ROTI BAKAR

ROTI BAKAR
* Slice 139, Kembali normal


__ADS_3

Mak Nuha udah diperbolehkan pulang, Dafi mengantar ke ruko milik Pak Shaka. Setelah memastikan Mak Nuha berisitirahat di kamarnya. Dafi pamit pulang ke rumah Ayahnya karena siang ini udah harus menuju Bandara buat balik ke Jambi.


"Mas balik dulu ya, jaga diri baik-baik, kalo ada apa-apa, jangan sungkan buat telpon Mas. Tapi kayanya bulan depan Mas ada jadwal ke Semarang, kalo Mas bisa mampir ke Jakarta nanti Mas kasih tau" harap Dafi sambil turun dari tangga.


"Ya" jawab Qeena.


"Kita harus komunikasi setiap hari. Kita jalani dulu semuanya, kalo kamu ngerasa ga berbahagia, kasih tau Mas" lanjut Dafi.


Qeena mengantar hingga parkiran ruko dan Dafi naik ke mobilnya.


🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿


Saat sampe rumah, Dafi menemui kedua orang tuanya yang kompak hari ini cuti.


"Kok ga ngomong sama Ayah kalo Nuha dirawat sih Mas" kata Pak Dzul.


"Udah pulang kok Yah hari ini" jawab Dafi.


"Sekarang udah balik ke rumah mereka?" ujar Bu Fia.


"Iya ... maunya sih Mas bawa kesini, kan rumah Mas udah jadi tuh, tapi kan masih belum dirapihin banget. Baru diisi bedroom set buat kamar tamu doang, yang lainnya masih kosong melompong" kata Dafi.


"Dirapihin lah Mas .. isi rumahnya dikit-dikit" saran Pak Dzul.


"Mas tuh emang sengaja Yah belum isi perabotan rumah karena maunya nanti istri aja yang atur. Ya karena dadakan kaya gini, tunggu aja deh nantinya gimana" ujar Dafi.


Fajar udah berangkat Koas lagi, Rian sedang terapi dan Izma lagi kuliah.


"Mas ya yang biayain perawatan Nuha di Rumah Sakit? belum apa-apa udah ketiban sial aja sih Mas. Lagian kenapa harus dirawat segala, dulu-dulu juga baik-baik aja" ujar Bu Fia sambil nepuk pundaknya Dafi yang duduk disebelahnya.


"Namanya orang sakit kan ga bisa diprediksi Bun ... sekarang keliatannya sehat tapi beberapa hari kemudian jadi sakit. Lagi kan kalo sakit tipes itu perlu diawasi makannya, obatnya juga harus tepat ... jadi lebih baik dirawat, cuma empat hari kok, itu juga dikelas tiga, ga banyak biayanya" jelas Dafi.


"Kok kamu masukin kekelas tiga sih Mas?" protes Pak Dzul.


"Qeena dan Mak Nuha yang mintanya gitu" jawab Dafi.


"Itu juga udah bagus kali, emang biaya Rumah Sakit murah!!!" oceh Bu Fia.


"Apa sih Bun.... Mas lagi cek email dulu ya, jadi ga usah ngegas gitu ngomongnya" ujar Dafi yang ga suka mendengar ibunya nyinyir.


"Kamu kasih uang ya ke Qeena?" tanya Bu Fia kepo.


"Masalahnya dimana ya Bun? Dia kan istri Mas, malah jadi masalah kalo Mas ga kasih dia uang" jawab Dafi masih serius liat laptopnya.


"Tapi jangan mau diporotin Mas.. dia tuh pinter manfaatin kesempatan jadi istri Mas. Ya like father like daughter kan" kata Bu Fia.


Dafi mematikan laptopnya dan meletakkan diatas meja. Dia menghadap ke Bundanya.

__ADS_1


"Bun... kenapa dia harus menanggung perbuatan Bapaknya? ga ada hubungannya kan? Sedikit Mas bahas buat Bunda, mungkin part ini Bunda lupa, ketika seorang laki-laki mengucap ijab kabul, maka ada kewajiban yang harus dilaksanakan, salah satunya nafkah. Nafkah untuk istri itu ada tiga macamnya. Ada nafkah keluarga, berarti seorang suami memberikan nafkah dengan tujuan dipergunakan untuk keluarganya seperti menyediakan tempat tinggal yang layak, pakaian yang menutup aurat serta kebutuhan pangan yang cukup. Ada juga namanya nafkah batin, Bunda pahamlah itu nafkah seperti apa, ga perlu Mas jelasin. Dan yang terakhir itu nafkah untuk istri pribadi, mungkin aja dia mau beli bedak atau lipstik buat menyenangkan dirinya sendiri kan? Mas yakin Ayah memberikan itu semua ke Bunda, walaupun Bunda juga punya penghasilan sendiri. Sekarang salahnya dimana kalo Dafi coba memberikan ke Qeena nafkah itu?" ucap Dafi serius.


"Oke ...Bunda paham, tapi ga nafkah batin ya Mas... jangan macam-macam deh, Bunda ga mau punya mantu kaya dia, apalagi punya keturunan dari dia. Mikir dong kalo Bapaknya cuma mantan supir" ujar Bu Fia.


"Suka ga suka, mau ga mau... Qeena udah jadi mantu Bunda saat ini, ga lupa kan kalo Mas udah menikahi dia, didepan Bunda lagi" kata Dafi.


"Jangan bilang kalo kamu jatuh cinta ya sama dia" selidik Bu Fia.


"Kayanya tadi kita ngomongin tentang nafkah deh Bun... bukan cinta. Sekarang Mas tanya, kalo Mas mau melegalkan pernikahan gimana? Bunda mau marah dan membuang Mas dari silsilah keluarga?" tanya Dafi hati-hati.


"Eh baru nikah dua Minggu aja udah berani ngelawan Bunda. Mas buka mata deh, jangan-jangan Mas udah dikasih sajen sama dia biar nurut sama semua yang dia omong. Mas kayanya perlu di ruqyah deh" usul Bu Fia.


"Ayah... Bunda... selama ini Mas coba menyelesaikan masalah Mas sendiri. Tapi kali ini, Mas akan minta pendapat Ayah sama Bunda. Sebagai abdi negara, pastinya ada undang-undang yang mengatur kehidupan Mas, salah satunya pernikahan. Kantor udah tau kalo Mas sekarang statusnya udah menikah secara agama sama Qeena. Emang Mas belum pernah meminta datanya Qeena buat urus izin nikah di kantor. Sekarang kalo Mas pisah, alasan apa yang akan Mas sampein ke kantor? Nikah karena khilaf, nikah paksa atau ketangkep basah? Malah menjelekkan nama Mas sendiri. Sekarang Mas akhirnya bisa mikir panjang, melegalkan pernikahan pastinya akan menjadi siksaan buat Bunda kedepannya. Mas sayang sama Bunda. Tapi pernah ga Bunda pikir masalah yang lagi Mas hadapin tuh serba sulit. Kenapa ga bisa sedikit memberikan Mas ketenangan biar Mas punya semangat buat jalanin semua" kata Dafi.


Pak Dzul dan Bu Fia diam, mereka masih berpikir jalan terbaiknya. Agak sulit memang, mengingat Dafi seorang abdi negara, mungkin kalo dia kerja swasta ga akan seribet ini


Penolakan Bu Fia terhadap Qeena pun sudah secara terang-terangan Bu Fia gaungkan. Pak Dzul paham kalo Dafi ga akan membentrokkan dua wanita ini kedepannya.


"Kita bahas kalo udah sama-sama tenang aja ya Mas. Sekarang Mas mau pulang kan ke Jambi?" tengah Pak Dzul.


"Ya Yah.." ucap Dafi sambil merapihkan tasnya.


Pak Dzul memandangi anak sulungnya dari samping dengan penuh iba dan bangga.


"Ayah tau kamu lelah Mas ... tapi Ayah yakin kamu kuat" kata Pak Dzul dalam hatinya.


🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿


Pak Shaka juga sedang disana sama Iqbal, menjenguk Mak Nuha.


Selepas Maghrib giliran Aa' Zay dan Erin yang datang. Anak-anak sudah dititip ke Pak Shaka.


"Mak Nuha ... Qeena .. maaf kalo mengganggu waktu istirahatnya. Tapi ini ada hal penting yang harus segara saya bicarakan" buka Aa' Zay.


"Kenapa ya A'?" tanya Qeena.


"Kita kan ga tau ya bakalan seperti ini kejadiannya. Sepertinya usaha kita buat membangun toko kue dan roti harus dipending bahkan dibatalkan. Bukan saya ga mau meneruskan kerjasama sama Mak Nuha dan Qeena. Tapi Dafi yang meminta. Biar bagaimanapun, dia lebih berhak atas Qeena kan" ucap Aa' Zay.


"Maksudnya Mas Dafi ga bolehin Qeena kerja sama Aa' disini?" tanya Qeena.


"Ya .. tadi Dafi telpon kalo akan memboyong kamu ke rumahnya yang baru, sebelah rumah orang tuanya. Dia akan memastikan kamu dan Mak Nuha dapat kehidupan yang layak dan bisa aman dari gangguan Bapaknya Qeena. Paling ga disana banyak yang jaga" jelas Aa' Zay.


"Jangan takut Qeena .. semua orderan kue kering yang udah masuk akan tetap Teteh order ke kamu. Kalo kamu pindah kan bisa bawa peralatan masak ini semua" tambah Erin.


"Aa' pikir ini sangat baik buat Emak dan Qeena kedepannya. Dafi juga sudah serius mau menjalani rumah tangga sama kamu Qeena. Ga mudah emang berada diposisi dia, tapi dia tipe orang yang bisa beradaptasi dengan cepat. Jadi sebaiknya kamu berterus terang sama Damar. Udah ga ada yang perlu ditutupi lagi. Kamu sama Mak Nuha akan segera pindah. Ini kan perintah suami yang ga bisa kamu tawar-tawar" ucap Aa' Zay.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸

__ADS_1


Keesokan harinya, Qeena lagi kebanjiran orderan dari Pak Shaka. Jadi temannya yang kemarin dikirim makanan, memesan bolu tape sebanyak tiga puluh loyang, karena peralatan di ruko tidak memadai untuk cepat membuat bolu sebanyak itu, akhirnya sedari subuh, Qeena udah dijemput sama Damar (dia lagi di Jakarta, rumah orang tuanya) menuju rumah Pak Shaka.


Pak Shaka punya oven listrik, kemarin juga Qeena sudah membeli loyang tambahan agar sekali mengadon bisa untuk enam loyang sekaligus.


Istrinya Pak Shaka dulunya memang suka baking, bisa dibilang peralatannya lengkap. Sebagian sudah diambil Erin, tapi masih ada yang di rumah, semua masih tersimpan rapih, sesekali dipakai juga sama Erin kalo lagi nginep di rumah Pak Shaka.


Damar yang menemani Qeena di dapur, Pak Shaka lagi kedatangan tamu, rekannya saat masih aktif bekerja.


"Kamu beda deh hari ini?" buka Damar sambil melihat wajah Qeena yang serius sama takaran adonan.


"Beda gimana? kayanya biasa aja kaya kemarin, no make up" tanya Qeena heran.


"Makin cantik, auranya juga keluar banget. Kalo tiap kamu bikin kue dengan wajah berseri kaya gini, Kakak harus mulai waspada nih. Kebayang deh kalo bikin bakery, mungkin aja ada pembeli yang datang langsung melamar ke Mak Nuha. Maklum deh sekarang jamannya tikungan tajam tanpa rambu-rambu dulu didepannya" kata Damar sambil ketawa kecil.


"Ngaco ah ngomongnya" ucap Qeena sambil senyum tipis.


"Tahu gak kenapa kita cuma bisa lihat pelangi setengah lingkaran?" tanya Damar.


"Ya mungkin daya mata kita cuma bisa ngeliat kaya gitu" jawab Qeena.


"Bukan ... karena setengahnya lagi ada di mata kamu" gombal Damar.


"Udah pinter ngegombal, udah berapa korbannya Kak" goda Qeena.


"Kamu korban pertamanya .. hahaha .. tau ga Qeena, ini untuk pertama kalinya loh Kakak ga perlu mencoba untuk bahagia. Karena bersamamu hal itu terjadi begitu aja. Bukan hanya menjadikan dirimu yang pertama, tapi juga satu-satunya dalam hati Kakak. Kakak akan serius kerja ngurusin semua bisnis Papa, biar kita bisa cepet nikah ya Qeena. Ga perlu nunggu Kakak lulus kuliah kalo udah mampu kan?" kata Damar serius bahkan mendekatkan diri ke tempat Qeena yang sedang berdiri mengawasi kue yang dipanggang, bibirnya Qeena ga sanggup bicara sejujurnya ke Damar.


Mengecewakan Damar berarti mengecewakan hatinya juga. Begitu indah harapannya bisa hidup bersama Damar. Berkali-kali dia berpikir untuk jujur, tapi dia ga sanggup menerima keputusan Damar yang pasti akan meninggalkannya.


"Ehem ... ehem .. ini mau bikin kue atau mau kencan. Bisa jaga jarak ga ya, itu mepet-mepet udah kaya mau antri sembako" kata Pak Shaka yang mengagetkan Damar dan Qeena.


"Maaf Pak Shaka" ucap Qeena yang kaget.


"Makanya kalo berduaan sadar dunia dong, ini di dapur loh, emang bener ya kalo udah berduaan .. serasa dunia milik berdua, jadi ga bakal sadar lagi ada apa disekelilingnya" kata Pak Dzul.


"Mau coba kuenya Pak? kebetulan tadi ada sisa adonan, saya cetak di cetakan yang lebih kecil" jelas Qeena untuk memecah rasa ga enak hatinya ke Pak Shaka.


"Boleh ... sama teh tawar hangat enak kali ya, itu di lemari ada teh, pakai air dispenser aja gapapa" usul Pak Shaka.


"Kalo teh kayanya enakan pakai air yang dimasak mendidih Pak ... rasanya beda" sahut Qeena.


"Monggo kalo ga merepotkan" jawab Pak Shaka.


Qeena membuatkan teh untuk Pak Shaka, dirinya dan Damar. Kemudian memotong bolu yang baru diangkat dari oven.


"Ngapain kamu berdiri disitu sih Damar.. sini duduk, banyak bangku kali" kata Pak Shaka mengingatkan.


Aroma kue bolu tape semerbak baunya di dapur Pak Shaka.

__ADS_1


"Aroma yang udah lama ga kecium di rumah kami nih" ucap Pak Shaka rada mellow karena ingat sama almarhumah istrinya.


__ADS_2