ROTI BAKAR

ROTI BAKAR
* Slice 225, Masih hangat


__ADS_3

Jam tujuh pagi Dafi dan Qeena udah dijemput sama supir kantor, jadinya secepat kilat pamitan sama duo Emak dan Mbah terus langsung tancap gas ke Semarang.


Mereka mengejar waktu karena setelah jam makan siang nanti, Dafi ada rapat koordinasi. Dafi meminta Qeena ikut dulu ke kantor, nanti sore baru pulang ke rumah dinas bareng sama dia.


Sesampainya di Kantor, Dafi ikut ngumpul dulu didekat truk pengangkut logistik. Qeena diminta masuk kedalam dan nanti sekretarisnya Dafi akan menjemput untuk diantarkan ke ruangan Dafi.


Qeena duduk di kursi tamu untuk menunggu. Orang yang lalu lalang melihat kearah Qeena dengan pandangan yang kagum. Walaupun hanya memakai rok jeans dan kaos biasa, kecantikan Qeena malah makin terlihat.


"Maaf Dek ... mau mengajukan permohonan untuk kerja praktek ya? Maaf sekali nih Dek .. udah cukup kuotanya" sapa Satpam.


"Saya disini hanya lagi nunggu kok Pak" jawab Qeena.


"Nunggu siapa ya?" tanya Satpam.


"Pak Danish" jawab Qeena yang tau kalo dikantor pasti ga dipanggil Dafi.


"Pak Danish sibuk Dek .. ini aja baru balik honeymoon langsung ngecek logistik, habis makan siang juga akan ada tamu. Udah bikin janji belum ya sebelumnya?" tanya Satpam.


"Belum" jawab Qeena sambil menahan tawa.


"Wah apalagi belum janjian, wong yang udah janjian aja direschedule" jelas Satpam.


"Saya tunggu aja gapapa" jawab Qeena lagi.


"Emang keperluannya penting banget ya Dek?" selidik Satpam.


"Bu Qeena ... mari ikut saya ... maaf ya tadi saya ke kamar mandi dulu jadi agak lama menunggu" sapa sekretarisnya Dafi.


"Gapapa Mba .. " jawab Qeena.


"Oh ya .. selamat ya Bu .. bener-bener ini Pak Danish penuh kejutan, ga ngomong kalo mau nikah, ijinnya cuti urusan keluarga. Kita ketemu pas acara malam itu aja ga ada omongan apa-apa" lanjut sekretarisnya Dafi.


"Saya aja ga tau, dia memang penuh kejutan" jawab Qeena sambil tersenyum.


"Pssttt ... kok akrab banget, emang itu siapa? adiknya Pak Danish?" bisik Satpam ke Sekretarisnya Dafi.


"Ini istrinya Pak Danish .. kenapa Pak?" tanya Sekretarisnya Dafi.


"Ya Allah .. mohon maaf ya Bu .. beneran saya kira anak SMA yang mau PKL disini, abis muda banget mukanya" kata Satpam sambil meminta maaf ke Qeena.


"Santai aja Pak .. wah saya tersanjung nih kalo dibilang kaya anak SMA" jawab Qeena.


"Tapi beneran loh Bu ... tampilan begini kaya anak abege, ditambah aura pengantin .. udah dasarnya ayu ya makin ayu" puji sekretarisnya Dafi.


"Hayooo .. ada apa nih pada muji istri saya" kata Dafi yang baru masuk.


"Eh Pak Danish .. saya kira tadi istrinya itu anak SMA yang mau ngajuin PKL, ga taunya Bu Boss toh, muda banget Pak .. hehehe" ucap Satpam.


Dafi menggandeng tangan Qeena menuju ruangan. Sepanjang jalan banyak yang mengucapkan selamat kepada keduanya.


"Pak ketua kita ini diam-diam menghanyutkan, istrinya cantik, pantes aja mending dinikahin agama dulu ya. Daripada nunggu nikah negara kelamaan" ucap rekannya ketika bersalaman sama Dafi.


"Kalo saya juga mau tuh Pak dapat wanita kaya istrinya. Ga pake lama deh, langsung saya boyong kesini. Daripada ntar si unyil jadi batu akik karena ga tempur-tempur" bisik lainnya.


"Bapak-bapak ini pembahasannya ngalahin Emak-emak yang ngegosipin harga minyak yang naik. Udah fokus kerja, jangan ngeledek mulu, ntar kepengen repot .. apalagi yang jadi pejuang rindu dengan jarak yang memisahkan, kalo saya sih istri ada, bisa langsung sikat .. hehehe" jawab Dafi santai.

__ADS_1


"Bener-bener nih Pak Ketua .. hahahaha" sahut lainnya.


🌺


Setelah adzan isya baru pasangan ini sampe rumah dinas. Dafi sudah memberikan foto buku nikah dan gambar pernikahan ke Pak RT lewat chat, besok baru dia akan sowan ke rumah Pak RT untuk melaporkan keberadaan Qeena.


Qeena dan Dafi udah diatas ranjang yang sama, TV masih nyala karena Qeena lagi nonton acara lawak. Dafi sibuk sama laptop dan HP nya.


"Mas... Itu kan ada meja kerja, kenapa malah ngetik di kasur sih" protes Qeena.


"Enakan di kasur Neng, kalo ngantuk langsung bisa tidur" jawab Dafi.


"Emang ga keganggu sama Qeena yang lagi nonton TV?" tanya Qeena.


"Ga... malah jadi ga stress ngerjain laporan. Puyeng kan ngerjain angka-angka kaya begini. Denger kamu ketawa tuh rasanya menghibur banget" kata Dafi.


Qeena yang emang gampang kepo langsung melihat ke layar laptopnya Dafi. Dia juga suka pelajaran yang berhubungan sama angka, jadinya mau coba liat-liat. Selama ini kalo Dafi kerja ga pernah dia temenin.


"Ini ada sistemnya ya Mas?" ujar Qeena sambil nunjuk angka di laptop.


"Iya... ini belum real, baru ambil sample buat gambaran prosesnya nanti. Dari sini nanti baru susun strategi pengerjaan dengan budget dan waktu yang sudah ditentukan" jawab Dafi nerangin kaya dosen.


"Kuliahnya ribet pasti ya Mas?" kata Qeena makin penasaran.


"Tergantung kitanya sih, kalo udah passion ya enjoy aja. Kaya itung-itungan gini misalnya, kalo orang yang passionnya di seni pasti bilang susah, tapi menurut Mas ngga. Sama kaya halnya kesenian, Mas bilang itu butuh daya hayal yang tinggi, tapi nyatanya kata seniman itu panggilan hati" jawab Dafi.


"Kalo udah running sensus ga pulang dong ke Jakarta?" ucap Qeena.


"Udah kangen aja .. belum juga jauhan .. bucin banget sih Neng" goda Dafi.


"Semua hal kalo berhubungan sama sensus mah serba tergantung sikon, kita udah planning semua dikejar target hasil akhir dalam waktu dua bulan, tapi kan kenyataan di lapangan bisa beda. Mas upayakan seminggu sekali ke Jakarta ya, atau kamu yang kesini" ujar Dafi.


"Ya kan kita nantinya punya kesibukan ditempat yang berbeda. Tadi Chef Ale udah kirim chat minta waktu segera ketemu" ucap Qeena.


"Bilang aja Minggu depan" jawab Dafi yang malah udah ga konsen lanjutin kerjaannya karena tubuh Qeena malah nyender dibadannya Dafi, bahkan karena ketawa ngakak, ga sengaja menyenggol area sensitif dari Dafi.


Dafi memindahkan laptopnya ke lantai sebelah tempat tidur, Qeena yang lagi ketawa terbahak-bahak langsung dipeluk sama Dafi dan dibaringkan tubuhnya ke kasur.


Lampu utama masih menyala terang. Dafi langsung menghujani ciuman kecil ditubuh istrinya.


"Geli Mas" ujar Qeena yang malah kegelian.


Namanya pengantin baru, jangankan senggolan, lirik dikit aja bawaannya pengen langsung dibawa ke kamar. Rasanya ga mau berjauhan walaupun sejengkal pun. Di awal pernikahan pun jadi waktu intim berdua dan menjadikan ciuman sepanjang hari sebagai kebiasaan baru. Ditambah makin suka melihat wajah pasangan satu sama lain kemudian saling memuji dengan kata-kata mesra. Apalagi sebagai pasangan baru, mereka masih penasaran dengan segala tutorial yang berseliweran di jagad maya tentang hubungan suami istri.


🌺


"Mas ... nanti kalo Qeena hamil harus tanggung jawab ya" ucap Qeena.


"Ya udah pasti dong Neng" jawab Dafi sambil memeluk istrinya setelah menjalankan salah satu sunnah Rosul.


"Mas janji ya" harap Qeena.


"Apa masih kurang Neng semuanya? akad nikah itu udah perjanjian suci diantara kita. Kalo kamu khawatir akan ada kejadian seperti orang tua kamu, tolong singkirkan jauh-jauh. Kita berdo'a dan berusaha membuat keluarga baru kita ini ga mengulang kisah yang lama" ungkap Dafi.


Qeena memeluk erat Dafi.

__ADS_1


"Jangan cuma pas pengantin baru aja gini Mas, pokoknya Mas harus terus sayang sama Qeena" pinta Qeena.


"Hei .. kok jadi mellow sih .. jangan-jangan udah ada ucul nih di perut" goda Dafi.


"Ngaco aja deh, baru dua hari nikah" jawab Qeena.


"Ya kali aja jadi ... banyak kan yang baru sekali aja langsung jadi" ucap Dafi.


πŸ’


Ketika sedang bermesraan, HP Qeena berbunyi, tanda ada chat masuk.


# Sulit Qeena... kenapa kamu mudah berpaling kaya gitu sih. Atau memang kamu dan Mas Dafi sudah ada rasa sebelumnya # bunyi chat tersebut.


Qeena memperlihatkan chat itu ke Dafi. Dafi meminta Qeena membalas dengan sopan.


# Siapapun anda dan apapun cerita yang ada diantara kita, semua udah tutup buku # balas Qeena.


Dafi hanya tersenyum dan mendaratkan ciuman ke pipinya Qeena.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Pagi ini Bu Fia udah ngupas mangga, kemarin Mas Anto panen mangga di kebun milik Pak Dzul, tanah yang nantinya menjadi bagian kepunyaan Fajar.


Bu Fia duduk depan TV dan ga sengaja nyetel acara kajian pagi bersama Mamah Mimin, pembahasannya pun tentang mertua dan menantu. Dicoba untuk mendengarkan.


"Seakan sudah menjadi hal lumrah ketika Ibu mertua dan menantu perempuan sulit rukunnya. Cara dibesarkan dan jaman yang berbeda adalah dua hal yang membuat hal ini sering kali terjadi. Meski demikian dan apa pun alasannya, haruslah tetap menjaga hubungan yang baik. Kalau Anda semua jadi mertua kelak, jadilah temannya, bukan Ibunya. Pahamilah kenyataan kalo dia itu istri anak lelaki Anda dan perlakukanlah dia sebagaimana Anda menginginkannya memperlakukan Anda dengan baik" buka Mamah Mimin.


Bu Fia masih setuju dengan pendapat Mamah Mimin jadi masih stay nonton. Pak Dzul ikutan duduk disebelahnya sambil menikmati mangga yang sudah dikupas Bu Fia.


"Mertua juga jangan mengkritik segala kekurangan menantu, karena pastinya anak lelaki Anda juga punya kekurangan dimata istri dan mertuanya. Sebagai menantu juga, hormati dan sayangi mertua, sebagaimana kamu menghormati dan menyayangi orang tuamu. Karena bagaimanapun, beliaulah yang telah mengandung dan melahirkan suamimu. Kadang jadi beban mental terberat saat tinggal seatap dengan mertua itu ketika kamu kelelahan dan butuh istirahat, tapi disaat yang sama mertua mengerjakan sesuatu dan seolah menunjukkan kesan butuh bantuan. Satu rumah dengan mertua akan menimbulkan persaingan antara menantu dan orangtua bagi suami. Kamu ingin agar suamimu lebih mengutamakanmu, tapi disisi lain orangtuanya juga punya hak untuk diutamakan oleh anaknya sendiri. Tinggal bersama mertua itu bukan hal mudah bagi seorang menantu. Harus selalu menjaga perilaku, tutur kata dan rajin membantu di rumah. Ada yang bilang kalo pria selalu salah di mata wanita, maka menantu juga seringkali akan selalu salah dimata mertua. Selain terjadi pada tahun 1945, kemerdekaan yang paling berkesan adalah ketika menantu punya rumah sendiri setelah sebelumnya tinggal bersama mertua.. betul ga Ibu-ibu?" tanya Mamah Mimin.


"Betul" jawab Ibu-ibu jama'ah Majlis Taklim yang ikut syuting di studio dengan kompaknya.


"Sampe ada yang bilang kalo ibu mertua itu lebih kejam daripada ibu kota" lanjut Mamah Mimin.


Jama'ah di studio tertawa kecil. Bu Fia mulai tersenyum mendengar becandaan seperti itu.


"Kayanya nanti kalau ada sertifikasi nikah, kayaknya harus ada syarat lulus ujian mendengar omongan mertua yang pedesnya ngalahin tahu jeletot. Tapi mesti diingat juga, kalo mertua tidak selamanya menjengkelkan. Ada kalanya juga mereka sangat baik dan perhatian" ucap Mamah Mimin tersenyum.


"Ehem...ehem" gumam Pak Dzul.


"Kenapa sih Yah?" tanya Bu Fia.


"Ga .. keselek mangga aja soalnya ada mertua yang lagi belajar jadi Ibu mertua yang baik buat mantu barunya" jawab Pak Dzul.


"Apaan sih Yah .. ini kan kajian ilmu, bahas umum, bukan bahas Bunda sama Qeena" sahut Bu Fia sewot.


"Santai aja dong Bun .. Ayah juga ga bilang kalo itu Bunda sama Qeena.. ngerasa ya?" ujar Pak Dzul ketawa.


Bu Fia malah manyun dan mengganti channel ke TV sebelah yang lagi menyajikan acara masak memasak.


"Loh .. itu kan lelaki yang foto sama Qeena ya? wah beneran yang Bunda bilang kalo lelaki itu terkenal" ujar Pak Dzul.


"Ah itu kebetulan aja kali, bisa jadi kan antara fans sama idolanya lagi foto tapi wartawan aja yang kehabisan berita jadi nulis yang ga jelas, masa orang kampung gitu jadi Brand Ambassador .. pernah kursus sama Chef Ale aja ngga. Lagian kuenya Qeena mah kue kampung, ntar malah bingung kalo kursus ditempat Chef Ale, dia mana bisa bikin kue-kue kaya di bakery terkenal" nyinyir Bu Fia.

__ADS_1


__ADS_2