
Aa' Zay mendekati Nuha dan Qeena di saung. Dia menghentikan mobilnya bersebelahan sama saung.
"Assalamualaikum .. maaf Ibu dan adik ini mau kemana ya? mungkin saya bisa bantu" sapa Aa' Zay.
"Waalaikumsalam ... maaf kami hanya istirahat sebentar Pak" jawab Qeena yang ketakutan.
"Neng ... ini udah malam, kayanya kalian dari Jakarta ya. Mungkin kalo disana jam sembilan malam masih rame, tapi kalo disini mah udah sepi" papar Aa' Zay.
"Kami permisi dulu Pak" kata Qeena sambil merapihkan bawaannya dan bersiap meninggalkan saung.
"Tunggu ... saya bukan orang jahat. Saya berniat menolong kalian. Panggil aja saya Aa' Zay. Saya bisa dibilang cukup kenal sama banyak warga sini dan mereka pun tau siapa saya. Jadi mau ada keperluan apa didaerah sini? mau ketemu siapa?" ulang Aa' Zay bertanya.
"Sebenarnya Pak ... eh Aa' Zay ... kami ga punya arah tujuan, kemana kaki kami melangkah disitulah kami akan tinggal" jawab Nuha buka suara.
"Tapi dengan berdua aja, terus malam kaya gini, berbahaya Bu buat kalian berdua" jelas Aa' Zay.
"Kami tau ini berbahaya, tapi kami ga punya pilihan lagi. Panggil aja saya Mak Nuha ... ini Qeena, anak Emak" kata Nuha.
"Gini aja deh Mak ... saya liat kayanya wajah kalian ini menyimpan sebuah rahasia yang menakutkan. Malam ini biar tenang, bisa ikut ke rumah saya dulu. Besok pagi kita bisa dipikirkan mau gimananya" saran Aa' Zay.
Nuha dan Qeena saling berpandangan.
"Tenang aja ... ada istri saya di rumah. Saya ga akan macam-macam kok. Saya ikhlas niat menolong" ujar Aa' Zay yang paham kalo orang patut curiga sama kebaikan yang tiba-tiba datang.
"Ini KTP saya, alamatnya daerah sini kan? liat fotonya sama kan?" tunjuk Aa' Zay untuk meyakinkan.
Setelah berpikir sejenak, akhirnya Nuha dan Qeena ikut sama Aa' Zay menuju rumah.
"Jadi merepotkan ya?" ujar Nuha basa basi.
"Ga kok Mak, saya tau Emak sama anaknya ini orang baik, makanya hati saya tergerak buat membantu. Lagipula sudah malam, kok saya ga tega ya liatnya. Emang rencananya kalo lelah malam ini mau tidur dimana?" tanya Aa' Zay.
"Mungkin kami mau cari Musholla atau Mesjid aja buat tidur" jawab Nuha.
"Kalo Mesjid atau musholla di kampung ini sekitar jam sepuluhan sudah dikunci. Karena kampung kami bukan jalan utama, jadi ga ada orang mampir buat sholat, selain itu juga menjaga keamanan barang inventaris aja. Soalnya beberapa Mesjid pernah ilang sound systemnya" jelas Aa' Zay.
Sekilas Aa' Zay melihat Qeena dari kaca depan. Wajah ayunya terkena pantulan sinar lampu sangat menarik.
"Astaghfirullah ... Zay .... inget Erin sama anak-anak ..." ucap Aa' Zay dalam hati.
πΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏ
Gak hanya keluarga Pak Dzul yang kelimpungan mencari jejak dari Qeena dan Nuha, tapi Damar pun ikut pusing juga. Dia berkeliling mencari ke rumah teman sekelas Qeena yang dia tau.
HP nya Qeena dan Nuha pun sama-sama ga bisa dihubungi hingga sekarang ini. Dafi yang masih diluar kota pun hanya bisa membantu do'a aja.
"Aduh Qeena ... kamu kemana sih, tadi udah tanya sama keluarga di Wonogiri katanya kamu ga pulang. Kan jadi ga enak bikin cemas semua disana, abis gimana lagi ... ga punya pilihan selain memastikan ke kampung" ucap Fajar penuh kepanikan.
"Lapor polisi aja apa ya Mas?" usul Izma.
"Kayanya ada aturan berapa hari gitu baru bisa dilaporkan. Tapi kasian juga kalo mereka dicari pihak berwajib kesannya kaya orang jahat" ujar Fajar.
"Kasian mereka kan Mas, punya uang ga ya mereka?" tanya Izma.
"Ga tau deh. Qeena sama Mak Nuha kan ga punya rekening Bank" ucap Fajar makin pusing.
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
Nuha dan Qeena diminta istirahat di kamar tamu, ada kamar mandi didalamnya.
Aa' Zay dan Erin lanjut ngobrol di kamar mereka.
"Aa' kok bisa-bisanya bawa orang yang ga dikenal ke rumah kita? kita punya anak A' .. nanti kalo mereka orang jahat gimana?" tanya Erin.
__ADS_1
"Dari mukanya ga keliatan orang jahat, lagian mereka wanita, mana kuat sih berbuat macam-macam disini" jawab Aa' Zay penuh kesabaran.
"Jangan sekedar kasian liat mereka di jalan terus Aa' bawa pulang, emang rumah kita ini barak penampungan? kalo Aa' tiap ketemu orang terus dibawa pulang, jadi apa rumah kita ini" ucap Erin.
"Astaghfirullah .. jangan lupa sejarah Rin. Bukankah kamu pernah juga ngalamin seperti mereka? apalagi saat itu kamu masih kecil, ga tau harus apa dan bagaimana" sahut Aa' Zay.
"Ketauan kan kalo masih kecil ga akan punya niat jahat" jawab Erin.
"Kata siapa? bisa aja kan saat itu Babe Wandi dan Nyak Rohana disangka jadi pelaku penculikan anak karena kamu sebagai jebakannya. Orang mah kalo mau jahat ga pake mikir gimana caranya, semua bisa dimanfaatkan termasuk anak kecil" kata Aa' Zay.
"Terus mereka mau sampai kapan disini?" tanya Erin lagi.
"Kita tunggu besok pagi ya. Biar mereka tenang dulu. Please Rin ... Aa' juga lihat-lihat orang kalo mau dibawa kesini. Lihatlah keduanya, masih polos banget kan? Hanya sampai mereka tenang terus kita tanya mau kemana tujuannya. Besok kamu tanya ya ke mereka. Aa' antar Zavier ke sekolah, Zayda titip ke Valen dulu. Nanti Zafran juga titip sebentar ke Mama Tikah. Mungkin kalo rumah sepi, mereka mau ngomong sama kamu" pinta Aa' Zay.
πππππππππππππ
Pagi harinya, Izma mendapat kiriman paket dari ekspedisi. Jelas tertulis nama dan alamatnya secara lengkap beserta nomer HP. Izma merasa ga pesan, tapi dia akhirnya memutuskan untuk membukanya.
"Pagi-pagi udah datang aja paket" kata Pak Dzul sambil sarapan.
"Iya nih ... tumben jam tujuh pagi paket udah datang" jawab Izma.
"Paling juga belanjaannya dia di Shuppie, kan kemarin banyak flash sale tuh" ledek Fajar sambil mengunyah roti.
"Kuranginlah belanja online kamu, beli hal-hal yang perlu aja daripada numpuk. Ayah pernah liat di kamar kamu aja tuh lipstrik sampe berjejer banyak. Kan bibir cuma satu, emang mau kamu oles semua ke bibir. Nanti kalo udah habis ya baru beli lagi" nasehat Pak Dzul.
"Itu udah ngurangin Yah ... ngurangin saldo Shuppie pay yang Bunda kasih .. hehehehe. Ya namanya anak cewe yah, skincare tuh perlu, biar glowing" jawab Izma.
Begitu dibuka, kagetlah Izma. Ada dua handphone berada didalam kardus berbungkus bubble wrap.
"Ini kan HP nya Mak Nuha dan Qeena" ujar Izma sambil memperhatikan HP.
"Coba liat" kata Fajar sambil mengambil handphone di tangannya Izma.
Jadi kemarin sebelum pergi naik bus. Nuha dan Qeena menuju ekspedisi yang ada di terminal dan meminta untuk dipacking yang rapih serta aman dan dikirim ke alamat Izma.
Qeena sadar bahwa HP ini adalah pemberian Fajar jadi sebaiknya dikembalikan, lagipula dia ga mau bisa kelacak keberadaannya kelak.
"Ada apa ya sampe mereka begini? ada yang aneh kayanya. Nanti coba Fajar cek ke Wonogiri lagi, apa mereka ada disana ga ya hari ini" ujar Fajar.
"Mas .. kalo mereka pergi diam-diam tanpa alasan ke kita, pasti mereka ga akan balik ke kampung dalam waktu dekat, karena mereka tau kalo kita akan cari kesana" ucap Izma.
"Bener juga ya ... tapi ini sesuatu yang ganjil banget. Emak dan Qeena ga akan begini kalo ga ada sesuatu" kata Fajar masih bingung.
πΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏ
Erin menyediakan sarapan Nasi Tutug Oncom buat para tamunya. Sengaja pagi-pagi sebelum anak-anak bangun, dia udah keluar nyari sarapan selepas sholat subuh. Pedagang langganannya emang udah buka sejak subuh.
Nuha dan Qeena sudah bangun dari pagi. Mereka membantu mencuci piring dan merapihkan mainan anak-anak yang super duper berantakan.
"Ga usah Qeena ... nanti aja saya yang rapihin, masa tamu repot-repot" ucap Erin.
"Gapapa Teh ... udah biasa bebenah. Apalagi yang bisa Qeena bantu Teh?" tanya Qeena.
"Udah nanti aja... sekarang sarapan dulu, itu udah saya siapkan teh hangat. Ya di kampung adanya seperti ini" ujar Erin.
"Makasih ya Teh ... suami istri baik-baik semua" jawab Qeena.
Zavier dan Aa' Zay balik dari Mesjid. Mereka saling salaman.
"Ini Kakak cantik siapa ya?" tanya Zavier penasaran, tadi saat Zavier berangkat ke Mesjid bareng Aa' Zay, Qeena dan Nuha belum keluar kamar.
"Aa' yang sopan dong sama tamu, masa udah ngerayu aja" ingat Aa' Zay.
__ADS_1
"Emang cantik Yah ... Aa' belum kenal" kata Zavier.
"Adik siapa namanya?" tanya Qeena sambil senyum.
"Aa' Zavier" jawab Zavier.
"Nama Kakak ... Qeena .. kalo itu Emak Nuha, salam kenal ya" ujar Qeena.
"Oh Kakak Qeena sama Mak Nuha sekarang jadi tamu di rumah Aa'? saudaranya Ayah atau saudaranya Bunda? kan yang nginep disini saudara" cecar Zavier kepo.
"Mereka saudara seiman A' .. oh ya Aa' kan harus sekolah, cepat ganti baju seragam, terus sarapan. Hari ini Ayah yang antar ke sekolah ya" ucap Aa' Zay.
Sepeninggalan Aa' Zay, Zafran dititipkan ke Mama Atikah. Zayda tengah bermain di rumahnya Agung, dijagain Valencia.
Erin, Nuha dan Qeena duduk di ruang keluarga.
"Maaf ya Mak .. bagaimana kami bisa menolong kalo kami ga tau harus dari mana kami menolong Emak sama Qeena" kata Erin yang mencoba berbicara dari hati ke hati.
"Gimana ya Teh" ucap Nuha bingung.
"Panggil Erin aja Mak" jawab Erin.
"Rasanya bingung mau jelasin dari mana. Tapi kami mau coba hidup baru dimana ga ada orang yang kenal sama kami. Percayalah kami tidak berbuat kriminal atau kejahatan lain yang bersangkutan dengan hukum sehingga ga perlu ngumpet" ucap Nuha meyakinkan.
"Yakin mau memulai hidup baru disini?" tanya Erin makin hati-hati.
"Kayanya iya .. disini ga terlalu dipinggir jalan. Kira-kira disini ada kontrakan murah ga ya? sekamar juga gapapa" jawab Nuha yang masih memegang uang tiga ratus ribu dari Pak Dzul yang kemarin diberikan sama Dafi.
"Mak mau usaha apa?" tanya Erin lagi.
"Saya Teh yang mau cari kerja, saya bisa apa aja ... bantuin Teteh disini juga bisa, jaga anak, nyuci gosok, bebenah ... apa aja saya mau" langsung Qeena angkat bicara karena dia mikir harus bisa survive.
"Kamu kayanya masih muda ya? berapa umurnya?" tanya Erin.
"Empat belas tahun" jawab Qeena.
"Ga sekolah emangnya?" tanya Erin lagi.
"Ngga Teh, saya mau bantu Emak aja" kata Qeena yang ga tega kalo Emaknya kerja keras.
Walaupun Nuha memutuskan untuk tinggal disini, Qeena sama sekali belum diajak ngomong tentang rencana Emak. Jadi Qeena berjanji pada dirinya sendiri untuk mengikuti semua ucapan Emaknya.
"Nanti saya bicarakan sama Aa' Zay dulu ya" kata Erin.
Mama Atikah datang membawa Zafran. Kemudian dikenalin ke Nuha dan Qeena.
"Rin .. Mama mau ngaji nih ... Zafran Mama balikin ya" ujar Atikah.
"Makasih ya Mah udah mau dititipin sebentar" ucap Atikah.
"Mari Nuha ... Qeena ... saya mau ngaji dulu" pamit Atikah.
"Ya Bu ... " jawab Nuha dan Qeena bareng.
Zafran kembali rewel, mulai nangis ga jelas.
"Kayanya dari semalam rewel ya Teh, sakit?" tanya Qeena.
"Dia emang sejak bayi ada gangguan kesehatan" jawab Erin sambil menggendong untuk menenangkan Zafran.
πππππππππππ
PS. Biar paham siapa sosok Aa' Zay dan Erin cuss yuk ke Karya saya di NT
__ADS_1
*Harta, Tahta & Tutug Oncom* kepoin deh bagaimana mereka. Kali ini mereka hadir lagi meramaikan suasana di *Roti Bakar*