ROTI BAKAR

ROTI BAKAR
* Slice 56, Bincang ringan


__ADS_3

"Assalamualaikum ... " sapa Saino didepan pintu rumah Aa' Zay.


Erin berjalan menuju pintu.


"Waalaikumsalam ... mau cari Aa' ya? Aa' lagi anter Zavier" ujar Erin.


"Ini diminta bawain laptop sama Aa' Boss. Katanya langsung ada perlu dulu sama pihak klinik" jelas Saino.


"Ambil aja Mas kedalam. Biasa ada di ruang kerjanya" pinta Erin.


"Atuh ga enak nih, masa masuk ke rumah yang ga ada lakinya" ujar Saino.


"Ada orang kok didalam, ya kalo ga ada mana boleh Mas Saino masuk" jawab Erin.


Saino masuk kedalam mau menuju ruang kerja Aa' Zay. Melihat Qeena yang lagi merapihkan meja makan.


Bisa dibilang kalo laki-laki nggak bisa untuk nggak ngelirik saat ada wanita cantik ada disekitarnya. Konsentrasi akan hilang dalam sesaat untuk melihat kecantikan wanita tersebut. Kenyataannya, sikap laki-laki yang terkesima saat melihat wanita cantik adalah sebuah hal wajar. Normal bagi laki-laki untuk melirik ketika ada wanita cantik didekatnya, meski sudah berpasangan. Tapi yang ga boleh meneruskan pandangan itu dan punya pikiran didalam kepala untuk berselingkuh. Terkadang, mereka hanya mengagumi keindahan salah satu ciptaan Tuhan.


Saino masuk ke rumah kerja Aa' Zay dan memasukkan laptop ke tasnya. Saat di ruangan Aa' Zay dia sempatkan buat telepon Agung.


"Mas Agung ... mau liat bidadari turun ke Ciloto ngga?" tanya Saino sambil berbisik.


"Lo jangan ngadi-ngadi deh" jawab Agung yang lagi menikmati sarapannya.


"Beneran ... sini deh ke rumah Mas Ajay, beuh bini kita mah lewat dah kecantikannya" tambah Saino.


"Biar betul nih Bang Sai ... emang siapa?" ujar Agung penasaran.


"Belum nanya sih, mungkin sodaranya Bu Boss, abis bening banget. Kan kalo keluarganya Mas Ajay mah ga bening-bening ... hehehe" kata Saino asal.


"Wah ga boleh dilewatkan nih, Ajay bisaan aja liatin sodaranya sendiri, kita ga dikasih tau. Pantes aja pagi-pagi nitipin Zayda kesini" ucap Agung sambil menuju rumahnya Aa' Zay yang bersebelahan.


Saino keluar dari ruang kerja. Kemudian sengaja duduk di meja makan.


"Mau ngapain lagi Bang Sai?" tanya Erin.


"Ga ada yang bisa dimakan gitu?" kata Saino sambil curi-curi pandang ke Qeena.


"Assalamualaikum..." sapa Agung yang udah berdiri didepan pintu dan melihat Saino.


Saino memberikan tanda kearah Agung kalo yang dia maksud sama bidadari tuh Qeena.


Agung langsung masuk kedalam rumah dan menghampiri Saino. Dia ikutan duduk disebelah Saino.


"Rin ... ga ada cemilan apa ya?" tanya Agung pura-pura.


"Emang belum sarapan? tuh ada nasi TO" ucap Erin.


"Bosenlah ... ini lama-lama keringet baunya oncom dah, hampir tiap pagi sarapan itu" ujar Agung.


"Abis apa lagi, ga banyak pilihan" kata Erin.

__ADS_1


"Emak-emak ga ada yang kreatif sih ya No ... mbok ya sekali-kali gitu bikin roti bakar atau sandwich pake orange juice plus potongan buah ... kaya bule-bule gitu" ujar Agung.


"Kira-kira aja Mas Agung, udah mah pagi-pagi kita udah main akrobat bebenah sama masak air di dapur, belum kalo anak rewel jadi sembari gendong. Siapin sarapan buat anak sekolah sambil bebenah. Terus anter ke sekolah, abis itu lanjut ngurusin rumah lagi. Lanjut masak, jemput anak, bebenah dan segala rupa ga ada kelarnya ... masih bisa ya ngayal sarapan kaya bule-bule" semprot Erin.


"Nah kan ... bukannya makan roti bakar yang ada sarapan mulut yang kebakar" bisik Saino.


"Iya ... bini-bini kita kan sama hobinya ... nyap-nyap aja kalo kita minta sesuatu" jawab Agung.


"Terus pada mau ngapain disini? emang ga dikasih sarapan sama istri di rumah?" tanya Erin.


"Ya bolehlah kita ngopi-ngopi dulu disini, kayanya ada tamu nih .. kok ga dilaporin ke kita" timpal Agung.


"Emang Mas Agung itu Pak RT disini segala lapor. Udah ga usah pada modus, inget anak istri di rumah. Bilangin Aa' nih ya masih pada santai disini" potong Erin.


"Orang nanya doang, kali aja tamunya minta dianterin kemana gitu" tawar Saino.


"Namanya siapa Dek?" tanya Agung.


"Namanya Qeena ... kalo Ibunya Mak Nuha .. udah sana jalan" Erin yang malah jawab.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


"Jadi gini A' ... klinik ini kan semakin ramai, ijin juga sudah lengkap, kenapa ga dibikin jadi lebih profesional?" tanya Pak RW yang lagi kunjungan ke Klinik.


"Maksudnya gimana ya?" tanya Aa' Zay.


"Ya jangan lagi ada yang gratis, jadi ga perlu lagi subsidi silang. Ditetapkan aja bayar berapa buat berobat, ga perlu mahal-mahal tapi semua bayar. Kan lumayan nanti buat ngisi kas RW juga" papar Pak RW.


"Nah ini nih, makanya saya ga dukung Pak RW sejak awal, karena tau mata duitan. Maaf ya .. Bapak ini kan pendatang juga ya sama kaya saya, walaupun keluarga saya asli sini. Coba deh tanya sama para sesepuh kampung dan warga yang udah lama disini, yang tau sejarahnya klinik ini berdiri karena apa" dengan lugas Aa' Zay menjawab.


"Pak .. saya ga pernah minta operasional ini ke lembaga pemerintahan atau aparat yang berwenang di kampung ini. Kas RT RW pun tetap kami bayar per bulannya bareng iuran keamanan dan sampah. Alhamdulillah Klinik sudah berjalan lebih dari lima tahun dan berkembang pelan-pelan. CSR semua perusahaan yang saya punya hampir tujuh puluh persennya diserahkan untuk kemajuan Klinik ini. Dokter-dokter silih berganti datang memberikan keilmuan mereka disini secara sukarela, kami hanya menyediakan tempat tinggal dan transport yang ga seberapa. Obat-obatan juga banyak disuplai sama beberapa rekan yang sangat peduli akan kesehatan masyarakat. Toh kami juga menerapkan subsidi silang, bagi yang ga bisa bayar akan gratis dan yang mampu bayar silahkan masukkan sendiri uangnya didalam kotak. Semua buat muter operasional Klinik ini. Sekarang Bapak datang ingin meminta bagi hasil gitu? Sadar Pak ... Anda tuh abdi negara, jangan main-main sama jabatan biar kata level RW juga" omel Aa' Zay.


"Jangan marah dulu Aa' Zay, toh semua untuk pembangunan juga. Kita bisa bikin sesuatu yang berguna untuk masyarakat dari uang kas RW" jelas Pa RW.


"Membuat apa Pak .. Alhamdulillah sekarang daerah dekat Klinik pada usaha makanan. Ada juga yang membuka toko obat. Sudah maju dibandingkan lima tahun yang lalu. Sekarang kalo memang mau naik iuran sampah, keamanan dan lainnya ya gapapa, tapi jangan pernah utak-atik manajemen Klinik ini. Karena ini terhitung Klinik swasta Pak. Kalo memang Pa RW butuh tambahan dana buat membangun RW, kenapa ga jualan aja buah dan sayur yang saya punya, atau pasarin ikan dan tanaman hias. Bayarnya kalo udah laku aja, sistem setoran. Daripada Pak RW dan Sekretarisnya nganggur kan lebih baik usaha. Jadi RW bukan profesi Pak, tapi pengabdian" nasehat Aa' Zay dengan santainya.


"Begini A' Zay ... kami..." Sekretaris RW mau angkat bicara.


"Mohon maaf saya sebentar lagi akan kedatangan tamu, bisa silahkan Bapak-bapak lanjutkan pembicaraan sama penanggung jawab disini, jadi sama Agung aja ya, sebentar lagi juga akan datang, saya permisi dulu" ujar Aa' Zay.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Erin menelpon Aa' Zay dan menjelaskan tentang obrolannya sama Nuha dan Qeena.


"Ya udah ... kita tolong mereka, rumah Abah kan lama kosong, emang ada yang bersihin seminggu sekali. Biar mereka tempatin aja biar diurusin sekalian. Kan kalo ada yang nempatin rumah tuh jadi rapih. Mama Tikah kan ga mau tinggal disana katanya rumah lama. Nanti mereka bisa bantu-bantu kamu di rumah buat dapat penghasilan" usul Aa' Zay.


"Iya A' ... tadi ya ngobrol sama Qeena tuh rasanya nyesss ... ingat Erin dulu, lagian ya A' ... Zafran kan rewel ya dari semalam, masa digendong Qeena dia anteng. Kayanya cocok emang buat pegang Zafran. Jadi Erin bisa ngerjain yang lain. Mak Nuha juga biar kaki sakit tapi gesit banget, ini lagi bantuin masak buat makan siang. Katanya mau bikin pepes ikan sama bikin sayur asem, ahh udah lama Erin ga makan itu" cerita Erin.


"Udah ambil ikannya?" tanya Aa' Zay.


"Udah ... tadi minta tolong dianterin ikannya ke rumah sama yang ada di kolam. Nanti Mama Tikah sama Ayah juga mau makan siang disini. Ayah kan lagi di rumah sini. Aa' pulang ya nanti, kita makan siang bareng. Valen sama Eby juga mau datang. Tapi dokwan lagi kuliah, jadi ga bisa ikut. Oh ya kalo ketemu Bang Saino sama Mas Agung ajak aja ya. Kita bikin banyak kok makanannya" ujar Erin.

__ADS_1


Zafran udah tertidur, dia diletakkan di kasur kecil dekat sofa ruang keluarga.


"Biasa disitu ... kalo siang taro di kamar mah ngamuk" ucap Erin.


Mereka bertiga melanjutkan masak sambil berbincang. Valen ikut bergabung, Zayda dan anak-anaknya Valen lagi main di halaman belakang dapur.


"Qeena cantik banget deh, sama kaya Mak Nuha ... pasti nih Mak Nuha dulunya jadi inceran para lelaki" puji Valencia.


"Bisa aja nih Mba Valen" ucap Nuha.


"Beneran Mak ... eh kayanya Qeena ini pendiam ya Mak .. dari tadi anteng aja" kata Valencia.


"Ya emang pendiam" jawab Nuha.


"Qeena terakhir sekolah apa?" tanya Valencia lagi.


"Kelas sepuluh Bu..." jawab Qeena sopan.


"Panggil Mba aja jangan Ibu" pinta Valencia.


"Rencananya mereka mau tinggal disini Mba" ujar Erin.


"Mau apa di tempat kecil seperti ini, disini mah kerjaan ya begini aja, jadi Ibu Rumah Tangga, dagang atau jadi petani" kata Valencia.


"Ya kami kan juga dari kampung, malah disini lebih maju dibandingkan kampung kami" jawab Nuha merendah.


"Mak Nuha ini enak ya nada bicaranya lembut, kata-katanya tertata baik, dulunya kerja apa Mak?" tanya Erin.


"Waktu masih gadis jadi OB di kantor, pas nikah bantuin mertua bikin Bakpau. Setelah punya anak, ikut jualan roti bakar. Terakhir ya jadi petani aja di kampung karena usaha roti bakarnya tutup" papar Nuha.


"Kangen banget sama bakpau ... Mak Nuha bisa dong bikin bakpau, disini ada penjual keliling, tapi lembutnya pas panas doang, dingin sebentar udah keras" kata Erin.


"Alhamdulillah bisa, bikin roti sama selai juga bisa" antusias Mak Nuha menjawab.


"Besok kita bikin ya Mak .. enak isi apa Mak ... kacang hijau atau coklat?" tanya Erin.


"Terserah aja maunya apa, nanti Emak catet apa aja bahannya, Erin tinggal beli aja" kata Nuha.


"Jagoannya apa nih Mak, yang beda gitu.." timpal Valencia.


"Kata orang sih bakpau isi selai srikaya bikinan Emak tuh enak. Tapi balik ke selera masing-masing" ujar Nuha.


"Ya udah besok kita bikin yang isi coklat, srikaya dan kacang hijau. Sekalian buat cemilan acara penyuluhan dari orang Puskesmas tentang TBC" kata Erin.


"Oh jadinya besok ya Rin?" tanya Valencia.


"Iya kata Mas Agung .. soalnya lusa ga bisa, jadi di majuin" ujar Erin.


"Beli bahannya hari ini aja Rin, nanti Qeena bikinin selai srikayanya. Coklatnya pakai mises aja yang merek nyeres, itu paling enak. Kalo kacang hijaunya biar direndam dulu jadi besok pagi bisa dikerjain. Kalo mau nanti Emak bikinin roti isi aja buat orang Puskesmas" usul Nuha.


"Jadi ngerepotin Mak ... atau kalo ga .. kita bikin roti isi deh besok, lebih pantes buat suguhan, kapan-kapan aja bikin bakpaunya. Nanti Erin bikin risol kalo anak-anak udah tidur, besok tinggal goreng. Maklum deh Mak .. disini mah jauh dari bakery, jadi kalo ada acara bikin sendiri" jelas Erin.

__ADS_1


"Gw jadi nih bikin pudingnya?" tanya Valencia.


"Jadilah ... nanti sekalian jemput Zavier deh beli bahan-bahannya" kata Erin.


__ADS_2