang Maman.
"Makasih ya Kang, mungkin dia lagi keliling liat Villa kali ya"ucap Damar.
Damar mencari Qeena kesekeliling Villa tapi nihil. Aa' Zay yang melihat Damar kebingungan pun akhirnya menghampiri Damar.
"Kenapa Mar? kaya orang linglung gitu" tanya Aa' Zay.
"Qeena ilang A' .. tadi kan dia mau ambil piring plastik di dapur, eh sampe sekarang ga balik-balik" cerita Damar.
"Masa sih dia ilang? dia kan udah gede, masa kesasar. Villa kan segini doang Mar" jawab Aa' Zay.
"Tapi kata Kang Maman udah dari tadi ninggalin dapur" ucap Damar.
"Coba kita cari bareng, ada di kamar mandi ga ya?" duga Aa' Zay.
"Kamar mandi yang umum ga ada, tadi Damar udah cek" jawab Damar.
Aa' Zay memperhatikan sekeliling. Tiba-tiba pandangan matanya kearah pepohonan, dia melihat sesuatu yang janggal. Dihampirinya pohon tersebut, ada tumpukan piring plastik tergeletak disana. Aa' Zay mengambil dan menyerahkan ke Damar.
"Kalo piringnya jatoh disini, apa ada sesuatu terjadi sama Qeena? cepet telepon dia Mar" perintah Aa' Zay.
Damar segera menelpon HP nya Qeena. Qeena ga bawa HP dan sedang dimatikan karena di charge.
"HP nya mati A' .. kemana ya? tanya Damar mulai panik.
"Kita coba cari di rumahnya" ide Aa' Zay.
"Naik motor saya aja ya" jawab Damar.
Aa' Zay dan Damar menuju parkiran buat ambil motor Damar.
"A' ... mau kemana?" tanya Erin yang melihat suaminya jalan terburu-buru.
"Qeena ilang" jawab Aa' Zay.
__ADS_1
"Hilang????" tanya Pak Shaka kaget.
"Kok bisa A'?" kata Erin lagi.
"Makanya ini mau cari ke rumahnya dulu. Soalnya tadi piring plastik terjatuh dibawah pohon, kita khawatir dia kenapa-kenapa" ujar Aa' Zay sambil naik ke motornya Damar.
🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿
Qeena masih aja berlari menuju rumahnya, suasana jalanan sepi padahal baru jam sembilan malam, karena tadi sore sempat hujan jadi orang malas keluar rumah. Lagipula memang jalan ke Villa masih banyak kebun-kebun buah milik Aa' Zay, jadi bukan area pemukiman warga.
"Qeena ... Qeena ... tunggu" teriak lelaki tersebut dari belakang.
Qeena mempercepat langkahnya, tapi langkah lelaki itu lebih cepat dan tenaganya cukup kuat buat menangkap tangan Qeena.
Qeena ditarik tangannya dengan kuat, dia berusaha memberontak tapi tenaga Qeena kalah sama lelaki itu.
"Tenang Qeena ... jangan teriak ... saya ga ada niat jahat ke kamu" kata lelaki tersebut.
Damar dan Aa' Zay yang melihat tangan Qeena dipegang sama lelaki yang mereka ga kenal, langsung menepikan motor dan menyerang.
"Woyyyy ... lepasin ngga .. beraninya sama perempuan" teriak Aa' Zay yang langsung menarik tangan lelaki itu.
Damar yang akhirnya terlibat baku hantam sama lelaki yang berjaket hitam plus topi hitam.
"Jangan rese Lo ya disini" ucap Damar bersiap memukul lagi.
"Apaan sih Lo .." jawab lelaki tersebut sambil membuka topinya.
"Udah ... udah ... jangan bikin ribut di kampung. Siapa kamu?" lerai Aa' Zay.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Dalam dunia modern seperti sekarang ini, dimana data memiliki peran yang besar, menjadikan prospek kerja buat yang ambil jurusan ilmu statistika makin meningkat. Hal inilah yang dimanfaatkan Dafi dan teman-temannya buat membuka usaha yang bergerak sebagai analis data. Dafi kebagian yang menganalisis sedangkan temannya ada yang sebagai marketing dan pengumpul data.
Sudah lumayan banyak klien perusahaan-perusahaan. Karena memang setiap perusahaan memerlukan ahli analisis yang dapat mengolah data dengan baik untuk kemajuan perusahaannya, jarang mereka merekrut karyawan khusus untuk bagian ini, biasanya per kebutuhan aja. Bersama dua orang rekannya, Dafi membuka jasa pengolahan data statistika secara online. Bahkan ada juga beberapa mahasiswa yang memakai jasanya untuk membantu. Biasanya keahlian statistika sangat dibutuhkan pada masa-masa skripsi para mahasiswa statistik, tapi harga jasanya disesuaikan dengan kantong mahasiswa. Semua pekerjaan dilakukan secara online jadi ga memerlukan kehadiran Dafi, cukup diwakilkan oleh rekannya yang lain buat bertemu sama klien.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Rian masuk ke kamarnya Bu Fia.
"Bun... Bun ... liat" kata Rian sambil menunjukkan hasil karyanya.
Tadi sore dia terapi, disana dia diajarkan menempel kertas warna dan dikelompokkan sesuai warna.
"Bunda ngantuk ... sana keluar..." kata Bu Fia sambil masih main HP.
"Bun ... Bun ..." paksa Rian.
"Dibilangin Bunda ngantuk ... besok Bunda kerja" ucap Bu Fia ketus.
Pak Dzul yang baru keluar dari kamar mandi melihat wajah putranya seperti kecewa.
"Coba Ayah liat tadi belajar apa disana?" tanya Pak Dzul sambil duduk di bangku kamarnya.
__ADS_1
Rian menghampiri Ayahnya dan tampak kembali sumringah wajahnya.
"Udah pinter ya ... Rian udah bisa pipis sendiri katanya Mas Narko ya?" tanya Pak Dzul lagi. Rian mengangguk.
"Kalo Rian mau pipis langsung ke kamar mandi ya ..." perintah Pak Dzul, beliau diberi tau sama Mas Narko buat mengulang-ulang perkataan agar Rian bisa ingat.
"Yaaa" jawab Rian sambil kembali main mobil-mobilan.
"Rian mau sekolah?" tanya Pak Dzul sambil mengusap kepala putranya.
"Ngga ... maunya main" jawab Rian.
"Kenapa ga mau sekolah? kan biar punya teman" kata Pak Dzul.
"Jahat" ujar Rian tanpa melihat kearah Ayahnya.
"Mereka bukan jahat, hanya ga paham kondisi Rian ... sekarang udah malam, Ayah antar ya ke kamar. Rian tidur biar besok bisa main lagi sama Bu Dokter" ujar Pak Dzul sambil menggandeng putranya menuju kamar.
Setelah mengantar Rian, Pak Dzul kembali ke kamar. Beliau naik ke ranjang dan tiduran disampingnya Bu Fia.
"Rian merasa teman sekolahnya jahat" buka Pak Dzul.
"Ya karena dia kan beda sama temannya" jawab Bu Fia cuek.
"Tau kan kalo Rian beda ... kenapa memaksakan dia masuk sekolah umum? kita ga bisa nyalahin anak orang yang membully Rian karena berbeda, tapi kita yang salah memasukkan Rian ke sekolah umum. Anak kita harusnya masuk ke sekolah khusus" papar Pak Dzul.
"Percuma sekolah juga, apa sih yang kita harapkan dari seorang anak seperti itu? kerja? punya prestasi? ga kannnn" jawab Bu Fia sambil meletakkan HP nya dan merebahkan tubuhnya.
"Bun ... dia anak kita juga. Alhamdulillah kita dikarunia tiga anak lain yang normal kondisinya, masa mau protes sama Allah karena kita diberikan satu yang berbeda. Rian anak kita, darah daging kita yang juga punya hak yang sama seperti anak kita yang lain" ucap Pak Dzul.
"Terus maunya gimana? Ayah aja sana yang daftarin Rian sekolah, Bunda sibuk, ga bisa daftar-daftar begituan" jawab Bu Fia dengan cueknya.
"Bun ... apa ga pernah timbul rasa kasih sayang ke Rian barang sedikit aja, banyak diluar sana yang mendambakan kehadiran anak, kita diberikan sampe empat ... harusnya rasa syukur kita berkali-kali lipat" nasehat Pak Dzul.
"Yang anaknya sepuluh juga ada dan semua normal. Lagi apa salah kita sih sampe dikasih anak kaya gitu?" ujar Bu Fia.
"Bun... anak itu hak Allah... mereka adalah titipan buat kita. Mau protes sama Allah? Bun ... udahlah .. hampir dua puluh tahun Rian dititipkan ke kita, sepanjang itu pula banyak yang kita dapat dari Allah, masih belum puas?" tanya Pak Dzul.
"Cape ngomongin dia, ujung-ujungnya Ayah ngomel dan kasih nasehat yang panjang kaya kereta api. Ga bosen apa membahas hal yang sama sampe dua puluh tahun?" ucap Bu Fia.
"Astaghfirullah ... susah emang ya kalo orang udah ketutup mata hatinya" kata Pak Dzul sambil berjalan keluar kamar.
Malam ini Pak Dzul memutuskan buat tidur di kamarnya Dafi. Kayanya banyak yang harus dipikirkan dalam kondisi tenang. Kalo masih liat istrinya, adanya rasa amarah masih menyeruak.
Direbahkan tubuh lelahnya di kasur single milik Dafi. Kamar yang ga berubah catnya sedari dia kecil. Masih saja warna biru dengan tempelan wallpaper bergambar bola dan pesawat. Dafi memang ga pernah minta ganti nuansa kamar hingga dia sebesar sekarang, karena memang dia juga jarang ada di rumah.
Saat hendak meletakkan HPnya, Pak Dzul ga sengaja menyenggol buku milik Dafi. Terjatuh selembar foto dari buku tersebut.
Foto keluarga saat Izma baru lahir dan fotonya dibuat di Rumah Sakit. Dibelakang foto tersebut ada coretan kata-kata, Pak Dzul sangat hapal sama tulisan putranya, jarang ada lelaki yang tulisannya rapih, tapi Dafi itu sangat rapih tulisannya, bahkan dulu saat sekolah dia sering diminta bantuan buat menulis ijazah.
#Kehangatan dalam keluarga tidak diukur dari ukuran luas rumahnya, tapi luasnya kebahagiaan yang menempati. Sesibuk apapun kita, sejauh mapapun kita pergi, keluarga merupakan tempat pulang. Uang dan jabatan ga akan mampu membayar kebersamaan dengan keluarga. Sejauh apapun kelak kakiku melangkah meninggalkan rumah dan keluargaku tercinta, tetap tempat kembali yang terindah adalah keluargaku, tanpa mereka aku bukan siapa-siapa hidup di dunia ini.
Family means no one gets left behind or forgotten (Keluarga berarti tidak ada yang ditinggalkan atau dilupakan)#.
__ADS_1
Pak Dzul tersenyum melihat foto itu lagi.
"Mas ... sepertinya Ayah sekarang udah tenang, ada kamu yang siap menggantikan Ayah kapanpun" ujar Pak Dzul.