ROTI BAKAR

ROTI BAKAR
* Slice 240, Hari ini


__ADS_3

Setelah seminggu ga ketemu, Dafi yang balik ke Jakarta karena selama seminggu kedepan akan ada pemaparan hasil sample di kantor pusat yang dihadiri oleh perwakilan setiap propinsi. Dafi datang bersama dua orang lainnya. Mereka naik mobil kantor. Dafi dapat satu kamar hotel sendiri, jadinya meminta Qeena buat ikut menginap sama dia disana.


Qeena baru akan menuju hotel setelah ikut acara promo sama Chef Ale. Biasanya hari Selasa dan Rabu jadwal promo, tapi rupanya Chef Ale ada acara dari Senin sampai Kamis diluar kota. Jadi Ahad ini akan promo disalah satu Mall yang ga jauh dari hotel tempat Dafi menginap. Dafi juga baru akan masuk hotel Ahad sore atau malam bareng sama Qeena. Rekannya udah masuk dari pagi ini bersamaan dengan karyawan wilayah lain.


Ahad sebelum subuh, Dafi udah sampe di rumah, rombongan Dafi baru berangkat dari Semarang malam Minggu jam sepuluh malam dan langsung mengantarkan Dafi ke rumah dulu.


💐


Jam tujuh pagi, bel rumah berbunyi, Mba Mini yang lagi mau buang sampah, menghampiri seseorang yang ada di pagar. Tapi Dafi ternyata udah lebih dulu jalan menuju pagar. Pagar dibuka, ternyata ada kiriman satu buket coklat pan mboten berhias bunga yang ditujukan untuk Qeena.


"Dari siapa Mas?" tanya Dafi ke kurir.


"Ada kartunya Pak" jawab kurir.


"Oke, saya terima ya, mana kertas tanda terimanya?" ucap Dafi.


Kurir memberikan tanda terima, setelahnya Dafi masuk membawa buket bunga dan coklat kearah meja makan.


Sedang kumpul semua di meja makan, menikmati sarapan bareng-bareng.


Sambil berjalan kearah meja makan, Dafi membaca dengan keras isi kartu tersebut.


"Aku ingin dibuatkan makanan manis disetiap hari yang kulalui, jangan lupa sertakan senyumanmu yang menggoda. Dari My Qeena (Qeena kalo menyapa para followernya dengan sebutan My Qeena, julukan yang diberikan oleh para followernya)" lantang Dafi membaca, Qeena tampak ga enak hati, yang lain diam seribu bahasa karena memang sering ada kiriman seperti itu selama dua minggu terakhir.


Kemudian Dafi membuka lagi kartu ucapan, didalamnya ada tulisan lagi.


"Coklat itu manis kalo dimakan, tapi kamu tuh manis kalo dipandang" kata Dafi sambil senyum-senyum sinis bacanya.


Qeena makin merasa ga enak hati. Dafi memandang kearah Qeena. Mak Nuha dan Mak Imah yang lagi sarapan jadi serba salah. Bu Fia yang belum sempat makan karena baru datang pas Dafi mengambil buket, langsung mencium aroma akan ada sedikit salah paham.


"Bunda lupa .. kesini tuh cuma mau nanya punya koyo apa ngga?" tanya Bu Fia beralasan.


"Pas abis lagi stoknya. Nanti saya beliin ke warung ya" jawab Mak Imah spontan.


"Ga usah .. nanti minta tolong sama Mini aja buat ke warung" kata Bu Fia sambil bergegas keluar rumahnya Dafi.


"Siap Bu .. saya beliin ya" jawab Mba Mini sambil lari keluar rumah Dafi.


"Mba Nuha .. kita bukannya mau bantuin Mba Parti bikin wajik ya? kayanya mendingan dari pagi bikinnya, jadi sore bisa santai" tanya Mak Imah.


"Iya .. Yuk .. kan bikin begitu lama waktunya" ajak Mak Nuha sambil buru-buru merapihkan piring bekas makan ke tempat nyuci piring.


Wajah Dafi tampak agak tegang. Mas Anto dan Mas Narko yang lagi makan di pintu dapur ga paham ada apa, jadinya masih aja makan.


"Mas Anto, Mas Narko... udah nyuci mobil belum?" tanya Mba Parti.


"Udah bersih semua mobil" jawab Mas Anto.


Mba Parti ngasih kode buat menjauh dari rumah Dafi tapi mereka belum paham.


"Ayo makannya pindah, ada yang kirim buket lagi buat Qeena. Keliatannya Mas Dafi cemburu, tuh liat mukanya tegang banget" bisik Mba Parti.


Mas Narko dan Mas Anto melirik kearah dalam, dilihatnya Qeena dan Dafi duduk berseberangan di meja makan. Buket diletakkan didepannya Dafi.


"Mau nyuci dulu ah" pamit Mba Tinah yang lagi nyuci piring.


"Rian.. main PS yuk" ajak Mas Narko, Rian kegirangan langsung menuju kamarnya.


Semua udah tau kalo Dafi udah bereaksi keras terhadap kiriman bunga ke rumah hampir dua hari sekali. Qeena udah cerita dan malah jadi ribut ditelpon. Apalagi Dafi meminta semua orang di rumah buat menolak kalo ada kiriman bunga buat Qeena dengan nama pengirim yang ga jelas.


Tinggallah Dafi dan Qeena di ruang makan, hanya berdua. Qeena yang lagi makan sampe berhenti, berusaha santai padahal ada rasa cemas, khawatir Dafi marah.

__ADS_1


Dafi bergeser duduk kesamping Qeena.


"Kok ga diabisin makannya?" tanya Dafi sambil merapikan jilbabnya Qeena.


"Mas udahan makannya? apa mau disuapin? jarang-jarang bisa layanin Mas makan" jawab Qeena tersenyum.


"Jangan kemanisan senyumnya, biar ga ada yang klepek-klepek selain Mas" kata Dafi.


"Tenang Mas... Qeena jaga kok komitmen kita. Kemana-mana juga pasti dikawal" ucap Qeena.


"Tau alamat dari mana tuh pengirim?" tanya Dafi.


"Ga tau Mas, kayanya ga pernah ada yang tanya alamat" kata Qeena.


"Iya Mas percaya kok Neng... tapi kan mengganggu juga ya kalo gini terus" sahut Dafi.


"Kemarin udah ditolak Mas, tapi malah sama kurir ditaro depan gerbang" lanjut Qeena.


Dafi memandang istrinya.


"Acara Chef Ale jam berapa?" tanya Dafi.


"Jam satu sampe jam tiga" jawab Qeena.


"Sekarang masih jam tujuh pagi, kita berangkat jam sebelasan aja ya, Mas udah bawa baju kerja, tinggal kamu masukin baju kamu sama baju santai Mas aja. Bisa kan nyiapin itu dalam waktu tiga puluh menit?" tanya Dafi.


"Bisa Mas" jawab Qeena.


"Neng tau ga bedanya telat sama kamu?" tanya Dafi serius.


"Apaan ya... bedalah.. telat kan waktu, Qeena kan orang" pikir Qeena.


"Salah... Kalo telat itu kesiangan, kalo kamu kesayangan..." canda Dafi. Qeena ketawa.


"Kamu buta warna ya? masa ga bisa bedain coklat sama abu. Ini kan abu Neng" kata Dafi rada ngotot.


"Ya ampun.. ternyata bener ya kata orang kalo cinta itu buta... hehehe emang Mas doang yang bisa ngegombal" balas Qeena.


"Boleh juga sih .. tapi gombalannya udah pasaran banget .Ingat ya ga buat orang lain, khusus buat Mas aja gombalannya" kata Dafi sambil mendaratkan kecupan di keningnya Qeena.


"Jatuh dan gagal udah biasa, tetapi jatuh pada satu hati itu baru luar biasa dan itu terjadi saat Mas menjadi suami Qeena" bisik Qeena yang ga mau kalah balas mencium pipinya Dafi.


"Masuk kamar yuk" ajak Dafi sambil menarik tangan Qeena.


Dafi mengunci semua pintu rumahnya. Yang lain cuma berani ngintip dari jauh.


"Ribut deh, kemarin di telpon aja udah kaya kesel gitu Mas Dafi nya" kata Mak Imah.


"Emang meresahkan juga sih yang kirim-kirim, tau Qeena udah punya suami, masih juga nekad" sahut Mak Nuha.


"Ya kan bukan salah Qeena .. namanya dikasih ya diterima" lanjut Mba Parti.


"Mas Dafi mah dewasa, marahnya juga pasti ada alasan. Nanti juga selesai kalo mereka udah ngobrol pelan-pelan. Lagian kan mau menghabiskan waktu berdua di hotel, masa marahan, ntar kita makin lama punya anggota baru di rumah ini" timpal Bu Fia.


"Iya .. kita do'akan aja mereka ga sampe ribut besar. Biar di hotel bisa sekalian honeymoon biarpun Mas Dafi sambil kerja" lanjut Mak Nuha.


"Aamiin ya rabbal'alamin" jawab semuanya.


🏵️


Dikamar lantai atas yang belum jadi, keduanya mematikan HP. Mereka benar-benar menghabiskan waktu berdua di kamar. Ga ada yang ganggu pasangan ini.

__ADS_1


🍒


"Ini Qeena kok HP nya ga aktif ya" ucap Chef Ale sambil mondar-mandir.


"Kenapa sih Pah .. kok bolak balik aja?" tanya Amora.


"Ini Tante Qeena mau jalan bareng sama kita atau ketemu di lokasi, Papa telpon tapi HP nya off" jelas Chef Ale.


"Kan dari awal udah janjian disana, ya udah ketemu disana aja" kata Ulay.


"Mama pasti udah kangen ke Mall, secara udah dua bulan ga keluar rumah ya habis melahirkan" ledek Chef Ale.


"Ya nih .. Mama kan butuh cuci mata .. masa yang diliat popok terus" jawab Ulay.


💐


Jam sebelas siang baru mereka jalan menuju Mall. Sebelumnya mereka pamitan dulu sama semua orang rumah. Dafi membawa mobil Bu Fia karena pasti perlu buat mobilitas dari hotel ke kantor.


🍒


"Keliatannya udah baikan, mukanya sumringah semua" kata Mak Nuha.


"Ya namanya jarang ketemu, masa mau isi waktu ketemu buat berantem. Sayang lah waktunya" kata Mba Parti.


🏵️


Setelah selesai acara Chef Ale, Dafi dan Qeena langsung check in ke hotel. Qeena dikenalkan dengan rekan-rekan Dafi yang cukup akrab dari berbagai daerah. Ada juga yang mengajak keluarga sekalian liburan anak sekolah, jadi lumayan rame hotelnya. Konsep hotelnya juga bukan hotel buat santai sebenarnya, lebih kepada sekedar buat istirahat. Makanya ga ada fasilitas seperti kolam renang dan play, tapi letaknya berseberangan sama daerah pusat perbelanjaan Mangga Dua. Ada pula Arion dan Mangga Dua Mall selain pasar pagi Mangga Dua. Bagi orang daerah, Mangga Dua udah super lengkap mencari barang serta hiburan untuk anak.


Malam harinya Dafi dan Qeena mau nongkrong ditempat yang cozy buat berduaan, sambil membicarakan hal-hal yang perlu dibahas berdua dalam suasana yang tenang.


Mereka sepakat bahwa dalam pernikahan, laki-laki ga akan bisa mengerti semua yang perempuan inginkan bila ia hanya diam aja. Begitu juga perempuan, tidak akan mengerti dengan logika laki-laki dalam mengekspresikan cinta terhadap pasangan tanpa adanya komunikasi. Komunikasi dapat menjadi jembatan yang baik bagi keduanya agar dapat saling memahami perbedaan yang ada, meminimalisasi konflik dan menyampaikan kasih sayang.


Terpisahnya jarak tinggal dan kesibukan pasangan, mereka memerlukan adanya ketersediaan waktu keduanya dalam rangka berusaha memahami pasangan, kemudian menentukan kompromi yang paling mungkin dilakukan atas perbedaan diantara mereka. Istri harus memahami kecenderungan para suami dalam mengungkapkan apresiasi pada sebuah hubungan, suami pun harus mengerti kecenderungan perempuan yang masih ingin menunjukkan jati dirinya.


Ternyata mereka malah nongkrong di Monas karena banyak cafe dan restoran yang mereka tuju malah rame. Melihat pemandangan malam yang berbeda dan belum pernah mereka rasakan berdua sebagai pasangan suami istri.


💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐


Deket rumah Enyak di Bojonggede lagi ada acara pernikahan, karena juragan kontrakan yang akan mantu, jadinya manggil Mamah Mimin buat kasih tausyiah calon pengantin malam ini diacara pengajian sebelum akad nikah. Dari soundsystem dengan pengeras yang lumayan jelas, di kamarnya Iyus mendengarkan tausyiah tersebut karena lagi ga punya duit buat jalan keluar. Enyak juga ga ada duit buat dimintain.


"Ketika anda sebagai laki-laki mengucap.. Saya terima nikahnya Fulanah binti Fulan, dengan mas kawin tersebut dibayar tunai... Terdengar singkat, padat dan jelas memang, tapi tahu ga makna ikrar tersebut? Itu tersurat tetapi ada pula yang tersirat. Apa yang tersirat? Anda sebagai suami akan menanggung dosa-dosa istri kalo dia ga menutup aurat sampe ketika ia meninggalkan sholat. Semua yang berhubungan dengan istri maka suami yang tanggung dan bukan lagi orang tuanya yang menanggung. Sebagai suami harus sadar, sekiranya gagal dan lepas tangan dalam menunaikan tanggung jawab, maka Anda adalah suami yang dayus. Akad nikah ini bukan saja perjanjian duniawi, tetapi ini adalah perjanjian suci kepada Allah SWT. Duhai para istri ... Begitu beratnya pengorbanan suamimu terhadapmu pada saat ijab terucap, Arsy-Nya berguncang karena beratnya perjanjian yang dibuat olehnya didepan Allah SWT dengan disaksikan para malaikat dan manusia. Semua hal yang istri lakukan buat membahagiakan suami, itupun belum cukup untuk menebus semua pengorbanan suami terhadap istri. Semoga bisa dijadikan pegangan bagi yang sudah menikah maupun yang belum ... betapa beratnya beban yang ditanggung suami. Oleh karena itu untuk meringankan tanggung jawabnya, seorang istri harus patuh kepada suami, menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Semoga kita semua menjadi orang tua yang dapat memberikan yang terbaik untuk anak-anak kita kelak dengan agama dan cinta kasih sehingga tercipta keluarga yang sakinah, mawaddah dan warahmah. Aamin Yaa Rabbal'alamin" ucap Mamah Mimin.


Terbayang betapa Iyus udah memperlakukan Nuha dengan semena-mena, ga hanya menyakiti fisiknya tapi juga menyakiti mentalnya. Hal yang sama pun dia lakukan terhadap Imah yang ia rayu dengan cinta berselimut nafsu belaka. Hingga akhirnya Imah mencari cinta lain yang lebih baik darinya. Terbayang Qeena kecil yang ia sia-siakan bahkan bisa dihitung jari dia gendong sejak Qeena lahir.


Qeena adalah anak yang ketika lahir tidak diadzankan olehnya tapi sama dokter yang ada di Puskesmas karena Iyus ga hapal adzan. Anak yang ketika terusir bersama Nuha ga pernah dicari dan ga mau tau juga kabar beritanya.


Malam ini jiwanya meronta penuh duka, Iyus mengangkat teleponnya. Memencet nomer Qeena, karena HP Qeena ga aktif, Iyus menelpon ke Dafi. HP Dafi aktif karena dia masih menunggu laporan-laporan dari rekan-rekannya.


Begitu dilayar HP tertulis nama Iyus, Dafi menyerahkan HP ke Qeena, dia malas merusak malam romantis ini sama emosinya yang pasti muncul tiap kali ditelepon Iyus yang ujung-ujungnya hanya minta ditransfer uang.


"Assalamualaikum Pak.." sapa Qeena.


"Waalaikumussalam.. Qeena ya... lagi sibuk ga? Papa telepon ke HP Qeena kok ga aktif?" ucap Iyus dengan sopan.


Tentunya Qeena bingung sama intonasi bicara Iyus malam ini.


"Lagi ga mau diganggu aja makanya di non aktifkan HPnya, mumpung Mas Dafi juga lagi dinas di Jakarta jadi mau berduaan sama beliau. Ada apa ya Pak?" jawab Qeena sopan.


"Qeena.. maafin semua hal dimasa lalu ya... kamu pasti paham kan maksud Papa?" kata Iyus dengan suara tertahan.


"Pak... yang udah ya udah.. kita ga bisa ubah kan? kita buka lembaran baru lagi aja tanpa mandang kebelakang, malah bikin dendam doangan" jawab Qeena.

__ADS_1


Ga banyak yang dibicarakan antara Qeena dan Iyus, hanya permintaan maaf aja dari Iyus. Rencananya Iyus akan ikut Encingnya ke Kalimantan buat kerja di pembukaan hutan buat lahan persawahan.


__ADS_2