
"Kayanya kita ga bisa ke warung soto yang itu deh, kedaerah pasar aja ya, ada kok yang enak juga" ajak Dafi.
"Emang soto apa tadi deh namanya?" ujar Raisha.
"Semurup" jawab Dafi.
"Ya itu ... ada bedanya sama soto yang lain?" tanya Raisha lagi.
"Ada Mba .. kan tiap daerah punya kekhasan masing-masing. Nah kalo soto semurup ini khas Kerinci, dengan toping dendeng sapi renyah dan bawang goreng yang melimpah membuat gagal move on deh" jelas Zahwa.
Mobil melaju perlahan. Sungai Penuh, kota kecil ini semakin ramai. Banyak ruko dibangun dan tempat makan baru bermunculan. Tiba di simpang lima Koto Renah, jalan arah ke Padang ditutup total. Ada acara adat sehingga jalan ditutup hingga jam empat sore. Kabarnya ada upacara adat penganugerahan gelar pemimpin adat dan penyucian benda pusaka. Akhirnya Dafi memutar arah ke Rawang. Lebih jauh, tetapi ga punya opsi lain. Jalanan Sungai Penuh yang sempit terasa makin sempit karena jalan makin penuh dengan kendaraan. Tiba di Pasar Semurup, jalanan macet karena hari pasar. Pasar Semurup yang saat hari biasa lengang menjadi sangat ramai. Banyak pedagang menggelar dagangan hingga menutup bahu jalan. Beberapa penarik bendi hilir mudik mengangkut penumpang. Di Kerinci, kuda masih dimanfaatkan dengan baik sebagai alat angkutan penumpang dan barang.
Mobil yang dikemudikan Dafi masuk ke lorong kecil ga jauh dari pasar. Akhirnya mereka tiba disebuah kedai yang sudah puluhan tahun menjual soto. Meski tempat ini kecil, halaman kedai penuh dengan mobil. Soto Semurup disini sekilas mirip soto Padang, berkuah keruh, berisi bihun, dendeng sapi, perkedel kentang dan bawang goreng yang melimpah. Aromanya kuat menusuk hidung.
Sepanjang mereka makan dan jalan bertiga, justru Dafi jadi orang yang paling diam. Kedua wanita yang bersamanya sibuk bercerita tentang kelebihan mereka masing-masing.
Fajar menelpon Dafi, dia melaporkan ke kakaknya kalo Qeena kemarin sudah diantar ke rumah Pak Shaka dan belum ada kabar lagi hingga hari ini.
"Uang yang Mas titipin ke Fajar buat kasih Qeena udah ditolak sama Qeena Mas. Katanya ga enak sama Mas, khawatir memanfaatkan situasi" cerita Fajar.
"Nanti Mas telpon sendiri deh ke dia. kamu ada jadwal Koas hari ini?" tanya Dafi.
"Free Mas, besok masuk dua puluh empat jam" jawab Fajar.
"Kalo bisa ke Ciloto coba temuin dia, cari kontrakan aja, jangan tinggal di rumah Aa' Zay, Mas belum ada omongan ke Aa' Zay soalnya, waktunya belum kebagian" perintah Dafi meminta tolong ke Fajar.
"Ga bisa Mas, mau anter Bunda nyari mukena sama sarung buat tahlilan hari ke tujuh Nenek" jelas Fajar.
"Ya udah, uang yang itu kasih ke Bunda aja buat tambahin beli mukena dan sarung" pinta Dafi.
"Siap Boss" ucap Fajar.
"Thanks ya" jawab Dafi.
"Mas ... Qeena kan orangnya keras kepala, kalo A ya pasti A lah yang dilakonin. Kalo nelpon dia jangan maksa harus terima perintah Mas dulu, pelan-pelan aja nasehatin, bilang itu kewajiban Mas" ujar Fajar ngajarin kakaknya.
"Ya" jawab Dafi.
"Mas kan belum cukup kenal sama tabiatnya, nih Fajar yang apal banget sama segala tingkah laku dan pemikirannya. Dia tuh masih labil banget, lagian Mas segala langsung mutusin buat nikahin dia, jadi ribet kan dia ngomong ke Damarnya" ujar Fajar sok dewasa.
"Udah dulu ya, nanti Mas hubungin deh, lagi makan nih, salam buat semua ya" jawab Dafi mengakhiri pembicaraannya sama Fajar.
"Ada apa Mas?" tanya Zahwa kepo.
"Fajar mau anterin Bunda nyari sarung sama mukena buat tahlilan tujuh hari Nenek" jawab Dafi menutupi.
"Mas udah kasih uang ke Bunda belum? kan ga enak kalo ga ikut patungan" saran Zahwa.
"Udah ... kebetulan Mas nitipin uang ke Fajar dan belum kepake, jadi pake uang itu dulu" kata Dafi.
"Berapa?" tanya Zahwa.
"Dua juta" jawab Dafi.
"Alhamdulillah kalo Mas kasih segitu, panteslah buat sedikit bantu beli sarung" kata Zahwa.
"Kemajuan banget ya .. seorang Dafi sangat terbuka dalam kehidupan pribadinya" puji Raisha yang kaget juga sebegitu terus terangnya Dafi ke Zahwa.
__ADS_1
"Iya Mba Raisha, kami udah komit buat terbuka, ya namanya udah serius .. jadi harus dibiasakan" jawab Zahwa.
⭐
Dafi singgah ke toko kue dulu sebelum mengantar Zahwa pulang , beli kue untuk tahlilan nanti malam. Tadi Raisha juga sudah diantar ke kantor dan barang-barangnya akan dibawa Dafi dulu ke kontrakan sekalian mengantar Zahwa pulang.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Jam dua siang, baru semua kerjaan Dafi kelar. Dia baru teringat akan nelpon ke Qeena.
"Assalamualaikum, lagi sibuk? bisa ngobrol agak lama?" sapa Dafi.
"Waalaikumussalam, bisa Mas, lagi nunggu kue lagi dikukus kok" jawab Qeena.
"Ada pesanan?" tanya Dafi lagi.
"Ya Mas .. dadakan Pak Shaka pesan sepuluh loyang. Ini tinggal dua lagi kok, yang delapan loyang udah dikasih topping" kata Qeena.
"Pak Shaka lagi di Ciloto?" ucap Dafi.
"Ga ... lagi di Pondok Indah, rumah aslinya kan disana" jawab Qeena.
"Jauh ya pesan kue dari Ciloto ke Pondok Indah, padahal banyak loh bakery ternama didaerah sana" ujar Dafi.
"Ya ...mungkin kan niatnya nolong, emang sih kue bikinan Qeena belum seenak bakery yang punya nama. Mungkin buat nyambung hidup Qeena jadi Pak Shaka order sama Qeena" kata Qeena dengan nada yang agak tersinggung.
"Maaf ... bukan mau maksud menghina kue buatan kamu, tapi kan ga efisien juga untuk ongkosnya, kecuali emang ada yang mau antar barang atau menuju ke Pondok Indah hari ini. Maaf ya .. maksud Mas tuh gitu" ungkap Dafi yang paham kalo Qeena tersinggung sama omongannya.
"Gapapa Mas .. oh ya ... nelpon mau perlu apa ya?" tanya Qeena.
"Ga enak aja Mas" jawab Qeena.
"Ga enak gimana ya maksudnya?" tanya Dafi.
"Ya kan pernikahan kita kaya gini" ujar Qeena.
"Kaya gini gimana?" tanya Dafi lagi.
"Jadi telpon cuma buat nanya itu aja? udah dapat jawaban kan?" kata Qeena.
"Kamu kayanya kalo sama Mas, dari dulu ga pernah ngomong panjang. Tapi kalo sama Fajar pasti ngobrolnya sepanjang kereta api" ujar Dafi yang akhirnya jadi kesel sama nada bicara Qeena.
"Kan udah dibilang, ga ada yang berubah diantara kita Mas. Emang dari dulu kita ga akrab kan? Jadi ya biarlah kaya gitu" ucap Qeena males-malesan.
"Selama kamu terikat sama Mas, tolong hormati posisi Mas sebagai suami kamu ya. Nanti kalo ketemu baru deh kita obrolin lagi semuanya" ucap Dafi yang malas nyari ribut.
Terdengar bunyi teriakan, ternyata Mak Nuha terpleset di kamar mandi. HP langsung diletakkan sama Qeena, dia menolong Emaknya.
"Mak ... ya Allah, licin ya kamar mandinya? kayanya tadi pagi udah disikat" kata Qeena sambil membantu Mak Nuha bangun.
"Bukan licin, tapi Emak merasa pusing aja" jawab Mak Nuha.
"Kan Qeena bilang, kalo mau jalan .. panggil Qeena aja, Emak kan dari semalam udah ngeluh pusing aja" kata Qeena sambil memapah Emaknya menuju kamar.
"Halo ... halo... Qeena ... ada apa? kayanya Mas dengar teriakan" ucap Dafi masih dalam sambungan telepon.
Qeena memang meninggalkan gitu aja HP nya di dapur.
__ADS_1
"Qeena ... Qeena ..." panggil Dafi.
"Qeena siapa?" tanya Raisha yang udah ada dibelakangnya Dafi.
Dafi buru-buru mematikan sambungan teleponnya.
"Ada apa ya? bisa kan ngetok pintu dulu" ingat Dafi tegas.
"Udah ngetok kali daritadi, ga ada jawaban ... kirain tidur, pas diintip lagi telponan serius banget. Ini berkas pusat yang harus diisi" jelas Raisha sambil meletakkan sekardus kecil berkas di meja Dafi.
"Makasih" jawab Dafi.
"Berarti nanti kita pulang bareng?" tanya Raisha.
"Ya .. jalan kaki" jelas Dafi.
"Deket ya?" tanya Raisha lagi.
"Lumayan, sekitar lima belas menit" kata Dafi.
"Kenapa ga bawa motor?" ujar Raisha.
"Disini udara masih segar, kenapa ga dimanfaatkan buat olahraga sekalian. Kalo di Jakarta baru deh muka kita bisa cemong kalo pulang pergi jalan kaki, secara polusinya parah banget" papar Dafi.
"Oke deh .. pulang jam berapa ya nanti?" tanya Raisha.
"Jam lima lewat lah, agak sedikit tenggo (begitu teng langsung go) soalnya ba'da Maghrib mau ke rumah Zahwa" jawab Dafi.
"Wakuncarnya rutin ya" ledek Raisha sambil tertawa kecil.
"Ada tahlilan disana, Ibunya Zahwa baru aja meninggal dua hari yang lalu" jawab Dafi dengan nada datar.
"Oh maaf .. ga tau" kata Raisha yang ga enak hati karena udah ngeledek Dafi.
"Lebih dari dua tahun ya kita ga ketemu, udah banyak yang berubah, dulu kayanya ga sebawel sekarang" ungkap Dafi.
"Gagal move on ya ... kok masih tersimpan rapih amat memory yang dulu" canda Raisha.
"Galon? sorry ga ada tuh dalam kamus Dafi kata-kata itu. Cukup kan seorang Zahwa menjelaskan apa arti kata move on?" balik Dafi.
"Serius abis lebaran mau nikah?" kata Raisha meyakinkan.
Dafi hanya tersenyum penuh teka teki, yang membuat Raisha malah jadi terpesona lagi terhadap Dafi.
"Kenapa dia jadi makin menggoda ya? dulu kayanya lempeng aja, sekarang bicaranya lebih lugas tapi makjleb banget. Ya Allah ... berasa nyesel juga mutusin dia karena adiknya. Harusnya gw bisa lebih sabar ya, toh kans ketemu adiknya juga jarang. Lagian dunia medis makin berkembang, segala cacat bisa terdeteksi dari awal" gumam Raisha.
⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐
"Mak ... kita ke Klinik aja dulu yuk, kan Mak emang udah ga fit hampir seminggu ini" ajak Qeena.
"Emang kamu ada uang?" tanya Mak Nuha yang emang ga punya pegangan uang lagi.
"Ada Mak ... kan ada lebihan dari pesanan kue Pak Shaka" jawab Qeena.
"Tapi kan buat makan sampe kita punya usaha lagi. Kan belum jelas juga masalah gajian kita sama Aa' Zay" sahut Mak Nuha.
"Mak ... yang penting sehat dulu, masalah uang nanti Qeena yang urus. Emak tenang aja" kata Qeena penuh keyakinan.
__ADS_1