
Dafi dan keluarga berjalan kaki dari Mesjid menuju rumah.
"Mba Qeena .. tunggu" panggil remaja putri yang tampak buru-buru ngejar Qeena.
"Ya .. ada apa?" tanya Qeena sambil menghentikan langkahnya, Dafi yang ada disampingnya pun ikut berhenti.
"Mba .. kan mulai dua puluh Ramadhan akan ada festival Ramadhan. Kaya lomba-lomba keagamaan, kajian rutin, bazaar makanan dan pakaian serta donasi" papar remaja putri.
"Terus kenapa ya? maaf ya De .. saya kan baru tinggal disini, jadi belum tau tentang kegiatan Ramadhan di wilayah ini" tanya Qeena masih belum paham.
"Tahun ini kami dari pengurus keputrian Mesjid rencananya akan bikin acara baru Mba, yaitu resep praktis hidangan berbuka dan sahur. Hanya hari Sabtu Ahad kok Mba. Kan selama ini hanya acara yang berfokus ke anak-anak dan Bapak-bapak, untuk Ibu-ibunya sekedar bazaar aja. Makanya kita mau bikin semacam cooking class gitu Mba, sajian praktis tapi bisa dinikmati keluarga" ungkap remaja putri.
Keluarga Pak Dzul lainnya sudah jalan pulang duluan. Dafi masih nungguin Qeena ngobrol, Dafi juga ngobrol sekedarnya sama remaja putra yang ada disana juga.
"Waduh saya mah biasa aja De kemampuannya, mungkin didaerah sini ada yang lebih mumpuni ilmu dan kemampuan masaknya" ujar Qeena.
"Mba .. kita udah tanya sama Bu RT dan Bu RW serta beberapa orang warga, semua kompak nyebut nama Mba Qeena. Katanya masakannya simple tapi jadi enak. Lagipula kalo Ibu-ibu yang lain kan repot punya anak, kalo Mba Qeena kan masih single, ga ada yang diurusin" kata remaja putri.
Qeena menatap kearah Dafi. Dafi cuma senyum-senyum aja.
"Kalo Mas Dafi mah ada Mamanya yang ngurusin kan ya .. Mba Qeena kan baru calon istri, bukan istri .. hehehe" canda para remaja putri.
"Udah fokus ke pembicaraan awal aja, ga usah bahas pribadi" sahut Dafi biar para remaja cepat menyelesaikan urusannya sama Qeena.
"Jadi gitu ya... empat kali dong acaranya, tanggal dua satu .. dua dua .. dua lapan dan dua sembilan Ramadhan ya. Mana fokus Ibu-ibu diakhir Ramadhan, kalo mau dua kali aja tuh di tanggal awal dua puluhan aja. Tapi Mba minta waktu buat mikir dulu ya, besok saya kasih jawaban" ujar Qeena.
"Boleh minta nomer HP nya Mba? biar kita bisa komunikasi langsung" tanya remaja putri.
Qeena memberikan nomer HP nya ke para remaja putri. Kemudian pamit pulang.
"Kakinya masih sakit?" tanya Dafi.
"So far so good" jawab Qeena sambil berjalan berdua.
"Kirain mau minta digendong lagi, Mas udah siap nih buat jadi ojeg gendong kalo kamu mau" ledek Dafi.
"Maaf ya tadi siang ngerepotin Mas" jawab Qeena.
"Ga kok, Mas malah seneng liat kamu manja. Tapiiii ... jangan dalam kondisi shaum terus kamu godain gitu, iman Mas masih tipis Neng" ingat Dafi.
__ADS_1
"Siapa yang godain coba, sekedar minta usap-usap kaki aja tergoda, apalagi usap-usap yang lain" pancing Qeena.
"Wah udah mulai nakal nih ya, awas aja nanti kalo Mas balik ke Semarang terus kamu nakal, pasti Mas sentil .. hehehe" jawab Dafi.
"Tawaran remaja putri yang tadi gimana enaknya ya Mas?" tanya Qeena.
"Up to you .. kan kamu yang jalanin semuanya. Kalo dirasa mampu dan ada waktu ya silahkan aja." jawab Dafi.
"Tapi kan rencananya Qeena mau pulang kampung, mau merasakan idul fitri disana. Udah ngobrol sih sama Mak Nuha gimana kalo seminggu sebelum hari raya udah mudik, dari pada bareng orang libur kerja, pasti macet dan tiket rebutan" ujar Qeena.
"Kok ga bilang sama Mas kalo mau pulang kampung? kan ini tahun pertama kita ngerayain idul fitri bareng, kok malah kamu mau mudik" kata Dafi rada kecewa.
Mereka berdua jalan dalam diam. Begitu sampe rumah, Qeena langsung masuk lewat pagar rumah yang diikuti Dafi kemudian menggembok pagar.
Mak Nuha udah masuk kamar, Qeena masih duduk di dapur sambil mengupas buah pepaya. Setelah mengunci pintu rumahnya, Dafi menghampiri Qeena ke dapur.
"Neng .. Mas udah punya rencana buat sounding pernikahan kita ke saudara-saudara pas idul fitri ini, jadi sekalian kita silaturahim saling bermaafan, ya sekalian kasih tau kalo kita akan melegalkan pernikahan kita dalam waktu dekat. Nanti baru deh hari ketiganya kita ke Wonogiri buat merancang semua. Kita emang udah sepakat nikah di KUA, tapi kan pasti ada acara makan keluarga besar, paling kita cari restoran yang bisa menerima orderan buat makan disana dengan jumlah yang banyak. Abis itu lanjut ke Semarang, ikut pindah kesana sama Mas sampe kita nikah resmi. Mas udah tanya-tanya rumah kontrakan disana, belum tau juga bakalan lama atau ngga disana, soalnya Mas udah gabung di tim bareng Kominfo kan. Tapi udah siap ada kontrakan kosong dibelakang rumah dinas Mas. Kamu sama Mak Nuha bisa tinggal disana dulu sementara waktu. Mas merasa lebih tenang kalo kamu dalam pantauan Mas langsung. Kita kan ga tau apa nantinya Pak Iyus bakalan mengulangi tindakan kaya kemarin lagi. Belum sikap Bunda sama kamu .. pokoknya lebih baik ikut Mas aja ke Semarang" jelas Dafi.
"Mas .. dulu kami selalu pengen takbiran dan ngerasain lebaran di kampung, sepanjang hidup baru beberapa kali aja, itu juga saat emang pas tinggal disana. Kami kan banyak tinggal di Jakarta. Bahkan dua tahun terakhir di Ciloto pun pulangnya ga pas hari raya. Tiket bus naik dua kali lipat, jadi kami cari tiket saat arus balik, kan lebih sepi tuh kalo kita mudik, harga pun standar. Sekarang kan bisa dibilang udah ada uang buat beli tiket berapapun harganya. Ada tabungan dari jualan kue dan uang dari Mas" jelas Qeena.
"Yang namanya udah berkeluarga tuh beda sama saat single. Semua harus dibicarakan, adanya juga kamu ikut rencana Mas dulu. Toh tetap ke Wonogiri juga kan?" tanya Dafi.
"Ini gimana sih konsepnya? masa suami istri harus berjauhan merayakan hari raya, ya kalo karena pekerjaan yang ga bisa ditinggal seperti tugas perang atau kerja diluar negeri wajar aja buat pisah jarak. Lah ini .. ga ada apa-apa malah memilih merayakan secara terpisah. Kamu mikir ga sih pas punya niatan kaya gitu? mbok ya diskusi dulu. Makanya kalo Mas telpon tuh diangkat" ngotot Dafi.
"My life is mine .. " jawab Qeena.
"Baca deh surah An-Nisa ayat tiga puluh empat : Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. Disitu kan jelas kalo suami adalah pemimpin istri dan keluarganya. Punya kewajiban mengurus berbagai keperluan para istri, memberikan nafkah dan memimpin. Wanita sholehah senantiasa taat kepada Allah, patuh kepada suami dan menjaga hak-hak suaminya" jelas Dafi.
Qeena mencuci pepaya dan dikeringkan kemudian dimasukkan kedalam kotak dan diletakkan kedalam kulkas.
"Denger ga? Allah akan memberikan jaminan surga bagi istri yang taat dan berbakti kepada suaminya. Seorang perempuan yang sudah menikah, maka ridho seorang perempuan bukan hanya kepada orang tuanya lagi, melainkan ridho yang paling utama adalah berada dibawah suaminya" lanjut Dafi.
Qeena duduk di sofa. Dafi menghampiri dan duduk di karpet bawah.
"Kalo dinasehatin ngambek" ujar Dafi.
"Jadi ga boleh mudik?" tanya Qeena dengan wajah sedih.
"Siapa yang bilang ga boleh?" jawab Dafi.
__ADS_1
"Tuh kan berarti boleh" ujar Qeena.
"Ya Allah Gusti ... kenapa sih sekarang kamu berubah. Mana Qeena yang Mas kenal sebagai wanita yang penurut, ga ngelawan dan pakai logika" tanya Dafi heran.
"Ya udah .. jadinya gimana? boleh atau ngga?" kata Qeena meyakinkan.
"Ya sesuai rencana Mas tadi" jawab Dafi sambil tiduran beralaskan karpet dan memakai bantal malas yang baru dibeli Qeena di Marketplace.
"Besok ajalah ngobrolnya, males ribut .. Qeena mau tidur dulu" sahut Qeena yang jalan buru-buru menuju kamar, tapi sayangnya dia ga liat ada bagian karpet yang terlipat dan mengenai kakinya, jadilah Qeena terjatuh.
Dafi secara spontan menertawakan Qeena. Mak Nuha mendengar seperti ada yang jatuh, tapi karena ga lama terdengar suara tawa Dafi, jadi dianggap mereka lagi becanda.
"Aduh... aduh sakit" kata Qeena.
Dafi menghentikan tawanya dan langsung menghampiri Qeena. Ada darah merembes di perban. Pas perban dibuka kaya ada rembesan darah.
Fajar hari ini lagi shift malam, jadi ga ada di rumah. Dafi langsung berinisiatif membawa Qeena ke Klinik dua puluh empat jam buat memeriksa jahitan.
Ternyata jahitan yang belum kering, ada bagian ujung yang berdarah karena keserimpet karpet.
Ga perlu dijahit, tapi dipasang seperti solasi kecil diujung jahitan agar rapat.
"Jangan beraktivitas yang berat ya? ini untungnya ga robek jahitannya. Kalo sampe robek, bisa dijahit ulang" kata dokter jaga.
Pulang dari klinik, Qeena digendong sama Dafi buat masuk ke rumah. Diletakkan tubuh Qeena di sofa.
"Kamu tidur disini aja, jangan ganggu Emak tidur. Nanti Mas temenin, Mas tidur di karpet" perintah Dafi.
"Ya .. tapi minta tolong ambilin minum Mas, mau minum obat" pinta Qeena.
Dafi mengambilkan segelas air putih dan menyerahkan ke Qeena.
"Mas .. perih .. " kata Qeena mulai rewel.
"Terus gimana?" tanya Dafi.
"Kipasin .. kan ga ada kipas angin disini" jawab Qeena.
Dafi mengambil sebuah majalah yang tergeletak dibawah meja kemudian ngipasin kaki Qeena hingga Qeena tertidur pulas.
__ADS_1