ROTI BAKAR

ROTI BAKAR
* Slice 38, Getaran


__ADS_3

Seusai sholat malam, Qeena yang masih memakai mukena putihnya, menuju dapur lewat pintu samping dari sebelah kamarnya (pintu belakang dapur kalo malam dikunci dari dalam). Tadi Qeena lupa bawa air minum ke kamar, rasa haus benar-benar mencekat kerongkongannya. Baru aja Dafi akan mengambil panci buat masak, Qeena masuk tanpa ada suara orang berjalan. Kagetlah keduanya hingga telur yang ada ditangan Dafi berhasil mencium lantai dan pecah berantakan.


"Astaghfirullah Qeena, malam-malam bikin kaget aja" kata Dafi sambil mengelus dadanya karena kaget melihat penampakan putih-putih di dapur


"Maaf banget Mas Dafi, Qeena haus, lupa bawa minum, nanti Qeena yang bersihin lantainya" ucap Qeena ga enak hati.


"Ga usah, nanti Mas aja yang bersihin lantai, tolong kamu masakin mie instan aja .. Mas lapar nih. Telurnya ada di kulkas" ujar Dafi.


"Pake sayur ga Mas?" tanya Qeena.


"Boleh ... sayur apa aja suka kok" jawab Dafi.


Qeena langsung memasak mie instan dilengkapi dengan sayuran yang ada di kulkas. Sedangkan Dafi mengepel lantai. Mie instan udah jadi, Qeena meletakkan mangkok di meja pantry. Baru aja Qeena mau pamit, tiba-tiba ada yang memeluknya, spontan dia menjerit tapi kemudian mulutnya ditahan. Ternyata Rian sudah memperhatikan Qeena dari tadi. Dia terbangun karena tadi mendengar teriakan kaget Qeena dan Dafi. Kebetulan memang kamarnya di lantai bawah, kalo yang lain kamarnya di lantai atas.


"Qeena...Qeena..." panggil Rian dengan suara sengau.


"Rian ... ga boleh peluk Qeena, lepas ya" ucap Dafi sambil melepaskan tangan Rian dari pinggang Qeena.


Tangan Rian berhasil dilepaskan dari pinggang Qeena. Qeena masih mengatur nafasnya karena kaget.


"Maaf ya Qeena..." ucap Dafi.


"Rian ... Qeena kan perempuan, jadi kaget kalo dipeluk, kalo Qeena nangis gimana? Sayang kan sama Qeena?" tanya Dafi.


"Ya..." jawab Rian sambil matanya memandang mangkuk mie instan yang masih mengepulkan asap.


"Rian lapar?" tanya Dafi. Rian mengangguk. Qeena mengambil minum buat dibawa ke kamar.


"Qeena .... Qeena ... makan" kata Rian.


"Mas Rian nanti dimasakin yang lain ya, mie instan ga baik buat kesehatan" tawar Qeena yang sadar kalo Rian sepertinya menginginkan mie instan. Rian kembali mengangguk.


Qeena melihat kulkas lagi untuk mengecek apa yang ada. Dilihatnya ada wortel, brokoli dan telur. Dia rebus brokoli pake sedikit garam. Kemudian wortel parut didadar bersama telur.


Rian memperhatikan Dafi yang menikmati mie instannya. Hanya sekitar 10 menit, Rian sudah bisa menyantap telur dadar plus sayur buatan Qeena. Rian kesulitan memegang sendok, jadi Qeena membantunya memotong telur. Rian memang ga dikasih garpu karena khawatir bisa melukai dirinya sendiri atau orang sekitar. Karena telurnya susah diambil pakai sendok, akhirnya Qeena menyuapi Rian yang sekarang fokusnya berubah melihat buah apel yang ada di meja pantry.


Dafi mencuci piring setelah makan. Dia kembali duduk menemani Rian dan Qeena yang masih ngobrol ngalor ngidul.


Pikiran Dafi berputar ke seminggu yang lalu, saat Pak Dzul berniat membawa Qeena kesini, saat itu Dafi juga bingung sama pendirian ayahnya, kenapa harus Qeena yang dibantu, sebagai anak yang kritis ia langsung menanyakan alasan tersembunyi dari Ayahnya. Dafi hanya ingin memastikan kalo tidak ada gesekan antara keinginan Pak Dzul sama Bundanya kelak.


Tadinya Dafi sempat terpikir kalo Pak Dzul jatuh cinta ke Nuha sehingga akan mencari muka dulu didepan Qeena. Tapi apa yang dipikirannya langsung lenyap dengan jawaban Pak Dzul.


"Rian makin dewasa, akan sulit mencari orang yang bisa mendampingi dan menerima dia apa adanya. Kita ga akan terus bersama Rian, mengharapkan dia bisa mandiri adalah sesuatu yang ga mungkin. Ayah akan menjodohkan Qeena dengan Rian. 3 tahun kedepan kita lihat dulu ada perkembangan dengan Rian atau ga. Hal ini hanya Mas yang tau, Ayah harap bisa pegang rahasia ini" ucap Pak Dzul saat itu.


"Tapi Yah, bisakah Rian mengucapkan ijab kabul? Pahamkan dia menjalankan kewajiban sebagai seorang suami? Setega itukah kita mengorbankan masa depan Qeena hanya demi kepentingan pribadi kita?" protes Dafi yang ga setuju rencana Pak Dzul.


"Tapi Rian merasa nyaman sama Qeena, ga ada salahnya kan kita jadikan Qeena menjadi bagian dari keluarga kita?" ucap Pak Dzul lagi.


"Ga adil buat Qeena Yah ... sadar ga kalo kita akhirnya seperti terlibat diperdagangan manusia. Kita ajak dia dari kampung atas dasar kasian dan biar punya kesempatan lebih baik disini. Namun kenyataannya pada akhirnya kita meminta dia melakukan apa yang nantinya kita inginkan" ungkap Dafi.

__ADS_1


Saat itu Dafi udah ga bisa berkata-kata lagi. Otaknya udah ga bisa diajak mikir. Dia ga percaya dengan jalan pikiran Ayahnya. Tapi dia juga ga bisa menutup mata kalo adiknya semakin dewasa, ga mungkin terus menerus diurus Mba Parti yang juga semakin menua.


Dafi masih memandang kearah Qeena dan Rian. Sangat telaten Qeena melayani semua omongan Rian, ga terasa kedua matanya sudah basah melihat keakraban keduanya.


Dafi buru-buru mengelap matanya, khawatir kedua orang dihadapannya sadar bahwa Dafi udah siap menangis. Setelah selesai makan, Rian diantar ke kamar sama Dafi dan Qeena pamit melanjutkan tidurnya.


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–


Hari ini Dafi ke kampus untuk mengumpulkan data-data pribadi untuk pengurusan ijazah dan nantinya untuk dokumen sebagai CPNS.


Hanya sebentar ketemu sama teman-temannya, dia pun bergegas pulang. Besok rencananya dia akan ikut proyek survey selama seminggu, dia diajak sama salah satu pengajar di kampus buat terlibat dalam proyeknya.


"Kenapa motornya?" tanya Dafi saat melihat seorang wanita sedang kesusahan menyalakan motor maticnya.


"Ga tau nih Kak, tiba-tiba ga bisa distarter" jawab wanita tersebut.


Dafi mengecek motor wanita tersebut, tapi karena pengetahuan otomotifnya dia standar ya ga bisa ngebantu juga.


"Gini aja, dibawa ke bengkel dekat kampus, saya bantu dorong, mungkin nanti ada solusinya disana" saran Dafi.


"Ya Kak boleh .. makasih sebelumnya" jawab wanita tersebut.


Dafi mendorong motor ke bengkel. Wanita pemilik motor pun mengikuti dari belakang. Sesampainya di bengkel, Dafi menjelaskan ke montir tentang kondisi motor. Tadinya Dafi mau pergi langsung dari bengkel, tapi melihat wanita yang tadi ditolongnya rada keliatan kaya orang bingung, akhirnya Dafi mencoba ngajak ngobrol.


"Kamu anak baru ya?" buka Dafi.


"Ya Kak ... " jawab wanita itu malu-malu.


"HP saya ga ada pulsa Kak, hanya paket data, itu juga udah abis masanya tadi pagi. Kalo di rumah kan langganan WiFi" jelas wanita itu lagi.


"Nih telepon ke orang rumah, nanti mereka khawatir" kata Dafi sambil menyerahkan HPnya.


"Bener boleh Kak?" tanya wanita itu meyakinkan.


"Ya ... pake aja" jawab Dafi sambil menuju showcase yang berisi minuman dingin. Dia ambil dua botol air mineral dingin.


Kembali Dafi mendekati wanita tersebut dan memberikan minuman, HP nya Dafi dikembalikan.


"Maaf Mas .. ini harus ganti businya dan aki motornya udah tekor, kayanya lupa nyabut kunci dan motor lama dalam kondisi on" jelas montir.


"Iya Mas ... saya lupa, hari ini kan pertama kali masuk kuliah, terus karena mepet waktu, saya lupa kalo motor masih nyala, saya kira tadi udah mati mesinnya jadi langsung aja jalan ke kelas. Kuncinya aja gantung disitu, untung ga ada yang ambil motornya. Ada kali sekitar tiga jam kondisi motor masih on" jelas wanita itu.


"Motor matik keluaran terbaru emang begitu, udah dilengkapi sama piranti keselamatan berupa side stand switch, jadi mesin motor akan mati kalo standar samping diturunkan dan mesin gak bisa dinyalakan. Tapi karena begitulah jadinya pemilik motor suka lupa memutar kunci kontak ke arah off. Itu yang bikin aki soak" jelas montir.


"Berarti ganti aki ya?" tanya Dafi.


"Ya Mas, ini udah ga bisa lagi disetrum" jawab montir.


"Berapa ya Mas biayanya?" tanya wanita itu lagi.

__ADS_1


"Aki, busi sama jasa pelayanan sekitar empat ratusan" jawab montir.


"Sebentar ya Mas"ucap wanita itu.


Dafi diajak ngobrol dulu sama wanita itu, intinya dia ga punya uang dan di rumah hanya ada Ibunya yang ga punya rekening tabungan.


"Saya ada nih kalo mau pake, saya pinjamin dulu ya lima ratus ribu" kata Dafi tanpa basa basi.


"Tapi saya ga punya jaminan apapun biar Kakak percaya" ujar wanita itu.


"Kita kan satu almamater, saya tau kok orang-orang yang masuk ke kampus pasti orang terpilih" ucap Dafi.


"Kalo gitu saya minta nomer HP nya boleh Kak? nanti kalo sudah ada uangnya akan saya bayar. Oh ya saya Rahma ... Kakak namanya siapa?" ujar wanita itu.


"Dafi" jawab Dafi singkat


Dafi memberikan nomer HP nya kemudian pamit pergi.


Entah kenapa, ada perasaan lain dipikiran Dafi malam ini. Bayangan Rahma seakan menari-nari diatas kepalanya.


"Yahhh ... lupa lagi tukeran nomer HP" ujar Dafi saat melihat ponselnya.


Bukan karena khawatir uangnya ga dikembalikan, tapi ada sesuatu yang membuat Dafi tertarik. Paras wanita itu manis walaupun tidak cantik. Gayanya pun keliatan kalem dan tipe-tipe wanita idamannya Dafi.


Dua hari Dafi menunggu Rahma menghubunginya, ternyata ga ada telpon atau chat masuk. Hingga Dafi pun sampe ga ingat karena kesibukannya ikut proyek survey tentang sebuah produk sama dosennya.


🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿


"Mas Yus, hari ini agak siangan berangkatnya ya karena saya mau langsung janjian sama klien diluar, tolong cuci mobil aja dulu sama vakum bagian dalam mobil" perintah Bu Fia yang menemui Iyus didepan rumah.


"Baik Bu" jawab Iyus sopan.


Bu Fia masuk kedalam rumahnya menuju dapur.


"Qeena... hari ini daftar sekolah bisa sendiri kan?" tanya Bu Fia ke Qeena yang lagi beraktivitas di dapur. Qeena langsung menghentikan mencuci piring dan menghampiri Bu Fia.


"Saya belum paham jalan dari sini ke sekolah Tante, Om Dzul hanya kasih tau nama sekolahnya aja" jawab Qeena dengan jelas.


"Nanti Fajar yang antar Bun ... Lagi ga ada kelas pagi hari ini" kata Fajar yang udah nongol di dapur.


"Emang kamu ga sibuk sama tugas kampus? Biarin deh naik ojol aja, nanti Bunda isiin saldonya" kata Bu Fia lagi.


"Kan dia belum paham daerah sini, nanti kalo diculik gimana?" tanya Fajar.


"Orang yang mau nyulik juga ga bodoh kali. Sang korban harus punya sesuatu yang bernilai. Lah kalo Qeena apa yang bernilai? Dibilang cantik ... yaaa standarlah ya, punya harta ya ngga, penampilan yang glamor apa lagi ... coba deh kamu liat poin plusnya apa?" kata Bu Fia sambil melihat dari ujung rambut sampe ujung kaki Qeena. Qeena hanya bisa menunduk.


"Bunnnn...." ucap Fajar ga suka sama nyinyiran Bundanya.


"Tinah .... tolong siapin sarapan sama kopi buat Mas Iyus didepan ya" perintah Bu Fia untuk mengalihkan tatapan Fajar kepadanya.

__ADS_1


"Ya Bu.." jawab Tinah.


__ADS_2