
Siapa yang ga pernah merasa bersalah dalam hidupnya? setiap manusia pasti pernah merasakannya. Perasaan bersalah muncul karena kita melakukan kesalahan atau menyakiti orang lain. Perasaan bersalah memberi isyarat pada diri ketika sudah menyakiti baik fisik maupun jiwa orang lain.
Ada beberapa literatur yang membedakan tiga bentuk dari rasa bersalah yang tidak sehat, yaitu rasa bersalah yang belum terselesaikanΒ (unresolved guilt), rasa bersalah dari orang yang selamatΒ (survivor guilt) dan rasa bersalah karena berpisahΒ (separation/disloyalty guilt).
Sekarang tiga bentuk rasa bersalah ini menimpa Iyus. Beliau mulai berpikir kalo perbuatan yang telah dilakukan terhadap orang lain itu terlalu besar kesalahannya, sehingga sulit bagi beberapa orang dimasa lalunya untuk memaafkan Iyus, seperti Mak Nuha dan Mak Imah yang hingga detik ini berusaha menjauh dari Iyus. Kalaupun terpaksa, mereka akan menghindari Iyus sebisa mungkin. Iyus juga ga tau apa yang harus dilakukan buat menebus rasa bersalahnya.
Kematian Rian yang dinilai tiba-tiba oleh Iyus seakan menjadi banyak pelajaran yang bisa dipetik. Betapa berdosanya dia mengajari Rian menonton film dewasa, kadang membohonginya dengan mengambil uang yang diberikan Pak Dzul ke Rian. Kematian bisa menjemput kapanpun tanpa permisi, inilah yang membuat Iyus ketakutan luar biasa hingga tubuhnya mengirimkan sinyal berkeringat terus menerus.
Betapa banyak lumuran dosa dalam dirinya. Bahkan bertobat pun masih belum sungguh-sungguh. Rida memang beberapa kali memberikan masukan agar sholat lima waktunya kembali ditegakkan. Bertaubat sungguh-sungguh karena Allah Maha Pengampun.
Bayangan menyakiti fisik dan perasaan Nuha tetiba muncul bak film layar lebar yang sedang dipertontonkan dalam benaknya. Pada awalnya memang Iyus sangat cinta sama Nuha, makanya ingin segera menikahi Nuha. Tapi berjalannya waktu, gaya flamboyannya lebih kencang memanggil hingga akhirnya dia melakukan perselingkuhan sama Imah.
"Ya Allah ... Nuha... Mas bisa setega itu sama kamu, menikah hanya untuk memuaskan nafsu dan setelahnya Mas hanya jadikan kamu bak pembantu. Mas ga kerja tapi kamu terus berusaha nyari uang dengan nyetak pao dalam kondisi hamil. Ga ada sedikit pun perasaan bersalah saat kehilangan anak kita .. Ya Allah .. masihkan ada maaf untuk hamba dari Nuha?" kata Iyus dalam hatinya.
Menggigil seluruh tubuhnya mengingat kekejaman yang dilakukan ke Nuha.
Apalagi kepergian Nuha dan Qeena ga pernah jadi masalah yang perlu dia pikirkan dalam hidupnya dulu. Kini Qeena menjadi sosok yang amat sangat membantunya dalam segala hal. Nuha pun menjadi sosok Ibu yang kuat dan tambah cantik menurut penglihatan Iyus.
"Mas ... Mas kenapa?" tanya Rida yang panik melihat wajah Iyus pucat pasi.
Rida memegang dahinya Iyus dan mengelap keringat ditubuh Iyus dengan handuk kecil.
"Mas ... minum obat penurun panas ya, ganti baju yang tipis, itu keringat segede biji jagung. Mas kenapa kok bisa kaya gini, kayanya kemarin sehat-sehat aja" saran Rida.
Iyus menuruti semua saran Rida.
"Dibawa tidur coba Mas .. apa mau dikerokin dulu?" tanya Rida.
Iyus menggeleng lemah.
"Mau ke dokter?" tanya Rida lagi.
"Ga usah, Mas mau tidur dulu ya" jawab Iyus.
"Ya udah ... Rida bebenah dibawah dulu ya" kata Rida.
Iyus kembali merebahkan tubuhnya di ranjang.
Ketika baru mau memejamkan mata, bayangan Imah yang udah dia rusak masa depannya muncul. Bagaimana polosnya Imah bisa jatuh dalam dekapannya, memang dulu dia meminta bantuan orang pintar buat menaklukkan Imah yang saat itu menjadi idola di sekolah dan dilingkungan tempat Imah tinggal karena kecantikannya. Setelah mendapat apa yang dia mau, Iyus malah menyakiti perempuan untuk kedua kalinya.
Imah dulu masihlah gadis polos yang belum mengerti kejamnya dunia luar, hingga dia berhubungan sama Iyus dan mengubah hidupnya menjadi kelam. Karena Iyuslah, Imah makin terperosok ke jurang kehidupan yang kelam.
"Ya Allah .. setega itu hamba sama Imah, lagi semangatnya sekolah, tapi malah mengajak dia ke kubangan zina. Wajar keluarganya marah hingga sekarang, begitu kejam hamba hingga hidup Imah berantakan" ucap Iyus penuh penyesalan.
Belum selesai bayangan kedua mantan istrinya. Kini wajah Qeena muncul dalam benaknya. Kalo ditanya kesetiap keluarga pastilah jawabannya menginginkan hadir seorang anak dalam pernikahan mereka. Tapi ketika buah hati sudah ada, malah Iyus sia-siakan. Jangankan memberikan nafkah untuk kehidupan Qeena, perhatian dan kasih sayang pun ngga. Dulu ga pernah terlintas mau ketemu sama Qeena, karena bagi Iyus, masa lalu yang pahit ga patut dikenang. Lagipula Iyus ga mau malah anak bisa menambah beban hidupnya aja.
"Anak yang dulu hamba sia-siakan, sekarang malah memberikan banyak hal pada hamba. Ya Allah .. berikanlah Qeena keberkahan dalam tiap langkah kehidupannya. Berikanlah dia kebahagiaan ya Allah, jadikanlah dia wanita paling beruntung karena dicintai dan disayangi oleh orang banyak. Jagalah langkahnya agar tetap berada di jalanMu ya Allah. Hamba sadar kalo masih berlumuran dosa, tapi bolehkan seorang Ayah yang hina ini meminta kebahagiaan putri tercintanya?" kata Iyus lirih.
Diambilnya HP, dibukanya galeri. Ada foto Mak Nuha, Mak Imah dan Qeena yang dia ambil secara diam-diam. Kemudian foto pernikahannya dengan Rida.
Pertemuan dengan Rida, membuat jiwa playboynya muncul. Bukan sekedar hasrat biologis laki-lakinya yang lama ga terpenuhi karena ga ada lagi wanita yang jatuh dengan tipu daya otak mesumnya, tapi Rida datang sebagai seorang yang diyakini menjadi pelabuhan terakhirnya.
Rida juga wanita baik-baik sebelum kenal Iyus, sosok yang baru disakiti lelaki dan merasa kesepian saat bertemu Iyus. Pada akhirnya membuat keduanya lupa diri karena intensitas pertemuan dan keintiman keduanya. Iyus mampu menyentuh ga sekedar hati terdalamnya Rida, tapi mampu menyentuh daerah sensitif Rida hingga muncul hasrat buat bercinta walaupun saat itu mereka belum sah sebagai suami istri. Rida yang sudah menutup aurat tapi seperti para remaja putri kebanyakan, masih jipon (jilbab poni, pake jilbab tapi rambut/poni masih keliatan), pakaian masih terlihat lekuk tubuh, sholat sudah coba ditegakkan lima waktu tapi masih edan eling dalam pelaksanaannya.
Saat tau Rida hamil, keduanya bingung. Rida bingung karena Iyus ga kunjung datang ke rumah untuk menemui orang tuanya sebagai bentuk pertanggungjawaban, Iyus pun bingung karena ga punya biaya untuk menikahi Rida.
Pada akhirnya Iyus kehilangan anak untuk kedua kalinya. Dari tiga wanita yang dinikahi, hanya Imah yang melahirkan anak dengan selamat bahkan bisa besar seperti sekarang.
Keringat makin membanjiri tubuh Iyus. Matanya sulit terpejam karena bayangan wanita-wanita yang banyak menghias hidupnya terus berseliweran dalam otaknya.
"Mas ... Mas ... istighfar Mas" ucap Rida yang melihat Iyus bengong dengan wajah pucat.
"ISTIGHFARRRRRRR" teriak Iyus.
__ADS_1
"Maksudnya tuh astagfirullahaladzim Mas .. bukan bilang kata istighfar" jelas Rida.
Mulut Iyus seperti sulit buat mengucap kalimat istighfar.
"Didalam hati aja Mas kalo mulutnya susah ngomong" saran Rida.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Tahlilan di rumah Bu Fia nampak ramai, ada temannya Rian juga. Mereka berdo'a bersama dengan khusyu nya. Anak-anak istimewa memadati rumah Bu Fia. Betapa Rian menjadi salah satu sosok panutan mereka, dengan segala keistimewaannya, Rian ga pelit berbagi ilmu buat semua.
Qeena tiba-tiba merasa lelah, akhirnya Dafi meminta Qeena istirahat dulu di kamar Bu Fia. Ga perlu ikut tahlilan bersama.
Seperti ada ikatan batin, tubuh Qeena berkeringat dan bayangan Iyus tiba-tiba terlintas dalam benaknya.
"Kenapa jadi kepikiran Pak Iyus ya?" ucap Qeena sambil memegang dadanya yang berasa ngilu.
Sejujurnya menjadi pihak yang disia-siakan sangat menggores perasaan Qeena. Mau menyalahkan keadaan juga gak ada gunanya. Makanya Qeena dari dulu punya kemauan yang kuat buat sukses, selain mau mengubah nasib, dia juga ingin membuktikan pada orang yang telah menyia-nyiakannya kalo tindakan mereka itu salah. Dulu rasa egois ingin membuat Bapaknya, Ibunya serta keluarga besar mereka menyesal dengan keputusan menelantarkan Qeena, dia mau tunjukkan pada mereka bahwa Qeena adalah anak yang istimewa, yang tak pantas untuk disia-siakan.
Dendamnya sekarang udah bisa dia pendam, tapi sisa rasa perih mengiris hatinya yang belum bisa dia lupakan. Walaupun Dafi sering memberikan nasehat agar Qeena ga usah berkubang dalam cerita masa lalu. Toh kehidupan Qeena sekarang jauh lebih baik dari orang-orang yang sudah memberikan luka itu padanya.
π΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈ
"Mas ... mending kita ke Klinik aja ya, udah lemes gitu badannya. Daripada nanti tambah parah" kata Rida.
"Sayang uangnya Da ... bikinin teh manis anget aja ya" pinta Iyus.
"Tadi Mas Anto anterin nasi box buat kita Mas, makan dulu ya" tawar Rida.
"Isinya apa?" tanya Iyus.
"Paket ayam bakar, tapi Qeena bawain soto ayam juga Mas .. mau diangetin dulu?" tanya Rida.
"Sotonya masukin kulkas aja Da .. makan yang nasi box aja dulu, kan ga bisa disimpan kalo ayam bakar, ga enak buat besok. Kalo soto masih bisa buat besok. Kita makan satu box berdua dulu ya, nanti kalo kurang baru buka box satunya lagi" kata Iyus.
keduanya makan bareng, tapi baru suapan kedua rasanya Iyus udah mual dan ga lanjut makannya.
Setelah Rida selesai makan, Iyus minta dikerokin.
"Ini mah anginnya udah kedalon Mas, sampe biru bukannya merah" ujar Rida.
"Iya nih badan greges semua" jawab Iyus.
"Emang kenapa sih Mas?" tanya Rida penasaran.
"Ya ga tau, kemarin pas lagi kita takziah kan badan Mas tiba-tiba ga enak, sebelumnya gapapa" jawab Iyus lagi.
"Kemasukan kali Mas" sahut Rida.
"Kemasukan apa?" ucap Iyus.
"Kemasukan rohnya Rian atau siapa gitu, kan tiba-tiba sakit" ujar Rida.
"Ngaco aja nih ngomongnya. Udah jangan dibahas, mending kita tidur. Besok toko buka ga?" tanya Iyus.
"Kata Qeena libur dadakan tiga hari dulu, udah diumumin juga kok di medsosnya Qukis by Qeena. Malah yang udah PO juga uang ditransfer balik sama Qeena. Yang pesan Alhamdulillah paham sama kondisi duka kaya gini" jelas Rida.
"Syukur deh kalo gitu, Mas jadi bisa bangun siangan kalo toko tutup" ucap Iyus.
πππππππππππππππ
Dafi cuma dapat ijin dua hari aja buat masa berduka jadi setelah ijinnya selesai dia kembali ke Serang. Menjalani pekerjaan seperti biasanya.
Begitu sampe ke Serang, Dafi ditelpon oleh temannya Rian. Orang tersebut menjelaskan alasan menelpon Dafi.
__ADS_1
"Jadi Rian yang memberikan kartu nama saya?" tanya Dafi.
"Iya Mas" jawab orang tersebut.
"Saya bicarakan dulu sama orang tua ya, karena kan Rian masih milik Ibunya. Tapi makasih ya udah diinfo. Tolong sampaikan juga kesemua orang, apa Rian masih ada sangkutan hutang atau janji yang belum terlaksana lagi?" pinta Dafi.
"Sudah ditanyakan Mas, dan ga ada sama sekali hutang. Insyaa Allah Rian orang baik, malah yang ada dia suka kasih orang yang ga mampu kalo pas ketemu. Hanya yang tadi saya bilang aja ke Mas, ada keinginan Rian yang belum terpenuhi" jelas temannya Rian.
"Baik .. akan saya bicarakan dulu ya, nanti saya hubungi secepatnya" jawab Dafi.
πΊ
Dafi menelpon Bu Fia, rupanya sang Bunda masih terpukul sama kepergian Rian. Bu Fia lebih banyak berdiam diri di kamarnya Rian.
"Jadi begitu Bun, Mas belum tau juga ya ini benar atau ngga, jadi ya Mas minta waktu buat diskusi sama keluarga dulu" ucap Rian.
"Iya Mas... Bunda nurut aja deh, coba bicara ke Fajar sama Izma aja dulu buat bantu kamu ngecek ke tempat yang Rian maksud" saran Bu Fia.
Dafi menelpon Fajar dan Izma. Mereka bertiga berembuk, hingga pada keputusan mendelegasikan ke Izma untuk tanya-tanya info yang disampaikan temannya Rian.
π΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈ
Ternyata ada sebuah rumah penampungan anak-anak istimewa dipinggiran Jakarta. Rumah ini milik pasangan suami istri yang sangat peduli sama anak-anak berkebutuhan khusus tapi dibuang oleh keluarga. Ada tiga anak yang dirawat disana saat ini.
Rian bertemu saat hunting foto bersama komunitasnya. Rian merasa lebih beruntung dibandingkan tiga anak tersebut. Walaupun dia istimewa, keluarga ga membuangnya. Rian sempat bilang ke temannya kalo akan bilang ke keluarga untuk memberikan uang ke pasangan suami istri tersebut buat mengurus anak-anak istimewa. Pasangan suami istri ini ga hidup dalam kemewahan, tapi sekedar cukup untuk makan dan kebutuhan hidup lainnya. Sang suami bekerja serabutan, kadang menjadi ojek online saat ga ada kerjaan. Sang istri menjual nasi uduk di pagi hari. Rian ingin membuatkan suami istri tersebut warung kelontong, biar punya penghasilan tapi masih bisa disambi ngurus anak-anak. Kebetulan juga letak rumah suami istri tersebut dekat dengan sebuah Mesjid yang ramai anak-anak mengaji. Kemarin belum tampak ada yang buka warung, hanya abang-abang gerobak makanan anak yang mangkal setiap pagi dan sore.
πππππππππππππππ
Bu Fia dan Izma yang akhirnya menyambangi rumah suami istri tersebut didampingi temannya Rian yang pernah diajak ngomong sama Rian sesaat sebelum Rian meninggal dunia.
"Saya benar-benar ga tau Bu, saya ga minta apa-apa sama yang kemarin mampir ambil foto sama makan nasi uduk disini" kata Ibu tersebut ketakutan setelah Bu Fia menjelaskan semua.
"Iya Bu .. saya juga baru tau kalo almarhum anak saya punya keinginan yang amat mulia. Mungkin anak saya tersentuh melihat adik-adik ini yang seperti dia. Tapi bisa dibilang anak saya jauh lebih beruntung, tetap berada ditengah-tengah keluarga, beda sama adik-adik ini" ucap Bu Fia.
"Iya Bu .. kasian mereka ditinggal di Mesjid gitu aja, malah yang dua lainnya itu suami saya yang nemuin dipinggir jalan. Sekarang Alhamdulillah udah diikutin ngaji di Mesjid, Pa Ustadz yang ajarin" jelas ibu tersebut.
"Jadi Bu .. Pak .. kami datang, ingin menjalankan amanah terakhir almarhum Rian. Membuatkan warung untuk Bapak Ibu, semoga bermanfaat" kata Bu Fia.
"Alhamdulillahirobbil'alamin... beneran ini Bu?" tanya sang Bapak meyakinkan.
"Insyaa Allah Pak. Uang nya nanti saya berikan ya untuk bikin warung disebelah rumah Bapak, itu masih tanah Bapak kan?" tanya Bu Fia.
"Iya Bu .. Alhamdulillah biar sepetak juga punya sendiri, itu tanah kosong saya tanemin pohonan aja, soalnya ga ada uang buat ngebangun" ujar Bapak itu.
"Saya berikan bertahap ya, totalnya seratus juta" kata Bu Fia.
Gemetar suami istri ini mendengar kata seratus juta.
"Maaf sebelumnya Ibu .. saya ga pernah pegang uang sebanyak itu. Boleh ga kalo Ibu aja yang bayar. Saya pesan ke material bahannya, nanti saya bisa kerjain sendiri, paling dibantu sama tetangga yang biasa jadi kenek kuli bangunan" pinta sang Bapak.
"Oh gitu, atau begini aja Pak .. kita ke toko material, saya kasih deposit, kalo kurang nanti empat hari lagi saya datang kesini, jadi bisa dibayar. Kira-kira berapa ya deposit ke material?" tanya Bu Fia.
"Kalo lima belas juta dulu bisa Bu? mau pasang toren air biar punya penampungan" jawab Bapak tersebut.
"Sekalian aja Pak nanti rumah Bapak dicat ya, saya taro uang dua puluh juta dulu di material, ini depan rumah pasang conblock aja biar tetap bisa nyerap air tapi rapih, ga becek kalo musim ujan. Kan kalo masih tanah gini kasian yang beli di warung nanti" saran Bu Fia.
"Ya Allah.. makasih banyak ya Bu" ucap suami istri ini bersamaan.
"Oh ya dari tadi belum tau nama. Saya Fia.. Bapak siapa namanya?" tanya Bu Fia.
"Anjasmara Bu .. biasa dipanggil Anjas" jawab Bapak tersebut.
"Kaya nama artis ya Pak .. hehehe" canda Bu Fia.
__ADS_1
"Nama sama, tapi muka dan rejekinya beda jauh Bu" jawab Pak Anjas.