ROTI BAKAR

ROTI BAKAR
* Slice 171, Dari hati ke hati


__ADS_3

Selepas sholat Maghrib dan mengaji bersama, Dafi mengajak semua makan bareng di rumahnya. Ayah dan Bundanya pulang malam karena ada undangan salah satu rekannya Bunda.


Jadi semua lauk diangkutin ke rumah Dafi. Izma pun udah ikut bergabung. Fajar lagi ga pulang karena masih di kost annya. Dia lagi rapih-rapih barang dan menyiapkan diri buat pengangkatan sumpah jadi dokter.


Dafi kembali ke kamarnya ketika yang lain sedang nyiapin makan malam. Dia membawa beberapa plastik ukuran besar. Untuk Ayah dan Bundanya serta Fajar udah dipisahin di kamarnya dulu. Jadi oleh-olehnya datang dari kemarin karena dia kirim pake ekspedisi, sengaja dimasukkan dulu ke kamar Dafi dan ga dibuka.


Dafi udah merapikan tiap plastik oleh-oleh buat empunya, jadi tinggal dibagi aja.


"Ini Izma.. semua yang kamu minta ada disitu. Ini buat Rian. Ini buat Mba-mba semua.. bagi tiga ya. Ini buat Qeena dan Izma bagi dua. Ini Mas Narko dan Mas Anto bagi dua. Nah seplastik ini buat Mak Nuha sendiri" ujar Dafi sambil menyerahkan bungkusan plastik.


"Makasih ya Mas .. biar tambah rejekinya. Mas tuh ya hobi banget ngasih oleh-oleh baju" kata Mas Narko.


"Kalo makanan ada basinya, kalo baju kan ngga, tau sendiri kan kalo udah kerja pasti repot sama kerjaan dibanding jalan-jalan" ujar Dafi.


Semua membuka oleh-olehnya dengan hati yang senang.


"Wah pas banget ini daster jumbo kaya gini kan enak buat di rumah, longgar gitu" ucap Mba Mini.


"Mas .. makasih ya .. Emak dibeliin mukena Bali sama daster panjang-panjang gini, jadi enak buat keluar-keluar, tinggal pake jilbab doang" kata Mak Nuha.


"Maaf ya Mak .. cuma segitu yang bisa dibawain, Mas ga banyak waktu buat belanja. Jadi pas lewat liat ya beli" kata Dafi.


"Ini juga udah banyak" jawab Mak Nuha.


"Kok Qeena ga dibeliin mukena juga Mas?" tanya Qeena.


"Mau mukena?" tanya Dafi.


"Mau lah .. kan mukena Bali mah adem banget" jawab Qeena.


"Nanti Mas kasih buat Mas kawin ya, kalo sekarang Mas kasih .. nanti bingung mas kawinnya apa buat pernikahan kita .. hehehe" ucap Dafi.


Qeena jadi diam karena omongan Dafi. Padahal yang lain lagi nunggu responnya Qeena.


"Udah ayo makan .. nanti keburu dingin soup nya" ajak Mak Nuha.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Seusai makan malam, Dafi minta ijin ke Mak Nuha buat berbincang berdua sama Qeena di lantai atas rumahnya. Ada hal yang perlu mereka bicarakan secara pribadi.

__ADS_1


Di lantai atas emang masih kosong, belum ada apapun. Emang Dafi mendesain lantai atas adalah area privasinya. Tidak ada ruangan lain selain kamar utama dan area santai. Ga full lantainya, hanya separuh dari lebar dan panjang rumah, jadi separuhnya hanya langit-langit atap yang tinggi. Tadinya Qeena malas berduaan sama Dafi, tapi Mak Nuha menyarankan buat mereka saling ngobrol terbuka agar jelas kemana arah hubungan mereka, selama ini keduanya bak mengalir mengikuti arus yang ada.


Dafi membawa karpet lipat dari bambu yang kemarin dibelinya di Bali. Masih baru jadi masih dalam plastik. Dia juga membawa bantal sekalian.


"Mau ngapain sih segala bawa bantal sama karpet ke atas" kata Qeena.


"Ya kan diatas belum ada apa-apa, mau duduk dimana? kalo bantal mah buat tiduran, Mas kan cape, jadi mau selonjoran aja ngobrolnya. Ya siapa tau ada yang bersedia mijitin gitu" tanya Dafi.


"Udah sana ngobrol .. nanti kemalaman, Mas Dafi katanya besok mau kerja" saran Mak Nuha.


Dafi naik duluan. Qeena menyusul sambil bawa sebotol air mineral.


"Itu bawa air buat apaan?" tanya Dafi heran.


"Ya buat minumlah. Kan kalo ngobrol terus bisa haus" jawab Qeena dengan polosnya.


"Ga sekalian bawa cemilan buat iseng gitu?" tanya Dafi.


"Abis makan kan Mas .. masa laper lagi" ucap Qeena.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


"Foto yang ada di kamar Mas ... itu Mas ga tau kenapa ada disana" buka Dafi.


Qeena diam.


"Jangan marah dulu, Mas aja ga tau kenapa ada di kamar. Selama berhubungan sama dia, Mas sering ambil foto bersama dibeberapa momen. Tapi Mas simpan di laptop karena kalo di HP kepenuhan. Sejak kita nikah, semua foto Mas sama dia yang berdua, baik di HP dan laptop udah dihapus semua. Kalo yang bareng-bareng masih ada karena kan buat kenang-kenangan" jelas Dafi.


"Terus buat apa jelasin ke Qeena? Qeena paham kok kalo Mas belum bisa move on sama Mba Zahwa" jawab Qeena santai.


"Justru karena Mas udah janji akan terbuka sama kamu, jadinya Mas jelasin sekarang. Mas ga mau kamu salah sangka sama keberadaan foto itu. Beneran deh Mas ga pernah cetak foto kebersamaan sama wanita kecuali sama Izma dan Bunda. Karena bagi Mas, foto pernikahanlah yang akan Mas cetak. Mas aja kaget pas masuk kamar ada foto itu di meja" lanjut Dafi.


"Cuma mau ngomongin itu aja?" tanya Qeena.


"Mau kemana arah hubungan kita sebenarnya?" ujar Dafi.


"Mas .. Qeena ga siap" jawab Qeena.


"Ga siap karena apa?" tanya Dafi.

__ADS_1


"Toh Qeena ga hamil kan Mas, jadi Mas ga perlu merasa bersalah atas apa yang terjadi malam itu" jawab Qeena.


"Hanya karena ga hamil terus mau selesai gitu aja?" kata Dafi.


"Mas .. masing-masing dari kita berhak bahagia" jawab Qeena.


"Apa kalo sama Damar bikin kamu bahagia?" tanya Dafi lagi.


"Mas .. Qeena masih muda. Masih banyak yang ingin dicapai" ujar Qeena.


"Kenapa selalu menjawab dengan berbagai alasan? sekarang Mas pengen tau sebenarnya apa yang membuat kamu ga siap? sama siapapun, Mas rasa kamu ga akan siap kalo masih menyimpan alasan utama kamu. Kalo sekarang kamu ga bisa nempatin Mas sebagai suami, kamu anggap aja lagi ngobrol sama sahabat yang siap mendengar keluh kesah kamu" ungkap Dafi.


Qeena malah akhirnya terdiam.


"Karena kisah orangtua kandung kamu dan Mak Nuha?" tembak Dafi tepat sasaran.


Qeena mulai menunduk, ga berani memandang kearah Dafi. Terlalu dalam trauma itu menghujam hidupnya sehingga Qeena ga mampu memasukkan dalam otaknya, kalo masih ada pria yang lebih baik dari Bapaknya.


Dafi duduk kemudian menghampiri Qeena yang hanya berjarak satu meter dari tempatnya tadi.


"Neng ... naikin dagunya, pandang Mas .." perintah Dafi.


Qeena masih tertunduk ga berani menaikkan dagunya. Lama kelamaan, pundaknya naik turun, menahan emosinya. Dafi kemudian memeluknya, tangis Qeena pun malah makin menjadi, tapi dia ga berontak sedikitpun ketika Dafi memeluknya.


"Nangis aja, Mas bisa nunggu sampe tangis kamu reda kok" kata Dafi menenangkan.


Tangan Dafi mengusap kepala Qeena perlahan.


Pelukan ini merupakan simbol kasih sayang yang berarti Dafi sangat tertarik sama Qeena dan ingin menjalin hubungan yang penuh dengan komitmen karena Dafi ingin Qeena merasakan dirinya sebagai 'rumah' bagi Qeena yang bisa memberikan perlindungan dan kenyamanan.


Dafi mengusap air matanya Qeena, keduanya masih berpelukan sambil duduk, kini keduanya saling menatap mata pasangannya, saling merasakan hubungan yang sudah dekat dan nggak canggung lagi.


Qeena akhirnya tersadar dan melepaskan pelukannya Dafi.


Dafi masih duduk tepat dihadapannya Qeena. Kaki mereka saling menempel karena sama-sama duduk bersila.


"Mencari pasangan untuk menemukan belahan jiwa yang akan menemani kita buat mengarungi kehidupan bersama emang gampang-gampang susah. Kita ga bisa seenaknya menentukan orang yang akan menghabiskan semua waktu sama kita, semuanya harus terencana dan ga main-main. Apa yang terjadi sama kita memang tanpa rencana, tapi Mas janji buat jagain kamu dan Mak Nuha dengan baik, dengan segenap kekuatan yang Mas punya. Mungkin dulu Bapakmu bisa begitu mudah mengumbar janji yang tak sedikitpun ditepati, hingga membuat Mak Nuha kecewa lalu pergi. Pintar-pintarlah kamu membedakan mana yang tulus dan mana yang akal bulus. Kamu udah cukup dewasa buat memilah rasa. Cinta mampu membuat kamu bahagia dan bodoh dalam waktu yang sama, kalau kamu lebih mengandalkan rasa dan lupa memakai logika. Mas bukan ahli tentang percintaan, karena Mas pernah patah hati dan salah menitipkan rasa. Tapi paling ga, semua pengalaman itu mampu membuat lebih bijak dalam menjalin hubungan asmara. Semua pada akhirnya. kita hanya mampu mengandalkan kekuatan doa, karena tetap saja semuanya adalah skenario dari Sang Pemilik hati kita. Mintalah dengan segenap kerendahan hati dan rasa, agar yakin sudah menemukan orang yang tepat menurut takdir-Nya" nasehat Dafi.


"Bapak benar-benar menghancurkan hidup Qeena dan Emak" sahut Qeena.

__ADS_1


"Neng ... Mas emang ga bisa menjamin seratus persen buat ga nyakitin hati kamu, karena sebagai manusia biasa pasti akan ada kealpaan. Sebagai jaminannya .. kalo Mas menyakiti kamu lahir atau batin dan kamu ga ikhlas atas perlakuan tersebut, silahkan kamu bilang ke keluarga, bilang ke keluarga Mas, lapor ke Kantor Mas bahkan ke pihak berwajib pun silahkan. Mas bukan pengecut seperti Bapakmu yang berani berbuat tapi ga berani tanggung jawab. Makanya Mas langsung nikahi kamu sebagai bentuk tanggung jawab Mas. Ga peduli apapun yang terjadi malam itu. Besok kita pulang kampung, selain meminta do'a restu, Mas mau kamu ngurus surat numpang nikah dan sebagainya. Kan Senin hari kerja. Kita akan akad nikah ulang dan mendaftarkan pernikahan kita di KUA secepatnya. Mas juga akan cari keberadaan Pak Iyus karena butuh fotocopy KTP nya dan persetujuan wali. Walaupun secara syariat kamu ga bisa diwalikan sama dia, tapi secara dokumen negara hal ini diperlukan karena di akte kamu ada nama Ayah Ibu. Nanti keterangan Ibu ga ada KTP akan Mas diskusikan sama Pak Iyus buat bikin keterangan ghoib di kelurahan atau kecamatan. Semua prosesnya lama Qeena, karena permasalahan data orang tua kamu. Tapi seiring kita menunggu semua surat selesai, Mas harap kamu bisa membuka hati buat Mas. Demikian juga sama Mas yang akan membuka hati lebar-lebar buat kamu dan berusaha menutup buku dengan kisah yang lalu Kita tetap tinggal masing-masing sampe nanti kita sah secara negara. Mas akan menjalankan kewajiban ke kamu tanpa Mas menuntut hak yang seharusnya Mas dapat. Kita saling mengingatkan untuk sama-sama menjaga diri kita, tolong ingatkan Mas kalo nanti Mas khilaf meminta yang aneh-aneh ke kamu ya" kata Dafi panjang lebar.


__ADS_2