
Semua berjalan sebagaimana mestinya, Nuha dan Qeena pulang kampung juga setelah satu setengah tahun menyembunyikan diri di Ciloto. Tapi pulangnya bukan pas Lebaran atau liburan panjang. Mereka hanya menjaga agar ga ketemu sama salah satu keluarga Pak Dzul yang masih juga mencari mereka. Pas pulang pun, Nuha membawa semua berkas dan tas yang berisi masa lalunya Qeena.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Dafi pun sudah ditempatkan berpindah-pindah di daerah Sumatera. Selama bekerja disana, rupanya makin dekat lagi sama Raisha yang menjadi partner berpindah-pindah tempat kerja juga. Mereka pun sudah diangkat menjadi abdi negara karena saat itu mereka ikut tes di luar pulau Jawa penempatannya dan lolos disana. Raisha memberikan tantangan ke Dafi, kalo memang dia serius, sepulangnya dari Lampung, Dafi harus bertemu kedua orang tuanya. Kebersamaan mereka kerja bareng sudah berjalan selama kurang lebih satu setengah tahun terakhir ini.
Sebagai cowo gentleman, Dafi menepati janjinya. Dia datang ke rumah Raisha buat menemui orang tuanya. Pembawaan Dafi yang sopan dan mudah bergaul menjadikan penilaian orang tua terhadap dia positif. Dafi pandai mengikuti obrolan Bapaknya Raisha, baru sebentar kenal udah bisa ngobrol dari hal ringan sampe hal berat.
"Jadi Nak Danish udah serius sama Raisha?" tanya Bapaknya Raisha.
"Panggil Dafi aja Pak" jawab Dafi.
"Danish itu kesannya koyo wong Londo.." canda Bapaknya Raisha.
"Ya Pak" jawab Dafi.
"Apik Danish ...Ra pasaran" jawab Bapaknya Raisha.
"Terserah Bapak saja .. saya manut. Untuk keseriusan, insyaa Allah saya serius sama Raisha, makanya hari ini saya sowan dulu ke Bapak, memperkenalkan diri saya. Berhubung kami belum bisa menikah dalam waktu dekat, masih baru diangkat dan belum stabil pekerjaan serta persiapan juga belum cukup, jadinya ya perkenalan keluarga dulu. Nanti kalo Bapak sudah kasih lampu hijau, barulah orang tua saya datang kesini buat silaturahim sama keluarga Raisha" jawab Dafi lagi.
"Intinya Bapak senang kaya gini, yang mau kenal sama Raisha ya langsung datang ke rumah, jangan beraninya ngerayu anak orang aja tapi ga berani datengin walinya" ucap Bapaknya Raisha.
"Saya juga ga berani Pak kenalan sama wanita tanpa keluarga tau. Prinsipnya simple aja, kalo saya merasa sreg ya berarti itu udah pilihan hati saya, sambil berdo'a agar bisa jadi pendamping hidup saya kelak" jelas Dafi.
"Bagus kaya gitu, Bapak memang ga bolehin anak-anak Bapak pacaran. Silahkan ta'aruf dengan cara yang Ihsan. Kamu tau kan konsep ta'aruf seperti apa. Jangan kaya kebanyakan yang ada di sosmed... gayanya bilang ta'aruf, tapi pergi berdua, segala bikin foto prewedding, malah udah pegangan segala. Belum lagi saling video call mengumbar ucapan romantis, pake jilbab tapi bersentuhan.. itu mah sami mawon kaya orang pacaran biasa" ungkap Bapaknya Raisha.
"Insyaa Allah Pak, saya paham maksud Bapak. Saya akan coba cari perantara buat mengenal Raisha dan Raisha bisa kenal siapa saya" ucap Dafi.
"Kapan rencananya emang buat lanjut ke jenjang pernikahan?" tembak Bapaknya Raisha langsung.
"Kalo boleh minta waktu sekitar setahun dari sekarang Pak" jawab Dafi mantap.
"Gini aja dulu, silahkan saling mengenal selama tiga bulan ini secara serius. Begitu sudah sama-sama yakin, silahkan lanjutkan buat ke jenjang berikutnya atau bubar jalan kalo ga cocok. Ga usah banyak makan waktu, ga baik juga buat kalian berdua" nasehat Bapaknya Raisha.
__ADS_1
"Ya Pak .. nanti sepulang dari sini saya akan langsung bicarakan sama orang tua saya" janji Dafi.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Setelah makan malam, kebetulan Nenek Sri juga sedang jatah tinggal di rumah Pak Dzul. Dafi menyampaikan niatnya ke keluarga tentang Raisha. Semua menyambut dengan baik, hanya Bu Fia yang masih ragu. Beliau ingin kenalan dulu sama yang namanya Raisha. Pak Dzul tau memang sedari dulu, Dafi selalu punya niat untuk menikah muda. Karena mau nantinya sama anak, usia ga terlalu jauh.
"Kita liat dulu lah ya Raisha tuh kaya gimana" kata Bu Fia sinis.
"Bun ... anak kita kan udah dewasa, biarkan mereka memilih pasangan hidup sendiri. Toh kita juga bukan hasil perjodohan. Rejeki mah nanti ada aja kalo udah rumah tangga. Kan Dafi cerita kalo Raisha teman kerjanya, berarti dia juga abdi negara seperti Dafi" jelas Pak Dzul.
"Tapi kan Yah .. kita harus kenal dia dari keluarga seperti apa? keturunannya bagaimana?" lanjut Bu Fia.
"Bun ... ngaca sedikit bisa ga? Keluarga kita berdua tuh bukan dari kalangan ningrat atau jutawan. Bunda dibesarkan oleh seorang ibu dengan status single parent, buat sekolah aja tertatih-tatih keuangannya, Alhamdulillah ada orang baik yang membantu Bunda kan saat itu. Ayah juga sama, ibu membesarkan anak-anak sendiri setelah kepergian almarhum Bapak. Kita nikah juga rumah masih nyicil KPR yang tipe 21, yang kamarnya cuma ada satu. Tapi sekarang Allah kasih banyak keberkahan buat kita. Kita punya pekerjaan yang lebih dari cukup buat keluarga, kita punya anak-anak. Alhamdulillah masih bisa bantu keluarga dan orang lain juga dengan rejeki yang kita punya" ungkap Pak Dzul yang membuat Bu Fia diam.
"Ini Fajar diam-diam aja, padahal Nenek tiap hari denger lagi telponan sama yang namanya Inez, kenalin dong kesini" ujar Nenek Sri angkat bicara.
"Inez itu teman kuliah Nek, kita cuma teman kok" sahut Fajar.
"Dia mah galon Nek dari Qeena" timpal Izma.
"Galon? emang Qeena pernah jualan galon?" tanya Nenek Sri yang ga paham istilah sekarang.
"Galon itu gagal move on Nek. Mas tercinta Izma ini udah cinta mati sama Qeena, mana bisa digantikan orang lain" jawab Izma lagi.
"Gimana kabarnya Qeena sekarang ya? ilang begitu aja" ingat Nenek Sri.
"Ga tau Nek .. Fajar juga udah usaha nanya lagi ke Wonogiri, tapi emang belum pernah pulang kampung, mereka hanya ngirim uang ke kampung" jelas Fajar.
"Kalo mereka kirim uang berarti punya penghasilan ya ... syukur Alhamdulillah kalo begitu" Dafi ikut angkat bicara.
"Ya pasti punya uang lah Mas, wong masih kirim surat ke Ayah sama kasih voucher belanja lima ratus ribu. Ayah ga tau mereka kerja apa dan dimana, tapi kok kayanya kalo ngirim segitu tiap bulan, berarti penghasilan mereka lebih dari itu" kata Pak Dzul.
"Oh masih Yah dia kirim? boleh Mas liat amplopnya? udah berapa kali kirim?" tanya Dafi.
__ADS_1
"Selama satu setengah tahun ini kalo ga salah udah kirim surat lima kali beserta voucher" jelas Pak Dzul.
"Aneh ya ... Dafi mah tetap curiga itu bukan dia yang kirim, tapi kalo emang dia yang kirim pun ... pasti dia punya niat membalas apa yang udah Ayah keluarin buat dia. Anak yang tau adat berarti" ujar Dafi lagi.
"Iya dong Mas .. Qeena itu tau sopan santun dan balas budi" puji Fajar.
"Kalo tau sopan santun tuh ga kabur gitu aja .. anak sama Emak sama aja, ga ada tatakramanya" potong Bu Fia.
"Bun ... jangan mulai deh, toh ga ada yang dirugikan, dia pergi ga bawa barang-barang kita" lanjut Fajar.
"Ya .. tapi dia pergi karena ga mau nerima Rian kan?" kata Bu Fia.
"Rian? maksudnya apa ya Fia?" tanya Nenek Sri bingung.
"Kami berniat menjodohkan Qeena ke Rian, kami kan akan semakin tua, kakak-kakaknya Rian pun akan punya keluarga masing-masing. Jadinya ya kita mau Qeena yang bisa urus Rian" Pak Dzul berterus terang.
"Ya Allah ... kalian tega banget sama Qeena, pantes aja mereka pergi" omel Nenek Sri.
Semua diam ga berani bicara lagi karena muka Nenek Sri udah berubah marah.
🎀🎀🎀🎀🎀🎀🎀🎀🎀🎀🎀🎀🎀
Fajar tengah berjuang di semester akhir kuliah S1 nya, untuk mendapatkan gelar Sarjana Kedokteran (S.Ked.), Fajar harus berjuang agar bisa lulus diujian teori tertulis, ujian OSCE dan ujian SOCA atau oral. Karena pembelajaran di fakultas kedokteran berbeda dengan fakultas-fakultas lainnya, jadi di kedokteran memakai sistem blok. Dalam tiap satu blok, Fajar akan mempelajari satu sistem organ secara keseluruhan mulai dari fungsi, penyakit, obat, cara pemeriksaan, sampai dengan interpretasi hasil laboratorium. Untuk mengevaluasi satu blok maka diadakan ujian teori tertulis disetiap akhir blok yang terdiri dari soal pilihan ganda yang bisa mencapai lima ratus butir. Setelah itu menjalani ujian OSCE di setiap akhir blok atau akhir semester. Di dalam ujian ini mahasiswa berpura-pura menjadi dokter dan mendiagnosa pasien didepan dokter penguji. Ini merupakan ujian paling mendebarkan karena langsung diuji di depan dosen penguji dengan waktu terbatas sehingga gak boleh panik dan tetap berpikiran jernih jangan sampai salah diagnosa. Setelah itu lanjut ujian SOCA atau ujian lisan, dalam ujian ini harus bisa menjelaskan secara lisan dari kasus yang ditanyakan mulai dari konsep, tindakan, alasan, ekspektasi dan treatment apa yang akan diambil dari kasus yang ditanyakan. Disini diperlukan kemampuan komunikasi dan menyampaikan pendapat yang baik.
Setelah menjalani ujian dan dinyatakan lulus disemua blok, barulah Fajar nanti resmi diwisuda dan mendapatkan gelar S.Ked.
Setelah mendapatkan gelar S.Ked, masih belum resmi jadi dokter, harus mengambil program profesi atau lebih familiar dengan istilah KOAS. Didalam program profesi ini Fajar akan menjalani kuliah lagi selama kurang lebih dua tahun. Di dalam KOAS ini, dia akan dirotasi ke berbagai bagian di Rumah Sakit untuk mempelajari berbagai macam kasus medis yang ada di Standar Kompetensi Dokter Indonesia (SKDI) secara langsung.
Di akhir KOAS, akan kembali menghadapi ujian performa yang akan menggunakan metode mini clinical evaluation exercise (mini-CEX), para calon dokter akan secara langsung mewawancara, memeriksa, menganalisa dan meresepkan obat kepada pasien asli dihadapan para dokter preceptor. Ada juga ujian yang langsung berkaitan dengan stase yang dijalani, contohnya ujian membaca foto Rontgen pada stase Radiologi.
Gerbang mendapatkan gelar dokter tinggal selangkah lagi kalo habis KOAS, yaitu mengikuti ujian sertifikasi atau Ujian Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKMPPD) dan juga OSCE nasional. UKMPPD merupkan ujian tertulis, sedangkan OSCE nasional merupakan ujian praktik. Jika lulus, maka akan diwisuda dan mengucapkan sumpah dokter sekaligus akan mendapatkan gelar didepan nama dengan gelar dokter.
Walaupun nanti gelar dokter (dr.) yang tersemat didepan nama, para dokter baru ini masih belum diizinkan untuk mengadakan praktek sendiri, mereka masih perlu untuk menjalani magang atau internship untuk mendapatkan Surat Tanda Registrasi atau STR. Selam magang ini ada dokter yang mendampingi.
__ADS_1