ROTI BAKAR

ROTI BAKAR
* Slice 276, Melanjutkan


__ADS_3

Dua bulan ini Qeena mencoba bangkit dari banyak hal yang menjadi beban pikirannya, dia banyak menambah list kue dagangannya, karena baginya toko kue adalah pelarian termanis yang dia sukai saat ini.


Sekarang ini Qukis by Qeena sudah merambah ke dunia perpudingan, tapi hanya untuk wilayah Jabodetabek yang bisa terjangkau oleh ojek online saja. Resiko kerusakan dalam pengiriman menjadi kendala terbesarnya. Jagoannya saat ini adalah puding biskuit marie dan puding lumut.


🌺


Iyus pun sudah keluar dari Rumah Sakit dan dirawat di rumah sama Enyaknya. Iyus rawat inap waktu itu hanya seminggu kemudian bisa dibawa pulang karena kondisinya stabil. Rida pun sudah diambil sama orang tuanya dan sudah ada kata sepakat antara kedua belah pihak keluarga kalo Rida yang akan mengajukan perceraian.


Enyaknya Iyus yang meminta Rida untuk pergi, Nyak merasa kasihan sama Rida yang harus mengurus Iyus. Masa muda Rida sudah dirusak sama Iyus dan ga mau kedepannya Iyus malah membuat masa depan Rida suram. Kondisi Iyus pun udah banyak lupa, bahkan kadang lupa sama Rida kalo lagi kambuh.


Iyus pun masih banyak diam, dia sengaja dikunci dalam kamarnya agar lebih mudah untuk diawasi. Enyaknya akan menyediakan makanan dan minuman setiap waktu makan. Iyus juga masih rutin minum obat. Qeena seminggu sekali juga nengokin Iyus ke rumah Nyai. Membawakan buah-buahan serta susu. Sejak mengalami kegelisahan, Iyus susah makan, jadi banyak disupport vitamin dan susu untuk daya tahan tubuhnya.


"Mba Rida kemarin nelpon, minta maaf atas segala kesalahan dan kekurangan selama menjadi keluarga kita" ucap Qeena.


"Ya.. saban hari juga nelpon Nyai, nanyain kabarnya Iyus. Dia anak baik, makanya Nyai minta dia pergi aja. Iyus itu tanggung jawab Nyai bukan dia, kasian liat Rida yang masih muda. Jalannya masih panjang. Kalo ngurusin Iyus doangan, gimana dia bisa maju. Lagian pikirannya Iyus juga udah kaga sehat, ga nyariin juga" kata Nyai.


"Mba Ridanya sekarang kerja dimana Nyai?" tanya Dafi.


"Di minimarket yang khusus jual ayam sama daging gitu. Sodaranya keluar, dia yang gantiin" jawab Nyai.


"Alhamdulillah kalo udah kerja. Semoga kita bisa ketemu lagi sama Mba Rida dalam situasi yang lebih baik" ucap Dafi.


"Aamiin ya rabbal'alamin" jawab Qeena dan Nyai bersamaan.


"Saya bisa ketemu sama Pak Iyus?" tanya Dafi.


"Bisa ... tuh dia abis makan, tumben kemaren minta masakin bayam sama tempe goreng. Abis makannya, malah minta tambah" lapor Nyai.


"Udah bisa minta makanan?" tanya Qeena antusias.


"Baru ini aja, biasanya ngangguk sama geleng doangan" ujar Nyai.


"Alhamdulillah kalo ada kemajuan" jawab Qeena.


🏵️


Dafi dan Qeena masuk kedalam kamar. Iyus lagi duduk dekat jendela yang dikasih teralis besi.


"Pak .. ini Dafi sama Qeena datang" ujar Dafi.


Ga ada reaksi dari Iyus, tatapannya masih kearah luar jendela.


"Pak .. katanya Mba Rida, Bapak nyariin Mas .. ada apa?" tanya Dafi pelan-pelan.


Tiga hari yang lalu, Rida menelpon Dafi dan bilang kalo Iyus berulangkali menyebut nama Dafi sambil teriak-teriak.


"Bapak ingat sama Mas?" tanya Dafi lagi.


Iyus mulai merespon ucapan Dafi.


"Mas .. Mas Dafi?" tanya Iyus meyakinkan.


"Iya .. ini Mas" jawab Dafi.


"Maafin ya Mas..." tiba-tiba Iyus duduk menyembah Dafi.


"Pak .. ga usah kaya gini" jawab Dafi ga enak hati.


Dafi membantu Iyus bangun.


"Pak... Bapak ingat? mau ngomong apa?" tanya Dafi.


Iyus malah nangis.

__ADS_1


"Pelan-pelan ya Pak .. ga usah dipaksain buat ingat-ingat" saran Dafi.


Iyus agak tenang sedikit.


"Bisa tolong cariin anak Bapak?" tanya Iyus.


Dafi bingung atas permintaan Iyus.


"Qeena?" tanya Dafi balik.


"Namanya Fadhilla Saqeena ... dia pergi sama istrinya Bapak, namanya Nuha. Udah ga punya fotonya sekarang, pada ilangan" kata Iyus.


Qeena dan Nyai bingung, kenapa Iyus jadi lupa kalo udah ketemu sama Qeena.


"Pak .. Qeena udah ketemu, itu yang duduk sama Nyai kan Qeena" tunjuk Dafi.


Iyus memandang kearah Qeena.


"Itu Qeena?" tanya Iyus meyakinkan.


"Iya .. itu Qeena .. anak Bapak" jawab Dafi.


"Qeena itu masih bayi, dia masih kecil. Mas jangan bohong ya" ngotot Iyus.


"Beneran Pak .. itu Qeena .. anak Bapak yang sekarang udah jadi istri saya" jelas Dafi.


"Bukan ... bukan ... bukan anak saya. Qeena masih bayi" ujar Iyus yang malah jadi ketakutan.


Qeena dan Nyai diminta keluar dulu, Dafi mencoba menenangkan Iyus di kamar.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Dafi dan Qeena menuju Rumah Sakit, sudah daftar ke dokter ahli kejiwaan yang menangani Iyus.


"Gangguan kecemasan yang dialami seseorang memang dapat memicu kejadian mudah lupa pada seseorang. Gangguan memori ini dapat bersifat ringan atau berat, dapat muncul sering ataupun jarang. Karena terdapat aktivitas listrik otak yang berlebihan. Akibatnya sebagian fungsi otak yang berfungsi untuk merekam memori akan tertekan fungsinya dan bagian lain yang berfungsi untuk menimbulkan rasa takut, cemas atau khawatir akan meningkat fungsinya" jawab psikiater.


"Langkah kami selanjutnya apa ya dok?" tanya Dafi lagi.


"Saat mengalami serangan lupa, pasien harus bisa dibuat setenang mungkin. Bisa juga dengan memperbanyak kegiatan yang disukai oleh pasien agar mengalihkan pikirannya dari kekhawatiran. Kalo dalam kasus ini kenapa ada memori yang hilang, pasien masih menganggap anaknya masih kecil, tidak bisa menerima kalo anak sudah sebesar sekarang, ya karena dimomen perkembangan anak, pasien tidak hadir, jadinya tidak ada memori yang bisa direkam. Ya wajar saja kalo pasien merasa tidak terima anaknya sudah besar" lanjut psikiater.


"Jadi karena tidak ada memori tentang perkembangan anak dari bayi hingga sekarang, adalah sesuatu yang wajar dan dianggap normal ya dok? apa potongan inilah yang membuat beliau cemas dan mencari?" tanya Dafi makin penasaran.


"Sepertinya pasien mengalami hal seperti itu. Beliau cemas karena kondisi masa lalu dimana anak dan istrinya pergi menjauh karena perbuatan beliau sendiri. Kalo simplenya, pasien seperti merasa dikejar dosa masa lalu. Apa semua pihak yang terlibat dimasa lalu, sudah datang berbicara sama pasien?" tanya psikiater.


"Sudah dok, saat Bapak dirawat di Rumah Sakit. Ketika saling berbicara untuk memaafkan, ga ada respon dari Bapak. Tatapannya kosong tapi diam, ga menolak pelukan kami" jelas Qeena.


"Kejadian pasien ini memang unik, secara keilmuan yang saya pelajari, gangguan seperti ini biasanya tidak sampai separah ini. Tidak ada riwayat sakit yang lama pula dari pasien. Sebagai muslim, apa sudah pernah dilakukan pendekatan secara agama, seperti mendatangkan alim ulama untuk memberikan nasehat atau ruqyah?" ucap psikiater.


"Belum dok, kami masih mengupayakan secara medis saja" jawab Dafi.


"Mungkin bisa dicoba Pak, selama tidak bertolakbelakang dengan dunia medis, bisa dilakukan pendekatan secara agama. Mungkin pasien bisa lebih tenang nantinya. Ini seperti dosa masa lalu kan yang membuat pasien cemas" saran psikiater.


"Baik dok, akan kami bicarakan dengan keluarga terlebih dahulu" jawab Dafi.


🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️


Jam sepuluh malam, Dafi dan Qeena baru sampe di rumahnya. Orang rumah udah tidur semua. Keduanya pun bergegas menuju ke kamarnya. Mereka mandi kemudian sholat isya.


Qeena membuatkan teh hangat untuk mereka berdua. Dafi tiduran di ranjang, Qeena masih membalas chat yang masuk ke medsos Qukis by Qeena dan mencatat orderan buat besok.


Qeena ada grup chat untuk orderan khusus seluruh karyawan Qukis by Qeena. Jadi dia kirim seluruh orderan ke chat grup tersebut kemudian menyusul Dafi ke tempat tidur.


Dafi memeluk Qeena.

__ADS_1


"Cantik banget nih istri Mas.. " rayu Dafi sambil mencium istrinya.


"Ngerayu..." ledek Qeena.


"Kangenlah sayangku .. udah hampir dua bulan ga dapat jatah. Ya kan kamu habis melalui masa nifas empat puluh hari, terus kita kaya udah cape ngurus ini itu sampe lupa udah lewat masa nifas. Tiap Mas balik ke rumah, kamu kayanya cape banget karena produksi di weekend kian bertambah" lanjut Dafi sambil terus menyentuh tiap bagian tubuh Qeena.


"Mas ga cape seharian ini kita pergi sana sini?" bisik Qeena yang udah kegelian sama sentuhannya Dafi.


"Justru jadi obat cape" gantian Dafi yang berbisik.


"Pelan-pelan aja ya Mas ..." pinta Qeena.


"Udah lupa caranya?" canda Dafi.


"Ya kan sekarang pakai IUD dulu selama tiga bulan pasca kuret kemarin" lanjut Qeena.


"Iya .. kalo emang ga nyaman pakai itu, pakai alat kontrasepsi yang lain aja, kaya pil atau suntik gitu" ucap Dafi.


"Ga mau yang hormonal Mas.. Katanya bikin emosi ga stabil. Apa kita pakai KB kalender aja?" kata Qeena.


"Ga ah.. masa pas kepengen harus liat kalender dulu, kalo pas boleh mah enak, lah pas lagi tegangan tinggi terus ga boleh gimana?" tanya Dafi.


"Mas berarti yang pake sarung pengaman" jawab Qeena.


"Nah itu, kita kan pernah pake itu sekali, adanya Mas malah kaya kebelet pipis.. hehehe" lanjut Dafi.


"Lelaki yaaaa.... hanya mau taunya alat kontrasepsi itu ya wanitanya yang pake, kalo lelaki diminta pake pasti banyak alasan" ucap Qeena.


"Beneran ... kebayang ga sih kalo dikurung pake lateks.. kaya kejepit gitu .. hahhaha" Dafi malah geli sendiri kalo mengingat saat dia penasaran memakai sarung pengaman akibat sering liat produk tersebut diletakkan dekat meja kasir minimarket.


Namanya manusia pasti ada rasa penasaran ingin mencoba. Jadilah saat itu pas yang jadi kasirnya lelaki, Dafi beranikan diri buat membeli satu pack dengan varian rasa buah.


Sesampainya di rumah, dia memberitahu Qeena dan meminta untuk mencobanya. Walhasil saat itu baru aja pakai dan baru memulai permainan, dia udah kebelet pipis.


"Ya udahlah .. pembahasannya nanti aja, urusan si unyil harus dituntaskan malam ini dulu" ajak Dafi dengan manjanya.


🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️


Sabtu jam sembilan pagi, Qeena udah sibuk di dapur produksi. Dafi yang baru tidur selepas subuh masih belum bangun.


"Tumben Mas belum bangun?" tanya Bu Fia.


"Baru tidur subuh Bun" jawab Qeena.


"Hayooo ngapain aja sampe subuh???" canda Bu Fia, yang lain tertawa.


"Bunda kan tau sendiri kalo Mas tuh kalo udah kerja harus sampe tuntas" jawab Qeena yang mencoba mengalihkan kecurigaan Bu Fia dengan alasan pekerjaan.


"Iya sih... kerjaan itu istri keduanya Mas Dafi" jawab Bu Fia setuju.


Dalam hati Qeena ketawa sendiri. Memang dia ga bohong kalo Dafi tipe yang kalo udah melakukan pekerjaan harus tuntas, termasuk masalah bercinta. Apalagi setelah "berpuasa" selama hampir dua bulan. Bak singa kelaparan, dia meminta Qeena melayaninya sampai merasa cukup.


"Kok senyum-senyum sendiri ... kayanya ada yang bahagia nih" ujar Bu Fia tambah menggoda Qeena.


Pipi Qeena bersemu merah jambu.


"Pokoknya apapun yang membuat kalian bahagia, Bunda pasti ikut bahagia" kata Bu Fia.


"Makasih ya Bun" jawab Qeena.


"Kayanya hari ini banyak orderan ya?" tanya Bu Fia.


"Alhamdulillah Bun, orderan puding lagi naik daun" jawab Qeena.

__ADS_1


"Kamu emang pinter dagangnya, selalu buat yang baru lagi biar orang ga bosan" puji Bu Fia.


__ADS_2