ROTI BAKAR

ROTI BAKAR
* Slice 69, Malam ini


__ADS_3

"Qeena ...." panggil laki-laki yang sekarang sudah ada didepannya.


"Kak Damar .... " lirih Qeena menjawab.


"Kamu disini? ya Allah .. Kakak nyari kamu kemana-mana, ternyata disini?" kata Damar.


"Ya Kak ... tapi tolong ... jangan cerita apa-apa tentang saya ke keluarga Aa' Zay" ujar Qeena.


Qeena dan Damar saling diam terpaku berdiri ditempat yang ga berjauhan.


"Kalian berdua kenal?" tanya Erin yang masih ada di halaman belakang rumahnya.


"Ya Mba ... Qeena dulu sempat satu sekolahan" jawab Damar.


"Oh gitu ... sebelum kamu pergi kesini ya Qeena?" selidik Erin.


Qeena hanya mengangguk pelan.


"Bisa kita ngobrol?" tanya Damar.


"Udah mau Maghrib Kak ... saya pulang dulu" jawab Qeena sambil berlalu pulang meninggalkan Damar.


Damar masih melihat sosok Qeena sampai hilang di belokan.


Rumah yang ditempati Qeena hanya belok sedikit, sekitar seratus meter dari tempatnya Damar berdiri.


"Kamu beneran kenal Qeena?" ujar Erin meyakinkan.


"Ya Mba ... rumahnya dimana ya?" tanya Damar balik.


"Dia tinggal di rumah pusaka milik Aa' Zay, belok sedikit udah keliatan, rumah panggung satu-satunya disitu. Kalo mau ke rumahnya, diluar aja ya, mereka kan wanita, ga boleh kamu masuk kedalam. Kalo Mba boleh tau, seberapa kenal kamu sama Qeena?" selidik Erin.


"Nanti ya Mba ... ada hal yang harus Damar bicarain dulu sama Qeena" jawab Damar.


Damar adalah anak dari adiknya Pak Shaka. Jadi Damar adalah adik sepupunya Erin. Ini kali kedua Damar ke Ciloto, siapa sangka justru ketemu Qeena disini.


Rasa cintanya pada Qeena ga pernah padam, seakan semesta mendukung untuknya merajut kembali asa yang sempat hilang.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Karena sering satu kelompok, Inez dan Fajar jadi lebih dekat dan akrab. Sesama calon dokter yang gayanya santai tapi sebenarnya pintar, bisa dibilang IP mereka selalu diatas tiga tiap semesternya. Mereka setipe, sama-sama santai menghadapi apapun, jadinya mereka menjadi mahasiswa yang paling enjoy ditiap mata kuliah. Banyak dosen dan kakak tingkat yang kenal mereka, mereka sangat aktif bertanya kalo di kelas.


Hari ini mereka hangout bareng sama teman-teman seangkatannya. Melepaskan lelah setelah praktikum seharian, besok Sabtu mereka semua libur, jadi bisa pulang lebih malam untuk melepaskan suntuk yang menerpa setelah menyelesaikan laporan yang tebalnya sama kaya tebal bantal.


Fajar membawa mobil, Inez yang anak kost udah tentu nebeng sama dia. Robby juga ikutan nebeng karena mobilnya lagi masuk bengkel.


Banyak pemikiran diluar sana tentang mahasiswa kedokteran merupakan orang serius dan kutu buku, jadi jurusan yang memiliki pamor teratas diantara jurusan yang lain. Mahasiswa kedokteran juga bisa dibilang incaran para orang tua buat dijadikan mantu. Sebagian orang juga menganggap bahwa mahasiswa kedokteran adalah orang kaya. Emang ga bisa dipungkiri, tapi ada juga para mahasiswa yang memang pintar dan mendapatkan beasiswa dari berbagai pihak.


🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿


"Yus ... gapapa kan weekend nyupirin kita kebanyak tempat kondangan?" tanya Pak Dzul.


"Gapapa Pak, lagipula saya paham, pejabat seperti Bapak pasti banyak undangan kalo musim hajatan seperti ini" ujar Iyus.


"Tapi kan weekend kamu jadi terganggu, ga bisa bareng keluarga" kata Pak Dzul.

__ADS_1


"Dia ga punya keluarga Yah ... " timpal Bu Fia yang masih sibuk sama HP nya.


"Maksudnya gimana?" tanya Pak Dzul yang memang belum kenal latar belakangnya Iyus.


"Ya Pak ... Istri dan anak kabur pas saya di PHK, jadinya ya hidup sendiri aja sampe sekarang. Saya juga jarang ke rumah orang tua, paling kasih uang bulanan aja ke Enyak di kampung. Abis juga pulang buat apa? ga ada yang nyambut" ucap Iyus dengan mimik muka sedih.


"Kok ga dicari istri sama anaknya? Ga kangen emangnya sama mereka?" tanya Pak Dzul penasaran.


"Buat apa Pak dicari, istri saya mah matre, lagian juga pergi sama cowo lain. Makanya mending begini aja deh Pak, ga pusing mikirin macam-macam. Sekarang mah saya cari duit aja yang rajin buat orang tua dan ibadah yang bener, menghabiskan sisa umur saya sama sesuatu yang berguna. Apa lagi sih Pak cita-cita orang seumuran saya? Ya cuma mau masuk surga aja" jawab Iyus lagi.


"Punya anak berapa emangnya?" lanjut Pak Dzul.


"Cuma satu Pak, semata wayang ... anak perempuan" jawab Iyus.


"Tuh apalagi anak perempuan, kamu nanti jadi wali nikahnya kan?" ucap Pak Dzul.


"Ga tau deh nanti gimananya Pak" jawab Iyus santai.


"Cobalah berusaha nyari, mereka kan punya keluarga, pasti kenal dong. Datengin baik-baik, kasih pengertian kondisinya sekarang seperti ini. Kalo kamu ada kesalahan dimasa lalu ya minta maaf, kalo pun memang jodoh kalian sampai disitu, beri pemahaman ke keluarganya kalo kamu ingin tetap bersilaturahim dengan semua. Mungkin aja istri kamu bisa kabur dari kamu, tapi mereka ga akan kabur kan dari keluarganya" saran Pak Dzul.


"Percuma aja Pak ... mereka tuh keluarga ga bener. Taunya uang aja, kayanya saya didukunin sama mereka Pak, kan Babe saya dulunya juragan bakpau sama kontrakannya banyak. Abis saya dan keluarga diporotin harta, eh dia kabur dan keluarganya seakan ga mau kenal saya lagi" kata Iyus.


"Masih percaya aja sama klenik .. kalo suatu hari ketemu anak kamu gimana?" tanya Pak Dzul.


"Saya mah bahagia aja Pak kalo ketemu sama anak, tapi saya masih ragu, itu anak saya atau bukan. Bisa aja kan orang yang makan nangka saya yang kena getahnya" jawab Iyus cuek.


"Lah emang istri kamu udah hamil pas nikah?" tanya Pak Dzul.


"Iya Pak ... saya dijebak, tau-tau bangun udah dikamar dan tidur sama dia. Padahal mah saya lagi wakuncar biasa Pak. Bisa aja kan minuman saya dicampur obat tidur, terus saya ga sadar, sama keluarganya saya dimasukin ke kamar. Masa baru nikah enam bulan dia udah melahirkan" bohong Iyus.


"Ya Bu ... makanya saya ga mau deh deket sama perempuan... daripada nanti pacaran saya dijebak lagi nikahin orang dan ngakuin anak yang bukan anak saya" jawab Iyus.


"Tuh Yah .. kita harus buka mata buka telinga buat calon anak-anak kita. Perempuan sekarang mah keliatannya aja baik-baik, nyatanya cuma mau gerogotin harta aja. Feeling orang tua tuh ga pernah salah" kata Bu Fia.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Setelah puas dari siang sampe sore menjelajah ke perkebunan buah dan sayur. Rombongan Dafi kembali ke Villa. Mereka sholat berjama'ah di pendopo bersama dengan orang-orang yang menginap disana. Suasana kekeluargaan sangat terasa.


Setelah sholat, mereka makan malam bersama secara prasmanan, makan malam ini merupakan suguhan yang diberikan oleh pihak Villa secara cuma-cuma.


Aa' Zay dan Zavier datang ke Villa sambil bawa sepatu roda. Keluarga Pak Shaka juga ada yang menikmati fasilitas Villa seperti kolam renang dan lapangan basket. Zavier diawasi oleh Kang Maman ketika main sepatu roda.


Aa' Zay duduk santai didekat lapangan futsal, melihat anaknya tertawa bahagia bermain sepatu roda.


"Ayah ... Bunda ... andai masih ada, mungkin kita lagi duduk disini melihat anak-anak Aa' tumbuh besar. Aa' rindu ... Alhamdulillah Aa' punya mertua yang menganggap Aa' seperti anak sendiri. Jadi Aa' merasa ga sendiri. Mama Tikah juga banyak berubah, adik-adik udah bahagia dengan keluarganya masing-masing" kata Aa' Zay dalam hati.


"A' ... kita ketemu lagi .. nginep disini juga?" tanya Dafi mengagetkan.


"Eh iyaaa ... silahkan duduk" tawar Aa' Zay sambil menggeser duduknya. Mereka duduk di kursi panjang ala-ala warung tenda, didepannya ada meja kecil.


"Nama saya Dafi .. " ucap Dafi memperkenalkan diri.


"Saya Zay .. orang sini manggil saya Aa' Zay" jawab Aa' Zay.


"Orang asli sini A'?" tanya Dafi basa basi.

__ADS_1


"Ayah saya asli sini, saya pun besar disini, walaupun sempat tinggal di Tebet, tapi balik lagi kesini, kadung cinta" ujar Aa' Zay mencairkan suasana.


"Istrinya orang sini kali ya A' jadinya betah disini" timpal Dafi.


"Bukan ... kami hanya pendatang .. mau ngopi?" ucap Aa' Zay.


"Boleh ..." jawab Dafi ga pake malu-malu.


"Kang Maman ... tolong kopi hitam dua ya" ujar Aa' Zay.


"Iya A' ... Aa' Za mau apa?" tanya Kang Maman ke Zavier.


"Susu coklat pake es" jawab Zavier.


"Siap Boss ..." kata Kang Maman.


"Makasih ya Uwak Maman" ucap Zavier.


Kang Maman langsung menuju dapur.


"Cukup akrab ya Aa' sama pekerja disini. Tadi saya liat juga pas turun dari mobil yang jaga Villa langsung markirin mobil di pojok bawah" kata Dafi. Aa' Zay cuma tersenyum.


Kang Maman membawakan pesanan dan diletakkan di meja. Aa' Zay mengeluarkan roti yang tadi dia bawa, Zavier ini orangnya gampang lapar, jadinya selalu bawa makanan kalo habis main atau olahraga seperti sekarang.


"Ada roti asli produksi kampung ini, buat dorongan kopi..." ucap Aa' Zay.


"Wah berkembang juga ya, ada pabrik roti disini" puji Dafi.


"Bukan pabrik, masih skala rumah tangga, semoga usahanya makin lancar dan jaya kedepannya, jadi bisa menyerap banyak lagi tenaga kerja. Biar penduduk sini makin ga tergoda cari kerja ke kota" ujar Aa' Zay.


Zavier mendekati Ayahnya, dia duduk di bawah dekat meja. Meminum susunya kemudian bersiap membuka kotak makanan yang dia bawa.


"A' ... cuci tangan dulu" ingat Aa' Zay.


Zavier langsung menuju keran air yang ga jauh dari sana.


"Anaknya berapa tahun?" tanya Dafi.


"Enam tahun, baru masuk SD tahun ini, anaknya ga mau masuk TK, katanya dia malas nyanyi-nyanyi" jawab Aa' Zay.


"Enam tahun tapi badannya bongsor ya, saya kira umur sembilan tahun. Tapi Ayahnya tinggi besar sih ya, jadi wajar anaknya begitu" ucap Dafi.


"Kalo ikut Bundanya mah kecil" timpal Aa' Zay sambil ketawa.


"Anak Ayah nih ceritanya ... mukanya aja mirip banget" puji Dafi.


"Kalo kata orang-orang, saya bucin banget sama istri, jadi anak-anak semua muka ikutan Ayahnya ... hahaha" canda Aa' Zay.


"Baguslah A' bucinnya sama istri sendiri, berpahala ..." jawab Dafi.


"Udah nikah?" tanya Aa' Zay.


"Belum A' ... saya baru lulus enam bulan yang lalu, sekarang masih nunggu pengangkatan aja" jelas Dafi.


"Ikatan dinas ya kuliahnya?" ujar Aa' Zay.

__ADS_1


"Ya" jawab Dafi singkat.


__ADS_2