ROTI BAKAR

ROTI BAKAR
* Slice 128, Dalam perjalanan


__ADS_3

Setelah makan, Dafi ikut membawakan piring kotor ke dapur.


"Mba Parti masih sakit?" tanya Dafi pada Mba Tinah.


"Masih Mas" jawab Mba Tinah.


"Qeena ... temenin ketempat Mba Parti dulu yuk, mau pamit dulu sebelum jalan pulang" ujar Dafi yang lumayan akrab sama Mba Parti.


Mba Parti mulai kerja di rumah Pak Dzul sejak Fajar lahir, beliau menggantikan saudaranya yang nikah dan memutuskan ga kerja lagi sama Pak Dzul karena ga boleh sama suaminya.


Qeena jalan dibelakangnya Dafi menuju kamar Mba Parti didekat kolam renang. Ternyata Mba Parti tengah duduk didepan kamarnya.


"Mba ... udah mendingan?" tanya Dafi.


"Udah Mas ... Mas mau pulang ya?" kata Mba Parti.


"Iya ... titip jagain adik-adik Mas ya" pinta Dafi.


"Iya Mas ... ya Allah Mas .. maaf ya semalam Mba ke dokter, jadinya kejadian kaya semalam" ujar Mba Parti kecewa.


Dipegangnya tangan Mba Parti, wanita berusia empat puluh tahun ini malah jadi menangis. Dafi merangkulnya dan tumpah semua kesedihan Mba Parti.


"Mas ... kenapa begini nasibnya Mas .. Mas orang baik, tapi malah nikah karena terpaksa, Mba yakin ini hanya jebakan" ucap Mba Parti disela tangisnya.


"Udah ya jangan nangis lagi" harap Dafi.


"Sabar ya Mas, abis Nenek meninggal, sekarang Ibunya Mba Zahwa yang meninggal ... terus Mas nikah .. gimana perasaan Mba Zahwa ya Mas? Mas mau terus terang ke Mba Zahwa? begini banget ya cobaannya. Semoga semua dikuatkan dalam menjalani semuanya" kata Mba Parti.


"Ga usah dibahas dulu ya, nanti Mas selesaikan dulu semuanya" jawab Dafi.


"Tapi Mba bahagia liat Mas sama Qeena bersatu, sejak Qeena menginjakkan kakinya disini, Mba merasa seperti calon mantu yang masuk ke rumah mertuanya. Rupanya perasaan Mba ga salah. Selamat ya Qeena, kamu ada ditangan yang tepat, Mas Dafi pasti bisa bahagiain kamu" ujar Mba Parti.


Qeena hanya mengangguk, bingung juga mau jawab apa. Selama ngobrol sama Mba Parti, Qeena terus menerus memutar cincin di jarinya, cincin yang diberikan sama Damar seminggu yang lalu, sebagai hadiah ulang tahunnya kedelapan belas. Cincin ini amat berarti buatnya, cincin tanpa mata yang dipesan khusus sama Damar, ada namanya Qeena terukir disana.


"Ya Allah .. gimana jelasinnya Kak? haruskah cincin ini dikembalikan ke Kak Damar? Disaat Qeena percaya ada lelaki yang baik didekat Qeena, tapi harus seperti ini. Kak Damarlah lelaki yang membuat nyaman. Membuat Qeena yakin jalanin hidup kedepannya. Tapi semua jadi kaya gini Kak. Susah payah Kakak memberikan kesan Qeena wanita baik ke orang tua Kakak, tapi malah jadi begini" kata Qeena dalam hatinya.


"Sehat-sehat ya Mba ... Mas mau jalan dulu ke makam, nanti langsung ke Bandara" pamit Dafi.


"Hati-hati ya Mas, jaga kesehatan disana, ingat pulang kesini, kan udah ada istri sekarang" kata Mba Parti.


"Ya Mba ... ini Mas ada sedikit rejeki. Berobat lagi aja kalo masih sakit ya" ucap Dafi.


"Makasih Mas ... biar tambah rejekinya, biasanya nanti kalo udah nikah mah adanya aja Mas, ya kan harus tanggung jawab sama istri" kata Mba Parti.


"Aamiin ya rabbal'alamin" jawab Dafi.


Setelah dari kamar Mba Parti, Dafi ngajak Qeena ngobrol dulu ditepi kolam renang.


"Kamu punya nomer rekening?" tanya Dafi.

__ADS_1


"Ada Mas" jawab Qeena.


"Kirim ya nomer rekening ke HP Mas, nanti Mas transfer. Di Ciloto masih usaha roti sama Bakpau?" tanya Dafi.


"Disana udah sepi Mas, mau kerja sama Aa' Zay aja" jawab Qeena.


"Jadi apa?" tanya Dafi.


"Aa' Zay mau ekspansi bikin usaha kue dan roti, akan dipasarkan bareng sama Bakulan Bunda secara online, tapi Ramadhan ini insyaa Allah udah masuk orderan kue kering dari Teh Erin" jelas Qeena.


"Cuma berdua sama Emak bikinnya?" tanya Dafi.


"Iya Mas" ujar Qeena.


"Kenapa ga buka sendiri aja?" tanya Dafi.


"Ga punya ilmu jualannya Mas" jawab Qeena.


"Ya udah .. belajar dulu sama Aa' Zay, nanti kalo udah pinter baru deh buka sendiri. Mas masih bingung juga ya mau bilang apa. Ya kita jalani dulu ya, sambil nanti Mas bilang ke Zahwa tentang pernikahan kita" kata Dafi.


"Kasian Mba Zahwa kan Mas, persiapan pasti udah berjalan. Disini aja katanya Mas Fajar, keluarga udah mulai list yang mau diundang. Disana juga pasti lebih repot lagi Mas, namanya pihak wanita. Apalagi kalo pesan baju, pasti udah dikerjakan. Jangan sakitin Mba Zahwa Mas ... dia wanita yang tepat buat Mas. Jalankan rencana Mas seperti semula. Mas bisa anggap pernikahan kita ga pernah ada" ujar Qeena.


"Kamu rapih-rapih sana, kita berangkat ke Makam, nanti pulangnya kamu diantar Fajar sampe rumah Pak Shaka ya" perintah Dafi.


Qeena berlalu meninggalkan Dafi, lima menit kemudian Dafi sudah merapihkan bawaannya dan dimasukkan kedalam mobil.


Yang berangkat ke makam hanya berlima. Pak Dzul, Fajar, Dafi, Qeena dan Mak Nuha. Dafi yang bawa mobil, Pak Dzul duduk disampingnya. Qeena dan Mak Nuha ditengah dan Fajar dipaling belakang.


"Ga Om .. makasih" jawab Qeena dengan sopan.


"Jangan panggil Om lagi dong, kan udah jadi anak Ayah ... jadi panggilnya Ayah" ingat Pak Dzul.


Qeena hanya diam aja. Fajar malah udah tertidur dikursi belakang, rupanya dia masih ngantuk karena habis Koas langsung begadang di Rumah Sakit jaga Nenek hingga Nenek meninggal.


"Ayah harap kalian berdua serius dalam pernikahan ini. Mas Dafi tolong selesaikan urusan sama keluarga Zahwa dengan baik, nanti Ayah sempatkan main kesana buat menjelaskan semua ke keluarga Zahwa. Urus juga berkas yang udah masuk ke kantor, diganti sama nama Qeena. Untuk persiapan pernikahan disini, semua belum ada yang di DP in kok, baru tahap mencari vendor, jadi masih bisa kita cari-cari yang sesuai. Mas kabarin aja ke Ayah mau kapannya" jelas Pak Dzul.


"Iya Yah" jawab Dafi.


"Mas ga main-main kan sama pernikahan ini?" tanya Pak Dzul meyakinkan.


"Ga Yah ... Mas serius menikahi Qeena kok Yah. Mas ga akan mempermainkan sebuah pernikahan begitu aja" ucap Dafi.


"Syukurlah kalo kamu paham. Ayah ga mau karena Ayah paksa, terus kamu bersedia menikah tapi kedepannya malah ga serius" kata Pak Dzul.


"Mohon do'anya ya Yah .. Mak Nuha .. agar Mas sama Qeena bisa membangun rumah tangga yang samawa, bisa saling mendukung, bisa saling melengkapi satu sama lainnya" pinta Dafi serius.


"Aamiin ya rabbal'alamin" kata Mak Nuha dan Pak Dzul bersamaan.


"Kadang aneh deh sama Mas Dafi, kadang keliatan kaya orang yang bener-bener peduli, kadang juga cuek. Apa dia sebenarnya suka sama Qeena dari dulu ya? cuma ga enak aja karena Mas Fajar udah terang-terangan suka sama Qeena. Ya Allah ... kenapa jadi ge er gini sih. Tapi kenapa pas udah jadi suami, Mas Dafi malah perhatian banget ya, beda banget sama yang dulu. Mana ngomongnya lembut banget. Keliatan berwibawa pula ... haissshhh apa sih Qeena... please jangan baper" kata Qeena dalam hatinya.

__ADS_1


🌿


Didepan Makam Nenek Sri, semua duduk bersimpuh. Masih harum taburan bunga yang menumpuk diatas tanah gundukan, walaupun basah masih tercium wanginya.


"Nek ... ternyata Nenek ga menyaksikan Mas nikah, Nenek ga nunggu Mas. Tapi sekarang, Mas udah bawa istri Nek, wanita yang Nenek kenal dengan baik. Maafin Mas ga sempat merawat Nenek saat sakit. Tapi semua permintaan Nenek udah Mas penuhi ya Nek, termasuk buat menikah. Saat Nenek masuk ke Rumah Sakit pertama kalinya, Nenek bilang mau sedekah sembako ke orang yang sangat membutuhkan, udah Mas tunaikan waktu di Sungai Penuh Nek. Ada warga di perkampungan dekat kontrakan Mas yang sampe ga bisa makan karena ga punya pekerjaan. Nenek juga minta nyumbang ke Mesjid buat pembangunan, udah Mas tunaikan juga. Nenek minta pengobatan Rian terus dilanjutkan, insyaa Allah Nek .. Rian akan terus menjalani terapinya, paling ga biar Rian bisa mandiri" kata Dafi sambil mengusap nisan Nenek Sri.


Setelah berdo'a, mereka segera menuju parkiran. Untunglah tadi mereka semua udah ganti pake sendal jepit sebelum masuk ke komplek pemakaman, tanahnya becek karena sehabis hujan.


"Mas Fajar pegangin Nuha ya, jalanannya licin nih" perintah Pak Dzul yang jalan dibantu potongan kayu pohon yang tadi ditemukan ga sengaja dekat makam Nenek Sri.


Fajar mengikuti instruksi Ayahnya tanpa kata-kata. Mak Nuha menggandeng tangan Fajar.


Dafi jalan paling belakang, persis dibelakang Qeena. Karena licin, Qeena sampe hilang keseimbangan dan kepleset, untunglah Dafi dengan sigap menangkap tubuhnya Qeena.


Keduanya saling menatap. Belum pernah mereka sedekat ini. Angin berhembus menggoyang-goyangkan jilbab Qeena.


"Mas ... Qeena .. jangan pacaran di kuburan ah ... ntar kesambet setan loh" goda Pak Dzul.


Dafi dan Qeena tersadar kemudian mereka berdiri tegak kembali.


"Kalo licin, pegang tangan Mas aja, dari pada jatoh lagi" kata Dafi sambil mengulurkan tangannya ke Qeena.


Fajar dan Mak Nuha awalnya ga tau kalo Qeena mau kepleset, tapi begitu Pak Dzul tadi ngomong, mau ga mau mereka berhenti dan melihat kearah pasangan ini.


"Qeena ... mungkin takdir kita hanya sebatas Kakak Adik, hal yang selalu kamu katakan. Bener kan .. akhirnya sekarang hubungan kita sebatas Adik dan Kakak ipar. Sebenarnya ini lebih sakit daripada ditikung sama Damar, tapi Mas harus ikhlaskan, berarti saatnya Mas membuka hati seutuhnya buat wanita lain. Mas mungkin hancur perasaannya, tapi Mas Dafi justru yang lebih hancur karena harus memilih antara kamu sama Mba Zahwa" ucap Fajar dalam hatinya.


Mak Nuha tampak berkaca-kaca melihat Qeena menggenggam tangan Dafi. Dengan hati-hatinya Dafi memilih jalan buat Qeena agar ga jatuh.


"Makasih ya Mas Dafi .. sudah memenuhi semua omongan Mas buat selalu ada buat kami, akan menyayangi Qeena, akan melindungi kami berdua ... terimakasih Mas" kata Mak Nuha dalam hatinya.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


"Sudah hampir jam sepuluh, kita siap memakamkan Mama ya Wa" kata Kakaknya Zahwa.


"Dafi belum sampe kan?" tanya Kakaknya yang lain.


"Belum" jawab Zahwa yang menutup rapat info kalo Dafi baru akan berangkat siang ini dari Jakarta dan kemungkinan baru besok pagi sampe disini.


"Ya udah, ga usah ditunggulah, ga bagus kelamaan dalam memakamkan jenazah" ujar Kakak iparnya Zahwa.


Entah udah berapa kali Zahwa pingsan, tubuhnya lemah menerima kenyataan Mamanya sudah pergi meninggalkan dia. Selama ini Zahwa menjadi anak yang paling dekat, selain bungsu, mereka suka ikut-ikut Bazaar karena suka sama suasananya.


"Mas ... saat seperti ini, harusnya kamu ada disini, menenangkan Zahwa, tapi Mas malah ga berusaha secepatnya sampe sini" sesal Zahwa dalam isak tangisnya.


"Kamu di rumah aja ya Wa ... kondisinya lemes kaya gini" saran Kakak iparnya Zahwa.


"Ga ... pokoknya mau ikut" ucap Zahwa.


"Tapi janji buat kuat ya, ga nangis mulu, jangan histeris lagi sampe pingsan" ujar Kakaknya Zahwa.

__ADS_1


"Iya" jawab Zahwa.


__ADS_2