
Damar dan Izma baru keluar dari bioskop jam setengah tujuh malam, mereka buru-buru nyari musholla karena belum sholat Maghrib.
Selepas sholat Maghrib, saat menunggu Damar selesai sholat, Izma mengaktifkan HP nya. Ada ratusan chat dan puluhan misscall tertera di layar.
Dia membaca grup keluarga, ada chat dari Fajar yang mengabarkan tentang kecelakaan. Bu Fia lebam dibagian kepala dan tangannya kena pecahan kaca mobil sehingga mendapatkan lima jahitan. Supir yang membawa mobil adalah supir kantor yang diminta tolong buat mengantar Pak Dzul dan Bu Fia menuju salah satu gedung di Jakarta buat menghadiri resepsi pernikahan.
Supir kantor dipastikan sudah meninggal ditempat kejadian perkara. Pak Dzul kondisinya kritis. Patah tulang kaki dan belum sadarkan diri karena benturan hebat dibagian mobil sebelah kanan, tempat beliau duduk.
Pak Dzul dirujuk ke Rumah Sakit lain, Fajar yang mendampingi Pak Dzul. Mas Anto sementara menunggu Bu Fia hingga Izma datang kesana.
"Ya Allah ... ya Allah..." ucap Izma yang langsung menangis.
"Ma ... kita makan dulu yuk baru pulang, mau makan apa?" tanya Damar dari arah belakang Izma.
Izma makin nangis, dia menutup wajahnya.
"Ma .. Izma .. kenapa?" tanya Damar panik sampai berlutut didepan Izma, banyak pengunjung yang melihat kearah mereka.
"Kita ke Rumah Sakit sekarang" ajak Izma sambil menarik tangannya Damar menuju parkiran mobil.
"Ada apa?" tanya Damar berulang kali.
"Ayah sama Bunda kecelakaan" kata Izma dan makin pecah tangisnya.
"Ya udah yuk .. kita buru-buru" jawab Damar.
🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️
Selepas pengajian, Dafi mengajak Qeena makan naik motor ketujuan.
"Neng ... Mas tuh ngerasa kok kayanya ga enak hati ya dari tadi pagi" ucap Dafi saat di motor.
"Sama Mas .. tapi tadi pas nelpon Emak begitu sampe sini, ya semua sehat-sehat aja katanya, ga ada masalah juga di rumah" jawab Qeena.
"Nanti kalo udah sampe di angkringan coba telpon ke rumah, Mas jadi kepikiran orang-orang rumah" kata Dafi lagi.
💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐
Mak Nuha kembali menelpon Qeena, pas banget Qeena baru sampe parkiran angkringan dan mengaktifkan HP nya.
"Telpon dari siapa?" tanya Dafi.
Qeena mengambil HP nya didalam tas.
"Emak ..." jawab Qeena sambil mengangkat HP nya.
"Assalamualaikum Qeena ... ya Allah .. kenapa Hp ga aktif sih" berondong Mak Nuha.
"Waalaikumsalam.. tadi ngaji Mak, jadi HP nya ga diaktifin" jelas Qeena.
"Sekarang juga balik ke Jakarta" pinta Mak Nuha.
"Ada apa Mak? Emak sakit?" tanya Qeena.
"Mertua kamu kecelakaan, liat coba berita kecelakaan beruntun di toll sore ini" kata Mak Nuha sambil nangis.
"Innalilahi wa innailaihi rojiun .. terus gimana Mak kondisinya?" jawab Qeena.
"Bu Fia masih di Rumah Sakit Polri, ada Mas Anto yang jaga disana, Izma langsung meluncur kesana. Kalo Mas Dzul dirujuk ke Rumah Sakit lain yang menyediakan ruang ICU .. karena butuh ICU dan belum tau apa ada tindakan operasi atau ngga, nanti Fajar yang kasih tau lebih lanjut deh, dia kan paham medis" jelas Mak Nuha kurang jelas.
__ADS_1
"Ya Mak .. Qeena bilang ke Mas Dafi dulu" ucap Qeena yang udah sedih.
"Ada apa?" tanya Dafi heran.
"Kita pulang ke Jakarta Mas .. sekarang juga" pinta Qeena.
"Ada apa?" tanya Dafi mengulang pertanyaan yang sama.
"Orangtua Mas kecelakaan. Sekarang Bunda masih perawatan di IGD, kalo Ayah lagi dirujuk karena butuh ICU" jelas Qeena yang udah mulai panik.
"Tenang ... tarik nafas... tenang ya" pinta Dafi sambil menyerahkan helm lagi ke Qeena.
Dafi memasang handsfreenya, kemudian melajukan motornya pelan.
"Assalamualaikum Mas" jawab Fajar langsung begitu tau Dafi menelpon.
"Waalaikumsalam .. gimana Ayah?" tanya Dafi.
"Ayah di ICU sekarang, masih belum sadarkan diri, tadi udah CT Scan ga ada masalah yang serius, tapi sempat kejang, khawatir ada masalah dibagian otaknya, ga ada pendarahan sih Mas" jelas Fajar.
"Tadi Mak bilang kalo diperlukan operasi maka Ayah akan menjalani malam ini juga, operasi apa?" tanya Dafi.
"Ada tulang yang bergeser dan retak, sekarang masih diberikan gips dulu, fokus ke bagian kepala dulu Mas. Udah dijadwalin besok pagi operasi buat kakinya. Tekanan darah Ayah tinggi banget, padahal Ayah ga punya riwayat hipertensi. Ini masih nunggu hasil MRI juga untuk memastikan apakah ada pendarahan di otak atau ngga. Walaupun kondisi Ayah bisa dikatakan parah, kaya keajaiban ga ada luka terbuka ditubuh Ayah. Memang pas dibawa ke Rumah Sakit infonya sempat keluar darah dari hidung dan kupingnya. Ayah kaya orang tidur biasa aja Mas" tambah Fajar.
"Mas pulang malam ini, tolong Izma urus Bunda dulu, kalo Bunda bisa pulang malam ini ya pulang langsung, kalo perlu rawat inap ya rawat aja. Kamu tetap tunggu Ayah, Mas nanti kesana. Pokoknya kamu yang paham kondisi Ayah seperti apa, jadi kami setuju aja sama tindakan medis yang diperlukan" perintah Dafi.
"Ya Mas" ucap Fajar.
🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️
Dafi menghubungi supir kantor buat mengantarkan mobil ke rumah dinasnya karena dia akan pakai buat pulang ke Jakarta.
Udah rame digrup chat kantornya Dafi. Mereka mengusulkan agar Dafi membawa dua supir yang sedang off aja karena kondisinya pasti lebih fit daripada yang masuk pagi tadi.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
"Ma ..tolong bilang ke Papa kalo Om Dzul kecelakaan, sekarang masih di Rumah Sakit. Damar ga pulang ya, nemenin Izma di Rumah Sakit karena beda Rumah Sakit sama Om Dzul" kata Damar.
"Ya .. jagain aja dulu, kalo sama Izma mah Mama setuju aja" sahut Mamanya Damar.
"Udahlah Ma .. suasana lagi ga enak buat ngomongin hal itu" lanjut Damar.
Izma masih belum beranjak dari sisi tempat tidur Bundanya.
"Dok .. bagaimana kondisi Bunda saya?" tanya Izma begitu ada dokter melihat kondisi Bu Fia.
"Alhamdulillah semua sudah tertangani, hasil Rontgen kepala pun ga ada masalah. Kami sedang berkoordinasi dengan pihak kepolisian dan jasa marga, sepertinya setelah pendataan maka pasien diijinkan pulang bagi yang tidak memerlukan rawat inap" jawab dokter IGD.
"Terima kasih dok" kata Izma.
"Obatnya nanti dibawakan oleh perawat ya, nanti dijelaskan aturan minumnya. Tiga hari lagi kontrol jahitan ya. Jangan lupa untuk banyak istirahat dan jangan beraktivitas yang berat dulu" saran dokter.
"Baik dok" jawab Izma.
Dokter menuju ke bed sebelah, sesama korban kecelakaan sama Bu Fia.
"Ayah dimana?" tanya Bu Fia yang dari tadi nanyain Pak Dzul terus.
"Ayah dirujuk ke Rumah Sakit lain karena disini penuh" jawab Izma.
__ADS_1
"Ayo kita kesana" lanjut Bu Fia.
"Bun .. sabar ya, liat kondisi Bunda sekarang? malah nanti adanya merepotkan disana. Ada Mas Fajar yang dampingin Ayah. Mas Dafi dan Qeena pun udah jalan dari Semarang, jadi Bunda pulang dulu aja ya, kita istirahat di rumah" rayu Izma.
"Ga mau ... maunya sama Ayah" ucap Bu Fia.
"Tante .. sekarang tiduran aja kalo bisa. Ga usah mikir apa-apa dulu, kita berdo'a semoga Om Dzul baik-baik aja" saran Damar.
"Ayah itu orang yang Bunda sayangin, kalian ga tau gimana cintanya Bunda sama Ayah" ujar Bu Fia mellow.
"Bun .. Izma tau kalo Bunda cinta banget sama Ayah, tapi sekarang kan Bunda juga lagi sakit" kata Izma.
"Pokoknya ga mau tau, kita harus kesana" ucap Bu Fia marah.
Izma dan Damar cuma diam aja.
💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐
Qeena dari Semarang sampe Jakarta nangis terus, udah ditenangin sama Dafi pun ga kunjung reda. Dafi memutuskan langsung ke Rumah Sakit tempat Ayahnya dirawat, Bu Fia juga akan langsung dibawa pulang sama Izma ke rumah. Tadi lewat bantuan dokter IGD, Bu Fia dapat diyakinkan kalo kondisi Bu Fia perlu istirahat di rumah dan tidak perlu mengkhawatirkan kondisi suaminya.
"Neng .. sebentar lagi sampe Rumah Sakit, jangan nangis aja, kasian Ayah kalo tau kamu nangis terus" saran Dafi yang masih memeluk istrinya.
"Ayah Mas ... kenapa bisa begini? tadi pagi ga ada apa-apa pas pamit, tau begini mah ga berangkat ke Semarang" tanya Qeena.
"Terus kalo kamu di Jakarta yakin kalo ga akan kejadian kecelakaan ini? terima semua sebagai takdir. Toh kita sedang berikhtiar biar Ayah sembuh, daripada nangis kan mending kamu berdo'a" ujar Dafi.
"Udah dari tadi berdo'a emang harus teriak-teriak?" ucap Qeena manja.
"Ya udah ... pokoknya ga boleh nangis lagi" sahut Dafi.
🤍
Dafi dan Qeena langsung ketemu sama Fajar di Rumah Sakit.
"Gimana Jar kondisi Ayah?" tanya Dafi.
"Ini yang secara medis membingungkan, semua hasil CT Scan dan MRI oke, ga ada masalah di kepala. Tapi Ayah masih ga sadarkan diri. Sempat tekanan darah tinggi tapi udah normal. Cek darah pun ga ada masalah. Rekam jantung oke" papar Fajar menjelaskan dengan bahasa orang awam.
"Kita bisa masuk ga?" tanya Qeena.
"ICU ga sembarangan orang boleh masuk, nanti kalo dipanggil dokter atau perawat baru bisa masuk" ucap Fajar.
"Ijin dulu Mas Fajar .. bilang kita mau jenguk .. lima menit aja" bujuk Qeena.
"Dicoba ya" jawab Fajar.
Fajar memencet tombol bel didepan ruang ICU. Ada perawat yang keluar, tampak Fajar berbincang. Kemudian balik ke tempat Dafi dan Qeena berdiri.
"Didalam ada tiga pasien yang kondisinya kritis semua, jadi pengawasan pun ketat. Kebetulan Ayah paling pinggir dekat jendela. Nanti akan dibuka dikit biar bisa liat, sebentar aja tapi ya" jelas Fajar.
Mereka bertiga mendekati jendela kaca ruang ICU. Perawat membuka sedikit tirai. Qeena dipeluk sama Dafi dari belakang, dia tau kalo Qeena udah lemes banget.
"Ya Allah Ayah ... Bangun Yah ... Qeena sama Mas Dafi udah datang. Ayo bangun Yah" lirih Qeena berkata.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Di rumah Pak Dzul udah mulai berdatangan saudara Pak Dzul karena disarankan Fajar buat ga rame-rame ke Rumah Sakit dan diminta menenangkan Bu Fia di rumah. Tetangga pun sudah ada yang ikutan datang untuk menanyakan kondisi terbaru Pak Dzul dan Bu Fia.
Bu Fia dipapah sama Damar dan Izma menuju sofa, beliau duduk disana sambil berpelukan sama adik-adiknya Pak Dzul.
__ADS_1
"Kita berdo'a bareng ya Mba .. semoga Mas Dzul baik-baik aja" ujar adiknya Pak Dzul.
Hanya Rian yang sudah tertidur pulas, sementara lainnya masih terjaga.