
Bus mulai berjalan menuju Jakarta. Dafi masih sibuk sama laptopnya. Qeena dari tadi megangin perut aja, lama kelamaan Dafi merasa ada yang ga beres sama Qeena. Ditutupnya laptop kemudian dimasukkan dalam tas ranselnya.
"Kenapa perutnya? sakit perut atau lapar?" tanya Dafi pelan.
"Sakit Mas .. biasa penyakitnya cewek tiap bulan" jawab Qeena rada berbisik.
"Biasanya pake apa buat ilangin sakitnya? atau mau tanya Fajar aja biar ada solusi?" tawar Dafi.
"Biasanya minum hangat terus dibawa tidur. Jangan telpon Mas Fajar .. malu.." jawab Qeena dengan suara makin pelan.
"Ya udah minum aja kalo ga shaum, mau Mas buatin teh hangat?" jawab Dafi.
"Ga enaklah Mas .. diliatin orang nanti" kata Qeena masih megangin perutnya.
"Orang juga maklum kalo wanita pasti ada waktu ga shaumnya" jawab Dafi.
"Qeena coba tidur aja ya, siapa tau mendingan. Minumnya nanti aja kalo udah Maghrib" pilih Qeena.
"Ya udah terserah" ujar Dafi.
Qeena membuka selimut dalam plastik yang diberikan sebagai salah satu fasilitas dari bus ini. Dibagian bawah jok ada leg rest, jadi kaki bisa dinaikin kesana. Qeena menyender kebagian kaca bus sambil mengelus perutnya.
"Udah hari keberapa?" tanya Dafi lagi.
"Hari keempat, biasanya begini cuma satu dua hari aja, tapi kali ini kok malah tiap hari makin sakit" jelas Qeena.
"Sini nyender ke Mas aja, nanti kejeduk kaca kan kepalanya bisa sakit" ujar Dafi sambil meletakkan kepala Qeena dibahunya.
Adzan ashar terdengar disepanjang jalan yang dilalui karena banyak Mesjid. Dafi meminta Qeena duduk bersandar ke bangkunya dulu karena dia mau sholat.
"Masih sakit? pakai minyak kayu putih atau apa gitu biar agak reda" kata Dafi.
"Nanti deh kalo berhenti di rest area kan ada minimarket, bisa tolong beliin koyo aja Mas, kalo minyak kayu putih atau minyak angin udah kaya nenek-nenek naik angkutan umum .. bau minyak angin" ucap Qeena.
"Oke, biasanya kalo udah setengah perjalanan baru mampir ke rest area, namanya naik kendaraan umum, ga bisa asal berhenti" jawab Dafi lagi.
Dafi sholat dibangkunya, memakai baju koko yang sudah disiapkan diranselnya. Setelah sholat, dia lanjut membaca mushaf kecil yang dibawanya, suaranya sangat kecil (dia ga baca dalam hati karena ingin yang mendengar bisa mendapatkan pahala juga seperti yang membaca). Selama satu jam Dafi khusyu dalam ibadahnya, kemudian dia merapihkan kembali kedalam tas ransel dan dinaikkan kebagian atas tempat duduk mereka (tempat meletakkan tas).
"Mas .. masih marah ya sama Qeena?" tanya Qeena hati-hati.
"Ngga .. buat apa marah? semua sudah dipikirkan masak-masak kok. Gimana sepuluh hari tanpa Mas? kangen?" goda Dafi.
"Ge er, kebalik kali" balik Qeena.
"Biasa aja .. sekarang aja biasa aja kan?" ujar Dafi sok santai.
"Lelaki mah cepat melupakan .. Mas .. Qeena minta maaf ya" kata Qeena.
"Minta maaf buat apa ya?" tanya Dafi pura-pura ga tau.
"Buat keputusan ninggalin Mas" jawab Qeena.
"Terus jadinya mau balikan atau ngga?" tembak Dafi langsung.
__ADS_1
"Mas gimana?" ujar Qeena.
"Kamu pasti ga bisa ngelepasin pesona Mas ya .. udah jatuh cinta kan? udah sayang banget pastinya, makanya mau ikut Mas" bisik Dafi.
Spontan Qeena menyubit tangannya Dafi. Ada semburat merah jambu dipipinya.
"Aduh..." kata Dafi sambil mengusap tangannya.
Yang duduk disebelah mereka langsung nengok kearah pasangan ini. Dafi dan Qeena hanya senyum aja pas diliatin.
"Jangan nyubit-nyubit dong, kasian yang disebelah sendirian, kalo dia ngiri masa nyubit kondektur atau supir bus nya" bisik Dafi lagi.
"Ini orang ya .. udah mah pacaran di bus, bulan Ramadhan pula. Anak abege sekarang emang ga kenal tempat kalo memadu kasih, bukannya ngiri sih, tapi geli aja liatnya. Sholat mah sholat, tapi ceweknya malah disuruh senderan dibahu .. cowoknya juga megangin tangan aja udah kaya mau nyebrang" dumel orang disebelahnya dalam hati.
Dua bangku didepan Dafi dan Qeena malah lebih ekstrim lagi, dari tadi bikin resah para penumpang disebelahnya dan kondektur yang tampak bolak-balik. Keliatan banget mesranya, seakan bagian depan ini disediakan buat pasangan yang lagi kasmaran.
"Ini juga samanya juga pasangan gelo, tadi keluar kamar mandi langsung disajikan pemandangan lagi mencium pipi .. emang jaman udah edan. Kayanya dua pasangan ini masih muda-muda dan keliatannya bukan pasangan suami istri. Inget woyyy ..ini Ramadhan hari terakhir, bukannya ibadah yang bener malah bikin dosa" lanjut orang yang duduk disebelah dalam hatinya.
Jam lima sore, snack box dibagikan. Qeena melihat isi snack box, ada lontong, risol dan kue bolu. Dikasih pula satu kotak teh kemasan sebagai minumannya.
Menjelang berbuka, Qeena dan Dafi mendengarkan ceramah agama via HP, mereka memakai headset berdua, sebelah telinga aja pakainya.
Tema kultumnya yang simpel aja, sekedar mengisi waktu dengan positif. Lama kelamaan Qeena kembali menyenderkan kepalanya ke pundak Dafi, Dafi pun menempelkan kepalanya di kepala Qeena. Tangan Dafi masih menggenggam tangan Qeena, kadang ada perasaan yang ga perlu
#Pernikahan dalam Islam merupakan sunnah Rasulullah. Bagi yang sudah menikah mereka mengharapkan rahmat dan bekal keberkahan dalam akad yang diucapkan dan dijanjikan bersama. Namun dibalik itu, esensi pernikahan sejatinya adalah sebuah ketenangan, kenyamanan dan kecukupan antara satu dengan lainnya. Pernikahan memang tidak sepenuhnya menjanjikan setiap pasangan untuk hidup selalu senang, tapi juga bukan perkara menjalani hidup dengan kesulitan terus-menerus. Dalam rumah tangga kerap terjadi gejolak yang kerap menyentuh setiap pasangan. Namun demikian, setiap pasangan diingatkan untuk selalu menyandarkan dirinya kepada Allah SWT. Memupuk keimanan, ketakwaan, serta kepatuhan dalam beribadah merupakan modal utama dalam membangun rumah tangga. Dengan modal tersebut, keberkahan akan melingkupi siapa pun yang berada didalam rumah tangga tersebut. Usai menikah, perbaiki lagi shalatnya, dirikan shalat wajib dan sunnah, penuhi rumah tangga kita dengan keberkahan. Tutup aib diri satu sama lain sebagai kekuatan dan bahan evaluasi bersama. Tak layak keburukan rumah tangga diumbar dan dikonsumsi khalayak publik# sedikit cuplikan kultum yang Dafi dan Qeena dengar.
"Mas .. sepuluh menit lagi adzan, belum bikin teh hangat" ingat Qeena.
"Kamu duduk aja, katanya perut masih sakit. Mas bikin sendiri, mau dibikinin juga?" tanya Dafi.
Dafi ikut antrian yang juga mau membuat teh hangat dan kopi, setelah mengambil dua cup kertas dan diberi teh sachet, diambilnya air dari dispenser dan mengambil dua gula kemasan serta kayu pengaduknya.
Adzan terdengar diseluruh ruangan dalam bus, semua membatalkan shaumnya hari ini.
"Alhamdulillah .. poll deh tahun ini" ucap Dafi disela menikmati snack yang ada.
"Ya kalo cowo mah ga ada alasan batal kecuali sakit" jawab Qeena.
"Kok ga makan?" tanya Dafi.
"Perut masih ga enak" kata Qeena.
"Biasa ya tiap bulan begitu? kayanya pernah ngeluh hal yang sama deh. Apa ga periksa ke dokter biar tau jelas cara mengobatinya?" saran Dafi.
"Nanti aja ya Mas .. sekarang kayanya malu, status di KTP single tapi cek ke dokter kandungan" ucap Qeena.
"Gapapa sih sebenarnya, emang orang Indonesia itu banyak mikir diomongin orang dibanding buat kesehatan" ujar Dafi.
"Mas .. itu berantakan banget makannya" sahut Qeena.
"Punya tissue ga?" tanya Dafi.
"Habis" jawab Qeena.
__ADS_1
"Tapi kalo cinta dan sayang masih banyak stoknya dong" bisik Dafi iseng.
"Tapi ada handuk kecil nih, pakai dulu aja ya" kata Qeena mengalihkan pembicaraan.
Dafi kemudian sholat Maghrib dulu, karena Maghrib harus disegerakan mengingat waktunya lebih sempit dibandingkan waktu sholat lainnya. Mulai lantunan takbir terdengar didalam bus.
Saat di rest area, tadinya Qeena ga mau turun karena perutnya masih terasa kram, tapi karena mulai tembus dikulotnya yang berwarna coklat milo, jadi dia memutuskan buat ke kamar mandi buat mengganti pembalutnya serta celana panjang.
Dafi memberikan jaketnya buat nutupin bagian belakang kulot. Dia membawa tas ranselnya karena ada laptop, menemani Qeena hingga ke kamar mandi dan menunggu diluar.
Setelah mengganti celananya, Qeena dan Dafi ke minimarket, membeli mie instan dalam cup untuk menghangatkan perut dan membeli buah potong serta coklat Pan Mboten kesukaan Qeena.
Mereka naik ke bus dan menyeduh satu cup mie instan. Yang duduk di kelas seperti mereka masih diluar, hanya tersisa mereka berdua.
"Neng ... makan sekotak berdua dulu ya sama se cup mie, nanti kalo kurang ya buka lagi. Ga ada meja soalnya" usul Dafi.
"Ya" jawab Qeena nurut.
Qeena menyiapkan kotak makanan, lauknya yang dalam plastik dibuka. Ada ayam bakar plus sambal, oseng-oseng kacang panjang, kerupuk dan pisang. Tadi di minimarket sempat membeli keripik tempe, jadinya sekalian diletakkan dalam kotak.
Qeena memandang kearah Dafi.
"Kenapa Mas berbeda ya, waktu mau pergi kok kayanya marah banget, diam tanpa bicara, sekarang kaya ga terjadi apa-apa, beneran ga sih dia ga marah? kalo ga marah kenapa chat hanya dibaca aja ya? mau tanya nanti malah ngerusak suasana. Kaya dua kepribadian deh Mas Dafi ini .. penuh misteri" kata Qeena dalam hatinya.
"Eh bengong... kenapa malah liatin Mas .. ganteng ya?" goda Dafi.
"Ga ... udah makan .. daripada makin dingin nih nasi" jawab Qeena.
Keduanya banyak saling tatap dan tersenyum saat makan, ga ngobrol, seakan bicara pakai bahasa kalbu.
"Hadehhh ... ini emak bapaknya ga pada khawatir apa ya? dari tadi nempel mulu, segala bisik-bisikan .. eh sekarang makan sekotak berdua. Ngiritnya kebangetan, makan nasi kotak jatah dari bus dan cuma modal dibeliin mie instan satu cup doang, cewek sekarang mah gampang banget dikibulinnya. Udah mah tuh cewek cantik banget, keliatannya masih polos, ngeri dimainin deh sama nih cowo yang keliatannya player banget. Eh tapi kan gw kenal ngga, sodara bukan, apa nanti malah ga tersinggung?" nyinyir orang yang duduk disebelah mereka.
Dafi menyuapi Qeena mie instan yang ada ditangannya.
"Makan yang banyak, biar makin cantik" kata Dafi.
"Adanya gendut Mas bukan cantik" ujar Qeena.
"Tapi jangan kurus banget, ga seger liatnya" jawab Dafi.
"Makasih ya .. Mas selalu sabar menghadapi Qeena yang kadang masih ikutin perasaan daripada logika" kata Qeena sambil menyodorkan sesendok nasi dan lauknya kearah mulut Dafi.
Dafi langsung membuka mulutnya dan menikmati tiap gigitan dalam mulutnya.
"Kenapa kalo disuapin .. level kelezatan makanan tuh jadi naik ya? tadi kayanya kemanisan ayam bakarnya, begitu liat Neng kok jadi kalah manis sama senyumannya Neng" canda Dafi.
Kemudian mereka ketawa kecil bersama, sangat cair suasananya.
"Gombal amat sih .. segala ayam bakar kalah manis sama ceweknya ... tuh cewek malah ketawa dibandingin sama ayam bakar, kalo anak gw yang kaya gitu mah udah gw tenteng ke rumah buat dikawinin" ujar orang yang duduk disebelah mereka.
Gak terasa akhirnya mereka makan dua nasi kotak, sebungkus keripik tempe dan satu cup mie instan. Bergantian mencuci tangan di kamar mandi.
Ga lama adzan isya berkumandang, Dafi langsung sholat.
__ADS_1
"Gw liat nih cowo alim banget, sholatnya lama, baca Al Qur'an segala, tapi kenapa nempel gitu sama ceweknya? kayanya bukan pasangan suami istri, beda banget kemesraannya. Sabar .. sabar ... bikin ga nyaman banget nih diperjalanan" dumel orang disebelah mereka.