
Dafi langsung pulang malam itu juga menuju rumah, dia memakai mobil kantor dan menyetir sendiri. Tadinya ada rekan yang mau ikut mendampingi Dafi pulang, tapi ditolak Dafi karena alasan sedang banyak pekerjaan, dia aja ijin dadakan.
Didalam mobil, Dafi diam membisu tapi terus mendengarkan murotal dari radio mobil yang dia sambungkan ke bluetooth HP nya.
"Rian ... Bertambah besarnya dirimu, bertambah pula umur Mas. Semakin besar tuntutan buat Mas makin bersikap dewasa, mulai menghadapi kehidupan dengan masalah yang beraneka ragam. Maaf jika Mas ga sempat menemanimu main, ga bisa selalu membantu kalo kamu perlu sesuatu. Maaf, kalo Mas belum bisa menjadi kakak yang terbaik buat kamu. Maafkan Mas yang terkadang mengacuhkan kamu, bahkan sempat memarahi kamu. Beristirahatlah adikku, tunai sudah tugasmu didunia ini. Terimakasih atas segala cinta dan pelajaran berharga dalam hidup kami semua" kata Dafi sambil menatap kearah jalan dan bicara dalam hatinya.
๐ต๏ธ
Qeena dan Bu Fia adalah orang yang paling histeris dengan kepergian Rian. Keduanya memaksa untuk terus berada disampingnya jenazah Rian, tapi berulang kali kesedihan itu membuat tubuh mereka melemah.
"Qeena .. istirahat dulu aja di kamar, jangan paksain diri. Kalo sayang sama Mas Rian ya jangan ditangisi mulu. Dia udah tenang. Pikirin juga anak dalam perut kamu tuh, makan dulu ya, tadi Bu RT kirim nasi goreng buat keluarga sini" ucap Mak Nuha.
"Mas Rian Makkkk.... " ujar Qeena dalam kesedihan mendalamnya.
"Iya .. tapi kan kamu juga ga boleh dzolim sama janin, dia juga butuh makan. Jadi sekarang makan dulu ya" lanjut Mak Nuha.
"Ga mau Mak .. maunya disini sama Mas Rian. Dia orang yang baik Mak" kata Qeena.
"Ya ga elok makan didepan jenazah, nanti kalo udah makan baru balik kesini lagi baca do'a sama ngaji bareng lagi" bujuk Mak Nuha.
Qeena masih bersikeras ga mau makan. Izma juga tampak membujuk Bundanya agar mau makan.
"Bun .. isi perutnya dulu yuk, nanti masuk angin" kata Izma pelan.
Bu Fia masih menangisi kepergian Rian.
"Rian... maafin Bunda yang ga pernah ngasih perhatian ke kamu. Maafin Bunda yang ga terima sama kondisi keistimewaan kamu .. maafin Bunda ya.." lirih Bu Fia berkata.
"Bun .. jangan menyesal kaya gitu. Mohon ampunan sama Allah, toh Bunda juga udah banyak berubah ke Mas Rian" lanjut Izma.
"Tapi baru sebentar Bunda kasih dia perhatian dan cinta, selama ini banyakan Bunda abaikan dia" sesal Bu Fia.
๐บ
Fajar masih tampak sibuk berkoordinasi sama pihak Mesjid dan RT RW. Rupanya persis disebelah makam Ayahnya masih kosong. Jadi Fajar meminta liang tersebut untuk Rian.
Komunitas fotografinya Rian datang semua ke rumah. Ga menyangka kalo Rian punya teman sebanyak itu. Banyak yang bersaksi kalo Rian adalah orang yang baik, walaupun dia istimewa diantara komunitasnya, sosoknya yang paling banyak membantu jika teman mengalami kesulitan.
Keluarga Pak Dzul dan keluarga Bu Fia juga berdatangan ke rumah. Iyus dan Rida tampak hadir di rumah Bu Fia.
Iyus mendekati jenazah Rian, ada wajah penuh penyesalan tampak diraut muka Iyus.
"Rian ... maafin Pak Iyus ya, semua yang Pak Iyus lakukan dulu karena semata-mata buat keuntungan pribadi Pak Iyus. Maafin Pak Iyus" ucap Iyus sambil melihat wajah tenang Rian seperti orang tidur.
__ADS_1
Iyus mundur ke belakang kemudian mengambil buku Yasin. Iyus mulai membaca huruf latinnya, sudah ga bagus bacaan huruf arabnya karena udah lama ga membaca Al Qur'an.
Ada perasaan yang berbeda saat membaca Yasin dalam diri Iyus. Pelan-pelan dia membacanya. Sejak dijalan tadi sudah dinasehati sama Rida kalo Iyus harus ikut ngaji bersama pelayat lainnya.
Begitu udah selesai, diletakkan buku Yasin di meja kecil ga jauh dari tempat dia duduk. Kemudian Iyus keluar rumah menuju teras. Para warga sedang melek-melek, mereka ngopi dan ngerokok diluar rumah biar ga ngantuk.
Ga lama kemudian Imam Mesjid juga keluar bareng Fajar dari rumah Bu Fia. Mereka ikut ngumpul sama warga disana. Menikmati kopi dan kudapan dari para warga.
"Ga nyangka ya, masih muda udah meninggal duluan" ucap warga.
"Punya penyakit bahaya ga Rian?" tanya warga lainnya.
"Ga ada Pak" jawab Fajar.
"Ya sudah selesai tugasnya, kita yang masih hidup ingat akan firman Allah .. Dia yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya (QS Al-Mulk 67:2). Wahyu tersebut mengabarkan kepada manusia bahwasanya tujuan Allah menciptakan kehidupan dan kematian adalah memberikan kesempatan kepada manusia untuk tampil sebagai makhluk moral.ย Yaitu, makhluk yang punya kemampuan untuk memilih, mau berbuat kebajikan ataukah keburukan. Pilihan-pilihan yang dijalankan akan kembali ditampakkan dalam kehidupan setelah kematian. Untuk itu, Islam menganjurkan hendaknya hidup ini dijalani dengan sungguh-sungguh, baik sungguh-sungguh dalam ketakwaan maupun dalam amalan. Jangan disia-siakan hidup ini diisi dengan lumuran dosa dan kemaksiatan" nasehat Imam Mesjid.
Semua mendengarkan dengan seksama. Tapi bagi Iyus adalah sebuah tamparan hebat luar biasa. Apa yang dipaparkan oleh Pak Imam Mesjid hanya sekedar satu ayat, tapi artinya membuat Iyus flashback masa lalunya. Badannya bergetar, keringat dingin membanjiri tubuhnya, wajahnya pun pucat pasi.
"Pak Iyus ga sehat? mending istirahat aja dulu di kamar tamu atau di rumah Qeena. Minta sama istrinya untuk dibuatkan teh hangat" saran Fajar.
"Iya Mas .. saya mau numpang tiduran di rumah Qeena aja dulu. Kayanya badan pada greges semua" jawab Iyus.
"Iya .. pucet gitu" lanjut Fajar.
๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ
Dafi lewat tol Merak Jakarta kemudian keluar di Palmerah. Hanya sekitar dua jam perjalanan. Tapi begitu keluar tol, dilihatnya ada seorang wanita berjilbab menangis seorang diri dipinggir jalan, tepat pukul dua belas malam.
Sempat ada kekhawatiran dalam benak Dafi kalo ini adalah penjebakan tindak kejahatan. Tapi melihat wanita tersebut rasanya kasian. Dengan penuh kewaspadaan, Dafi turun dari mobil dan mengunci mobilnya. Dia mengamati sebentar area sekitar tempat dia berhenti. Lalu lalang jalan Jakarta masih ramai walaupun ga banyak yang melintas.
"Mas Dafi???" kata Zahwa begitu melihat Dafi.
Zahwa yang ketakutan langsung memeluk Dafi dengan eratnya.
"Kok ada disini?" tanya Dafi kaget.
"Panjang ceritanya Mas" jawab Zahwa.
Dafi berusaha melepaskan pelukan Zahwa. Karena sudah malam, Dafi punya ide untuk membawa Zahwa ke hotel aja karena kalo di rumah sedang ada kematian. Mereka masuk kedalam mobil.
Dafi membuka obrolan dengan berita kematian Rian. Zahwa tampak bersimpati.
"Mas gapapa nih antar Zahwa dulu nyari hotel? turut berdukacita ya Mas atas kepergian Rian" kata Zahwa ga enak hati.
__ADS_1
"Sekarang kamu hubungi orang tua dulu, ini pake Mas. Ada nomer HP Bapak sama Kakak kamu" ujar Dafi sambil memberikan HP nya ke Zahwa.
Zahwa memencet no HP Kakaknya. Tersebut Zahwa sekilas cerita dan meminta Kakaknya buat menjemput di hotel.
Setelah mengurus semua administrasi check in hotel, Dafi pamit pulang.
"Maaf ya Mas ga bisa takziaj sekarang, kondisi Wa masih trauma" ucap Zahwa.
"Mas paham .. oh ya kamar ini udah Mas bayar, terus udah telpon Kakak kamu juga buat kasih tau keberadaan kamu. Mas pulang dulu ya. Ini kartu nama Mas dan ini sedikit uang pegangan buat kamu makan malam ini" jelas Dafi sambil menyerahkan uang dua ratus ribu rupiah.
๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ
Dafi sampe rumah sekitar jam satu malam, dia langsung memeluk Bundanya. Dafi terlihat tegar duduk disamping jenazah Rian.
Setelah berwudhu, Dafi mengaji bersama para warga. Satu jam setelah dia sampe rumah, baru celingukan mencari sosok istri tercintanya.
Ternyata Qeena tiduran di kamar Bu Fia sambil menangis ditemani sama Mak Nuha dan Mak Imah. Setelah ada Dafi, keduanya keluar dari kamar.
Dafi memeluk Qeena, kembali Qeena menangis dalam pelukan Dafi. Diantara isak tangisnya, Qeena mencium aroma parfum wanita dibajunya Dafi. Meskipun hidungnya sudah basah karena menangis semalaman, aroma ini cukup tercium. Ditambah ada bros kecil menempel di jaket milik Dafi yang sudah dilepas dan diletakkan diujung ranjang.
"Kamu belum makan?" tanya Dafi saat melihat ada sepiring nasi goreng di meja samping tempat tidur.
"Mas abis ketemu siapa? kok wangi parfum perempuan?" kata Qeena dengan penuh cemburu.
"Wangi? masa sih?" ujar Dafi sambil mencium aroma badannya sendiri.
"Abis sama siapa?" selidik Qeena lagi.
"Oh tadi abis ketemu sama Zahwa, mungkin pas dia meluk Mas, aroma minyak wangi masih nempel" cerita Dafi.
"Meluk Mas? malam-malam gini? Mas kan dari Serang, emang dia disana juga? Mas main gila ya sama dia?" cerocos Qeena yang makin marah.
Qeena meminta Dafi keluar kamar tanpa mau dengar cerita dari Dafi. Karena dalam suasana duka, Dafi ga mau memperpanjang urusan dulu. Ada hal penting yang harus dikerjakan yaitu memakamkan Rian. Nanti baru semua akan dijelaskan ke Qeena tentang pertemuan sama Zahwa di jalan.
๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ
Setelah memakamkan Rian persis disamping makam Ayahnya, Dafi dan keluarga besar besert tetangga kembali ke rumah Bu Fia. Qeena ga ikut ke pemakaman karena merasa pusing. Bu Fia yang ikut juga malah pingsan sebelum Rian dimakamkan. Alifa juga ga ikut ke pemakaman karena Fajar ga mengijinkan, jadi Alifa ditungguin sama Ibu dan kakak iparnya.
Iyus dan Rida sudah pamit pulang subuh tadi karena melihat kondisi tubuh Iyus yang tambah pucat. Rida yang membawa motor dan Iyus dibonceng sama Rida dan tubuhnya diikat pakai kain jarik ketubuhnya Rida agar ga jatuh.
Sudah beberapa kali Bu Fia pingsan, akhirnya Dafi memutuskan untuk membawa Bu Fia ke Klinik sebelum pulang ke rumah.
Tekanan batin yang sangat luar biasa membuat Bu Fia merasakan sakit kepala yang luar biasa. Ditambah beliau juga hipertensi, jadinya makin terasa pusing kepalanya.
__ADS_1