ROTI BAKAR

ROTI BAKAR
* Slice 24, Perpisahan


__ADS_3

Hari ini Fajar bolos sekolah demi melihat kepergian Qeena. Mak Nuha sengaja menyewa mobil karena membawa barang yang lumayan banyak, ada oven dan semua perlengkapan bikin roti, tv serta baju-baju. Fajar ikut membantu memasukkan barang-barang tersebut kedalam mobil.


"Qeena ... jangan lupa sama Mas Fajar ya, janji ya akan selalu kirim kabar setiap harinya. Jangan takut kehabisan pulsa sama paket, nanti Mas isiin dari sini" ucap Fajar saat Qeena sudah duduk dalam mobil.


"Jangan nakal lagi ya Mas, katanya mau jadi dokter, pokoknya ditunggu ya kabar jadi dokternya. Semoga Mas jadi kebanggaan keluarga" jawab Qeena.


"Kalo Mas jadi dokter, Qeena mau ya jadi perawatnya?" ucap Fajar lagi.


"Dulu emang Qeena punya impian itu, tapi sekarang ga tau mau jadi apa Mas, kasian Emak harus cari uang terus buat Qeena. Do'akan aja Qeena jadi anak yang baik dan berguna buat keluarga. Kalo mas Fajar ada rejeki, main ya ketempat Qeena di Wonogiri" kata Qeena.


"Mak Nuha ... jaga Qeena buat Fajar ya, nanti Fajar akan datang kesana ... Fajar janji akan datang menjemput Qeena dan Mak Nuha" ucap Fajar sambil mencium tangan Mak Nuha.


"Titip salam buat keluarga ya, terutama Nenek. Maaf kalo kami ga bisa berpamitan secara langsung. Semoga kita bisa ketemu lagi lain waktu. Kamu juga jangan malas sekolah, gunakan fasilitas yang dikasih orang tua dengan baik, karena ga setiap anak beruntung seperti kamu" ucap Nuha sambil mengelus rambut Fajar. Kemudian Fajar merangkulnya.


Dekapan Nuha adalah sebuah dekapan seorang Ibu yang sangat hangat, makanya Fajar ikut memanggil Nuha dengan dlsebutan Emak, sama seperti Qeena. Selain rasa sayangnya pada Qeena, Fajar juga merasakan rasa sayang ke Nuha seperti ke Bundanya.


Mobil bergerak meninggalkan rumah petakan dan nantinya akan melewati kios roti bakar yang penuh kenangan untuk Nuha dan Qeena. Lambaian tangan Mak Nuha dan Qeena pada semua tetangga meninggalkan tetesan air mata bagi semuanya.


"Ku lepas kepergianmu dengan senyuman, bayangan senyummu akan selalu membuatku tersenyum mengenang saat-saat indah yang kita lewati bersama. Selamat melangkah Qeena, akan kujemput nanti jika aku sudah mampu memantaskan diri buatmu. Damaikanlah bumi yang akan menjadi tempatmu bernaung nanti, segarkan tanah tempat kau berpijak nanti, tentramkan mereka yang ada bersamamu, lindungi mereka yang ada didekatmu. Semoga kamu ingat tempat ini, ada hati yang menunggu disini. I love you Fadhilla Shaqeena" ucap Fajar dalam hati.


Rasanya separuh jiwanya Fajar ikut pergi. Andai saja Qeena bukanlah anak yang baru lulus SD, ingin rasanya Fajar mengutarakan isi hatinya. Betapa rasa persahabatannya udah berubah menjadi rasa cinta yang mendalam. Qeena adalah cinta pertamanya. Fajar merasakan hal ini ketika dia akhil baligh disaat duduk di kelas enam SD. Hatinya berdesir melihat kecantikan seorang Qeena yang makin besar makin cantik.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Jum'at pagi Bu Fia terlihat duduk diam di taman belakang rumahnya, semalam baru aja Bu Fia pulang dari luar kota. Dafi yang hari ini libur kuliah karena ga ada jadwal ujian, mendekati sang Bunda. Dia memijit kaki Bundanya dengan perlahan.


"Libur kuliah Mas?" tanya Bu Fia.


"Iya Bun ... cape ya Bun?" tanya Dafi balik.

__ADS_1


"Ya begitulah ... makin tua semua kerjaan jadi terasa berat. Maklum udah beda daya tahan tubuhnya" ucap Bu Fia menarik nafas agak panjang.


"Rehatlah Bun, jangan keluar kota lagi, pasti banyak yang bisa gantiin tugas Bunda kan. Bunda di kantor aja. Posisi Bunda kan udah tinggi, pasti udah punya banyak anak buah, jadi mulailah didelegasikan dikit-dikit" usul Dafi.


"Ga bisa Mas, pergi keluar kota tuh buat ilangin stress ... kamu tau kan kalo tiap ketemu sama Ayah pasti adanya Bunda curigaan mulu dan jadinya malah ribut, mikirin Ayah juga jadi banyak curiganya. Lagian dari muda emang Bunda suka banget traveling Mas" ungkap Bu Fia.


"Mak Nuha dan Qeena sekarang udah pindah Bun ke Wonogiri, jadi Bunda ga usah cemas lagi sama hubungan Ayah dan Mak Nuha ya" adu Dafi.


"Tau dari mana kalo mereka pindah?" tanya Bu Fia.


"Fajar" jawab Dafi singkat.


"Fajar masih berhubungan sama mereka? kok kamu ga larang sih Mas. Fajar susah banget dibilanginnya sama Bunda" Kata Bu Fia rada sewot.


"Ya ... udahlah Bun, toh Ayah dan Mak Nuha udah panjang berbicara ke Bunda kan? Mereka hanya berteman, ga ada embel-embel apapun. Murni Ayah mau bantu pengobatan Qeena dulu, toh setelah Qeena dinyatakan sudah sehat dengan status tidak gizi buruk, Ayah ga bantu lagi. Mak Nuha itu usaha bantu Mal Leha Bun. Uang yang dari Ayah murni buat pengobatan Qeena" jelas Dafi.


"Bun ... sejak Mas nemenin Bunda ngelabrak Mak Nuha, Mas stress kan sampe memilih masuk pesantren. Hingga kini kenapa pertanyaan Bunda masih sama? Mana ada anak yang sanggup memilih diantara kedua orang tuanya Bun. Ayah dan Bunda adalah satu kesatuan dalam hidup kami semua, sekarang kalo dibalik, bisakah Ayah atau Bunda memilih diantara kami berempat? pasti ga bisa kan? semua memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing" ungkap Dafi.


"Tapi Mas ... Ayahmu udah berani main hati dengan wanita lain. Kalo ga ada hati sama Nuha, ga mungkin Ayah sampe menggelontorkan dana buat pengobatan Qeena, lagipula Nuha mentang-mentang janda ya kaya kegatelan, mumpung ada lelaki kaya ya ambil kesempatan menjual kondisi Qeena buat menguras harta Ayah" tutur Bu Fia.


"Astagfirullah, kenapa begitu terus sih Bun pikirannya .. kalo laki-laki berniat selingkuh atau apapun itu namanya, berarti ada yang salah, kalo ga dari laki-lakinya ya wanitanya. Ayah mungkin terjebak dilingkaran atas nama iba dan balas budi ke Mak leha, Mak Nuha pun terseret atas nama balas budi karena Ayah membantu mengobati Qeena. Toh ga ada bukti apapun yang menerangkan ada sesuatu hubungan antar keduanya. Keduanya ga pergi bersama dan selalu ada orang diantaranya. Maaf ya Bun, coba Bunda juga instrospeksi diri. Kenapa Ayah nyaman berkawan sama Mak Nuha, pernah ga Bunda mikir kalo sekarang Ayah kerja makin jauh dan buat pulang pun susah karena selain biaya yang besar, butuh waktu lama buat sampe ke Jakarta. Kenapa saat Ayah ditugaskan ke Indonesia timur Bunda ga mau juga ikut dampingin Ayah, apa Bunda ga takut ada ribuan wanita diluar sana yang akan mampu menggoda Ayah. Bisa jadi wanita itu lebih muda, lebih cantik dan lebih perhatian sama Ayah. Mas ga nyalahin kalo Ayah disana nikah lagi" jelas Dafi.


"Kok gitu Mas ... Mas ga sayang ya sama Bunda, mau liat Bunda sedih terus?" sahut Bu Fia.


"Mas cuma mau membuka pikiran Bunda aja" jawab Dafi.


"Oh ya Bun, kenapa Bunda masih nyalahin Mak Nuha aja sampe detik ini ... pengobatan Qeena kan udah berakhir dari sembilan tahun yang lalu. Ayah cuma bantu pengobatan setahun aja kok" kata Fajar tiba-tiba ada di taman belakang.


"Loh..kok jam sepuluh kamu udah pulang sekolah?" tanya Bu Fia.

__ADS_1


"Bolos" jawab Fajar enteng.


"Kenapa bolos? Mau jadi apa sih kamu, udah sering berantem di sekolah, eh sekarang juga bolos, pusing Bunda sama kamu" ucap Bu Fia kesal.


"Pengen ketemu Qeena sama Mak Nuha, kan kita ga tau nanti Allah pertemukan kita lagi atau ngga" jelas Fajar.


Walaupun Qeena jauh lebih muda dari Fajar, tapi Qeena lah orang yang paling Qeena dengar omongannya saat Fajar berselisih paham dengan orang tuanya.


"Mak Nuha adalah seorang ibu yang selalu menasehati tanpa membandingkan dengan orang lain Bun, yang selalu ada saat Fajar butuh berkeluh kesah, memasakkan makanan yang Fajar suka ... dan satu lagi Bun ... Bahkan dekapan serta do'anya yang selalu Fajar rindukan. Mampu Bunda kaya Mak Nuha?" tantang Fajar.


"Jangan kamu banding-bandingin Bunda sama pelakor itu ya" ucap Bu Fia marah.


"Siapa yang pelakor Bun? Bunda ga pernah peduli sama penjelasan Mak Nuha" ujar Fajar.


"Udah Bun ... Bunda istirahat di kamar ya, kita mau siap-siap sholat Jum'at dulu" ajak Dafi ke Bu Fia untuk melerai keributan.


Fajar dan Dafi jalan bareng ke Masjid dekat rumah mereka. Sepanjang jalan keduanya diam, bicara seperlunya aja. Pulang sholat, barulah Dafi mengajak Fajar ke taman jajan sambil menikmati makan siang yang banyak pilihannya disana. Fajar menjatuhkan pilihan ke tongseng kambing yang jadi favorit banyak orang di taman jajan itu. Kalo Dafi lebih memilih Mie Ayam buat makan siangnya.


"Jar ... jangan ngelawan mulu sama orang tua. Please ya ... Bunda kan orang tua kita yang wajib kamu hormati. Masa kamu lebih membela Mak Nuha sih daripada Bunda" buka Dafi.


"Mas ga tau kan sebenarnya kaya gimana Mak Nuha dan Ayah kan?" kata Fajar sambil menikmati makanannya.


"Mas tau kalo Ayah ga berselingkuh, hubungan Ayah sama Mak Nuha murni pertemanan. Mak Nuha juga pandai menjaga diri. Ayah pun sama. Nenek pun selalu ikut diantara mereka" ucap Dafi.


"Nah itu Mas tau ... kok bisa-bisanya Bunda ngelabrak dan bikin malu Mak Nuha sembilan tahun yang lalu. Sampe sempet pindah kios, tapi setelah dua tahun balik lagi ke tempat itu" kata Fajar.


"Udahlah Jar ..vga usah ikut campur urusan orang tua" sahut Dafi.


"Mas ... Mas ga pernah dengar pertengkaran Bunda dan Ayah kalo ketemu, Mas memutuskan masuk pesantren buat menghindar kan? Lalu kami hidup dengan kasih sayang yang ga utuh. Ga pernah ada lagi jalan bareng sekeluarga. Ayah lebih baik menyibukkan diri di rantau daripada pulang ke rumah terus bertengkar, Bunda pun lebih bahagia bersama teman sosialitanya. Terus Fajar, Rian sama Izma harus hidup ditengah kondisi kaya gitu. Kami akhirnya mencari kesenangan masing-masing. Rian tuh udah pindah-pindah kebanyak sekolah beberapa kali. Rian anak istimewa Mas tapi Bunda ga ngasih perhatian yang berbeda ke dia, Bunda ga mau terima kalo Rian istimewa" rutuk Fajar.

__ADS_1


__ADS_2