ROTI BAKAR

ROTI BAKAR
* Slice 163, Cinta


__ADS_3

Jam sembilanan, sofa yang kemarin Dafi dan Qeena pesan datang. Sekaligus tukang pasang furniture juga datang mau menyetel furniture rakitan.


"Wah Mas Dafi borong nih, kayanya kemarin saya juga liat ada mobil pickup masukin barang ke rumah" ledek Pak RT.


"Ngisi dikit-dikit Pak RT. Punya rumah masih kosong melompong, ya biar enak ditempatinnya" ucap Dafi.


"Kapan nih selametan rumah baru, nyonya udah ada tuh, jadi aman buat urusan logistik. Lagian penasaran sama dalamnya, dari tampilan luar aja beda" kata warga lainnya.


"Saya weekend masih akan ada kesibukan aja nih Pak, weekend ini aja yang libur, jadi belum ada waktu buat bikin acara di rumah. Pekan depan malah mau keliling Jawa Bali sepuluh hari buat persiapan sensus penduduk secara nasional" jelas Dafi.


"Kejar setoran ya .. hahahaha" timpal warga.


"Begitulah kira-kira" kata Dafi.


"Biasanya gitu Mas, orang mau nikah tuh ada aja rejekinya" nasehat Bu RT.


"Ya Bu .. Alhamdulillah" jawab Dafi.


"Tau nih Mas Dafi .. udah dikomporin orang se RT masih aja selow, nanti Qeenanya ditikung loh sama cowo lain. Cewe cantik kaya gitu mah bakal jadi rebutan Mas" lanjut tetangga lainnya.


"Ini kenapa jadi saya yang dari tadi jadi korban dikecengin ya .. sabar ya Bapak Ibu semua, insyaa Allah undangannya nanti disebar" jawab Dafi sambil tersenyum.


Jam sepuluh pagi, kerja bakti udah selesai, Dafi segera mandi karena badannya udah bau keringat. Setelah mandi, dia berencana akan ke rumahnya. Rian dan Izma juga udah main kesana.


"Mas ... " panggil Bu Fia.


"Ya Bun .." jawab Dafi sambil menghampiri Bundanya yang lagi santai di sofa depan TV.


"Mas kok udah ga perhatian lagi sama Bunda" protes Dafi.


"Ga perhatian gimana Bun? wong Mas pulang kerja, Bunda udah di kamar, ya ga mau ganggu lah, kan Bunda pasti cape" jawab Dafi.


"Mas abis belanja ya?" tanya Bu Fia.


"Ya mulai isi dikit-dikit Bun. Senin besok kitchen set mulai dipasang, jadi yang buat kitchen set tuh ada customer yang cancel padahal udah DP dan dalam tahap pengerjaan, dasar rejekinya Mas ya, konsep dan ukurannya sama kaya dapur yang Mas pilih, jadinya tinggal ngeset aja di rumah. Hari ini datang barang buat ruang keluarga sama ruang tamu dulu Bun. Ya ruang tamunya kecil aja, kan kalo keluarga atau kerabat bisa masuk langsung ke ruang tengah. Kalo kamar utama belum karena belum ada yang cocok" cerita Dafi antusias.


"Bunda belum liat rumah Mas sekarang, kemarin kan liatnya belum dicat" kata Bu Fia.


"Ayo kita kesana, sekalian liat yang masang lemari buat TV" ajak Dafi.


"Ga mau ah .. Bunda tuh males kalo liat Nuha sama Qeena" ujar Bu Fia.


"Sampe kapan sih Bun? mau ga mau kan mereka udah jadi bagian dari keluarga kita. Mas udah serius loh Bun sama Qeena, Ayah juga dukung" ujar Dafi.


"Mas cinta sama dia?" tanya Bu Fia serius.


"Bun... apa yang Mas rasakan tuh cinta yang beda. Mas ga bermaksud membandingkan dia sama Bunda atau wanita yang lain. Tapi dia hadir dalam hidup Mas, membuat Mas bisa ngerasain seperti layaknya yang orang lain rasakan. Dia bawel, selalu berargumen kalo Mas kasih tau, secara selama ini Mas merasa apa yang Mas lakukan ga pernah dapat komentar dari orang, dia bisa berkomentar. Rasanya terasa sepi dan kurang hidup tanpa mendengar suaranya. Dia tipe wanita mandiri, serba bisa, kayanya menjalani hidup dengan santai walaupun kita tau gimana beratnya hidup menyapa dia dan Mak Nuha selama ini. Dia punya sifat keibuan yang muncul secara alami dalam diri setiap wanita, liat aja caranya menghadapi Rian, udah kaya sosok Ibu buat Rian. Qeena termasuk wanita sabar loh ngadepin sinisnya Bunda dari dulu. Secara fisik, siapa yang ga mengakui kalo dia cantik, apalagi senyumnya ... beuh makin menyempurnakan wajahnya Bun. Pokoknya dia punya senyuman maut yang bikin kita kaum pria jadi klepek-klepek deh. Pantes aja Fajar dari dulu suka ya sama dia. Matanya Fajar kalo urusan cewe tuh emang paling jeli" papar Dafi dengan mata yang berbinar-binar.


"Mas ga kasian sama Fajar?" tanya Bu Fia.


"Kalo Mas balik tanya .. Emang Fajar masih mau sama Qeena setelah rangkaian peristiwa ini dan ada niat dari Mas buat serius sama Qeena?" tanya balik Dafi.


"Bunda hanya ga mau ada perang saudara hanya karena seorang wanita" ingat Bu Fia.


"Nanti Mas pasti akan ngomong ke Fajar, sekarang kan Fajar masih sibuk" ujar Dafi.

__ADS_1


"Mas ... Bunda tuh masih ngarepin kamu bisa balik sama Zahwa. Dia tuh pinter ambil hati orang tua, ga kaya Qeena, liatnya aja males. Muka cantik mah ga bisa ngejamin kamu bisa bahagia Mas. Tapi Zahwa itu pasti bikin kamu akan menjadi lelaki paling bertuah" ucap Bu Fia.


"Berat emang Bun melupakan dia gitu aja. Mas lagi mengikuti takdir dan menerima dengan iklhas. Mas percaya kalo Qeena itu udah yang terbaik buat Mas" kata Dafi.


"Mas ... Qeena tuh anak diluar nikah, udah gitu dia anak mantan supir Bunda juga .. turun derajat dong kita. Bunda udah ngomong di kantor kalo kamu tuh bakalan nikah sama orang kaya, sebanding lah sama kita. Masa kenyataannya malah sama Iyus. Bisa diketawain orang sekantor gara-gara hal ini" oceh Bu Fia.


"Bun.. itu yang jadi kendala Bunda nerima Qeena?" tanya Dafi serius.


"Udahlah Mas .. orang kalo lagi di mabuk cinta mah, bakalan susah dikasih taunya" kata Bu Fia kesal.


"Bun .. Mas sayang banget sama Bunda" kata Dafi sambil merebahkan kepalanya ke pangkuan Bundanya.


Bu Fia mengusap dengan lembut kepala anak sulungnya ini. Lama mereka ga saling ngobrol seperti ini. Dafi tampak sekali bahagia bisa bermanja sama Bundanya.


"Mas ... kelihatannya emang kadang alasan orangtua gak memberikan restu terkesan berbelit-belit dan rasanya sulit diterima sama anak, tapi dibalik semua itu, orangtua hanya menginginkan yang terbaik buat pendamping hidup anaknya. Semua orangtua pastinya menginginkan anak hidup bahagia dengan pendamping hidupnya kan? ga ada orangtua yang menginginkan anaknya hidup menderita setelah menikah. Kamu pikir baik-baik, apa nantinya kamu ga jadi diandalkan dalam hal ekonomi? kondisi ekonomi keluarga Qeena itu kan parah. Nuha sama Qeena aja pengangguran. Belum Kakek Neneknya di kampung. Ditambah Bapaknya yang mata duitan" ujar Bu Fia.


"Pak Iyus mata duitan? Bunda tau dari mana?" tanya Dafi.


"Dia kan pernah jadi supir Bunda .. ya tau lah" jawab Bu Fia rada panik.


"Mungkin inilah rejeki mereka Bun. Dapat mantu kaya Mas yang bisa memenuhi keperluan hidup mereka" kata Dafi santai.


"Kamu tuh masih golongan biasa Mas, nanti jangan karena tekanan ekonomi keluarga, kamu jadi gelap mata dan menghalalkan segala cara buat cari uang. Banyak abdi negara yang akhirnya pada korupsi karena tuntutan gaya hidup dan mencukupi hidup orang banyak dibelakangnya" papar Bu Fia.


"Bun... do'akan Mas yang baik-baik aja ya. Semua akan bisa Mas lewati asal Bunda ridho atas langkah yang Mas ambil" pinta Dafi.


"Tapi Mas .. Bunda ga tega kamu jadi sapi perah, tuh belum apa-apa, kamu udah diminta beli barang kan buat isi rumah? segala beli di Mall lagi, gaya banget. Lagian kenapa tinggal di rumah Mas sih, itu kan rumah masa depan Mas sama Zahwa, kenapa jadi mereka yang nempatin, terlalu mewah. Padahal level mereka tuh kontrakin aja yang petakan, itu lebih bagus kok dibanding rumah kampung mereka" kata Bu Fia.


"Bun... barang itu murni Mas yang mau, bukan Qeena, gimana kalo sekarang kita quality time. Mas temenin Bunda shopping atau mau ke salon .. apa mau nongkrong-nongkrong cantik di Coffe Shop juga boleh" tawar Dafi.


"Bunda itu akan tetap jadi cinta pertamanya Mas, ga ada yang bisa gantiin posisi Bunda dihati Mas" rayu Dafi.


"Kamu tuh ya ... sama kaya Ayah, pinter ngebujuk, gimana kalo nemenin Bunda belanja keperluan rumah?" ide Bu Fia.


"Boleh ... kapan?" tanya Dafi.


"Sekarang" jawab Bu Fia.


"Oke ... boleh .. " kata Dafi.


"Bunda siap-siap dulu ya" ucap Bu Fia happy.


"Bun .. Mas ke rumah dulu ya, mau liat progressnya yang masang furniture" ujar Dafi.


Dafi berjalan ke arah rumahnya, lagi pada kumpul diruang tengah. Pak Dzul aja ada.


"Neng... Mas mau anter Bunda dulu ya, nanti kasih tips aja yang masang, sama kasih makan siang" kata Dafi.


"Ya" jawab Qeena.


"Lah kok orang Jawa tapi dipanggil Eneng sih?" protes Izma.


"Namanya juga panggilan sayang .. hehehe" ujar Dafi.


"Mau kemana Mas?" tanya Pak Dzul.

__ADS_1


"Anter Bunda belanja bulanan" jawab Dafi.


"Ikut dong Mas" sahut Izma bahagia.


"Ayo" jawab Dafi.


"Ayah disini aja deh Mas .. nungguin yang pada pasang ini. Nanti Nuha ke tempat Parti aja kalo mau istirahat" kata Pak Dzul.


"Ayo Mak Nuha .. kita pindah aja ke kamar saya" ajak Mba Parti.


Qeena sedang menyuapi Rian sambil nungguin Rian mewarnai.


"Neng ... mau titip sesuatu ga?" tanya Dafi.


"Ga .." jawab Qeena.


"Atau mau ikut? biar akrab gitu sama Ibu mertua" goda Dafi.


"Kasian ini Mas Rian lagi mau mewarnai, dia juga belum sarapan, ini udah jam sebelas padahal" ucap Qeena.


"Mas Narko mana?" tanya Dafi.


"Lagi ke bengkel, diminta sama Ayah servis motor" jelas Qeena.


"Kolokan ya sekarang Rian sejak kamu tinggal disini" ujar Dafi.


"Mas .. kapan jadwal terapi Mas Rian? sejak Qeena disini kayanya dia ga berangkat terapi" tanya Qeena.


"Sesi kemarin udah selesai, Mas lagi nyari dokter yang baru buat Rian" jawab Dafi.


"dokter yang kemarin kenapa Mas? pindah?" kata Qeena kaget.


"Anaknya ribet, Mas males sama dia. Jadi dari pada kedepannya makin ribet, mending ganti dokter ajalah" jawab Dafi rada sewot.


"Oh ya Mas .. hari Selasa Qeena ada pesanan dadakan di Ciloto, Teh Erin dapat orderan bolu sampe lima puluh loyang buat Rabunya. Buat acara kenduri gitu. Nah Teh Erin minta Qeena nginep disana, kebetulan kan Senin ada jadwal anter sayur ke Tebet, nanti Qeena ikut sama mobil itu, baliknya Kamis .. kan anter sayur ada lagi Kamis" jelas Qeena.


"Jangan lama-lama lah nginepnya, nanti Emak kasian sendirian" ujar Dafi.


"Emak mau ikut katanya, malah Teh Erin seneng banget kalo Emak ikut" lanjut Qeena.


"Kamu udah menyanggupi?" tanya Dafi.


"Ya iyalah, daripada disini juga ga ngapa-ngapain, ya mending nyari duit lah" jawab Qeena.


"Padahal Mas tuh berangkat keliling Jawa Bali hari Kamis dan baru balik lagi sekitar sepuluh harian. Jadi bisa dua Minggu dong kita ga ketemu?" protes Dafi.


"Emang kenapa sih? kemarin ilang dua tahun aja ga masalah" jawab Qeena dengan entengnya.


"Ya bedalah .. sekarang kan udah jadi suami istri, harusnya kamu tuh minta ijin dulu sama Mas kalo mau nerima kerjaan" nasehat Dafi.


"Emang Mas cerita kalo mau keliling Jawa Bali? ya udah sih, kita bebas melakukan pekerjaan kita masing-masing kaya dulu, ga usah dibikin ribet" lanjut Qeena.


"Mas juga dadakan, kemarin pas kita jalan, Mas ditelpon tapi ga diangkat karena disilent. Malamnya Mas balas katanya Mas masuk tim" jelas Dafi.


"Besok Qeena mau dijemput sebelum subuh ya Mas, kan pickup sayur biasanya ba'da subuh udah ada di Ciloto lagi" kata Qeena.

__ADS_1


"Up to you lah" jawab Dafi rada kesal.


__ADS_2