
Siapa yang ga pernah merasakan sakit hati terhadap orang yang udah menyakiti kita? setiap manusia pernah merasakan sakit hati. Hanya saja dalam mengekspresikan rasa kecewa dan sakit hati ini berbeda-beda, mulai dari diam, malas bertegur sapa hingga mengungkapkannya pada orang yang telah membuat sakit hati.
Saat ini, berkecamuk dalam hati orang-orang yang disakiti sama Iyus, rasa dendam dan susah memaafkan. Tapi apalah daya, orang yang membuat "kerusuhan hidup" dimasa lalu udah terbujur kaku tanpa nyawa.
Matanya Iyus seperti menahan kesakitan yang amat sangat saat meregang nyawa, bibirnya pun tak terkatup rapat. Ustadz setempat sudah mencoba "merapihkan" tapi ga kunjung "normal" wajahnya.
Ga banyak tetangga yang ikut melek-melek malam ini, kebanyakan hanya saudara. Tetangga hanya datang saat Iyus baru meninggal dan hanya sebentar takziah. Iyus memang kurang disenangi didaerah sini karena gaya petantang petentengnya. Makanya ga banyak warga yang bersimpati saat dia sakit.
Mak Nuha dan Mak Nuha malah duduk agak jauh dari jenazah Iyus. Nyai dan Qeena duduk bersampingan membaca Al Qur'an. Dafi berada diseberangnya Qeena juga khusyu berdo'a untuk Iyus.
⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️
Seminggu sebelum meninggal, Nyai menelpon Dafi, ternyata Iyus yang meminta berbicara sama Dafi.
"Mas Dafi ... jangan sakiti Qeena seperti Bapak menyakiti Nuha dan Imah. Jangan permainkan kesetiaannya, jangan tumpah air matanya karena kemarahan. Mas .. dia permata hati yang udah Bapak buang bahkan ga dianggap, tapi lihat ... sekarang dia melakukan hal yang ga pernah Bapak berikan .. cinta. Kalo Mas pinya keinginan mendua, baiknya bicara langsung ke dia, kalo dia meminta sebuah perpisahan, kabulkan keinginannya. Biar dia bahagia dengan jalan yang dia pilih" kata Iyus serius.
Dafi agak kaget juga, sejak sakit, Iyus ga pernah ngobrol sama dia. Lebih banyak diam saat bertemu.
"Pak ... dia akan jadi wanita satu-satunya dalam hidup saya. Kalo saya meninggal duluan, ingin dia bahagia tanpa kehadiran saya. Dia mau nikah lagi atau apapun terserah dia. Tapi kalo dia yang Allah panggil terlebih dahulu, biarlah cinta saya terkubur bersama jasadnya. Ga akan ada yang menggantikan posisinya sebagai istri saya" janji Dafi saat itu.
"Hahahaha...." terdengar suara Iyus sedang tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Dafi yang terkesan puitis.
"Pak .. saya serius ngomongnya" kata Dafi menyakinkan.
"Kalian lucu... masih hidup ngomongin mati. Mana ada lelaki yang bisa hidup tanpa wanita, tapi wanita bisa hidup tanpa lelaki. Imah dan Nuha udah membuktikannya" lanjut Iyus.
"Bapak kenapa ngomong kaya gini? Bapak mau ketemu mereka semua?" tanya Dafi dengan sopan.
"Ga ... ga mau ketemu lagi sama mereka. Bapak mau pergi jauh dari mereka. Ingat mereka bikin Bapak gila ... hahaha" jawab Iyus kembali ketawa terbahak-bahak.
"Pak ... Bapak kenapa?" tanya Dafi lagi.
"Pokoknya Mas harus bikin Qeena bahagia. Imah dan Nuha udah bisa bahagia tanpa Bapak. Tapi Qeena merasakan bahagia kalo disamping Mas Dafi. Qeena anak yang baik, Qeena anak yang sangat baik, Qeena anak yang teramat sangat baik... " tiba-tiba Iyus menangis kejer sampe sesenggukan.
"Pak ... Bapak istirahat ya, Minggu depan saya main sama Qeena ke rumah Nyai ya, Bapak mau dibawain apa?" tanya Dafi pelan-pelan.
"Bawain nasi kotak aja ya, Minggu depan banyak yang mau datang ke rumah. Bapak ga punya duit buat menjamu mereka" kata Iyus ngelantur.
"Ada acara apa Pak? ada selametan?" tanya Dafi bingung.
"Bukan ... mau ada kumpul keluarga aja. Ga tau ada apa" sahut Iyus sambil memberikan HP ke Enyaknya.
Nyai meneruskan pembicaraan sama Dafi.
"Ada acara apa Nyai?" tanya Dafi lagi.
"Lah kaga ada apa-apa, tau sendiri Iyus lagi banyak ngehalu, jangan dibawa serius. Udah dulu ya .. Nyai mau sholat" pamit Nyai.
__ADS_1
⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️
"Rupanya ini Pak .. kumpul keluarga yang Bapak bilang. Besok ya Mas beliin nasi kotak buat yang tahlilan. Pak .. semoga Allah mengampuni segala dosa dan kesalahan Bapak. Hanya do'a yang bisa Mas panjatkan buat Bapak. Tapi janji Mas terhadap Qeena bukan main-main. Sekarang .. didepan jenazah Bapak, Mas bilang bahwa Qeena akan jadi pelabuhan terakhirnya Mas. Kisah Bapak akan menjadi rambu-rambu buat kami menjalani mahligai pernikahan kami. Terimakasih Pak .. telah menjadi seorang Bapak dari putri yang berhati mulia, dimana dendam dan sakit hatinya bisa berubah menjadi cinta saat bertemu sama Bapak lagi. Mas yang tau bagaimana dulu pandangannya terhadap Bapak, tapi ketika Bapak sakit .. dia banyak berubah. Setelah sholat, dia menyelipkan nama Bapak diantara do'anya, hal yang ga pernah mau dia lakukan. Pak .. beristirahatlah .. kami yang masih hidup akan melanjutkan kisah ini hingga maut menjelang" ucap Dafi dalam hatinya.
Dafi mengusap wajah Iyus pelan-pelan sambil berdo'a. Pelan-pelan wajah Iyus tampak tenang, sekarang mulutnya tertutup rapat, ga meringis seperti tadi. Tapi matanya masih terpejam seperti menahan sakit.
🍒
Begitu rombongan keluarga Rida datang, Mak Nuha dan Mak Imah malah keluar dari rumah dan duduk di halaman rumah yang udah dipasang terpal. Mereka duduk di bale.
Dafi yang melihat kedua Emaknya keluar, merasa kurang pantas dilihatnya, akhirnya dia ikut keluar untuk membawa masuk kembali kedua Emaknya.
"Mak .. Pak Iyus udah ga ada, sakit emang luka yang udah diberikan sama beliau. Mas cuma mau mengingatkan Emak berdua, dalam Al-Quran, surat An-Nur ayat 22, Dan hendaklah mereka memberi maaf dan berlapang dada. Apakah kalian tidak ingin Allah mengampuni kalian? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Tolonglah Mak .. lepaskan semua rasa amarah yang ada, memaafkan itu sikap mulia yang hendaknya dimiliki setiap orang, karena Allah Maha Pengampun dan menyayangi hamba-Nya. Siapa kita sampe memaafkan orang aja ga bisa, sedangkan Allah saja memaafkan hambanya yang udah berbuat keji" ingat Dafi sambil bergegas masuk kedalam rumah Nyai.
Mak Nuha dan Mak Imah masih diluar rumah. Udara malam yang dingin mulai menyentuh kulit, memang mereka pakai jaket, tapi masih juga terasa dingin menyentuh tulang. Udara malam ini dingin sekali, selepas hujan tadi Maghrib.
🌺
Hanya keluarga Rida yang legowo datang melihat jenazah Iyus. Bahkan tampak menguatkan Nyai dan saling bermaafan.
Keluarga Mak Nuha ga bisa datang karena kedua orangtuanya Mak Nuha dalam kondisi kurang sehat, Kakaknya Mak Nuha pun sudah sangat terlanjur sakit hati, jadi ga mau datang. Tapi orangtuanya Mak Nuha menelpon Nyai yang disambungkan sama Qeena. Keluarga Mak Imah udah bisa ditebak kalo ga akan pernah datang menginjakkan kakinya di rumah ini. Mak Imah udah berusaha menelpon dan mengirimkan chat tapi ga kunjung ada balasan dan respon dari keluarganya.
🍒
Lewat tengah malam, didepan jenazah Iyus, Nyai mulai bercerita tentang bagaimana Iyus sebelum meninggal.
"Udah dua hari ini dia males ngomong, tapi tadi pagi nanya sama Nyai, katanya dia ga tau caranya wudhu, Nyai ajarin sambil dipraktekin. Abis itu dia bingung katanya pake sarung gimana caranya, akhirnya Nyai pakein. Terus sajadahnya dimadepin ke kiblat, soalnya ga tau kalo sholat madep kiblat. Masih juga dia bingung harus ngapain, Nyai ajarin susah banget ngucap Allahu Akbar. Bacaan sholat semua lupa. Akhirnya dia duduk sambil angkat tangan, berkali-kali bilang maaf ... ga bisa juga nyebut nama Allah. Tapi dia sebut semua yang pernah dia sakitin... Nuha, Imah dan Qeena... nama yang diulang-ulang terus sama dia" ucap Nyai terbata-bata, Qeena memberikan tissue ke Nyai dan mengusap punggung Nyai.
"Iyus duduk minta maaf lama banget sambil nangis. Air matanya deres banget, kasian sih liatnya. Abis itu dia minta makan pangsit, katanya lama ga makan pangsit. Abis makan pangsit, dia muntah terus tidur, katanya kepalanya pusing. Abis Maghrib minta teh manis anget, katanya lemes. Ditawarin makan ga mau, katanya mau tidur. Abis Isya juga masih melek kok, ditawarin makan malah geleng-geleng. Pintu kamarnya sengaja ga ditutup, ponakan pada tidur didepan pintu kamar. Pas Nyak mau ke kamar mandi, sekitar jam sembilan kurang, liat Iyus kaya ikan ga ada air, menggelepar gitu. Terus ga lama kaya orang ketakutan tapi ga bisa ngomong, matanya melotot abis itu merem, terus kita kira pingsan. Panggil tetangga katanya dia udah meninggal. Karena penasaran, dipanggil dokter di Klinik depan jalan, ya udah meninggal kata dokternya. Cepet deh kejadiannya" cerita Kakaknya Iyus.
"Ga ada pesan atau gimana gitu?" tanya Qeena.
"Boro-boro pesan, orang diajak komunikasi aja susah" jawab Kakaknya Iyus.
🌺
Selepas sholat subuh, Dafi menghubungi sekretarisnya dan meminta ijin ga masuk hari ini karena Bapak mertuaku meninggal dunia. Qeena pun menghubungi Erin untuk membatalkan pesanan, Erin sangat paham kondisi Qeena dan akan dibicarakan lagi kalo udah senggang.
Karena sudah ga ada yang ditunggu, jam tujuh pagi semua proses pemakaman sudah dilaksanakan, Dafi yang membiayai semuanya karena Dafi menganggap obrolan terakhirnya agar Dafi membelikan nasi kotak dianggap sebagai keinginan Pak Iyus buat diurus semua prosesi oleh Dafi. Paling ga, inilah pengabdiannya terakhir Dafi sebagai anak.
🍒
Selepas Dzuhur, mereka pamit pulang, tapi sebelumnya sudah menyelesaikan segala hal termasuk hutang-hutang Iyus. Qeena juga sudah memesan nasi kotak disalah satu restoran Padang ga jauh dari rumah Nyai untuk tahlilan selepas Maghrib. Dafi dan keluarga ga bisa ikut tahlilan karena udah kelelahan.
Dalam perjalanan pulang pun, para Emak tertidur. Sebenarnya Qeena ngantuk, tapi kalo Dafi ga diajak ngobrol malah bisa ikutan ngantuk dan amat berbahaya kalo yang nyupir ngantuk.
🌺
__ADS_1
Sampai hari ketujuh pun, ga banyak tetangga yang hadir ke rumah Nyai, Qeena pun hanya dimalam ketiga dan ketujuh saja datangnya. Tapi selama tujuh hari, dia dan Dafi yang menanggung makanan buat tahlilan.
🍒
Hari ini Dafi dinas keluar kota selama dua hari, Bu Fia yang merasa kesepian, tidur sama Qeena di kamar Qeena.
Awalnya ngobrol ringan aja tentang keseharian, tapi lama-lama malah jadi serius.
"Bunda malah ga tau dimana Ayahnya Bunda sampe detik ini. Masih hidup atau ngga, masih sehat apa ngga ... kamu lebih beruntung Qeena. Masih sempat ketemu Bapak kandung walaupun dalam kondisi yang kurang baik" kata Bu Fia.
"Iya Bun .. kepergian Bapak pastinya membuat sedih, tapi sedihnya tuh ga dalam banget.. gimana ya jelasinnya ... ya pokoknya sekedar hilang aja, bukan kehilangan" ucap Qeena.
"Wajar sih kamu ga terlalu merasa kehilangan, karena dari kecil ga kenal. Tapi Bunda salut sama sikap kamu yang legowo nerima kehadiran Iyus dengan segala problematikanya" puji Bu Fia.
"Kalo mau dibawa marah dan kecewa pasti ada Bun. Bahkan sampai ga mau berurusan sama lelaki gara-gara beliau. Tapi sejak nikah sama Mas Dafi semua berubah. Emang jauh sih kalo bandingin Mas Dafi sama Almarhum, tapi dari Mas Dafi lah Qeena banyak belajar nerima semua takdir yang ada" jawab Qeena.
"Iya .. Mas emang banyak memberikan vibes yang positif buat orang disekitarnya. Padahal kayanya Bunda ngerasa dia lagi ada aja masalahnya. Yang urusan sama KPK aja dia diam, kasih taunya begitu udah selesai. Sekarang juga Bunda ngerasa dia ada masalah, tapi diam aja kalo Bunda tanya. Kamu tau dia lagi ada masalah apa?" tanya Bu Fia.
"Mungkin cape aja kali Bun" tutup Qeena.
Sebenarnya bisa aja dia cerita ke Bu Fia tentang masalah yang dihadapi sama Dafi, tapi Qeena mulai paham sama gayanya Dafi yang ga mau semua jadi kepikiran karena masalahnya.
"Ya .. dia tuh kalo udah kerja susah diganggu, dari dulu juga gitu. Terlalu serius dan fokus. Sampe rasa cape udah ga dirasain lagi" ucap Bu Fia.
"Tapi dia bisa hilang fokus Bun kalo udah Qeena deketin ... hehehe" canda Qeena.
"Itu mah ga salah lagi. Jadi bucin gitu ya dia, padahal dulu ga begitu banget sama cewe loh. Maaf ya Qeena kalo Bunda mengingat masa lalu, tapi dari semua cewe yang dikenalin ke kita, ga ada tuh genit-genitnya Mas ke cewe itu. Sampe dulu waktu kita ke Sungai Penuh, udah tunangan juga biasa aja, ga ada tuh mesra-mesranya. Ya baru sama kamu inilah Bunda liat dia mesra, ngegombal, cuek aja peluk-pelukan depan kita semua. Sebagai sulung, gengsinya tinggi loh" papar Bu Fia.
"Awalnya juga Bun, masih kaku. Untungnya kita kenal sedari kecil, jadi ya udah cukup kenal satu sama lain" ucap Qeena.
"Makasih ya Qeena .. udah hadir dalam hidup Mas Dafi, bisa membuat Bunda jadi lebih baik lagi. Siapa sangka anak yang dulu Bunda remehkan, justru banyak kasih pelajaran. Gimana nerimanya kamu sama putaran nasib, jadi pelajaran hidup buat Bunda yang jauh lebih baik dari kamu kisahnya. Ibunya Bunda dulu kerja tetap, jadi punya gaji. Beda sama Nuha yang ga punya pekerjaan. Pasti ngerasain hidup kekurangan kan? Jangankan sekolah, buat makan aja susah. Alhamdulillah Bunda masih bisa sekolah dan makan, walaupun semua serba dihemat. Begitu kamu jadi seorang istri, bisa membuat suami menjadi lebih baik lagi, walaupun usia kamu muda, tapi Mas Dafi bisa tunduk sama apa yang kamu ucapkan. Perjuangan kamu ngubah nasib dengan dagang kue pun patut diacungi jempol, sampe dititik sekarang pasti ga mudah. Banyak keringat yang keluar, banyak kesabaran yang diuji dan pastinya banyak do'a yang terlantun. Ditambah kematian Iyus, makin banyak lagi Bunda belajar dari kamu, menerima masa lalu dan mau memaafkan. Bunda sampe detik ini ga pernah ketemu Bapak, bahkan ga pernah terbesit keinginan bertemu. Makanya Bunda ga pernah tanya-tanya tentang masa lalu ke keluarga Ibu, ya bisa dibilang Bunda udah mengubur dalam-dalam cerita itu. Tetap ya jadi cahaya di keluarga kami. Ayah Dzul pasti bangga udah menjadikan kamu sebagai anak yang bisa membawa kebahagiaan dan kebaikan buat kami semua" ucap Bu Fia tulus.
Suasana haru membuat menantu dan mertua ini berpelukan. Ada bulir air mata tertahan diujung kelopak mata.
"Bun ... makasih udah terima Qeena sebagai menantu di rumah Bunda. Memberikan anak kebanggaan Bunda buat Qeena" jawab Qeena.
"Udah ah jangan sedih-sedih mulu, kita harus tunjukin kalo kita wanita kuat dan hebat. Besok kamu mau ngerjain orderan yang ketunda kan?" tanya Bu Fia.
"Iya Bun .. Teh Erin tetep mau order lima puluh pack ungkepan ayam sama sambelnya. Kayanya udah open PO di Bakulan Bunda. Alhamdulillah tadi juga open PO di Qukis by Qeena, ada lima orang yang pesen. Ayamnya udah order sama Bakulan Bunda, ya berbagi keuntungan Bun" jelas Qeena.
"Itulah kamu, ga pernah mau maju sendiri, pasti ngajak-ngajak. Bulan lalu kan edisi perdana Bunda datang ke arisan RT ya, puluhan tahun cuma nama aja, yang datang diwakilin sama orang rumah yang lagi senggang. Kan kamu ga bisa datang ya karena pergi sama Mas Dafi, semua ngomongin kamu tau. Katanya contoh istri yang patut ditiru. Udah orangnya baik, punya usaha juga ngajak warga sekitar, ga pelit kasih ilmu tentang kue yang dijual, wah pokoknya nilainya plus plus plus plus banget deh. Mertua mana yang ga bangga coba. Semua bilang Bunda ini mertua yang beruntung. Ya Bunda jawab aja, Allah Maha Baik mengirimkan kamu jadi anak Bunda" cerita Bu Fia.
"Terlalu ketinggian tuh mujinya" jawab Qeena merendah.
"Beneran ... sampe muji kecantikan kamu, malah ada yang bilang kalo semua wanita se RT dijejerin, kamu tuh yang paling cantik. Malah yang masih gadis pada insecure sama kamu. Menaikkan level mimpi para lelaki disekitar sini buat punya istri minimal kaya kamu standarnya" lanjut Bu Fia.
"Belum tau aja mereka kalo Qeena tuh keras kepala, susah dibilanginnya dan masih maunya bebas ga ada yang atur. Untung dapat suami kaya Mas Dafi yang paham banget karakter Qeena, kalo ngga mah Bun .. udah ribut setiap hari kali" ujar Qeena.
__ADS_1
"Hehehe... kadang kita wanita emang maunya serba enak ya. Dinasehatin malah kita bilang pada bawel. Dikasih tau malah kita sok pintar. Ga mau susah karena udah sering susah. Itulah kenapa kita dapat suami dengan karakter yang jauh berbeda dari kita ... biar kita insyaf .. hahaha" ujar Bu Fia.
Qeena pun ikut tertawa. Keduanya pun tidur berpelukan layaknya Ibu dan anak perempuannya.