ROTI BAKAR

ROTI BAKAR
* Slice 264, Kejutan lagi


__ADS_3

"Apa Emak pergi aja ya dari hidupnya Qeena? toh semua udah berjalan dengan baik tanpa kehadiran Emak disisi dia" kata Mak Imah penuh kesedihan.


"Qeena hanya butuh waktu buat berdamai dengan keadaan Mak. Maafin ya Mak kalo Mas belum bisa mengarahkan yang baik ke Qeena. Tapi Mas akan coba terus kasih inputan ke dia" janji Dafi.


"Ga Mas ... Emak yang salah ke dia, bukan Qeena, wajar kalo dia masih susah maafin Emak. Dia udah berusaha menjadi anak yang baik, mungkin Emak aja yang cemburu karena dia lebih sayang ke Mba Nuha. Ya gimana ya Mas, kan Mba Nuha yang mengurusnya dari kecil, Emak mah cuma menghadirkan dia ke dunia, tanpa ngerawat. Sekalipun Qeena benci sama Emak juga masih sesuatu yang lumrah" ujar Mak Imah.


"Qeena harus jadi orang yang tau dari mana dia berasal, pelan-pelan ya Mak. Emak yang lebih dewasa pemikirannya, ya bisa sedikit lebih sabar. Dia aja sabar menunggu kejelasan asal usul dirinya. Banyak yang harus dia benahi dalam hidupnya Mak. Mas yang jadi saksi semua cerita hidupnya. Bukan dia ga sayang sama Emak, hanya perlu membiasakan diri kalo dia punya dua Ibu. Sama Bunda Mas juga sama kok Mak. Meskipun kenal sejak Qeena kecil, tapi kan mereka belum terlalu dekat seperti Qeena dan Mak Nuha. Mas rasa kita juga perlu adil terhadapnya, jangan hanya menuntut pengertian dari dia, tapi justru kita yang harus ngertiin dia" pinta Dafi.


"Ya Mas" jawab Mak Imah.


"Mak .. maaf kalo Mas mau nanya sesuatu. Tapi boleh dijawab, boleh juga ngga" tanya Dafi.


"Mau tanya apa?" kata Mak Imah.


"Mak suka ya sama Pak Shaka, beberapa kali Mas perhatikan kaya ada pandangan cemburu kalo Pak Shaka dekat sama Mak Nuha. Bener ga Mak dugaan Mas?" ucap Dafi sambil duduk sama Mak Imah di sofa.


Mak Imah kaget tapi berusaha menutupinya.


"Maaf ya Mak kalo Mas tanya hal ini. Mas hanya ga mau kejadian rebutan part dua terjadi lagi. Mas bukan lebih condong Pak Shaka sama Mak Nuha. Tapi Mas ga mau ada pihak yang kembali tersakiti disini. Perasaan cinta adalah sesuatu yang bisa kita rasakan, tapi Mak jangan lagi keliru antara cinta dan nafsu" tukas Dafi serius.


Mak Imah makin diam.


💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐


Selepas Dzuhur, rombongan kembali ke Jakarta. Qeena dan Dafi tetap hanya berdua pulang ke Jakarta, yang lainnya diantar Pak Shaka.


"Waktunya kembali ke dunia nyata. Kerja keras lagi dan kamu cape-cape lagi bikin kue serta rajin-rajin update di media sosial. Semoga kita sama-sama fresh ya. Bisa menjalani kegiatan kita masing-masing dengan energi baru" harap Dafi.


"Makasih ya My Sunshine" kata Qeena sambil mengusap tangannya Dafi.


"Aduh panggilannya mantap kali Neng, apa kita balik lagi ke villa? nambah sehari liburannya .. hehehe" goda Dafi.


"Emang cuma bisa bermesraan di villa? di kamar kita justru malah lebih asyik" tanya Qeena balik.


"Dimana aja boleh Neng, yang penting kan berduaan .. hehehe" jawab Dafi sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Mas .. ini ngapain muter jalannya? kita kan mau pulang ke rumah" kata Qeena yang baru sadar kalo Dafi ambil arah yang malah muter kalo menuju rumah.


Dafi cuma tersenyum sambil terus melajukan mobilnya kearah sebuah tempat.

__ADS_1


Mobil memasuki areal parkir sebuah komplek ruko dekat sama pujasera dan minimarket.


Ada empat ruko berjejer, ketiganya punya warna yang berbeda. Ruko paling ujung ada sebuah papan nama yang ditutup. Tempatnya pun masih tertutup rolling door. Bangunan tersebut dominan warna orange.


Dafi mengajak Qeena turun kemudian membuka rolling door.


"Ini punya siapa Mas?" tanya Qeena bingung.


Dafi membuka pintu kaca. Didalam sudah lengkap showcase buat kue, interiornya simple tapi good looking.


"Ini kaya toko kue Mas .. punya siapa?" tanya Qeena lagi.


Dafi menyerahkan kunci ke Qeena.


"Inilah Qukis by Qeena, semua interior udah tinggal pengerjaan finishing. Logo depan dan lainnya juga udah ready, kaca tinggal ditempel logo aja. Semua kardus dan kemasan lainnya udah dipesan. Mesin kasir touchscreen juga akan datang" jelas Dafi.


"Serius Mas?" tanya Qeena antara kaget dan takjub.


"Masa udah kaya gini Mas ga serius" jawab Dafi.


Qeena langsung memeluk Dafi dan menghujani ciuman ke pipinya Dafi.


Keduanya naik ke lantai dua. Ada dapur kecil dan sofa serta meja menghadap kesebuah tivi dua puluh satu inch. Dafi membuka kamar, ada sebuah ranjang queen size dan lemari dua pintu yang dilengkapi kaca pada pintu lemari. Ada meja rias sederhana berukuran sembilan puluh centimeter dipojokkan. Kamar mandi diluar kamar pun hanya ada keran biasa dan ember besar disertai gayung, tanpa bak air sebagai penampungan air. WC duduk dilengkapi shower untuk membersihkan. Kamar mandi hanya berukuran satu setengah meter kali satu meter aja.


"Kok bikin kaya gini Mas dilantai duanya?" tanya Qeena.


"Sini duduk dulu Neng. Ada yang mau Mas bahas" ajak Dafi.


Qeena duduk disebelah Dafi.


"Ini ruko milik Ayah, jadi Ayah punya tanah di daerah dekat Tanah Abang, dijual dan bisa beli tanah dan bangun ruko ini, kira-kira setahun yang lalu dibuat. Mas udah bilang sama Bunda kalo Mas akan sewa satu buat kamu. Alhamdulillah dikasih harga damai sama Bunda. Akhirnya Mas konsultasi ke sebuah perusahaan desain untuk toko roti. Malah ga sengaja ketemu Chef Ale. Akhirnya Mas malah berbincang sama Chef Ale. Beliau kasih info kalo toko roti temannya mau tutup, dia bantu ngejual peralatan showcase yang dibawah tadi. Lumayan masih kondisi delapan puluh lima persen tapi belinya dengan harga yang jatuh banget. Semua konsep dibantu sama Chef Ale termasuk mengenalkan Mas sama orang yang gape bikin logo. Semua emang Mas kerjakan diam-diam sebagai kejutan buat kamu. Selama kita honeymoon, pengerjaan ini berlangsung. Tapi sebelumnya udah pengerjaan kaya kaca dan pintu udah sekitar dua mingguan yang lalu dimulai. Inget ya ini modal usaha. Tahun depan kamu harus bisa nyewa sendiri. Setelah buka, harus bisa menggaji karyawan, bayar listrik dan retribusi serta segala sesuatunya sendiri. Mas mau kamu pisahin rekening bisnis dan pribadi rumah tangga kita" cerita Dafi.


"So sweet banget sih suamiku ini" kata Qeena yang kembali memeluk Dafi dengan manja.


"Neng .. jangan manja kaya gini mulu dong, Mas tergoda nih, kan Mas mau omongin sesuatu juga yang penting. Ditunda dulu ya manjanya" pinta Dafi.


"Mau bahas apa sih Mas?" tanya Qeena kepo.


"Ini kan ruko .. rumah dan toko konsepnya. Jadi dibawah toko dan diatas rumah. Toko udah jelas buat Qukis by Qeena. Sekarang tinggal Mas minta keputusan kamu, rumah dilantai dua ini buat siapa?" kata Dafi.

__ADS_1


"Emang rencananya buat siapa?" ujar Qeena.


"Ada dua kandidat. Yang pertama Mak Nuha dan Mak Imah, yang kedua Pak Iyus dan istrinya" jawab Dafi.


"Mas mau singkirin Mak Nuha dari rumah? kok Mas gitu sih? Mas kan udah janji ga akan pisahin Qeena sama Emak" ucap Qeena yang malah kesal.


"Denger dulu semua alasannya. Jangan ngambek duluan" rayu Dafi.


"Apa alasannya?" tanya Qeena.


"Mak Imah dan Mak Nuha yang nempatin sini agar selain kamu mudah mengawasi, keduanya juga perlu kita lepas hidup berjauhan sama kita. Mereka pernah bilang ke Mas kalo maunya kamu tinggal sama Mas aja. Mak Nuha mau pulang kampung ngurus warung bakso, Mak Imah mau kembali berkelana. Karena Mas tau kamu ga akan bisa jauh dari keduanya, makanya lantai dua ini dibuat. Tuh sampe Mas pasang pintu di ujung tangga, kaya kamar kita, artinya area privat" jelas Dafi.


"Terus kenapa kalo Pak Iyus yang nempatin? alasannya apa? mereka kan tinggal sama Nyai" kata Qeena.


"Mba Rida itukan orang kota ya, tinggal di perkampungan malah jadi kurang nyaman. Lagian hidup nyampur sama mertua sedangkan kondisi suami kaya gitu malah jadi malu doang. Jadi kalo Pak Iyus nempatin sini, sekalian bisa buat jagain ruko ini. Mba Rida kamu ambil jadi karyawan yang jaga toko ini, ya paling nambah satu lagi deh karyawannya. Untuk produksi tetap di rumah. Kasian Mba Rida kaya dimusuhin keluarga karena nikah sama Pak Iyus. Nyai juga bakal pindah, hidup sama anaknya aja. Rumah sana mau dikontrakkan. Nyai sakit jantung, bahaya kalo tinggal sendiri. Bulan depan kayanya udah pindah" papar Dafi.


"Kok Mas tau sih, Nyai aja ga cerita apa-apa ke Qeena" ujar Qeena.


"Pak Iyus yang kasih tau, Mas datang saat Nyai sakit, beliau ga mau kamu tau. Alhamdulillah Nyai punya kartu sehat dari pemerintah, jadi biaya pengobatan gratis" lanjut Dafi.


"Ya udah, buat Pak Iyus aja sama Mba Rida, lebih banyak manfaat buat mereka. Kalo Emak mah pokoknya tetap sama kita titik" ucap Qeena.


"Oke Neng .. nanti kalo udah rapih semua, kita ke tempat Pak Iyus ya buat kasih tau tentang rencana kita" tengah Dafi.


"Oke .. pulang yuk Mas" ajak Qeena.


"Ga sabar ya mau meluk sama nyiumin Mas sepuas hati" ledek Dafi.


"Ge er .. besok Qeena udah mulai produksi, biasa langganan udah nanyain terus, mereka harus diprioritaskan" ucap Qeena.


"Mas kan juga pelanggan kamu Neng .. kok ga diprioritaskan?" sahut Dafi.


"Kalo Mas itu utama bukan lagi sekedar prioritas, tapi sebuah keharusan. Apapun yang Mas mau ya Qeena turutin. What you want is what you get.." rayu Qeena sambil memberikan senyuman manisnya.


"Aihhh... Mas demen nih sama pernyataannya. Beneran ya apa yang Mas mau kamu berikan?" kata Dafi meyakinkan.


Qeena menganggukkan kepalanya penuh keyakinan.


"Oh ya Mas.. kenapa semua dominan warna orange ya? Qeena kan belum bikin logo yang oke buat toko kue di medsos" tanya Qeena.

__ADS_1


"Pemakaian warna oranye membantu logo, kemasan dan toko ini terlihat menonjol dari keberadaan toko dan outlet yang lain. Warna ini juga memberikan kesan ramah dan sebagai undangan bagi masyarakat yang lalu lalang didepan outlet agar datang dan mencoba produk yang ditawarkan. Warna oranye konon katanya memberikan suasana bahagia dan bergairah serta penuh kehangatan. Pada desain logo dan kemasan untuk industri makanan seperti bakery atau toko roti, warna ini juga berarti kesegaran atau masakan yang baru saja selesai .. Sesuai kan sama konsep toko online kamu .. fresh from the oven" jelas Dafi.


__ADS_2