ROTI BAKAR

ROTI BAKAR
* Slice 189, Ramadhan kali ini


__ADS_3

"Qeena kemana Mak?" tanya Dafi saat pulang ga liat Qeena ada di rumah.


"Ke pasar" jawab Mak Nuha.


"Beli apa lagi?" tanya Dafi heran.


"Katanya mau masak rendang" ucap Mak Nuha.


"Bukannya udah bikin empal ya? kok segala bikin rendang lagi" kata Dafi heran.


"Ga tau .. dia ga bilang kenapa bikin rendang jadinya" ujar Mak Nuha.


"Ya udah gapapa. Mas mau mandi dulu terus sholat Dhuha, abis itu mau tidur diatas ya Mak, kalo deket dzuhur belum bangun, tolong bangunin ya Mak" pinta Dafi yang langsung naik ke lantai atas rumahnya.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Qeena langsung masak begitu pulang dari pasar. Wajahnya tampak sendu, ga semangat.


"Kenapa?" tanya Mak Nuha saat melihat Qeena.


"Ga Mak .. penuh aja pasar, jadi cape desek-desekan" jawab Qeena berbohong.


"Mas Dafi baru pulang, katanya kalo deket dzuhur dia belum bangun, minta dibangunin" lanjut Mak Nuha.


"Ya Mak .." jawab Qeena ga banyak kata.


Mba Tinah rupanya udah agak santai, dia main ke tempat Qeena buat ngobrol menghabiskan waktu. Mba Mini malah bawa pakaian yang belum digosok ke rumah Dafi biar bisa nyetrika sambil ngobrol.


"Kok malah bikin rendang sih? kan harusnya kita udah santuy hari ini" kata Mba Tinah.


"Kepengen" jawab Qeena.


"Waduh ... jangan-jangan lagi isi ya?" terka Mba Tinah.


Semua memandang kearah Qeena.


"Ga mungkinlah Mba .. wong kita belum pernah melakukannya kok" ucap Qeena keceplosan.


Semua malah menertawakan kepolosan Qeena.


Jam sepuluh rendang udah lumayan hampir kering, tipenya Bu Fia ga suka sampai kering banget, jadinya masak rendang selesai dalam waktu dua jam aja. Qeena kembali mandi karena tubuhnya bau bumbu rendang.


Jam sebelas siang, Dafi menelpon Qeena untuk dibawakan kopi keatas, dia baru bangun tidur.


Qeena membuatkan kopi, sedangkan Mak Nuha yang merapihkan cucian piring setelah masak.


"Sekarang kayanya rajin ngopi Mas Dafi" kata Mba Tinah.


"Khusus buatan istrinya doang. Kalo sama kita mah jarang, belum tentu seminggu sekali" nimbrung Mba Mini.


"Iya juga sih .. eh iya katanya kalo mau suami sayang sama kita, pas ngaduk kopi dikasih senyuman, biar suaminya makin lengket" saran Mba Tinah.


"Ga usah pake senyum aja udah lengket .. apalagi saya kasih senyuman, bisa ga mau geser dari samping saya hahaha" canda Qeena dengan pedenya.


"Widih ... gayaneeee" ledek Mba Mini.


"Tapi emang Mas Dafi itu beda sih ya, apa deh kalo anak sekarang bilang ... ehm .. ehm .. bucin.. ya bucin" jawab Mba Tinah.


"Ini kenapa pada rumpi dibawah ya .. kopi mana kopi ..." teriak Dafi sambil ngelongok ke bawah.

__ADS_1


"Sabar Mas .. orangnya lagi mau naik keatas" jawab Mak Nuha.


🏡️🏡️🏡️🏡️🏡️🏡️🏡️🏡️🏡️🏡️🏡️🏡️🏡️🏡️🏡️


Rian ikut naik ke lantai atas bareng Qeena. Dia langsung naik ke sofa bed, Dafi cuma tersenyum melihat kelakuan adiknya yang malah jatuh dari sofa bed karena ga bisa diam.


"Ga laper Mas?" tanya Qeena.


"Ini bangun juga karena nyium aroma rendang yang bikin lapar" jawab Dafi yang lagi duduk diatas tikar.


"Udah matang sih kalo Mas mau makan" ujar Qeena sambil melipat sprei di sofa bed.


"Iya nanti, mau mandi dulu" jawab Dafi.


Rian berlari kearah tangga.


"Rian .. hati-hati turunnya" ingat Dafi.


Dafi memandang wajah Qeena yang tampak segar karena baru mandi. Rambutnya aja masih tertutup handuk.


"Ayo mikir jorok ya .. sampe bengong begitu" ledek Qeena.


"Nggaaaa ..." jawab Dafi sambil menyeruput kopinya.


"Nanti sahur bantuin nyiapin semuanya, kan Mas yang undang sahur disini" ucap Qeena sambil mengeringkan rambutnya.


"Iya .. kan Mas tidur disini" ujar Dafi.


"Katanya mau mandi .. ya udah mandi sana" kata Qeena.


"Sini dulu Neng, Mas kangen deh" ajak Dafi meminta Qeena duduk disampingnya.


"Emang Mas ga bisa gombal .. sini Mas mau nanya" ucap Dafi.


Qeena duduk dihadapannya Dafi.


"Bunda ya yang minta rendang?" tanya Dafi.


"Ya" jawab Qeena ga bisa mengelak.


"Kenapa diturutin?" tanya Dafi lagi.


"Ya kan Bundanya Mas Dafi, nanti salah lagi kalo ga dibuatin" jawab Qeena.


"Kamu kan bisa bilang kalo udah siapin yang lain, lagian kan ini kita tuan rumahnya, ya harusnya kita yang atur" ujar Dafi.


"Besok-besok kalo begini lagi, Mas aja ya yang jawab. Tapi percuma juga sih Mas, tetap aja Qeena yang bakal salah. Sekarang sih masih sabar ya Mas... tapi ga tau deh besok-besok" kata Qeena dengan kesal.


"Kok malah ngambek .. lagi diajak ngomong baik-baik ini" ucap Dafi.


"Masnya yang ngomongnya gitu, kaya ga kenal sama Ibunya sendiri kaya gimana sama Qeena. Udah Qeena baikin juga tetap aja nyindir terus. Emang maunya cuma mantu kaya Mba Zahwa. Kan dia pintar masak, cantik, sama-sama orang kaya, orangtuanya pejabat .. ya ga bikin malu lah kalo namanya tercantum di kartu undangan" papar Qeena.


"Udah ah .. jangan bawa nama dia lagi, ga ada sambungannya sama kita" tengah Dafi.


"Selama Mas Dafi ga tegas sama Bundanya, selama itu pula hubungan Qeena sama beliau akan terus begini" tambah Qeena.


"Ga tegas gimana maksudnya?" tanya Dafi.


"Ya kan Mas udah bilang mau serius. Qeena pun udah oke nerima, tapi mana buktinya kalo Mas menerima syarat dari Qeena agar ketika menikah nanti, seluruh keluarga memberikan restunya" ucap Qeena yang menohok Dafi.

__ADS_1


"Ini baru kaya gini, apalagi kalo dia tau otaknya Bunda yang buat kita jadi nikah malam itu .. bisa ngamuk nih Qeena. Ujung-ujungnya kabur deh" kata Dafi dalam hatinya.


"Nanti ya dibahas lagi, Mas mau mandi" ujar Dafi sambil meraih handuk digantungan baju.


Qeena turun kebawah dan menyiapkan makan siang buat semuanya. Fajar yang baru bangun tidur juga langsung datang ke rumah Dafi, padahal masih kucel belum mandi.


πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’


Selepas sholat Maghrib, para warga berduyun-duyun menuju Mesjid dan Musholla yang ada dilingkungan sekitar.


keluarga Pak Dzul full team menuju Mesjid, hal yang bisa dibilang langka karena beberapa tahun ini Dafi ga menjalani Ramadhan bersama keluarga dan Bu Fia pun ogah-ogahan kalo diajak ke Mesjid.


Kompakan pula memakai sendal jepit yang sengaja dipesan pake nama, karena tragedi sendal hilang bahkan tertukar adalah hal yang amat wajar.


Terkadang pilihan para warga untuk sholat dimana juga dipengaruhi oleh jumlah raka'at sholat tarawih. Para anak muda biasanya memilih yang banyak raka'at tapi bacaannya ngepot kaya angkot kejar setoran, biasanya pun begitu kelar 8 raka'at mereka langsung cabut pulang dan witir di rumah. Karena hampir di semua Mesjid, kalo yang jumlah raka'atnya sedikit pasti bacaannya panjang dan lama, ditambah ada ceramah pula.


Sebagian besar pemuda dan yang kisaran usia dibawah dua puluh dua tahun biasanya digunakan untuk tebar pesona dan lirik para wanita yang juga berusia sama.


Qeena bisa dibilang menjadi bintangnya. Banyak yang belum mengenal Qeena itu siapa, mereka hanya saling kasih tau pernah liat ada sosok cantik dilingkungan mereka.


Keluarga Pak Dzul terbagi dua sesuai jenis kelamin, Rian dipegang sama Dafi dan Fajar. Yang para wanitanya ada dibelakang, mereka sambil ngobrol sama Ibu-ibu yang cukup mengenal Qeena.


"Qeena ... boleh kenalan ga?" tanya para pemuda.


"Lah gimana sih, ngajak kenalan malah udah tau namanya" sahut Bu RT.


"Ya kan pengen juga dia tau nama kita Bu RT" jawab para pemuda.


"Ga usah kenal-kenalan lah, ini calon istrinya Mas Dafi, sebentar lagi mau nikah" jelas Bu RT.


"Kan masih baru mau nikah Bu RT .. belum nikah, kan ada semboyan sebelum janur kuning melengkung mah masih jadi milik umum" kata para pemuda.


"Neng ... bawa uang lebih ngga? Mas lupa ga bawa dompet" kata Dafi sambil menghampiri Qeena.


"Bawa, ambil aja nih di tas" ucap Qeena sambil menyerahkan tas kecilnya.


Dafi mengambil dompetnya Qeena dan mengambil dua lembar uang lima puluh ribuan. Diletakkan kembali dompet dan HP nya sekalian.


"Mas titip HP ya, udah dimatiin sih" ujar Dafi.


"Ya .." jawab Qeena.


"Nanti selesai sholat, tunggu aja dekat tangga, maklumlah kalo anak muda sini suka iseng. Ga bisa liat cewe cantik, langsung aja godain. Ga peduli istri orang atau masih single" sindir Dafi.


"Lah .. Bu RT gimana sih, katanya calon istri, tapi Mas Dafi bilang istri" ujar para pemuda.


"Emang lagi ngurus surat nikah, kan suami saya RT, pasti taulah mana warga yang udah nikah dan belum" ngotot Bu RT yang memang ga dikasih tau sama Pak RT tentang pernikahan Dafi.


Walaupun Pak RT dan Pak RW hobinya becanda, tapi mulutnya ga ember. Mereka menjaga amanah dari Pak Dzul dengan baik. Mereka sengaja ga ngasih tau istrinya, karena tau sifat wanita. Sekali dibongkar, bisa se RW tau semua. Biar kata udah pesan "jangan bilang siapa-siapa", tapi pesan itu selalu sambung menyambung yang akhirnya bakalan tau semua.


πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’


Tarawih pertama selalu membuat kesan mendalam bagi seluruh umat Islam. Betapa momen ini dinantikan setahun sekali. Belum tentu bisa dipertemukan kembali Dengan Ramadhan, bulan nan suci, dimana segala amal kebaikan akan dilipatgandakan pahalanya, bulan dimana setiap manusia kembali belajar menahan amarah dan keinginannya untuk diaplikasikan di sebelas bulan berikutnya.


Adzan sholat Isya telah memanggil, semua khusyu dalam sholatnya. Bagi yang merindu, pastilah hatinya bergetar. Tak terkecuali Mak Nuha dan Qeena.


Mak Nuha melewati Ramadhan sebelumnya dengan penuh kesempitan. Ya kesempitan secara ekonomi, tempat tinggal yang sempit bahkan kesempitan pikiran karena banyak yang harus dipikirkan. Tapi kali ini, Mak Nuha bisa merasakan kelapangan yang amat sangat. Apalagi berada dalam sebuah keluarga utuh.


Qeena pun ga bermimpi di Ramadhan kali ini sudah bergelar menjadi seorang istri. Ramadhan kemarin masih bersama Damar, sholat menuju Mesjid bersama. Walaupun Damar hanya pelariannya dari sosok Fajar dan mengetes apakah hatinya sudah mati terhadap lelaki, Damarlah menjadi lelaki yang selalu sabar menunggunya dan ga pernah memaksakan kehendak seperti Fajar dan Dafi.

__ADS_1


__ADS_2