ROTI BAKAR

ROTI BAKAR
* Slice 92, Bahasan yang serius


__ADS_3

Dafi tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Baru kali ini dia memimpikan Qeena, kaget juga dia melihat Qeena sangat cantik dalam mimpinya. Padahal udah dua tahun ga berjumpa, dalam mimpinya Qeena hanya memandangnya dari jauh dan didekatnya ada ular berbisa.


"Ya Allah... dimanapun dia berada, lindungilah dia" do'a Dafi.


Dafi keluar kamar, tumben weekend ini dia bisa tidur siang, karena Minggu kemarin sibuk sama kerjaan sampe ngerjainnya lewat tengah malam.


Pak Dzul dalam perjalanan pulang ke rumah menelpon Dafi. Setelah basa basi menanyakan kabar masing-masing, Pak Dzul memberitahukan kalo bukan Qeena yang kirim voucher belanja per tiga bulan ke Pak Dzul.


"Kira-kira siapa ya Mas?" tanya Pak Dzul.


"Tunggu... kok Ayah tau dengan pasti dan yakin kalo pengirimnya bukan Qeena, apa Ayah ketemu sama dia dan menanyakan langsung?" selidik Dafi.


"Ehm ... ehm ... ya ada yang pernah ketemu Qeena, tapi udah ga tau lagi keberadaan Qeena" jawab Pak Dzul berbohong.


"Orang yang ketemu siapa Yah? kan masalah voucher itu hanya keluarga kita yang tau" kata Dafi yang merasa Pal Dzul berbohong.


Memang sulit berbohong sama Dafi, dia mampu mencerna kata-kata dengan baik dan cepat. Padahal Pak Dzul sudah janji akan merahasiakan keberadaan Qeena dan Mak Nuha sesuai permintaan mereka.


"Ga penting siapa yang ketemu, tapi Mas curiga ga sama siapa gitu yang kemungkinan sebagai pengirimnya" ucap Pak Dzul.


"Yang jelas orang ini masih dari lingkungan keluarga kita atau keluarga Mak Nuha yang tau persis kalo Ayah menolong Qeena. Tapi kenapa Ayah baru bereaksi setelah beberapa voucher dikirim ke rumah? Apa Ayah udah ketemu sama Qeena atau Mak Nuha? mereka dimana Yah?" tembak Dafi.


"Ya Mas ... Ayah udah ketemu sama mereka berdua, tapi Ayah janji buat merahasiakan keberadaan mereka" akhirnya Pak Dzul buka mulut.


"Alhamdulillah kalo Ayah ketemu. Mereka baik-baik aja Yah? baru aja Mas kebangun, Mas ngimpi liat Qeena cantik banget, tapi dia jaraknya jauh sama Mas, ada ular berbisa sedang mendekat tapi dia diam aja" adu Dafi tentang mimpinya.


"Ada pertanda apa itu ya Mas?" tanya Pak Dzul.


"Ya ga tau Yah .. mimpi itu kan bunga tidur. Kita do'akan mereka baik-baik aja" harap Dafi.


"Qeena emang makin cantik Mas .. Fajar aja tambah tergila-gila ngeliatnya. Qeena juga tambah dewasa pemikirannya. Dia usaha bikin roti dan bakpau sama Nuha buat nyambung hidup. Mereka ditolong sama juragan daerah sana. Keluarga muda yang sangat baik" lanjut Pak Dzul.


"Wah ... Jar... ketemu Qeena ga ngomong-ngomong" ucap Dafi karena HP di loud speaker sama Pak Dzul.


"Ya kan minta dirahasiain" jawab Fajar.


"Rahasiain atau takut ditikung? hahaha" ucap Dafi iseng.


"Wah ... udah kenal istilah tikung menikung nih ... kemajuan pesat buat seorang Danish Ahmad Faishal" ledek Fajar.

__ADS_1


"Ya kan lagi viral tuh nikung disepertiga malam, apa deh bilangnya... kamu cari yang seperti apa, aku akan memaksakan diri" ucap Dafi.


"Memantaskan diri Masss .. bukan memaksakan diri" protes Fajar.


"Lah bukannya kalo nanya pihak wanita maunya apa dan laki-laki berusaha menjadi idaman wanita tersebut bukannya itu memaksanya diri. Jodoh mah ga perlu saling tanya tipe idaman, jalani aja, toh dia yang dijodohkan Allah otomatis akan menjadi idaman kamu kan" papar Dafi.


"Tumben nih Mamas yang satu ini ngomongin cewe.. udah move on ya? Rahma dan siapa deh... oh ya Raisha .. udah dilupain nih" canda Fajar.


"Ya kan mantan ga perlu dikenang. Yah .. pernah disupiri sama Pak Buyung?" tanya Dafi.


"Kok kamu nanya tentang Buyung, kayanya belum pernah ketemu kamu. Dia supir kantor, suka nyupirin Ayah kalo lagi jalan keluar kantor" lanjut Pak Dzul.


"Mas ketemu disini, katanya Pak Buyung ikut yang dapat penugasan disini, kenal kok sama Ayah, namanya Pak Fernaldi" jelas Dafi.


"Oh ya ... Ayah denger Pak Buyung ikut kesana, bukannya Pak Fernaldi di Jambi ya?" tanya Pak Dzul.


"Belum tau juga Yah, belum pernah ngobrol, tapi beliau kenal Ayah. Mereka tinggal di Rawang, ya sekitar lima belas menit dari Sungai Penuh" papar Dafi.


"Salam aja dari Ayah kalo ketemu lagi" jawab Pak Dzul.


"Yah ... kayanya kalo Mas udah memantapkan hati, Ayah perlu ketemu sama Pak Fernaldi" ujar Dafi.


"Bukan Yah ... tapi Mas ada ketertarikan sama putrinya. Kami selalu dipertemukan disaat yang ga terduga. Sekarang Mas lagi istikharah dulu, Mas ga mau terburu-buru, cukup dua pengalaman sebelumnya. Makanya kalo semua sudah oke, Ayah sama Bunda kesini ya buat kenalan" cerita Dafi.


"Tuh kan Mamas Brooo ... pasti ada deh yang diincer, Mas kan ga bisa liat jidat licin langsung deh jatuh cinta, gampang amat sih Mas ... perasaan Fajar mah ga ada tuh ketertarikan sama cewe lain sejak memantapkan hati buat Qeena" potong Fajar.


"Ehhh .. Mas bukan playboy ya, lihat-lihat dulu siapa cewenya" kata Dafi.


"Mas mah pasti nyarinya yang pinter deh, emang Mas pacaran sama orang apa ama mesin pencarian internet?" ledek Fajar lagi.


"Cewe tuh kudu smart Jar, karena kan kita akan menitipkan buah hati kita ke dia. Kalo Ibunya ga smart gimana mau anaknya smart" ucap Dafi.


"Kayanya emang ada yang udah kebelet kawin nih, segala bawa-bawa buah hati .. hahaha" canda Fajar.


"Udah ... jangan ledekin Mas nya aja. Gini aja Mas, dischedule aja kapan kami bisa sowan kesana, jangan dadakan ya" pinta Pak Dzul.


"Tunggu dulu Yah, belum juga pedekate" ujar Dafi.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖

__ADS_1


Senin pagi, Zayda dan Zavier udah sekolah, Zafran lagi tidur. Erin meminta Qeena buat bikin sampel kue kering di rumahnya aja. Biar bisa dibantu, lagipula alat-alat lebih lengkap di rumah Erin.


Sambil mencetak adonan nastar, Erin dan Qeena berbincang.


"Qeena ... maafin ya kalo selama ini Teteh curiga sama kamu" ucap Erin dengan tulus.


"Gapapa Teh, mungkin kalo Qeena diposisi Teh Erin juga bakalan sama. Tapi percaya deh Teh .. Qeena ga ada perasaan apapun sama Aa' Zay selain kagum dan hormat. Lagipula Qeena kayanya ga mau menjalin komitmen sama laki-laki Teh" kata Qeena kelepasan ngomong.


"Ga mau berkomitmen artinya kamu ga mau nikah?" tanya Erin meyakinkan.


"Iya Teh ... deretan cerita lelaki yang menyakiti wanita itu selalu Qeena dengar. Cukup Teh airmata itu tertumpah dari mata Emak tiap malam, menangisi lelaki yang telah menghancurkan hidupnya" kata Qeena.


"Ayah kamu ya? ... Mak Nuha udah cerita tentang kamu dan masa lalunya. Tapi bukan berarti Mak Nuha begitu nanti kamu juga akan mengalami hal yang sama" ucap Erin.


"Tapi kan selalu gitu Teh ... wanita hanya jadi pihak yang lemah. Kaya Teteh yang harus mengubur impian dan membesarkan anak, bukankah Teteh bisa berkarier dan membayar orang buat urus anak? Aa' Zay pasti ada andilnya dalam mengambil keputusan ini kan?" ujar Qeena.


"Cinta ... Teteh melakukan demi cinta, cinta sama Aa' dan anak-anak. Teteh ga nyesel, malah bisa kok bisnis yang lain, ga harus jadi pekerja di kantoran" lanjut Erin.


"Cinta ... ya selalu alasannya demi cinta. Yang nantinya malah jadi boomerang buat wanita. Atas nama cinta semua kita serahkan, tapi lelaki ga ngejamin kita bahagia kan? maaf Teh .. coba Teteh tanya dalam hati Teteh .. pernah ga Aa' Zay bikin nangis, kecewa bahkan marah? pasti pernah kan?" kata Qeena.


"Manusia kan ga sempurna Qeena, pasangan kita kan manusia, bukan malaikat. Baik Teteh ataupun Aa' pasti punya masa up and down dalam hidup, jadi ga mungkin selalu mulus rumah tangga itu" jawab Erin.


"Nah itulah yang Qeena malas Teh, kalo sendiri aja bahagia kenapa harus bergantung kepada lelaki buat sebuah kata bahagia" ujar Qeena.


Aa' Zay sebenarnya udah pulang dari tadi, tapi dia mendengarkan pembicaraan Erin dan Qeena dari luar dapur. Tapi sebagai seorang Kakak, dia perlu meluruskan sedikit pemikiran Qeena.


"Allah menciptakan mahluk-Nya berpasang-pasangan. Seperti langit dengan bumi, panas dengan dingin, malam dengan siang, laki-laki dengan perempuan. Masing-masing membawa tugasnya sendiri-sendiri" buka Aa' Zay yang membuat Erin dan Qeena kaget.


Erin mencium tangan Aa' Zay dan Aa' Zay membalas dengan mengecup kening istrinya.


"Jangan menutup pintu terlalu keras Qeena. Seorang perempuan adalah patner bagi laki-laki. Dalam kehidupannya mereka saling membantu untuk mendapatkan kebaikan dan mencegahnya dari beragam kemudharatan. Sebagai laki-laki kami dituntut menjadi kepala keluarga yang berkewajiban memenuhi nafkah keluarganya, menyediakan tempat tinggal, pakaian, dan menjadi pelindung bagi seorang istri dan anak-anaknya. Perempuan sama Allah dikasih kelembutan, hal ini karena mereka disiapkan untuk menjadi sosok pendidik dan pembimbing terhadap pertumbuhan dan perkembangan sikap, perilaku, mental dan akhlak anak-anaknya. Semua pasti punya kekurangan dan kelebihan yang saling melengkapi satu sama lain" nasehat Aa' Zay.


"Tapi kan A' banyak yang ga bisa saling melengkapi" protes Qeena.


"Balik lagi Qeena ... manusia ga ada yang sempurna. Sekarang kita balik ... kalo lekaki menuntut banyak hal ke kamu, sanggup memenuhi semua apa yang diminta? kalo kamu menuntut seorang laki-laki harus selalu membahagiakan, apa kamu bisa selalu menciptakan suasana bahagia? ingat Qeena .. kamu juga manusia... punya saat berada dititik lemah. Kamu pantaskan diri aja sebaik mungkin, karena Allah akan menjodohkan kamu dengan cerminan diri kamu. Karena kalo dia bukan cerminan diri kamu, walaupun kalian sudah bersatu akan mudah bagi Allah memisahkan" lanjut Aa' Zay.


"Ya Qeena ... Teteh yakin kelak ada lelaki yang siap membahagiakan kamu dengan caranya. Mungkin Ayah kamu selalu melukis air mata di pipi Mak Nuha, tapi pasti Ayah kamu juga pernah membuat Mak Nuha tersenyum bukan?" tambah Erin.


"Damar ... Fajar ... itu lelaki baik yang sedang menunggu jawaban kamu kan? mintalah petunjuk sama Allah mana yang terbaik buat kamu" saran Aa' Zay.

__ADS_1


__ADS_2