
"Mas hari ini dipanggil pusat karena huru hara yang terjadi di medsos. Mas udah jelasin semua tentang pernikahan kita, walaupun ga mengungkap kita menikah karena ketauan tidur bareng, Mas beralasan Ayah ga mau kamu pergi lagi, sebagai status hanya sebagai anak asuh, pastinya akan mudah berpisah gitu aja, atas dasar itulah kita menikah, karena berat bagi Ayah melepaskan kamu. Ayah pun udah dimintai keterangan juga sama kantor. Semua berkas pernikahan Mas sama Zahwa udah Mas cabut" cerita Dafi.
"Terus Mba Zahwa gimana?" tanya Qeena.
"Intinya Mas udah langsung bicara ke Ayahnya dan beliau menerima kenyataan ini dengan baik. Mas emang ga punya kesempatan bicara didepan keluarganya, tapi sepulang dari sini, Mas akan sowan ke mereka untuk meminta maaf" lanjut Dafi datar.
"Jadi Mas mau daftarin data Qeena ke kantor? Mas mau melanjutkan pernikahan kita walaupun semua karena sebuah keterpaksaan?" tanya Qeena hati-hati.
"Mas belum bisa memastikan apa-apa. Semua jadi serba dilema. Mas mau kita semua berbincang baik-baik, menemukan sebuah solusi yang bisa diterima oleh masing-masing pihak. Tapi kalo Mas ga daftarin, kantor kan udah tau" ucap Dafi.
"Jadi cuma karena kantor tau jadinya Mas mau daftarin?" ulang Qeena.
"Salah satunya ya itu" jawab Dafi
"Mas... pernikahan kita belum resmi, Mas bisa bilang pernikahan kita dibatalkan atau apa kek. Maaf ya Mas, Qeena ga bisa sama Mas. Emang Kak Damar belum melamar secara resmi, tapi kami komitmen buat bersama. Bersama dia semua jadi nyaman. Qeena sekarang lagi menata banyak hal sama dia" kata Qeena.
"Dia udah tau semuanya?" tanya Dafi.
"Belum" jawab Qeena.
"Mas seminggu aja tersiksa banget udah nutupin cerita ini ke banyak orang termasuk Zahwa" ucap Dafi menyesal.
"Qeena ga sanggup nerima kenyataan Mas" jawab Qeena.
"Cinta sama dia?" tanya Dafi.
Qeena terdiam. Dia pun ga bisa mendefinisikan perasaannya ke Damar. Karena yang ia tau kalo Damar adalah orang yang tepat buat melawan rasa traumanya terhadap lelaki.
"Jatuh cinta memang sesuatu yang membahagiakan. Merasakan cinta jelas membuat hidup kita jadi terasa lebih indah. Tapi dibalik setiap suka dan warna, ada juga duka yang kadang menyelinap. Pengalaman jatuh cinta kadang ga seindah impian kita selama ini. Menyakitkan tapi itulah kenyataannya. Berterus teranglah sama Damar, kasian dia terseret dilingkaran kisah kita. Mas udah memulai cerita, maka Mas juga harus bisa menyelesaikan dengan baik" kata Dafi.
"Mas sedih ya harus pisah sama Mba Zahwa?" tanya Qeena.
"Dia udah pas banget dihati, sosok yang Mas pilih buat menjadi masa depan Mas, tapi ga adil kalo terus ngotot buat terus bersama dia. Dia layak dapat yang lebih baik dari Mas. Biar bagaimanapun status Mas kan udah menikah, masa dia dapat duda" ucap Dafi mencoba buat ikhlas.
"Kita pisah aja Mas kalo gitu, ga ada alasan buat kita pertahankan lagi pernikahan ini" ucap Qeena tegas.
"Saya mengucapkan ijab kabul, jadi secara sadar, tau ada sebuah perjanjian suci yang ga main-main" lanjut Dafi.
"Kalo Qeena ga hamil, Mas bisa lepasin Qeena kan?" tanya Qeena memastikan.
__ADS_1
Dafi ga mampu menjawabnya. Dia sangat tau jika kata pisah keluar dari mulutnya maka akan jatuh talaknya saat itu juga. Makanya Dafi memilih diam. Dia ga mau semua jawaban harus sekarang, ini adalah perjanjian dia dengan Allah.
Dafi meminta ijin ke perawat untuk bisa menunggu di kamar rawat inap sama Qeena, alasannya adalah dia anak angkat Mak Nuha yang datang dari jauh dan akan pulang besok, jadi minta kebijakan malam ini bisa ikut jaga. Perawat membolehkan dengan syarat ga bikin keramaian dan jangan ketauan pihak security.
Malam ini Qeena belum bisa tidur, dia masih bangun dan duduk sambil menyenderkan punggungnya ke tembok.
Dafi sudah tertidur pulas disebelahnya. Posisi tidur sambil duduk dan menyender ke tembok. Lampu utama kamar rawat inap sudah dimatikan, hanya ada beberapa lampu kecil aja yang menyala.
Dafi tampak berbeda saat tidur, apalagi dia tidur pake celana training dan kaos oblongnya. Biasa terlihat rapih, kali ini terlihat santai banget. Dalam temaram, Qeena memperhatikan wajah Dafi. Malam ini, Qeena menatap wajah Dafi dengan lekat. Semakin lama dipandangi, semakin membuncah perasaan didadanya. Wajah polos Dafi saat tidur benar-benar membuatnya terkesima. Raut wajah tanpa ekspresi, tanpa kepura-puraan, tanpa dibuat-buat. Memandanginya menyeruakkan berbagai macam perasaan didada. Ada rasa sayang, kasihan, haru dan entah perasaan apa lagi yang ga bisa ia gambarkan dengan kata-kata.
Qeena bergumam dalam hatinya.
"Atas dasar apa Qeena ga berterima kasih sama Mas atas semua yang Mas lakukan buat Qeena dan Mak Nuha? Dengan alasan apa Qeena ga mau berbakti sama Mas? Mas yang Qeena kenal adalah pribadi yang baik dan ga banyak bicara. Memang Mas belum sepandai da'i dalam menasehati, walaupun Qeena tau kalo Mas lulusan sebuah pesantren. Harusnya Qeena bersyukur, ditengah kenyataan kalo Pak Iyus adalah orang tua kandung Qeena, Allah mengirim Mas buat jadi imamnya Qeena, walaupun penyebab kita nikah karena sebuah aib. Maafin kalo Qeena selalu meminta Mas yang paham tentang Qeena dan ga mau tau gimana perasaan Mas. Semoga Allah meridhoi kita semua ya Mas" Qeena menarik nafas kemudian mencoba tidur disebelah Dafi.
Jam dua malam, Dafi terbangun karena kebelet buang air kecil dan haus pula. Setelah balik dari kamar mandi, dia duduk persis disebelah Qeena. Diambilnya botol air mineral dan diteguknya perlahan dengan santai.
"Atas dasar apa Mas harus kecewa sama pernikahan kita? Dengan alasan apa Mas marah sama takdir kita? Ini adalah cerita kita berdua, ga layak mas timpakan semua kesalahan hanya ke kamu aja, maaf kalo membuat kamu menitikkan air mata. Mas yang harusnya membimbing kamu, sebagai seorang imam, Mas yang harusnya membetulkan kesalahan" ucap Dafi dalam hati, alarm HP nya berbunyi.
"Astaghfirullah, hampir jam tiga" ujar Dafi kaget. Dilihatnya Qeena masih terlelap dengan pulasnya. Pelan-pelan ia bangunkan Qeena, sambil memandangi wajah sang istri yang tampak kelelahan. Perlahan, dielus kepala Qeena yang masih berjilbab.
"Qeena.. udah jam tiga, bangun yuk, kita shalat dulu" ajak Dafi dekat telinga Qeena.
Jelas aja Qeena kaget ada suara laki-laki ditelinganya. Ga sengaja wajah mereka berada dalam jarak hanya beberapa centimeter aja. Dafi yang tersadar duluan langsung menuju kamar mandi buat wudhu.
Diatas tempat tidur, Mak Nuha diam-diam menangis melihat keduanya sedang sholat dan saling berdamai dengan keadaan. Mak Nuha ga banyak berharap, karena dia ga mau memperkeruh suasana antara Dafi dan Qeena. Biarlah putaran takdir yang bicara, dia hanya mendo'akan apapun nanti yang terjadi diantara mereka, mereka bisa tetap seperti ini, saling memaafkan, saling mendukung walaupun hanya sebatas kakak adik. Dafi sudah mengisi kehidupan Qeena sejak lama, makanya Mak Nuha cukup mengenal kepribadiannya.
Dafi yang melipat sajadah, dia mempersilahkan Qeena buat tidur lagi. Dafi meneruskan membaca Al Qur'an pakai aplikasi di HP nya.
Lama kelamaan Qeena menyenderkan kepalanya ke bahu Dafi yang masih terjaga. Dibiarkan aja sama Dafi biar ga ganggu Qeena tidur. Pas adzan subuh, Qeena dibangunkan. Dafi bergegas ke Mesjid yang ga jauh dari Rumah Sakit.
Niatnya mau cari sarapan sepulang sholat subuh, tapi dia merasa ga ada yang menarik buat dinikmati pagi ini.
Qeena dan Mak Nuha udah mandi dan berganti baju.
"Mau sarapan apa? tadi sepanjang jalan ga ada yang menarik buat dinikmati" ucap Dafi.
"Ini Emak lagi sarapan" kata Mak Nuha.
"Ya kan buat Qeena sama Mas ... kan Mas sampe lupa ga makan malam" jawab Dafi.
__ADS_1
"Iya ya ... kalian ngobrol terus sampe lupa makan. Ya udah Qeena ... sana antar Mas nya cari sarapan" pinta Mak Nuha.
"Sebentar lagi dokter kan visit Mak, ini juga lagi rapih-rapih biar kalo udah boleh pulang ya tinggal angkut aja" ujar Qeena.
"Pesen ojol aja ya" usul Dafi.
"Ya udah gapapa" jawab Qeena.
"Emak mau apa?" tanya Dafi.
"Ini Emak lagi sarapan, masa makan lagi" kata Mak Nuha.
"Kamu orderin ya ... Tunggu Mas isi saldonya dulu buat kamu pesan makanan" kata Dafi yang langsung buka m-bankingnya.
Dia hanya menghidupkan HP yang satu lagi, nomer khusus buat keluarga aja, bahkan Zahwa pun ga tau nomer itu.
Dafi menyerahkan HP ke Qeena dan meminta Qeena mencari makanan yang dia ingin. Setelah memesan ojol, Dafi menunggu di parkiran masuk Rumah Sakit. Setelah ketemu sama ojol, dia kembali ke kamar dan makan bareng Qeena. Ga banyak yang mereka bahas saat makan, hanya berbincang ringan.
Setelah makan, Qeena membuatkan teh hangat buat Dafi. Ada air panas dari dispenser yang ada di kamar.
"Kamu ga pengen lanjut sekolah?" tanya Dafi sambil mengarahkan pandangan ke Qeena.
"Ga... mau jadi pengusaha aja" ucap Qeena tersenyum.
"Good... semoga bisa kamu raih ya keinginan itu" jawab Dafi.
"Kalo Mas Dafi sendiri mau apa? Ikuti jenjang karier aja? Masih mau pindah-pindah tempat tinggal?" tanya balik Qeena.
"Ini dunia Mas... jadi ya udah passion di statistik. Kalo pindah-pindah memang tergantung penempatan. Ga tau nanti kalo udah ada anak, apalagi usia sekolah ya, pasti repot kalo harus pindah-pindah" ucap Dafi berangan-angan.
"Berarti siap LDR tuh sama keluarga" timpal Qeena.
"Ga lah... Mas mau kalo udah punya anak ya stay lama disuatu daerah aja, pasti Mas boyong keluarga, Mas ga mau jauh-jauh dari keluarga" jawab Dafi.
"Perfect dreams..." kata Qeena.
"Pernah ga kamu memimpikan punya keluarga utuh, berlimpah kasih sayang dan saling memeluk satu sama lain?" tanya Dafi lagi.
"Mungkin kalo impian buat diri sendiri kayanya udah ngga ya... karena hidup Qeena udah berjalan kaya gini. Tapi mimpi buat anak keturunan pasti ada. Mereka ga boleh merasakan kurang kasih sayang keluarga seperti yang Qeena alami" ucap Qeena.
__ADS_1
"Menyesal ga, udah tau siapa orang tua kamu?" kata Dafi.
"Ga... Apapun kondisi orang tua ya terima aja. Pernah sih ga terima, tapi setelah itu belajar menerima kalo suatu hari akan ketemu orang tua kandung. Allah ga pernah salah menitipkan seorang anak kepada pasangan kan? Kesal, dendam, marah, kecewa dan sedih pasti ada. Tapi Qeena bersyukur, Allah menempa dengan amat hebatnya, jadi ketika bertemu, mental udah siap. Hanya kaget aja sama perlakuan Pak Iyus kaya gitu, jadi kebayang gimana Emak sabar banget ngadepin suami kaya gitu. Tapi ada satu hal yang belum Qeena persiapkan, yaitu menikah" papar Qeena.