
Keluarga menyambut dengan sukacita kehadiran anak perempuannya Fajar dan Alifa, tepat tujuh hari kelahirannya, diadakan aqiqah di rumah Bu Fia. Sanak saudara, handai taulan dan teman kumpul semua, jadi sekalian tasyakuran, semua juga bertujuan sama ingin melihat adik bayi, daripada di Rumah Sakit pasti terbatas waktu menjenguk bayinya, jadi diminta sama Fajar untuk menjenguk sekalian acara aqiqah.
Qeena dan Dafi menyumbang cupcakes yang Qeena buat sangat cantik dan dikemas dalam wadah plastik transparan. Cupcakes berwarna pink disertai hiasan kecil foto bayinya Alifa, dipesan khusus oleh Qeena berupa coklat print yang bisa dimakan. Ada juga nama Kalila tertulis disana, panggilan bayinya Kalila (artinya amat dicintai). Ga lupa dia sematkan juga kertas nama toko dan nomer telepon yang bisa dihubungi sebagai bagian pemasaran.
Karena kecapean membuat cupcakes, Qeena merasa pusing, jadi dia bergegas menuju rumahnya buat rehat. Dafi mengikuti Qeena agar memastikan Qeena baik-baik aja.
Rupanya di rumah Dafi, sedang ada perbincangan serius antara Mak Imah, Mak Nuha, Rida dan Iyus. Mereka berempat berbincang di ruang tengah.
Dafi mengantarkan Qeena ke kamarnya dulu, baru nanti dia berencana ikut gabung dengan mereka semua.
Dafi akhirnya memutuskan duduk di tangga menuju kamarnya. Rasanya kali ini hanya mau jadi penonton aja. Ingin tau juga bagaimana para orang tua menyelesaikan masa lalunya. Masa dimana Dafi belum masuk dalam keluarga mereka.
Mereka berempat melihat Dafi duduk, tapi ga ada yang memanggilnya dan tampak ga ada yang keberatan kalo Dafi mendengarkan pembicaraan mereka.
🌺
"Kalo Mas mengalami gangguan kecemasan, ya itu bukan kami biang keroknya? kenapa harus bantu buat sembuh? Qeena udah bawa ke dokter kan buat terapi? emang kami siapa? dukun? dokter?" ujar Mak Imah tanpa beban.
"Mas .. kan udah dibilang, yang lewat ya udah lewat aja. Ga bisa kita perbaiki juga. Kalo masalah maaf ... sorry ya Mas ... saya cuma bisa bilang ga usah ada urusan lagi deh antara kita. Mungkin saya bisa aja bilang kata memaafkan, tapi hati saya kok rasanya masih berat. Terserah Mas mau keluarin dalil kalo Allah aja Maha Pengampun, masa saya ngga. Kan saya manusia Mas... tempatnya lupa dan salah. Terlalu sakit rasa yang Mas torehkan dalam hidup saya. Mas ga tau bagaimana sengsaranya saya dan Qeena. Bagaimana kami bangkit, bagaimana kami harus saling menguatkan. Kemana Mas selama ini? ketika Qeena udah berhasil.. baru Mas datang mendekat. Mungkin kalo nasib kami masih seperti dulu, cerita ini akan beda Mas. Mas dan keluarga Mas ga akan datang menampakkan wajah didepan kami. Jadi... tolong pergi dari sini. Ga usah datang kalo saya ada di rumah. Qeena anak saya dan selamanya menjadi anak saya. Ini memang bukan rumah saya, tapi ini rumah anak dan menantu saya" ucap Mak Nuha meninggi.
"Tapi kan Mas ini Bapaknya .. Bapak kandungnya" ujar Iyus mengiba.
"Terus mau apa Mas? kenapa sekarang baru ribut minta diakui sebagai Bapak? Mas cuma mau uangnya aja kan? kemana sosok Bapak yang dia butuhkan saat dia kecil, ga bisa beli susu, ga bisa dapat gizi yang baik dan segala kekurangan yang menyapa kami berdua. Qeena masih baik sama Mas hingga kini, itu bukannya cukup sebagai tanda dia anak berbakti. Ga membiarkan Mas kelaparan dan kesakitan seperti yang dia alami. Masih ngasih tempat berteduh dan pekerjaan biar Mas tenang menjalani hidup. Apa semuanya masih kurang? Mas ini mau harta atau sekedar maaf dari kami-kami yang Mas sakiti?" hardik Mak Nuha.
"Apa sih yang Mas Iyus mau? uangnya Qeena kan udah dapat banyak kan? kok sampe segitunya pengen Qeena menempatkan diri Mas seperti diposisi Mba Nuha. Sadar Mas .. kita yang bikin keduanya sengsara. Saya aja ga berani meminta kedudukan saya sebagai Ibu kandung harus sejajar sama Mba Nuha. Karena apa Mas? karena saya sadar terlalu berat kesalahan yang saya perbuat. Alhamdulillah masih punya anak yang bisa belajar terima saya apa adanya" potong Mak Imah.
Semua terdiam.
"Sekarang pulang aja Mas... daripada nanti malah tambah sakit hati. Apa kalo kata maaf terlontar, Mas bisa sembuh? Mas bisa berubah? Tunjukkan aja dulu perubahan Mas, nanti adanya tobat sambel doang. Meminta belas kasihan, tapi kalo udah sembuh kembali menggila lagi. Naik motor kan pulangnya? kasian Rida yang bawa motor pasti capek. Nanti saya minta Mba Tinah nyiapin makanan yang mau dibawain buat kalian" ujar Mak Nuha sambil keluar dari rumahnya Dafi.
🌺
Iyus pamit pulang ke Dafi. Mak Imah pun udah bergabung kembali sama Ibu-ibu pengajian di rumah Bu Fia.
"Sabar aja Pak .. ya saling legowo dulu. Jangan memaksakan semua harus berjalan sesuai keinginan kita" saran Dafi.
"Ya .. makasih ... salam buat Qeena" kata Iyus.
Dafi melihat sosok Rida super sabar menghadapi Iyus. Rida membawa motor dan Iyus duduk dibelakang. Rida mengikat tubuh Iyus pakai kain ke tubuhnya agar lebih aman, dia khawatir Iyus lemas dan jatuh.
"Mba Rida ... semoga cobaan ini membuatmu makin kuat. Semoga baktimu kepada suami menjadi ladang pahala. Meskipun kalian pernah melakukan kesalahan, tapi saya liat kalian banyak berubah" ucap Dafi dalam hati sambil menarik nafas panjang.
🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️
Tengah malam, perut Qeena rasanya sakit. Dafi yang baru selesai sholat langsung menghampiri. Dafi mengusap perutnya Qeena.
"Kenapa? mules? pengen ke kamar mandi?" tanya Dafi sambil masih mengusap perutnya Qeena.
"Mas ... Mas .. sakit Mas..." jawab Qeena dengan nada menahan sakit sambil memegang tangannya Dafi.
__ADS_1
"Terus maunya gimana?" tanya Dafi lagi.
"Sakit Mas ..." kata Qeena sambil nangis.
"Mas panggil Fajar dulu ya" ujar Dafi sambil mengusap kepala Qeena.
"Ga usah Mas ... anter ke kamar mandi dulu deh, siapa tau pengen pup" pinta Qeena.
Dafi menggendong tubuh Qeena yang lemah menuju kamar mandi, dia juga nunggu didalam kamar mandi. Dengan telaten dia membukakan celana Qeena.
Ditunggu sampe tiga menit.
"Ga bisa keluar...." keluh Qeena.
"Sembelit ga?" tanya Dafi.
"Ga deh kayanya .. rajin makan buah sayur kok tiap hari" jawab Qeena.
🌺
Baru juga tiduran selama lima belas menit, Qeena merasa seperti kebelet pipis, Dafi yang siaga langsung menggendong Qeena ke kamar mandi, begitu dibuka celananya, ada flek yang lumayan banyak. Warnanya pun antara merah kecoklatan.
Qeena panik. Dafi mencoba tetap tenang. Dia ambil pembalut yang memang masih ada stok dilaci kamar mandi. Kemudian Dafi mengambilkan ****** ***** buat Qeena. Dafi yang ga ngerti cara pakainya langsung menyerahkan ke Qeena untuk memakainya sendiri.
Qeena udah nangis, Dafi menggantikan Qeena baju kaos panjang dan celana training, dipakaikan bergo dan kaos kaki. Dia sendiri mengganti pakaiannya plus jaket.
Pelan-pelan keduanya turun dari tangga. Dafi sudah bilang untuk ga panik karena akan ke Klinik atau Rumah Sakit terdekat.
"Kenapa?" tanya Mak Nuha panik.
"Sakit Mak" rengek Qeena.
"Terus mau kemana?" tanya Mak Imah ikutan khawatir.
"Mau ke dokter" jawab Qeena.
🏵️
Alifa yang masih bangun karena sedang menyusui, ngintip dari jendela kamar karena mendengar ada keributan kecil dibawah.
"Mas ... Mas ... itu Mas Dafi sama Mba Qeena mau kemana?" kata Alifa membangunkan Fajar.
Sebagai seorang dokter, tentu refleks dari Fajar amat bagus. Dia langsung bangun dan melihat kearah jendela kemudian turun kebawah menghampiri Dafi.
🏵️
Mak Nuha dan Mak Imah membantu Qeena naik kedalam mobil.
"Kenapa Mas?" tanya Fajar.
__ADS_1
"Ngeflek" jawab Dafi.
"Ya udah Mas langsung ke IGD aja. Fajar ikut ya" kata Fajar.
"Ga usah Jar .. kasian Alifa pasti cape jagain anak. Kamu bantuin Alifa aja. Mas bisa handle kok .. tenang aja" jawab Dafi.
"Oke .. nanti cari kunci pagar dulu ya" ujar Fajar.
Fajar mencari kunci pagar didalam rumah dan membukakannya. Mobil Dafi melesat keluar meninggalkan rumah.
"Tenang ya ... jangan nangis ... banyak berdo'a" saran Dafi sambil menggenggam tangannya Qeena.
Qeena terlihat menguatkan dirinya sendiri, memberikan afirmasi ke otaknya agar memberikan sinyal baik-baik aja ke tubuhnya.
"Banyak-banyak istighfar aja ya..." ucap Dafi lagi.
🌺
Sesampainya di Rumah Sakit, Qeena kembali merasakan sakit teramat sangat di perut bagian bawah. Kondisi Qeena makin cemas, Dafi tetap setia mendampinginya disamping Qeena saat diperiksa oleh dokter jaga IGD.
Tiba-tiba semua kejadian berlangsung begitu cepat, Qeena langsung didorong ke ruang tindakan untuk ibu melahirkan atas perintah dokter IGD.
Dafi ikut mendorong brankar Qeena.
Baru juga semua bidan bersiaga, dokter pun masih memakai sarung tangan karena kebetulan habis ada operasi Caesar, jadi dokter masih ada dilingkungan Rumah Sakit.
Dari arah tubuh bagian bawah Qeena, keluar secara spontan janin berusia sepuluh Minggu dengan plasenta dan ari-arinya yang masih menempel. Bidan langsung memasukkan kedalam tempat ari-arinya bayi baru lahir.
Setelah keluar, perut Qeena membaik tapi tiba-tiba darah mengalir begitu deras, ada gumpalan darah yang keluar juga. Semua proses disaksikan Dafi dengan mata kepalanya sendiri. Ga henti-hentinya dia beristighfar dan menguatkan Qeena.
Sesaat, begitu banyak gumpalan darah yang keluar hingga akhirnya ada sesuatu yang besar turut keluar dari tubuh Qeena.
Dokter memanggil Dafi untuk berbicara agak menjauh dari Qeena.
"Jadi Pak yang baru terjadi itu keguguran atau abortus, kondisi pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup diluar kandungan, bisa terjadi pada usia kehamilan kurang dari dua puluh dua minggu atau berat janin kurang dari lima ratus gram, keguguran setelah usia kehamilan sepuluh minggu, sisa jaringan janin lebih berisiko tertinggal didalam rahim sehingga disebut dengan keguguran tidak komplit atau abortus inkomplit. Maka akan dilakukan prosedur kuretase atau kuret untuk mengeluarkannya. Selain untuk membersihkan rahim dari sisa jaringan janin dan plasenta, kuret bertujuan untuk menghentikan perdarahan serta mencegah infeksi. Jika ada jaringan yang tertinggal seperti ari-ari.
Suami mana yang ga kaget, berkecamuk dalam benaknya berbagai pikiran. Dafi menghadapi kenyataan kehilangan calon bayinya selama-lamanya. Tapi dia harus bisa berpikir jernih, tindakan ini harus segera dilakukan demi kebaikan Qeena.
🏵️
Dafi menunggu diluar ruang tindakan. Duduk seorang diri dibangku panjang penunggu pasien.
"Maafkan kami ya Nak ... ga bisa menjagamu dengan baik. Maafkan kami jika sedari kamu dalam kandungan, belum cukup kasih sayang yang kami berikan. Sebuah anugerah terindah kamu pernah hadir dalam hidup kami. Terimakasih sudah sepuluh Minggu menemani kami. Tunggu kami kelak di syurganya Allah ya Nak" ucap Dafi dalam hatinya.
🌺
Kendati merasakan kehilangan yang sama,
seperti Qeena, Dafi sadar kalo sejatinya harus mampu menjadi support system utama yang berperan mengembalikan kepercayaan diri istrinya seperti semula. Memang bukanlah hal yang mudah menghadapi kehilangan. Namun, menyesali keadaan tidak akan mengubah segala sesuatu yang sudah terjadi.
__ADS_1
Dafi menghubungi Fajar untuk memberitahu ke orang-orang di rumah. Dafi khawatir kalo dia yang hubungi langsung malah pada histeris. Fajar kan terbiasa berbicara dengan keluarga pasien dalam kondisi seperti ini.