
Akhirnya setelah rayuan Qeena yang panjang, akhirnya Mak Nuha luluh juga. Mereka akan menuju ke Klinik dekat ruko.
Qeena merapihkan pesanan Pak Shaka dulu, kemudian memesan ojek online seperti instruksi dari Pak Shaka. Ada lima alamat yang dikirim. Masing-masing alamat mendapat satu loyang bolu tape dan satu loyang brownies kukus.
Setelah semua beres, Qeena memesan taksi online untuk menuju klinik.
Dokter meminta Mak Nuha untuk cek laboratorium juga karena dari keluhan yang mengarah ke Thypoid (Tipes). Karena di Klinik tersebut ada laboratorium, jadi dicek sekalian disana. Setelah membaca hasil laboratorium, dokter menyarankan untuk dirawat inap di Rumah Sakit dekat sini yang sudah bekerjasama dengan Klinik, belum besar Rumah Sakitnya, baru menyediakan dua puluh lima bed yang tersebar dari kelas satu sampe tiga.
"Gimana Mak?" tanya Qeena bingung.
"Kita pulang aja, rawat jalan" jawab Mak Nuha yang tampak lemas.
"Tapi Emak keliatannya pucet banget. Tunggu ya Mak ... nanti Qeena urus semua" ujar Qeena sambil jalan ke bagian pendaftaran rawat inap, dia tanya-tanya untuk kelas tiga berapa biayanya rata-rata yang dihabiskan untuk pasien rawat inap dengan diagnosa tipes. Biasanya akan habis sekitar dua sampe tiga juta, tergantung kondisi pasien.
"Terimakasih ya Mba informasinya" kata Qeena.
"Ya Mba" jawab bagian pendaftaran rawat inap.
Qeena duduk dibangku yang ada didepan meja pendaftaran. Masih galau harus bagaimana. Dia menuju ATM buat melihat saldo rekeningnya. Hanya ada dua ratus ribu rupiah, dompetnya juga sisa lima puluh ribu setelah tadi bayar dokter dan cek laboratorium.
Diliatnya satu persatu kontak di HP nya.
"Hubungi siapa ya? Teh Erin ... Aa' Zay .. Kak Damar ... Mas Fajar ... tapi mereka udah sering kali membantu. Ngerepotin mereka nantinya. Tapi Emak harus dirawat ... gimana ya?" ucap Qeena bingung sendiri.
Dipencetnya sebuah nomer, cukup lama ga diangkat.
"Assalamualaikum .. Mas ... bisa ganggu?" sapa Qeena.
"Waalaikumsalam .. ada apa?" tanya Dafi yang bersiap pulang ke rumah, Raisha udah nungguin buat jalan bareng pulangnya.
"Bisa pinjam uang?" tanya Qeena ragu, sebenarnya gengsi harus bicara seperti ini ke Dafi, tapi dia ga punya pilihan lain.
"Buat apa?" balik Dafi bertanya.
"Emak sakit tipes, kata dokter harus dirawat, Qeena ga punya uang Mas. Kasian kalo Emak harus rawat jalan, pucet banget. Qeena janji nanti kalo udah gajian, Qeena cicil" kata Qeena ragu-ragu.
"Kirim nomer rekeningnya ya" jawab Dafi ga pake basa basi.
"Makasih ya Mas ... Assalamualaikum" ucap Qeena.
"Waalaikumsalam" jawab Dafi datar.
Satu menit kemudian, Qeena sudah mengirimkan nomer rekening ke HP nya Dafi via chat. Dafi mengirimkan uang via mobile banking dan dikirim bukti transfer ke HP nya Qeena.
⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐
Setelah mentransfer dia bersiap pulang. Sepanjang perjalanan, hatinya bimbang. Hari ini selepas tahlilan dia sudah membulatkan tekad untuk berterus terang sama keluarganya Zahwa, tapi kabar Mak Nuha dirawat membuatnya agak sedikit blank. Mak Nuha udah kaya seorang Ibu baginya. Kedekatan keduanya emang sangat terlihat. Mak Nuha pun merasa lebih bebas kalo berbincang sama Dafi.
"Assalamualaikum Jar ... masih Koas?" tanya Dafi langsung.
"Waalaikumsalam ... masih Mas .. malah nanti ikut operasi" ucap Fajar.
"Nanti aja deh" kata Dafi.
__ADS_1
"Ada apa emangnya Mas?" tanya Fajar.
"Nanti aja .. assalamualaikum" ucap Dafi.
"Waalaikumsalam ... ada apa sih nih orang, telpon buru-buru" kata Fajar heran.
Dafi ga mau ganggu Fajar yang akan ikut operasi karena nanti akan memecah konsentrasinya kalo tau Mak Nuha dirawat.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Qeena mengurus semua administrasi, Mak Nuha akhirnya dirawat dikelas tiga.
"Mak ... gapapa ya dikelas tiga, sebenarnya Mas Dafi kirim lima juta, tapi kan buat jaga-jaga aja uangnya" kata Qeena setelah Mak Nuha ada di kamar perawatan.
"Gapapa .. malah jadi ngerepotin Mas Dafi" ujar Mak Nuha lemah
"Nanti kita cicil Mak .. Mas Dafi kan selalu baik sama kita dari dulu, dia paling ga banyak ngomong kan. Jadi kita perlu malu kalo minjem sama dia" kata Qeena.
"Dia ... dia ... Mas Dafi itu suami kamu Qeena" ingat Mak Nuha.
🎀🎀🎀🎀🎀🎀🎀🎀🎀🎀🎀🎀🎀
Tahlilan di rumah Zahwa dimulai selepas sholat Maghrib dan diakhiri dengan sholat isya berjama'ah.
Setelah para tetamu undangan pulang, hanya ada keluarga inti Zahwa. Saudara juga sudah pulang semua.
"Pak ... Saya ada hal penting yang mau dibicarakan" kata Dafi.
"Hal penting apa?" tanya Bapaknya Zahwa.
"Kan udah jelas akan dipending tahun depan. Semua vendor juga belum dibayar, baru bikin baju aja. Tapi kan baju bisa disimpan. Itu baju buat rangkaian acara kok, bukan baju buat nikah, jadi bisa dipakai buat acara resmi" kata Bapaknya Zahwa.
"Bukan itu Pak" ucap Dafi mulai tegas.
"Terus mau ngomong apa? kamu harusnya punya kepekaan, kami sekeluarga sedang dirundung duka. Mana Mas Dafi yang kami kenal sebagai lelaki bijak. Pasti paham dong, ga elok bicara tentang pernikahan sekarang ini" tanya Bapak Zahwa.
"Saya minta maaf Pak .. tapi ini harus saya sampaikan" lanjut Dafi.
Zahwa tiba-tiba pingsan, semua mengerubunginya. Tubuhnya diangkat rame-rame ke kamar. Kakaknya Zahwa memanggil dokter dekat rumah.
"Pasien masih dalam kondisi shock yang berlebih, masih sulit bagi dia menerima kepergian Ibunya" jelas dokter yang sudah dua kali dipanggil saat Zahwa pingsan.
"Jadi ga boleh ada berita yang bikin shock lagi ya dok?" tanya Bapaknya Zahwa cemas.
"Benar sekali Pak, ya harus terus kasih semangat, kasih pengertian tentang keihklasan" saran dokter.
"Baik dok, terima kasih" ujar Bapaknya Zahwa.
Kini di kamar Zahwa ada Bapaknya Zahwa, Dafi dan Kakak perempuannya Zahwa.
"Mas Dafi ... tolong bantu nasehatin Zahwa ya, kayanya sama Mas Dafi bisa nurut" pinta Bapaknya Zahwa.
Dafi mendekati Zahwa, duduk dibangku tepat disamping ranjang Zahwa.
__ADS_1
"Ikhlaskan ya" ucap Dafi pelan.
Zahwa menggenggam tangan Dafi, sulit bagi Dafi menolak dan menarik tangannya karena genggaman Zahwa sangat kencang.
"Kepergian orang yang kita cintai pasti akan menorehkan luka yang amat perih. Menimbulkan kerinduan karena untuk bertemu adalah sebuah ketidakmungkinan. Sulit pastinya untuk melepaskan seseorang yang telah lama mengajari kamu banyak hal. Kamu boleh nangis, boleh juga sedih ... tapi jangan berlarut-larut. Kenangan bersama Mama kamu yang telah pergi bukan harus dihapuskan. Tapi dirawat dan dipelihara. Ikhlas bukan berarti melupakan. Tapi menerima kenyataan kalau kamu suatu hari nanti, akan menyusulnya dan kembali bersama-sama. Kita wajib menyadari, bahwa kematian adalah satu hal yang pasti. Sebesar apapun usaha kita menghindarinya, itu hanyalah sia-sia. Baiknya kita persiapkan diri sebaik-baiknya, jalani kehidupan ini semaksimal mungkin, daripada harus meratapi kesedihan karena ditinggalkan orang tersayang. Mas tau kamu sedang bersedih hati, ini nggak mudah, tetapi kamu harus segera bangkit, kehidupanmu masih panjang didepan, jangan terus meratapi kepedihan, karena hidupmu jauh lebih berharga. Lepaskan ketergantungan sama Mama yang telah pergi. Ikhlaskanlah…" nasehat Dafi.
"Mas ... Mama terlalu cepat pergi, belum liat Za nikah" kata Zahwa dalam tangisnya.
"Ga ada kematian yang datang cepat atau lambat, semua sudah pas pada waktunya. Banyak-banyak istighfar ya" ajak Dafi.
Dafi membimbing Zahwa buat beristighfar sebanyak-banyaknya, memohon ampunan karena menyalahkan takdir atas kematian Mamanya. Setengah jam kemudian, Zahwa sudah tertidur pulas.
Dafi melepaskan tangannya perlahan dan menyelimuti tubuh Zahwa dengan selimut.
Dafi beranjak keluar kamar bareng Bapaknya Zahwa. Setelah berbincang sebentar, Dafi mohon pamit karena besok harus ke Jambi.
"Makasih ya Mas Dafi, emang ga salah kami percayakan Zahwa dalam genggaman Mas Dafi. Bersama kalian akan saling menguatkan. Zahwa juga keliatan lebih tenang kalo ada Mas Dafi" ujar Bapaknya Zahwa.
"Baik Pak ... sudah malam, saya pulang dulu, maaf besok saya ga bisa ikut tahlilan karena menginap di Jambi" jelas Dafi.
"Gapapa .. minta do'anya aja" kata Bapaknya Zahwa.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Aa' Zay yang tau kalo Mak Nuha dirawat dari karyawan Bakulan Bunda langsung menuju Tebet bareng sama Saino dan Agung.
"Jay ... Lo kan belum cerita tentang Qeena, emang bener dia udah kawin?" tanya Agung penasaran.
"Ya ... sama Dafi" jawab Aa' Zay tenang.
"Dafi!!!!" kata Saino dan Agung bersamaan.
"Iya .. kakaknya Fajar" jawab Aa' Zay lagi.
"Kok bisa?" tanya Agung kepo.
"Jadi saat Qeena udah berhasil sampe Tebet, dia mendengar kabar Neneknya Fajar meninggal. Ingat masa kecilnya yang banyak dibantu, Qeena memutuskan untuk takziah, karena ga tau harus kemana, akhirnya dia putuskan datang ke kediaman Pak Dzul. Singkat cerita asisten rumah tangga yang kerja disana sakit dan berobat ke dokter. Qeena diminta menjaga adiknya Fajar, Rian namanya, Rian anak berkebutuhan khusus, jadi ga bisa ditinggal sendirian. Saya sama Ayah dan Mak Nuha menyusul kesana karena sudah Maghrib, Qeena belum juga pulang. Sesampainya disana, kami dikejutkan dengan pemandangan yang sangat memalukan. Qeena dan Dafi saling berpelukan dan tertidur dalam ranjang yang sama" jelas Aa' Zay.
"Maksudnya Qeena dan Dafi berzina?" ujar Agung.
"Pastinya ga ada yang tau kebenarannya, hanya Allah yang Maha Tau sepertinya. Ga ada bukti yang menguatkan kalo mereka ga melakukan hal yang diduga mereka lakukan. Analisa Fajar kalo keduanya dibawah pengaruh obat bius. Tapi ya ga bisa dibuktikan juga. Tadinya mau dilaporkan ke polisi, pro kontra terjadi dan Pak Iyus datang karena diminta sama Pak Dzul. Infonya kalo Pak Iyus sempat datang sore itu ke rumah. Tapi malah jadi mempertemukan Mak Nuha dan Pak Iyus. Drama keluarga pun ga bisa terelakkan. Qeena udah serba sulit posisinya. Akhirnya Pak Dzul meminta Qeena dan Dafi menikah dulu secara agama malam itu juga. Awalnya alot, Dafi dan Qeena sama-sama ga mau. Ga tau kenapa akhirnya Dafi setuju, walaupun kayanya Qeena ga rela dinikahin sama Dafi" lanjut Aa' Zay.
"Apa iya Qeena bisa ngelakuin perbuatan hina kaya gitu? kalo dia mau mah mending sama Fajar atau Damar ya, lelaki yang bisa dibilang dekat sama dia" ujar Agung.
"Ini mah jebakan yang enak .. menang banyak Mas Dafi, udah bisa menikmati ranumnya tubuh Qeena" kata Saino ngayal.
"Otak tuh sering-sering disapu Sainooo, biar kaga ngeres. Bukannya bersimpati sama Qeena malah ngayal jorok" ucap Agung kesel.
"Lah ... kaga usah munafik deh, diantara kita bertiga kalo ada diposisi Mas Dafi pasti maulah nikah sama Qeena. Mana demplon, orangnya baik, ga neko-neko .. paket lengkap deh pokoknya" sahut Saino.
"Ga juga Bang Sai .. Abis lebaran ini kan Dafi mau nikah sama calonnya. Qeena pun masih trauma terhadap lelaki. Ditambah Bapaknya rese, nyari dia mulu" ungkap Aa' Zay.
"Bapaknya mau ngapain sih sebenarnya?" tanya Agung.
__ADS_1
"Apalagi sih otak Bapak tua itu kalo bukan duit. Karena tau Qeena nikah sama Dafi, jadi bisa jadi ATM berjalannya. Keluarga Pak Dzul lumayan berada loh. Ditambah Mas Dafi juga kayanya lumayan, udah selesai bikin rumah disebelah rumah orang tuanya. Bagusan rumah dia daripada rumah kita-kita" lanjut Aa' Zay.
"Tuh lelaki ya, timbang muntahin benih ke Ibunya Qeena doangan aja pake mau morotin anaknya. Sadar ga tuh dia udah berbuat dzolim sama anak istrinya. Itu tuh kalo orang kaga makan lekar pengajian. Otaknya gesrek sampe kaga ada obatnya. Pengen digibeng kayanya tuh manusia" ujar Saino berapi-api.