ROTI BAKAR

ROTI BAKAR
* Slice 193, Berdua aja


__ADS_3

Jam sembilan malam, Qeena membantu Dafi merapihkan bawaannya. Dafi yang menyortir baju-baju, Qeena yang melipat dan memasukkan kedalam koper.


Pintu kamar Dafi terbuka walaupun AC menyala. Dia hanya ga mau malah jadi godaan buat dirinya sendiri dengan hanya berduaan sama Qeena. Ditambah dari tadi Bundanya udah mengingatkan kalo ini udah malam, waktunya Qeena pulang.


Izma dan Fajar udah tidur di kamarnya masing-masing. Jadi lantai atas bisa dibilang sepi.


"Mas lama disana?" buka Qeena.


"Kenapa? ga bisa jauhan ya sama Mas? takut kangen?" ledek Dafi.


"Bukan gitu Mas .. tau sendiri kan gimana Tante Fia terhadap kami, kalo Mas ga ada apa nanti kami ga diusir dari rumah?" tanya Qeena hati-hati.


"Ngusir? apa alasannya coba? kamu istri Mas, rumah yang ditinggalin pun itu rumah Mas yang berdiri diatas tanah yang udah diberikan sama Ayah bahkan udah ganti nama menjadi nama Mas. Kamu sama Mak Nuha juga Mas yang nafkahin, ga numpang hidup sama Ayah Bunda. Jadi apa alasannya buat ngusir kalian?" ujar Dafi.


"Mas .. Tante Fia ga akan bisa berubah, sekali membenci kami, kayanya akan terus benci. Sebaik apapun Qeena mencoba, tetap aja ga ada arti. Kadang malah bikin sakit hati" curhat Qeena.


"Maaf ya .. buat pas sahur yang bilang rendangnya keasinan, pas pagi sampe siang kamu diminta masak buat hantaran, menjelang sore pun kamu masih juga yang diminta buat nyiapin semuanya. Bagaimana pun juga Bunda itu kan orang tua Mas .. orang tua kamu juga. Pasti sulit bagi Mas harus berdiri diantara kalian, tapi Mas akan mengupayakan biar ga ada benturan lagi kedepannya. Selama Mas jauh, kamu usahain buat ga mendekat ke Bunda. Kamu pinter-pinter cari alasan biar ga disuruh ini itu, toh orderan kue kamu juga belum selesai. Jadi selesaikan semua kewajiban orderan itu, setelahnya terserah deh, yang penting jadikan momen Ramadhan ini berbeda dari tahun sebelumnya. Kamu ga perlu banting tulang buat mikirin kirim ke Mbah, ada Mas sekarang yang mikir" nasehat Dafi.


"Sulit Mas... mana mau terima alasan kalo Qeena sibuk sama orderan" jawab Qeena.


Dafi duduk disampingnya Qeena yang lagi merapihkan baju di lantai.


"Mas tau kamu wanita kuat Neng. Ada atau ga ada Mas .. kamu bisa kok berdiri tegak. Sebenarnya ada yang Mas mau share, tapi tunggu waktu boleh? karena Mas ingin memastikan semuanya dulu, mengajak semua orang berkumpul biar mendengar dari banyak sisi. Ini masalah keluarga, jadi patutnya diselesaikan dengan cara kekeluargaan pula" ucap Dafi.


"Tentang apa sih Mas?" tanya Qeena penasaran.


"Dua pekan lagi Mas pulang, Mas akan panggil semuanya, kita duduk bareng. Bisa kan nunggu sampe waktu itu tiba?" jawab Dafi.


"Oke... Qeena percaya kok kalo Mas itu pasti memperhitungkan dengan cermat semuanya. So .. jaga kepercayaan Qeena ya, jangan macem-macem disana" kata Qeena.


"Kayanya kebalik deh, yang banyak fansnya tuh kamu. Fajar, Damar, Chef Ale .. belum anak-anak daerah sini, tambah sama semua lelaki yang ngeliat kamu.. wah pokoknya banyak deh. Kamu tuh yang harusnya jangan aneh-aneh" ujar Dafi.


"Tenang Mas .. kan Qeena udah merasa nyaman sama Mas. Ga tau kenapa ya, Mas mampu menjadi seperti yang Qeena mau. Ga menghakimi masa lalu dan trauma yang Qeena rasakan, dari dulu juga sangat menjaga Qeena dan yang lebih penting, Mas itu sayang sama Mak Nuha seperti Qeena sayang Mak Nuha. Mas kan tau, Mak Nuha adalah sosok yang paling penting dalam hidup Qeena" ucap Qeena.


"Neng .. ini nih yang bikin Mas jedag jedug kalo deket sama Eneng .. manis banget kata-katanya .. udah gitu wajahnya meneduhkan hatiku kaya hujan yang mengguyur bumi" canda Dafi.


"Sama Mas .. cara Mas memandang juga bikin melayang, cara Mas menjaga pun bikin ga mampu hati ini ngerasa terjaga" ucap Qeena jujur.


"Jadi judulnya udah sayang nih sama Mas?" goda Dafi.


"Iya .. Mas itu baik dari dulu, tapi kenapa udah menikah jadi baiiiikkkkk banget" ucap Qeena.


Dafi yang gemes sama Qeena langsung aja memeluk Qeena dari belakang.


"Hati Mas udah menjatuhkan pilihan sama kamu Neng, walaupun bukan yang pertama, tapi insyaa Allah akan jadi yang terakhir. Mencintai kamu adalah proses paling indah yang sulit Mas pahami bagaimana semua ini bisa terjadi. Makanya Mas menikmati waktu-waktu bersama, menikmati segala kebahagian yang bersumber dari kamu, senyum dan canda tawa kamu, bahkan kesedihan dan amarah kamu. Selalu takjub ketika melihat kelelahan dan semangat kamu. Tanpa diminta, Mas udah berusaha mengubur dalam-dalam kisah masa lalu Mas. Bahagialah selalu Neng, bahagiamu itu menyejukkan Mas. Mas akan selalu mengagumi setiap langkah yang kamu jalani" bisik Dafi dengan lembutnya.


Qeena memberanikan diri membalikkan tubuhnya menghadap ke Dafi.


"Mau ungkapin sesuatu?" tanya Dafi dengan lembut.


Qeena tersenyum manis kearah Dafi.


"Terima kasih udah menggariskan senyum di wajah Qeena. Terima kasih udah membuat bisa leluasa tertawa setiap hari. Lewat cara yang sederhana, Mas selalu membuat senyum ini hadir. Gak pernah ada kalimat menghakimi dan mampu menenangkan hati dan membuat Qeena yakin bahwa semua akan baik-baik aja. Makasih udah membuat Qeena merasakan dunia yang lebih indah dan cahaya matahari yang lebih terang dari sebelumnya. Mas selalu bisa membuat percikan api semangat yang indah layaknya kembang api" ucap Qeena dengan jarak yang semakin dekat sama Dafi.

__ADS_1


Dafi bak kesirep, ga bisa bergerak dan berkata-kata lagi. Dia hanya terdiam memperhatikan wajahnya Qeena yang terlihat makin cantik.


"Kini .. Qeena udah nemuin tempat yang paling nyaman di dunia ini .. dihati Mas" jujur Qeena mengakui sambil nunjuk kearah dadanya Dafi.


Lelaki mana yang ga tergoda melihat wanita cantik dalam jarak sedekat itu. Seolah Qeena memancing Dafi untuk bertindak lebih lanjut lagi. Dan memang Dafi sangat tergoda.


"Neng .. Mas beneran pusing nanti nih" bisik Dafi.


"Pusing kenapa Mas?" tanya Qeena dengan polosnya.


"Gimana sih rasanya ingin tapi ga terlaksana? jangan mancing-mancing deh Neng, jujur aja Mas udah kepancing, nanti kalo kolamnya Mas obok-obok kamunya yang ga siap" ucap Dafi makin mendekat.


Ketika hanya tinggal jarak tiga centimeter aja, HP Dafi berbunyi, dari Kepala Personalia. Dafi langsung mengangkatnya dan agak menjauh dari Qeena.


Setelah lima menit menerima telepon, Dafi tampak menelpon orang lain dan agak serius bicaranya.


Dafi kembali duduk disebelah Qeena, Semua bawaan Dafi sudah siap dalam waktu satu jam aja.


"Mas besok harus berangkat ke Semarang, ini udah janjian abis subuh jalan. Jadi nanti supir kantor sama rekan yang dari Banten akan makan sahur disini, tolong siapkan ya tambahan sahur buat tiga orang" pinta Dafi.


"Ada apa sih Mas?" tanya Qeena.


"Kepala kantor yang disana meninggal, akan langsung dibawa ke Surabaya, Mas diminta jaga kandang sana karena lusa ada tamu dari daerah Timur. Jadi hari ini harus cepat mempelajari. Sekarang jam sebelas ya .. kamu tidur disini aja ya sama Mas .. ya kita nikmati kebersamaan sebelum jadi pejuang rindu bertemu" pinta Dafi.


"Nanti Emak nyariin Mas" ucap Qeena.


"Ga .. Mas kan udah bilang kalo kamu ga balik ke rumah. Makanya Mba Parti tidur disana nemenin Mak Nuha" jawab Dafi sambil menutup pintu kamarnya dan mengunci rapat.


"Sini naik..." ajak Dafi.


Qeena masih terdiam serba bingung. Mungkin dia merasa bahagia aja bersama lelaki yang mulai dikagumi, tapi ada kekhawatiran akan terjadi sesuatu malam ini diluar kendalinya dan Dafi.


"Tenang aja .. ga usah mikir yang aneh-aneh" ujar Dafi lagi.


"Tapi Mas... Qeena balik aja deh" ucap Qeena yang berdiri dan berjalan menuju pintu.


Qeena terdiam didepan pintu, bingung melihat handle pintu yang ga ada kunci tergantung disana.


"Kok ga jadi keluar?" ledek Dafi.


"Gimana mau keluar kalo ga ada kuncinya" jawab Qeena memelas.


"Artinya harus tidur disini malam ini .. hehehe" ujar Dafi.


"Mas .. jangan becanda deh" ucap Qeena.


"Becanda gimana sih. Ya kalo ga ada kuncinya berarti tidur disini, gitu aja repot. Lagian semua orang rumah juga udah tau kok kalo kita udah nikah. Ga bakalan kita diomelin" jawab Dafi santai.


"Masssss...." kata Qeena merajuk.


"Jangan manggil gitu dong Neng .. ini udah mencoba menenangkan hati biar ga kegoda .. kamu malah manggilnya gitu" ucap Dafi.


Dafi menghampiri Qeena yang masih berdiri didepan pintu. Dafi mendekati Qeena. Tubuh Qeena menempel di pintu kamar. Wajah Dafi mendekati wajahnya Qeena.

__ADS_1


"Awas ya ... Mas mau macam-macam kayanya nih" kata Qeena.


Klik... saklar diturunkan, lampu utama kamar dimatikan sama Dafi.


"Mas ... kok lampunya dimatiin sih" ujar Qeena rada panik.


"Mas ga bisa tidur kalo terang benderang, tuh masih ada lampu kecil disampingnya tempat tidur" kata Dafi sambil balik ke kasurnya.


Qeena masih diam.


"Mau berdiri sampe kapan disitu? atau mau kaya pasangan lain yang digendong ke kasur?" tanya Dafi penuh kemenangan.


"Ga usah" jawab Qeena rada takut.


"Ya udah sini... tidur .. kan kita udah pernah tidur bareng" sahut Dafi.


"Qeena tidur di karpet aja deh Mas" usul Qeena.


"Neng .. ini ada kasur empuk malah milih karpet, emang kamu mau tidur apa mau ngajak ngobrol semalaman" kata Dafi.


Qeena masih juga ga beranjak.


"Mas itung nih .. kalo ga tidur di kasur juga .. Mas gendong terus iket biar ga bisa gerak" ujar Dafi iseng.


"Jangan.. jangan .. iya iya naik .. tapi Mas jangan sampe minta yang aneh-aneh" tawar Qeena.


"Janji ga yaaaaa" ledek Dafi.


"Tuh kan Mas mah ga bisa dipegang omongannya" protes Qeena.


"Makanya sini dulu .. Mas kan cuma mau meluk kamu aja. Buat bekel dua Minggu kedepan" sahut Dafi.


"Itu mah sebentar juga udah balik" jawab Qeena yang akhirnya duduk ditepi ranjang.


"Cieee... belum berangkat udah kangen ya" goda Dafi.


"Nuduh ... kan Mas sendiri yang bilang bakal balik cepat" bela Qeena.


"Tapi kan kondisinya gini Neng, Mas sibuk pastinya. Tapi Mas usahakan balik dua Minggu lagi. Mana tahan coba ga liat istri .. apalagi tanpa memelukmu.. hehehe" rayu Dafi.


Begitu Qeena merebahkan tubuhnya diatas kasur, langsung Dafi memeluknya dari samping.


"Tuh .. Mas rese kan" kata Qeena berusaha melepaskan pelukannya Dafi.


"Peluk doang dikiiitttt" jawab Dafi.


"Ga yakin cuma peluk doang" ujar Qeena.


"Terus mau yang lebih lanjut?" tantang Dafi makin iseng.


"Nanti ya .. kalo Qeena udah siap" pinta Qeena.


"Oke .. sekarang tidur yang nyenyak, bentar lagi kan kamu bangun nyiapin sahur" saran Dafi.

__ADS_1


__ADS_2