ROTI BAKAR

ROTI BAKAR
* Slice 293, Permainan


__ADS_3

Rupanya Pak Bintang sudah menghubungi keluarga Mak Imah di Jakarta, mengabarkan kalo Mak Imah dibawa kabur sama Dafi.


Keluarga Mak Imah punya akal buat menghubungi toko onlinenya Qeena untuk menanyakan keberadaan toko tersebut guna mengecek ongkos ojol sendiri. Adminnya Qukis by Qeena menjawab dengan memberikan alamat ke orang yang mengechat tanpa memeriksa apakah yang bersangkutan sudah memesan atau belum.


Dua jam kemudian, rumah Qeena sudah didatangi oleh Bapaknya Mak Imah dan Kakaknya Mak Imah.


Qeena mencoba basa basi tapi ga dilayani. Bu Fia yang melihat ada keramaian yang ga beres langsung menuju rumahnya Qeena.


"Dimana kalian sembunyikan Imah?" gertak Kakeknya Qeena.


"Saya ga tau apa-apa, bukannya Mak Imah di Bali? suami saya juga lagi ga ada di rumah. Memang Mak Imah kemana?" tanya Qeena yang bingung.


"Ga usah sandiwara, suruh Imah keluar sekarang juga" hardik Kakaknya Imah.


"Saya ga tau ada apa sebenarnya. Tapi saya ga menyembunyikan Mak Imah, tau aja ngga kalo Mak Imah pergi dari rumah" jawab Qeena mulai ketakutan karena merasa diserang dalam posisi seorang diri.


"Kalian serahkan Imah atau kita laporkan ke polisi karena udah bawa kabur orang" lanjut Kakaknya Mak Imah.


"Maaf ya Bapak-bapak .. menantu saya memang tidak tau sama sekali ada apa ini semua. Kalo Imah ke rumah ini pasti saya tau, tapi sejak sebelum nikah pun, Imah udah pindah dari sini" bela Bu Fia.


"Ibu juga jangan ikut campur ya, emang Ibu ini siapa?" tanya Kakaknya Mak Imah.


"Saya mertuanya" jawab Bu Fia tegas.


"Bilangin nih mantu Ibu .. jangan ngerusak orang, kalo dia rusak ya rusak aja sendiri" ucap Kakaknya Mak Imah.


"Maksudnya bagaimana ya? ada apa sih sebenarnya? baiknya dibicarakan dulu duduk permasalahannya, jangan datang ga ada sopan santunnya seperti ini. Saya bisa aja loh berteriak dan para warga pasti datang membela kami" kata Bu Fia makin tegas.


"Dia nih... anak lelaki pembawa sial ini, udah ngeracunin Imah buat ninggalin suaminya. Emang ya Imah tuh baiknya ga deket sama dia, bikin masalah aja. Dari dalam perut udah bikin masalah, sampe gede pun selalu bikin masalah" gertak Kakeknya Qeena.


"Saya minta Mak Imah ninggalin suaminya? atas dasar apa? memang Mak Imah ada masalah sama suaminya?" tanya Qeena mulai kepancing emosi.


"Eh... anak kurang ajar, ngomong sama orang tua kok nyolot gitu" ujar Kakaknya Mak Imah.


"Bukan saya kurang ajar sama orang yang lebih tua, tapi yang tua bisa dong sopan santun kalo masuk rumah orang. Oke .. saya terima masa lalu saya dengan segala hinaannya, tapi merusak sebuah keluarga ga mungkin saya lakukan. Saya anak yang dibesarkan oleh single mom, tau rasanya hidup dikeluarga yang ga utuh, jadi buat apa saya meminta Mak Imah buat hidup sendiri lagi? Bukannya Emak sudah bahagia dengan pilihannya dan pilihan keluarganya?" tanya Qeena balik.


"Kalo bukan karena bujuk rayu kamu pasti Imah masih bertahan sama suaminya. Kamu yang mau kuasain Imah buat dijadikan pekerja tanpa bayaran di usaha kue kamu" jawab Kakeknya Qeena.


"Saya memperkerjakan orang tanpa upah? bisa tanya ke Mak Imah sendiri, apa saya berbuat seperti itu terhadap beliau?" kata Qeena.


"Ga usah kebanyakan omong... dimana Imah atau kami geledah semua ruangan yang ada" ancam Kakaknya Mak Imah.

__ADS_1


"Kalo berani silahkan aja. Rumah ini sudah dipasang CCTV, tinggal saya laporkan ke polisi bahwa ada orang yang berbuat onar di rumah ini. Atau saya teriak dan semua warga akan datang ke rumah ini buat menyeret Bapak-bapak yang terhormat ini ke Balai warga" ancam balik Qeena.


"Sekarang dimana Imah?" tanya Kakeknya Qeena didepan wajah Qeena.


"Stop ... jangan berani sentuh istri saya, atau sengaja mau berurusan panjang sama saya?" tanya Dafi yang baru datang dan menarik Qeena.


"Ini dia penculiknya datang" tuduh Kakeknya Qeena.


"Menculik? apa kalo orang yang datang ke saya dan minta diselamatkan itu menculik?" tanya Dafi.


"Dimana Imah?" tanya Kakaknya Dafi geram.


"Itu didepan pintu" tunjuk Dafi.


"Makkkk...." kata Qeena sambil menghampiri Mak Imah dan memeluknya.


"Qeenaaa.." ujar Mak Imah menangis.


Dafi menutup pintu rumahnya agar suara-suara dari dalam rumah ga terdengar ke jalanan.


"Silahkan duduk, kita dengarkan apa yang akan Mak Imah sampaikan. Setelah itu, saya mempersilahkan Mak Imah untuk memilih. Mau ikut keluarga atau mau ikut Qeena" ujar Dafi berusaha sesopan mungkin.


Semua duduk di sofa. Mak Imah masih menangis dalam pelukan Qeena.


Mak Imah mengusap air matanya pakai tissue yang diberikan sama Qeena.


"Pak ... Imah minta ke Bapak buat bilang ke Mas Bintang untuk menceraikan Imah sekarang" lugas Mak Imah meminta.


"Emang ada apa sampe mutusin pergi kaya gini? punya otak bukannya dipake, kalo dibilangin orang tua juga ngeyel. Kenapa sih hidup bikin masalah doang, selalu bikin malu keluarga" omel Bapaknya Mak Imah.


"Kekerasan dalam rumah tangga Pak" jawab Mak Imah.


"Kekerasan gimana sih Imah? wajah kamu mulus-mulus aja, ga ada babak belur bonyok karena digebukin" sahut Kakaknya Mak Imah.


"Tau nih .. mengada-ada, suami kamu tuh udah penuhin segalanya buat kamu, kamunya aja kali yang ga nurut. Masih sukanya bandel dan hidup bebas tanpa aturan" oceh Bapaknya Mak Imah.


"Kalo Imah bilang diruda paksa, apa Bapak percaya?" tanya Mak Imah.


"Mana ada suami kaya gitu? itu mah kewajiban istri ngelayanin suaminya. Kalian kan menikah, jadi ga masalah dong dia minta dilayani sama kamu, daripada jajan malah bikin dosa" ucap Bapaknya Mak Imah.


"Betul .. Mas Bintang punya hak meminta itu dari Imah, tapi kalo dilakukan setiap hari dan dengan intensitas yang sangat sering sampe Imah ga bisa ngapa-ngapain apa itu tetap kewajiban jatuhnya?" tanya Mak Imah.

__ADS_1


"Kamu emang di rumah ngapain sih? katanya suami kamu, udah ada kok orang yang ngurusin rumah dari pagi sampe sore. Kamu tuh makan tinggal makan, ga perlu masak, ada yang masakin atau beli diluar. Ga bebenah, ga nyuci nyetrika .. cuma ngelayanin suami aja kamu bilang itu keterlaluan? pikiran kamu masih waras kan?" sahut Bapaknya Mak Imah.


"Yang kurang waras itu Imah atau beliau? Kalo belum jalan kerja, Imah ga punya kesempatan beranjak dari ranjang. Bahkan kalo siang pulang pun maunya melakukan hal itu lagi. Pulang kerja juga begitu. Cape hati dan badan Pak" jelas Mak Imah.


"Itu rahasia rumah tangga, ga pantes kamu umbar ke kami semua tentang kondisi ranjang kamu" protes Kakaknya Mak Imah.


"Tapi ini udah dibatas kesabaran Imah. Badan pada sakit semua bahkan Imah sakit dibagian kewanitaan. Kadang sampe dimasukin alat buat kepuasan dia melihat Imah kesakitan. Apa itu yang namanya suami? selalu minta berfantasi yang aneh-aneh, kalo ngga mau pasti adanya makin disiksa dengan dimasukin alat ke ********" akhirnya Mak Imah gamblang menjelaskan.


Semua kaget dengan penuturan Mak Imah, tapi Dafi ga heran karena Mak Imah pernah cerita sebelumnya walaupun ga sejelas sekarang.


"Oke .. sekarang semua sudah jelas ya. Alasan Mak Imah pergi meninggalkan suaminya karena termasuk kekerasan dalam rumah tangga. Saya akan mengambil langkah dulu untuk mengumpulkan barang bukti, jadi saya akan ke kantor polisi untuk meminta visum tubuh Mak Imah karena kekerasan dalam rumah tangga seperti ini. Pokoknya ini udah ga bener, beliau yang punya penyakit mental, kenapa Mak Imah yang kena getahnya. Saya minta bantuan dari keluarga Mak Imah buat menindaklanjuti, mungkin bisa duduk bareng buat cari solusi. Pernikahan haruslah ada unsur ibadah, bukan sekedar hubungan badan semata" ucap Dafi.


Imah kembali bersiap membuka mulutnya.


"Dan yang makin memperkuat kenapa Imah pergi dari rumah itu karena yang bantu-bantu di rumah ternyata selingkuhannya Mas Bintang. Imah melihat mereka berbuat mesum di ruang tengah saat Imah lagi beli makan siang" adu Mak Imah.


"Kamu salah liat kali, suami kamu udah jelasin ke Bapak kalo yang bantu di rumah itu tiba-tiba bilang sakit kepala dan hampir pingsan, suami kamu gendong dia ke sofa buat istirahat karena udah ga kuat jalan. Eh malah wanita itu ambil kesempatan dan kamu mergokin" papar Kakaknya Mak Imah.


"Siapa menjebak siapa kalo mereka dalam kondisi tanpa celana di sofa sedang berbuat mesum. Imah ga bawa kunci rumah, tapi pas balik pintu rumah udah ke kunci. Ketuk-ketuk ga ada yang dengar, tapi mereka lupa ngunci pintu belakang, jadinya Imah bisa masuk dan mergokin mereka tengah berbuat mesum" cerita Mak Imah.


"Itu jebakan" lanjut Kakaknya Mak Imah.


"Jebakan? kalo semua ini jebakan, kenapa pas Imah ketuk pintu mereka ga mengakhiri perbuatan mereka karena takut ketauan Imah? terus kok sampe niat kunci pintu depan segala?" tanya Mak Imah.


"Ini jebakan dari pekerja part time kamu itu" jawab Kakaknya Mak Imah


"Kan Mas Bintang bisa nolak ajakan itu, kenapa malah ketawa kesenangan melakukan hal itu, pas Imah mergokin juga keliatan kok mereka emang berniat melakukannya" beber Mak Imah.


"Makanya dengerin dulu apa kata suami, dia tuh udah diguna-guna, jadi nurut sama apa yang wanita itu mau. Dia tuh ga sadar. Kan kamu tau kalo suami kamu itu kaya, jadi pastinya banyak wanita yang mau morotin hartanya dengan cara menjual tubuh. Bintang tuh lelaki baik-baik kok, beberapa kali ketemu ga pernah berbuat aneh-aneh. Bahkan dia awalnya ga mau poligami kalo bukan karena istrinya yang maksa dia poligami. Harusnya kamu bersyukur, istri tuanya ga minta berbagi waktu. Kamu yang dibawa ke Bali buat dampingin dia. Istri tuanya aja ga dijenguk sejak kamu nikah. Itupun karena permintaan istrinya biar dia dekat dan lebih kenal kamu dulu. Toh ga ada masalah kan? keduanya masih akur aja. Kamu sebagai istri kedua harusnya bersyukur, istri tua baik, anak-anaknya menerima kamu. Sekarang liat, kamu udah punya rumah, perhiasan dan uang. Tinggal layanin suami aja ga mau" kata Bapaknya Mak Imah.


Dafi akhirnya malah bete dan udah malas basa basi lagi.


"Sekarang Emak maunya gimana?" tanya Dafi.


"Emak mau ikut Qeena aja" jawab Mak Imah.


"Kamu tuh seorang istri, balik sana urusin suaminya. Mau jadi istri durhaka?" ucap Kakaknya Imah.


"Gapapa dibilang istri durhaka juga, yang penting ga sakit badan dan hati" jawab Mak Imah.


Keluarga Mak Imah memegang tangan Mak Imah dan menyeretnya keluar dari rumah Dafi. Tentu aja Dafi ga tinggal diam, sebagai lelaki yang lebih muda pastinya tenaga lebih kuat dari Bapak dan Kakaknya Mak Imah.

__ADS_1


"Jangan melakukan kekerasan didepan mata saya, lagipula ini rumah saya. Jadi apa yang terjadi didalam sini tanggung jawab saya. Mbah dan Pakde masih punya hati nurani ga sama Mak Imah. Beliau cerita sejujurnya aja masih ga dipercaya. Mak Imah memang melakukan kesalahan dimasa lalu, tapi sekarang beliau ingin memperbaiki semuanya. Menikah dengan Pak Bintang pun bertujuan buat beribadah kepada Allah, tapi yang terjadi apa? sekarang kita pikirkan bersama, bagaimana caranya bisa duduk bareng dengan Pak Bintang, mencari solusi yang terbaik buat semua pihak. Inilah yang saya khawatirkan, pernikahan siri itu ga kuat secara hukum, lagipula ada latar belakang kisah antara Mak Imah dan Pak Bintang yang ga baik. Sekarang saya mohon, biarkan Mak Imah bertenang dulu disini, kalo Mak Imah udah tenang, saya yang akan antar ke rumah Mbah" janji Dafi.


Dengan wajah kesal penuh amarah, Bapak dan Kakaknya Mak Imah keluar dari rumahnya Dafi.


__ADS_2