
"Keluarga Tuan Dzulhilmi" panggil perawat ICU.
"Mas coba gantian yang masuk" ujar Fajar.
"Oke" jawab Dafi sambil berjalan menuju ICU.
Dafi berjalan memasuki pintu ICU. Dia diminta memakai baju khusus dulu kemudian melepaskan alas kaki dan berganti dengan alas kaki yang sudah disediakan. Dia juga memakai sarung tangan, baru setelahnya masuk lagi kesebuah pintu.
Ruang Intensive Care Unit (ICU) bukanlah sembarang ruangan. Pasien yang ada didalam ruangan ini membutuhkan penanganan intesif sehingga harus steril dari berbagai hal. Bahkan keluarga yang mengunjunginya pun terbatas. Di ruangan ini, pasien-pasien memerlukan penanganan khusus yang intensif.
Kenapa yang masuk harus berpakaian seperti Dafi? karena ruangan dan pasien harus benar-benar steril. Orang dari luar yang masuk bisa membawa kuman yang bisa berdampak buruk bagi pasien di ruangan ICU.
dokter menghampiri Dafi.
"Oh adiknya yang dokter sudah pulang ya?" tanya dokter di ruang ICU.
"Ada dok, gantian masuk, saya baru datang dari Semarang" jawab Dafi.
"Bapak mungkin sudah diberitahu tentang kondisi pasien, sebagai sesama muslim, saya merasa ada yang pasien tunggu, silahkan Bapak mendekat, kondisi pasien stabil seperti orang tidur biasa hanya ga merespon aja" jelas dokter.
"Baik dok ... terima kasih" jawab Dafi.
Dengan langkah pasti, Dafi mendekati tempat tidur pasien. Dafi mencium tangan Ayahnya kemudiam berbisik.
"Ayah .. Mas udah datang. Kalo Ayah nunggu Mas .. sekarang udah ga ada yang ditunggu Yah.. insyaa Allah kami semua ikhlas. Terimakasih udah jadi Ayah terhebat, maafkan kami semua yang belum bisa membuat Ayah bahagia. La ila hailallaah wa Anna Muhammad darasulullah.." bisik Dafi.
Airmata harus ditahannya, agar Pak Dzul tau kalo tanggung jawab siap dia emban buat menggantikan Ayahnya.
"Allahhhhhh..." ucap Pak Dzul dipenghujung nafasnya.
Monitor berbunyi, dokter dan perawat memberikan resusitasi sebagai langkah awal. Dafi diminta keluar dari ruangan.
Saat Dafi keluar, Fajar sempat mendengar bunyi yang sangat familier buat dia. Ditambah ada airmata yang tertahan dikedua bola mata Dafi.
"Mas ... Ayah kenapa .. Mas?" buru Qeena.
Dafi memeluk Qeena dengan erat.
"Sabar ya ... Ayah udah ga ada" lirih Dafi berucap.
Fajar dan Qeena langsung terdiam, hanya air mata yang mengalir dari mata mereka masing-masing.
"Keluarga Tuan Dzulhilmi" panggil dokter didepan pintu ICU.
Dafi, Qeena dan Fajar menghampiri dokter.
"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi takdir berkata lain" ucap dokter.
"Innalilahi wa innailaihi rojiun" sahut ketiganya kompak.
"Baik dok, terima kasih atas bantuannya. Bagaimana kami bisa mengurus kepulangan Ayah kami?" tanya Dafi.
"Sedang dirapihkan dulu, mau dimandikan disini atau di rumah aja?" ucap dokter.
"Di rumah saja dok" jawab Dafi.
"Sesuai prosedur ya, tunggu dua jam baru bisa dibawa pulang" kata dokter.
Adzan subuh terdengar.
Tangis Qeena pecah didepan ruang ICU, tubuhnya pun udah lemas seperti tak bertulang. Untunglah Fajar yang berada dibelakangnya dengan sigap menangkap tubuh Qeena.
Dafi dan Fajar membopong tubuh Qeena ke tempat tunggu pasien.
__ADS_1
"Kamu urus administrasi dulu sana Jar, sekalian ambulancenya. Tolong kabarin orang rumah juga, Mas urus Qeena dulu" ujar Dafi.
Banyak keluarga pasien yang membantu Dafi membuat Qeena tersadar. Setelah siuman, Qeena memeluk Dafi sambil menangis.
"Sabar ... sabar ... Ayah udah pergi dengan senyuman, jadi kamu ga boleh nangisin lagi" kata Dafi.
"Kenapa Ayah pergi cepat Mas .. Qeena belum balas budi ... Qeena belum kasih Ayah cucu .. Qeena belum jadi mantu yang baik" ucap Qeena
terbata-bata.
"Kita sholat subuh dulu ya" ajak Dafi sambil memegangi tubuh Qeena yang masih lemes.
Fajar bolak-balik mengurus administrasi, memang agak repot juga kalo korban kecelakaan jalan toll seperti ini, banyak yang harus dilaporkan.
Qeena berada dalam pelukan Dafi seusai sholat, tangisnya sulit berhenti. Berkali-kali Dafi menguatkannya, berkali-kali pula jatuh lagi air matanya.
Dari kejauhan, Fajar yang menuju musholla memperhatikan dua anak manusia tersebut. Dafi kembali sibuk menerima telpon dari berbagai pihak, dari kantornya, dari saudara dan handai taulan mengkonfirmasi berita yang didengar.
Fajar yang duduk disampingnya Qeena, kepala Qeena rebah dipundaknya Fajar karena mulai terasa pusing. Fajar mengurut keningnya Qeena.
Begitu Dafi membalikkan badannya, muncul perasaan bersalah memisahkan keduanya. Fajar dengan cintanya yang besar dan Qeena dengan perhatiannya yang tulus pasti mampu menjadi pasangan yang hebat kedepannya.
Dafi ga langsung menghampiri mereka tapi menunggu dibangku taman.
Tepat jam enam kurang lima belas menit, jenazah Pak Dzul sudah berada didalam ambulance menuju rumahnya.
"Udah Qeena, Ayah udah ga ada, jangan diratapi terus ya, kalo kamu sayang sama Ayah, do'akan beliau" ucap Dafi memeluk bahu Qeena, kepala Qeena bersandar dibahu Dafi.
Pak Dzul meninggal di hari Jum'at, hari baik buat umat Islam. Pergi setelah Dafi datang dan membisikkan kemampuannya menjaga keluarga dan menggantikan posisi Ayah tercinta.
Airbag dibagian supir mengembang, tapi entah kenapa sang supir meninggal di tempat. Dafi sudah menelpon keluarga korban, tapi meminta waktu dulu untuk mengurus jenazah Ayahnya baru dia akan datang kesana. Dafi juga mentransfer sejumlah uang untuk mengurus pemakaman sang supir.
🤍🤍🤍🤍🤍🤍🤍🤍🤍🤍🤍🤍🤍🤍🤍
Tenda sudah berdiri di halaman rumah Pak Dzul. Warga sudah banyak yang berkumpul. Keluarga masih tampak mengurus Bu Fia yang sangat emosional hingga pingsan berkali-kali. Izma pun tampak sama. Tubuhnya lemas ga berdaya. Damar selalu setia disampingnya sejak semalam. Orang tua Damar yang rekan Pak Dzul pun tampak sudah datang ke rumah duka. Rekan kerja Pak Dzul, Dafi dan Fajar pun sudah tampak berdatangan.
Mungkin sudah kebiasaan keluarga besar Pak Dzul, jika ada kematian ga mengirim karangan bunga, jadinya ga ada karangan bunga dari kantor. Karena menurut Pak Dzul, karangan bunga ga bermanfaat, hanya sebagai ucapan aja. Jadi dari pagi, makanan kecil hingga nasi box serta air mineral datang sangat banyak. Mak Imah dan Mak Nuha dibantu lainnya merapihkan semua makanan dan minuman yang ada di meja agar bagi pelayat yang belum sarapan bisa mengambil dan menikmati disamping rumah.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Suara sirine ambulance mendekat, semua yang ada didalam rumah langsung berhamburan keluar.
Qeena dan Dafi turun duluan. Masih aja Isak tangis ga terbendung, Mak Nuha merangkul putrinya. Mak Imah memberikan Qeena minum. Tas bajunya Dafi langsung diambil sama Mba Mini buat diamankan.
Rian yang belum paham, hanya melihat jenazah Ayahnya yang terbujur kaku dihadapannya. Bu Fia dan Izma yang kembali pingsan karena histeris.
"Eena ... Ayah .. Ayah bobo" tanya Rian dengan polosnya.
"Rian bisa kan baca Al Fatihah .. baca ya biar Ayah tenang" pinta Qeena.
Dafi dan Fajar tampak sedang berbincang sama Pak RT dan pengurus Mesjid. Rencananya akan dimakamkan sebelum sholat Jum'at, jam sembilan akan dimakamkan di pemakaman umum yang ga jauh dari rumah. Bu Fia udah setuju sama rencana Dafi.
Kenapa ga menunggu lama? karena harus disegerakan, keluarga juga udah begadang dari malam menunggu kabar, jadinya lebih baik disegerakan daripada semua tambah lelah.
Keluarga Pak Dzul sudah lengkap kumpul sehingga ga memerlukan waktu menunggu lebih lama lagi. Mereka mengaji bersama, Dafi dan Fajar ikut memandikan jenazah sang Ayah.
🏵️
Keluarga Iyus pun datang lengkap, mereka mengikuti pengajian dengan khusyu, hanya Iyus yang malah menikmati makan nasi kotak di halaman samping.
"Pak Iyus ga ikut ngaji tuh didalam, kan besan" ujar Mas Anto.
"Laper gw .. lagian udah banyak yang ngaji. Mumpung ini nasi kotak dari restoran Padang terkenal ya hajar bleh dulu" jawab Iyus.
__ADS_1
🌷
Bu Fia pingsan saat jenazah akan diberangkatkan menuju Mesjid. Akhirnya Qeena memutuskan buat ga ikut ke pemakaman karena ingin menjaga Bu Fia.
Isak tangis terus mewarnai prosesi mulai dari rumah menuju Mesjid untuk disholatkan kemudian dibawa ke pemakaman.
Fajar dan Dafi ikut turun ke liang lahat sebagai wujud baktinya pada Pak Dzul. Izma terus menggandeng Rian tepat disamping makam, rupanya Rian baru mulai paham kalo Ayahnya sudah meninggal dan akan dimakamkan, dia mulai bawel banyak bertanya ini itu ke Izma. Damar juga masih tampak bersama Izma.
Mak Nuha dan Mak Imah ga ikut, dia bersama yang lain merapihkan rumah dan menerima tamu-tamu yang masih berdatangan.
Adiknya Pak Dzul ada yang ga ikut juga karena mau menjaga Bu Fia yang keliatan banget susah menerima kenyataan harus berpisah sama suami tercintanya.
Bu Fia dibawa ke kamar buat istirahat. Qeena yang nungguin didalam kamar.
"Tante ... mau makan?" tanya Qeena.
"Panggil Bunda..." jawab Bu Fia lemah.
Qeena terpana mendengar jawaban Bu Fia.
"Kalo ikutin hati rasanya berat, tapi ini pesan terakhir Ayah Dzul .. beliau ingin kamu bisa memanggil panggilan yang sama seperti anak kandung" kata Bu Fia menjelaskan.
"Iya ... Iya Bun" jawab Qeena antusias.
"Ayah ... bahkan Engkau berwasiat untuk menjadikan aku sebagai anak .. bukan menantu .. terima kasih Ayah ... " ucap Qeena dalam hati.
Pintu kamar Bu Fia diketuk sama adiknya Pak Dzul.
"Masuk" jawab Qeena.
"Qeena .. diluar ada Chef Ale datang sendiri, guanteng pollll ... udah lama ga muncul di tivi, tapi aslinya lebih ganteng" ujar Adiknya Pak Dzul.
"Qeena nemuin Chef Ale dulu ya Bun" pamit Qeena.
Gantian adiknya Pak Dzul yang menemani Bu Fia.
💐
"Terimakasih atas kedatangannya Chef" ucap Qeena sambil duduk di karpet berhadapan sama Chef Ale.
"Maaf ya .. saya baru tau, tadi istri saya liat status medsos kamu, ngabarin pas saya udah jalan. Istri saya ga bisa ikut karena masih ada baby" jelas Chef Ale.
"Gapapa Chef .. jadi merepotkan" ujar Qeena.
"Ga kok .. sekarang semua ikut ke pemakaman?" tanya Chef Ale lagi.
"Iya Chef .. ga terlalu jauh dari sini, makanya jam sembilan udah jalan, biar jam sepuluh semua selesai. Sekarang kan Jum'at, jadi biar orang masih sempat sholat Jum'at" kata Qeena.
"Nanti malam ada pengajian?" tanya Chef Ale.
"Ada Chef" jawab Qeena.
"Nanti saya kirim kopi ya kesini, produk racikan saya dalam bentuk seperti teh sachet, hanya tinggal diseduh air mendidih aja, pasti kalo Bapak-bapak pada ngopi kan" kata Chef Ale.
"Jadi merepotkan ya Chef" ujar Qeena.
"Ga juga.. oh ya Qeena, kamu kabarin aja ya yang rencana kita meeting sama Mie Sehat, kalo belum bisa hadir, saya infokan ke pihak sana" ucap Chef Ale.
"Saya tanya Mas Dafi dulu ya Chef. Kemarin udah kasih ijin, tapi sekarang kan seperti ini ya, pasti akan ada pengajian selama tujuh hari. Saya urus itu dulu Chef, kursus pun saya akan ijin ga hadir" jawab Qeena.
"It's okay" ujar Chef Ale.
"Chef Ale .. boleh ga foto bareng?" tanya keluarga dari Pak Dzul.
__ADS_1
"Boleh..." jawab Chef Ale ramah.
Mendadak rumah seperti acara jumpa fans, ada yang minta foto bareng sampe bikin story di medsosnya. Chef Ale juga tampak ramah sekali melayani para fansnya.