ROTI BAKAR

ROTI BAKAR
* Slice 46, Kusut


__ADS_3

Belum cukup disitu, Bunda juga langsung menelpon Dafi, beliau sangat gembira karena Dafi ternyata udah mantap sama seorang wanita dan sangat sepadan sama keluarganya (memang Rahma belum dikenalkan ke Ayah Bunda Dafi karena waktunya belum pas).


Fajar pun ikut mencuit di medsosnya, me-repost serta mengucapkan selamat dan mendo'akan agar Kakaknya bisa segera menikah setelah pengangkatan.


Pak Dzul yang ga punya medsos aja sampe tau karena ulah Fajar yang mengirimkan screenshot medsosnya Sania ke Ayahnya. Siang tadi Ayahnya udah menelpon dan minta weekend ini dikenalkan sama Sania. Rupanya Ayah dan Bunda berkenan untuk mengenal Sania dibandingkan sama Rahma.


Dari dulu tuh Dafi malas berurusan sama cewe, alasannya simpel aja karena cewe tuh gampang baperan, cengeng dan sok mengatur. Apalagi dulu dia tinggal selama tiga tahun dilingkungan pesantren yang isinya laki-laki, jadi pasukan no baper-baperan. Jatah bisa keluar pesantren cuma sebulan sekali. Jadi emang ga kenal karakter cewe kaya gimana. Begitu terjun pengabdian setahun setelah lulus pesantren barulah dia tau ribetnya berhubungan sama makhluk yang namanya cewe. Begitu masuk di dunia kampus pun makin rumit aja, temannya selalu berkeluh kesah tentang pacar-pacarnya. Apalagi dia tumbuh ditengah sang Bunda yang sangat keras kepala dan egosi, makin aja menegatifkan pandangannya Dafi terhadap wanita. Izma pun sama aja, childish dan baperan bikin tambah puyeng kepalanya. Kini kehadiran Qeena pun ga jauh beda, cewe cengeng yang berusaha sok tegar didepan orang-orang dan anaknya terlalu diem, ga punya inisiatif.


Entah kenapa, tiba-tiba Dafi ingat sama anaknya Pa RW tempat dulu dia pengabdian masyarakat. Sebuah cerita yang selalu bisa bikin dia ketawa kalo mengingatnya. Jadi ceritanya, cewe ini naksir berat sama Dafi. Tuh cewe tau kalo Dafi suka sama cewe smart. Jadi ketika ada kesempatan ngobrol sama tuh cewe pas lagi ikut kerja bakti, isenglah Dafi mengetes ke smart an si cewe yang katanya hobi nonton bola seperti dirinya.


"Semalam nonton ga? Ronaldo mainnya top banget ya" kata Dafi semangat.


"Nonton lah ... tapi sedih deh pas dia tenggelam, pokoknya totalitas banget mainnya" jawab si cewe.


"Tenggelam? emang lapangan bolanya banjir atau gimana ya? kok Mas ga liat ada adegan Ronaldo tenggelam" tanya Dafi bingung.


"Ih Mas Dafi mah gimana sih, kan kapalnya karam karena nabrak gunung es, jadi Ronaldo diCaprionya tenggelam soalnya dia ga naik bareng cewenya" ucap si cewe dengan pedenya


"Innalilahi wa innailaihi rojiun" jawab Dafi tepok jidat gegara dengar ke sotoy annya tuh cewe.


"Lah emang dia muslim kok segala Mas ucapin innalilahi" tanya cewe tersebut.


"Yang Mas maksud tuh Ronaldo .. Cristiano Ronaldo, bukan Leonardo Dicaprio .." jelas Dafi rada nyolot.


"Lah beda ya?" ucap cewe itu tanpa dosa.


"Ya bedalah ... satu pemain bola, yang satu lagi pemain film" jawab Dafi ogah-ogahan.


"Mas Dafi nih kayanya ga mudeng deh pas nonton film. Titanic itu tentang kisah cinta di kapal yang tenggelam, bukan tentang pemain bola. Mas Dafi emang nonton tivinya dimana sih ... kok ceritanya ngawur gitu" protes sang cewe.


"Udah dulu ya ngobrolnya, Mas mendingan bersihin selokan daripada migren nantinya" ujar Dafi.


"Kalo migren ya istirahat terus minum obat Mas. Atau mau dianter ke Puskesmas?" tanya cewe tersebut.


Dafi tersenyum lebar mengingat hal itu, wanita terunik yang pernah ia temui dan berharap jangan sampe dapat istri yang tipenya ga nyambung kaya gitu.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Pagi ini Qeena berangkat lebih awal karena dia piket. Seperti biasa dia memilih jalan kaki menuju sekolah.


Baru setengah jalan, Damar menghampirinya, rupanya Damar mengikuti dari Qeena keluar rumah. Karena Qeena ga mau dibonceng naik motor sama dia, jadilah Damar mengalah dengan menuntun motornya sampai di sekolah agar bisa berjalan sama Qeena.


Udah bisa ditebak hebohnya satu sekolah melihat mereka jalan berdua. Memang bisa dibilang mereka ini layaknya King and Queen. Sang laki-laki yang punya jabatan Ketos, wajahnya charming, baik hati, tidak sombong dan selalu menjadi contoh yang baik di sekolah, sedangkan sang wanita adalah idola baru di sekolah. Wajah Qeena yang manis kinyis-kinyis, ditambah pembawaannya yang anteng serta cara bicaranya yang tampak kalo dia cewe yang pintar, makin menambah deretan nilai plus buat Qeena.


🏑🏑🏑🏑🏑🏑🏑🏑🏑🏑🏑🏑🏑


"Rian ...sini... mau dicariin lagi ga videonya" ucap Iyus setengah berbisik. Rian menghampiri Iyus yang lagi ngelap mobil.


"Sini mana HP nya" kata Iyus.


"No ... no.." jawab Rian sambil gelengin kepalanya.

__ADS_1


"HP nya ilang?" tanya Iyus lagi.


"No .. no..." jawab Rian.


"Mau nonton ga?" kata Iyus.


"No ... no..." ucap Rian.


"Ga boleh sama siapa?" selidik Iyus.


"Mas Api (Dafi).. No .. no ..." jawab Rian.


"Mas Dafi tau kamu nonton video itu?" tanya Iyus makin kepo. Rian mengangguk terus ketawa geli sendiri.


"Bilang ga siapa yang ajarin?" tanya Iyus mulai panik.


"Tuh....." ujar Rian sambil nunjuk Iyus.


Dafi yang sudah mengamati sedari tadi pun menghampiri Iyus.


"Ohhhh jadi biang keroknya itu Pak Iyus ya ... yang ngajarin adik saya nonton video yang aneh-aneh ... Saya udah curiga emang, tapi ga punya bukti, sekarang ketauan deh semua. Rian ga mungkin bohong" kata Dafi dari balik gazebo tepat disamping carport buat naro mobil yang keluar dari garasi.


"Bukan saya Mas .. Rian yang minta nonton" bela Iyus.


"Rian tau darimana coba hal-hal kaya gitu? lagian emang Pak Iyus paham omongannya Rian kalo dia minta video itu?" tanya Dafi tegas.


"Dia kan cowo juga Mas ... pastinya tau lah video begituan. Mungkin aja kan dia liat Bapak sama Ibu atau para pekerja yang suami istri itu" kata Iyus ga mau kalah.


"Atau bisa aja kan Rian liat saat Mas Dafi atau Mas Fajar nonton" kata Iyus dengan santainya.


"Wah nih orang ya, dia yang salah eh dia yang nuduh orang. Kalau pun saya nonton yang aneh-aneh, pasti taulah ga mungkin ajak adik saya yang ga paham kaya Rian" ujar Dafi mulai meninggikan suara.


Dafi yang emang lagi kesel dari kemarin, dengan segala permasalahan yang dia hadapi, ditambah kepancing emosi pagi ini sama Iyus, jadilah jiwa lelakinya keluar. Dia langsung menarik kerah kemejanya Iyus dan udah siap bogemnya melayang ke wajah Iyus.


"Mas Dafi .... apa-apaan sih ini, kenapa berantem kaya preman gini" teriak Bu Fia membuat orang yang ada didalam rumah keluar.


"Ini nih Bun ... biang keladi Rian nonton video ga senonoh. Dia yang ngeracunin otaknya Rian. Dia yang membuat list di daftar tontonan jadi Rian bisa nonton" kata Dafi masih menarik kerah bajunya Iyus dan langsung meninju tepat dipipi kanan Iyus. Iyus jatuh tersungkur. Fajar yang baru keluar liat Kakaknya terus menghajar Iyus malah ikutan gantian mukulin Iyus.


"Lepasin Mas Dafi ... Fajar ... kalian kok anarkis gini" hardik Bu Fia sambil menghampiri keduanya.


Rian malah ketawa melihat ada pertengkaran. Dia berdiri didepan mobil.


"Bunda harus pecat orang kaya gini, sekarang dia bikin Rian kaya gitu, besok apalagi yang akan dia ajarin. Bikin rusak generasi muda" teriak Dafi makin kesal dan melepaskan kerah baju Iyus.


"Saya ga tau apa-apa Bu ... beneran deh. Saya kan cuma supir, masa berani saya ga nurutin kemauan anak Bu Fia buat cariin video ... beneran deh Bu, saya aja ga pernah nonton yang kaya gitu ... Bikin dosa aja nonton kaya gitu, lagian saya malu sama umur kalo nonton begituan" bela Iyus sambil kesakitan.


"Mas Dafi ... Fajar .. masuk dulu" perintah Pak Dzul.


"Bunda berangkat dulu ya Yah" pamit Bu Fia sambil mencium tangan suaminya.


Izma biasanya bareng berangkat sama Bu Fia, tapi hari ini di sekolahnya ada earth day, semua siswa ga boleh terlihat naik kendaraan yang menimbulkan polusi, hanya boleh jalan kaki atau bersepeda. Izma memilih naik sepeda menuju sekolah.

__ADS_1


Fajar meneruskan tidurnya karena kecapean kemarin nyupir pulang pergi dari acara keluarga diluar kota.


"Mas kok gitu sih kasih peringatan ke orang, Mas itu ga pernah berantem kan selama ini" tegur Pak Dzul.


"Bisa ga Yah dibahasnya nanti aja. Mas mau siap-siap ke kantor" pinta Dafi.


"Mas kayanya semrawut banget mukanya" selidik Pak Dzul.


"Nanti ya Yah ... udah kesiangan nih" ujar Dafi sambil lari menuju kamarnya.


🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿


Nuha udah serba salah, para rentenir mulai mendatangi rumah orang tuanya sampe orang tuanya tambah sakit karena kepikiran. Kakak-kakaknya belum juga bisa menutupi semua hutang padahal udah sampe rumah disita.


Kepalanya terasa berat hingga tadi beberapa kali di Puskesmas beliau tampak jalan terhuyung. Kini beliau merebahkan tubuhnya ditempat tidur, pikirannya melayang kemana-mana.


Andai aja Nuha punya barang berharga yang bisa dijual mungkin sudah dijual dari kemarin. Walaupun bukan Nuha yang berhutang tapi mau ga mau juga ikut mikirin gimana bayarnya.


HP nya berdering, Dafi menelpon karena disuruh Pak Dzul menanyakan liburan semester ini, Mak Nuha yang datang ke Jakarta atau Qeena yang akan pulang ke kampung.


"Assalamualaikum Mak..." sapa Dafi.


"Waalaikumussalam" jawab Nuha.


"Sehat Mak ? kayanya suaranya berat, atau Mak baru bangun tidur?" tanya Dafi.


"Iya Mak baru bangun tidur" jawab Nuha berbohong.


"Gimana Mak yang tadi Dafi chat? Mak udah baca kan?" tanya Dafi lagi.


"Belum" jawab Nuha singkat.


"Jadi liburan semester ini maunya gimana, Emak yang ke Jakarta atau Qeena yang pulang kampung?" jelas Dafi.


"Terserah Qeenanya aja" jawab Nuha pasrah.


"Ayah nanyain terus, mau pesenin travel kayanya" jelas Dafi.


"Ya .. tanya Qeena aja ya" kata Nuha.


"Mak sehatkan? Kok beda banget deh suaranya. Ada apa sih Mak?" tanya Dafi.


Entah kenapa, Nuha sulit menyembunyikan cerita kalo Dafi yang bertanya. Mengalirlah cerita dari bibir Nuha. Cerita yang selama sebulan belakangan ini tersimpan rapat.


"Berapa Mak hutangnya?" tanya Dafi hati-hati.


"5 juta lagi Mas Dafi" kata Nuha sedih.


Dafi agak kaget dan menarik nafas panjang.


"Nanti Dafi kabarin lagi ya Mak, Dafi kerja dulu ... assalamualaikum" ucap Dafi mengakhiri sambungan telepon.

__ADS_1


"Waalaikumussalam" jawab Nuha lemah.


__ADS_2