ROTI BAKAR

ROTI BAKAR
* Slice 36, Kompromi


__ADS_3

Rupanya cerita Rian, membuat Fajar dan Dafi mencecar Qeena buat menceritakan kondisinya. Qeena diam seribu bahasa, Nuha pun sama. Tapi Fajar rupanya pandai memancing pembicaraan, alam pun seakan mendukungnya. Pernah HP nya Qeena ketinggalan dan Mbah Akungnya yang menjawab panggilan Fajar.


Dari mulut Mbah Akunglah semua cerita terpapar tanpa ada yang ditutupi. Fajar, Dafi dan Pak Dzul pun cepat tanggap terhadap cerita tersebut.


Sampailah pada akhirnya Pak Dzul menelpon Qeena pakai nomer Fajar (Kalo pake nomernya Pak Dzul pasti ga diterima).


Qeena terbangun saat mendengar suara isak tangis Emaknya di kamar sebelah, kamar yang hanya dibatasi triplek tipis sebagai sekat dan hanya ditutupi kain aja dibagian pintu.


Qeena berdiri didepan pintu kamar dan melihat Emaknya masih memakai mukena tengah menangis. Entah do'a apa yang sedang beliau pinta, yang dia yakini kalo Emak sedang meminta solusi untuk lanjutan sekolahnya.


Qeena menuju sumur untuk berwudhu, kemudian sholat di kamarnya sendiri. Gantian sekarang Nuha yang mengintip putrinya yang tengah sholat. Setelah itu Nuha balik ke kamar, ketika akan merebahkan tubuhnya. Qeena masuk dan duduk ditempat tidurnya.


"Mak ... kalo Qeena nerima tawaran Om Dzul gimana?" tanya Qeena hati-hati.


"Mas Dzul hubungin kamu?" tanya Nuha kaget.


"Ya, Om Dzul bilang beliau mau sekolahin Qeena di Jakarta, tapi ga dikasih gratis gitu aja. Qeena harus nemenin kalo Mas Rian terapi, terus urus Mas Rian kalo di rumahnya sepulang sekolah. Kasian Mas Rian udah ga rutin terapi karena Mas Dafi sama Mas Fajarnya kuliah. Pengasuh udah ga ada yang sanggup sama Mas Rian. Sekarang suka ngamuk ga jelas, emosinya juga ga stabil. Udah makan sembarangan lagi, ga mau diatur makannya" cerita Qeena.


"Tapi apa kamu bisa sekolah sambil ngawasin Mas Rian? sekolah kan sampe sore" tanya Nuha.


"Sekarang terapinya Mas Rian itu sore atau weekend. Karena kalo pagi Mas Riannya ga mau bangun tidur. Kayanya bisa Mak ngurusin Mas Rian. Nanti kalo urusan toilet ada suaminya asisten rumah tangga Om Dzul yang urusin" lanjut Qeena.


"Gimana ya ... Emak bingung" ujar Nuha.


"Tolong Mak ... kasih ijin dan do'a restu buat Qeena. Mungkin ini salah satu jalan terbaik buat saat ini. Qeena masih mau sekolah Mak, mau merubah nasib kita. Paling ga Qeena bisa lulus SMA aja, Qeena janji akan jaga diri" ucap Qeena.


"Terserah Qeena aja. Kalo emang itulah jalan terbaik dari Allah. Tapi tinggal dimana? kita ga punya tempat tinggal di Jakarta" tanya Nuha.


"Tinggal di rumahnya Om Dzul" jawab Qeena.


"Tapi kan...." kata Nuha ragu.


"Tante Fia?" tanya Qeena.


"Ya.." jawab Nuha dengan berat hati.

__ADS_1


"Do'akan aja Mak .. semoga Tante Fia bisa terima Qeena di rumahnya. Om Dzul mau ajak ngomong dulu sih. Lagian kan Qeena disana juga tidurnya di kamar belakang bareng asisten rumah tangga, bukan sebagai anak angkat, hanya disekolahin aja" ucap Qeena meyakinkan.


"Tapi Mak ga bisa ikut, Mak harus urus Mbah disini. Kasian mereka sakit-sakitan" kata Nuha.


"Ya Mak ... Qeena berani kok Mak ke Jakarta sendiri, toh mereka keluarga yang baik. Pasti mereka akan jaga Qeena selama disana. Qeena janji Mak, akan sekolah yang bener, biar bisa banggain Emak ... biar bisa bahagiain Emak" ucap Qeena mulai berkaca-kaca matanya.


"Maafin Emak ya Qeena. Emak ga bisa membahagiakan kamu, Mak cuma bisa memberikan kesusahan. Kalo kamu hidup sama keluarga orang tua kandung kamu, pasti bisa sekolah enak, paling ga mereka punya kemampuan secara ekonomi" ucap Nuha yang jadi mellow.


"Ga Mak ... Mak itu Ibunya Qeena.. ga ada lagi orang tua Qeena yang lain" kata Qeena memeluk Nuha.


Mereka menangis bersama, bukan karena lemah, tapi justru mereka saling menguatkan satu sama lainnya.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


"Apa-apaan sih Yah, emang rumah kita tempat penampungan orang-orang miskin seperti mereka" kata Bu Fia penuh amarah begitu Pak Dzul menceritakan keinginannya menyekolahkan Qeena di Jakarta.


"Astaghfirullah Bundaaa" kata Fajar yang baru pulang kuliah.


"Kamu juga setali tiga uang sama Ayah, pada kenapa sih semua ga bisa lepas dari perempuan itu. Bunda jadi curiga lagi, apa jangan-jangan Qeena itu hasil hubungan gelap Ayah sama Nuha?" ucap Bu Fia.


Selepas makan malam, Pak Dzul mengumpulkan semua anak dan istrinya untuk membicarakan tentang Qeena. Niat Pak Dzul ingin menyekolahkan Qeena serta memberikan kesempatan kehidupan yang layak bagi Qeena sudah bulat dan ga bisa ada yang bisa melarang. Bagi Pak Dzul keputusannya adalah bersifat mutlak, terima ga terima, Qeena akan segera ke Jakarta.


Anak-anak Pak Dzul ada yang komentar, semua mengembalikan ke Pak Dzul karena pastinya sang Ayah sudah mempertimbangkan banyak hal sebelum mengambil keputusan ini. Tapi Bu Fia menentang keras rencana ini.


"Kalo niat bantu orang .. masih banyak panti asuhan, anak-anak terlantar diluar sana... kenapa harus Qeena? Atau jangan-jangan ini taktik Ayah buat deket lagi sama Nuha" terka Bu Fia.


Pak Dzul hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dafi menarik napas panjang, Fajar udah tampak emosi tapi dari tadi ditahan sama Dafi biar ga sampe meledak. Izma malah asyik sama laptopnya liat drama Korea. Rian sedang mengamati robot yang baru dibelikan Pak Dzul.


"Apa salahnya membantu orang yang kita kenal. Toh jasa mereka terhadap keluarga kita juga besar. Baiklah Ayah akan buka semua. Sejak kenal Nuha, dia bisa jadi sosok Ibu yang dibutuhkan sama Rian. Bisa dilihat kan bagaimana sama perkembangan Rian dulu saat masih ditemani Nuha. Qeena pun perhatian sama Rian. Tiap habis terapi pasti ke kedai Mak Leha, Rian selalu minta dibikinin telur sama Nuha . Makanya Rian suka marah kalo dia minta telur tapi ga seperti yang Nuha buat. Kalian ga tau kan kalo Rian itu kalo makan disuapi pake tangan sama Qeena, makannya bisa banyak dan tenang, bisa duduk sampe makanannya habis. Kalian tau yang ngajarin Rian ngaji sama bacaan sholat siapa? Qeena" ucap Pak Dzul membuka semua.


"Bener Yah?" tanya Izma kepo.


"Kamu Izma... ga ada perhatian sama Mas Rian, malah selalu berantem aja" semprot Pak Dzul.


"Abis Mas Rian kalo masuk kamar Izma pasti ngerusak mulu" bela Izma.

__ADS_1


"Kalo Nuha memberikan kasih sayang seorang Ibu, tapi Qeena memberikan semua kemampuannya agar Rian bisa hidup normal. Walaupun saat itu Qeena masih kecil, tapi terlihat dia sayang dan paham sama kondisi Rian" papar Pak Dzul.


"Ayah ... Ayah ...Qeena mana?" tanya Rian tanpa paham apa yang sedang dibahas tapi mendengar nama Qeena disebut.


"Qeena di Jawa" jawab Pak Dzul sabar.


"Qeena mana, mamam ... Qeena ... mamam. Ayah ..Qeena mana?" dengan suara rada sengau Rian bicara.


"Nanti ya Rian, Qeena akan datang buat main sama Rian" bujuk Dafi sambil membawa adiknya menuju kamar. Dafi ga mau adiknya ga stabil emosinya kalo dengar perdebatan antara Bunda dan Ayahnya.


"Kenapa sih Bunda sebegitu bencinya sama Mak Nuha dan Qeena, apa salah mereka sama Bunda? semua cerita udah sangat jelas kan? toh kecurigaan Bunda ga terbukti. Mak Nuha memang janda Bun, tapi beliau sangat bermartabat dan tau batasannya" ucap Fajar kesal.


"Mereka itu calon bibit pelakor" ucap Bu Fia cuek.


"Bun ... mereka ga seperti itu" bela Fajar.


"Fajar ... kamu tau apa tentang mereka, kamu sama Ayah tuh udah kemakan omongan Nuha, dia hanya ingin belas kasihan aja. Udah ketebak endingnya, antara dua ... kalo ga Nuha yang ngerebut Ayah, ya pasti mau jodohin Qeena sama salah satu anak Bunda kan? Nah yang paling aware sama Qeena dan Nuha kan kamu ... jadi makinlah mereka memainkan otak dan perasaan kamu buat tetap memikirkan mereka. Ingat Fajar, kamu calon dokter, ribuan gadis diluar sana yang lebih dari Qeena banyak. Apa istimewanya dia? Bunda ga ikhlas kalo anak Bunda dekat sama dia. Mereka punya agenda buat menggaet kamu jadi pendamping Qeena"ungkap Bu Fia.


"Bun ... jangan membenci orang terlalu, kelak kita ga tau kalo justru orang yang kita benci malah jadi orang yang menolong kita. Bunda harus bisa membedakan mana kaca dan mana permata. Jangan sampe Bunda nyesel sama ucapan Bunda. Omongan seorang Ibu itu do'a " ucap Fajar.


"Ini apa sih ... Ayah mau ajak diskusi, bukan mau liat semua jadi ribut kaya gini" tengah Pak Dzul.


"Bunda ga bisa diajak diskusi Yah" ucap Fajar ga mau kalah.


"Gini ajalah, kalo emang Ayah mau membiayainya Qeena dengan bayaran ngasuh Rian, kita bikin jam kerja yang fair buat dia. Dia hanya kerja sepulang sekolah sampe jam tujuh an, Ahad dia libur. Mengenai tempat tinggal, kan ada kios Mak Leha, dia bisa tinggal disana. Toh ada SMA juga dekat sana. Yang penting Bunda ga liat dia kan? Bunda juga pulang diatas jam delapan mulu. Dafi juga secara pribadi menolak Qeena tinggal disini" pendapat Dafi.


"Tuh kan anak Bunda yang pake logika tuh cuma Mas Dafi" bangga Bu Fia.


"Kok gitu Mas? kita kan setuju Qeena sekolah disini" tanya Fajar.


"Eh hellow ... kita anak lelaki Jar, Rian biar kondisinya begitu juga lelaki yang pasti punya hawa *****. Ditambah Ayah juga jarang ada di rumah. Bunda kadang pulang malam. Asisten rumah tangga juga punya kesibukan masing-masing. Mas khawatir kita melakukan hal yang ga pantas ke Qeena dengan situasi rumah seperti ini" ujar Dafi.


"Kaya ga punya iman aja sih Mas ... Percuma dong Mas nyantri kalo begitu aja ga bisa jaga diri. Fajar aja yang ga masuk pesantren aja tau kok gimana menahan diri" pendapat Fajar.


"Yakin?" tanya Dafi serius.

__ADS_1


"Yakinlah ... kalo kita sayang sama wanita tuh artinya kita ga mau ngerusak dia, kita jaga dia baik-baik hingga nanti saat akad tiba" ucap Fajar diplomatis.


__ADS_2