ROTI BAKAR

ROTI BAKAR
* Slice 51, Belum mampu


__ADS_3

"Mak percaya kok sama kamu Qeena.. tapi Emak ingat kelakuan orang tuamu dulu, jadi suka kebayang pas liat kamu" lirih Mak Nuha menahan luka.


"Emang kenapa sama orang tua Qeena Mak? Kelakuan mereka seperti apa?" tanya Qeena penasaran.


"Udah malam Qeena, nanti kalo kamu udah cukup umur kan Mak janji akan ceritain semua" jawab Nuha.


Malam ini iseng Qeena membuka sosmednya, tiba-tiba dia kaget liat ada foto Dafi tengah memeluk seorang wanita. Dicaption wanita itu ada tulisan


# Bagaimana melukiskan rasa ini padamu? Pikiranku penuh dengan bayanganmu. Hatiku hanya menjeritkan namamu. Rasa apakah ini? Tapi saat aku melihat dan memelukmu, mendadak semua rasa seketika membeku. Terimakasih sayang, pelukanmu selalu menghangatkan hariku #.


Banyak komen-komen baper yang terbaca olehnya. Tapi ada satu komen dari Fajar dilapak tersebut yang bikin dia tergelitik


# ini photoshop bukan ya? bukan Mas gw banget meluk cewe sembarangan #


Bagi Qeena dan Fajar mungkin sulit menerima foto seperti ini. Yang mereka tau, Dafi orang baik dan sangat menjaga batasan dengan lawan jenis. Jadi kalo dia memeluk dimuka umum seperti jadi hal yang ganjil.


Bener aja, hari ini jadi bad day bagi Dafi. Setelah tadi pagi kembali bertengkar sama Iyus, malam ini ketika akan istirahat karena seharian berkutat sama banyak angka, dia iseng buka medsosnya karena banyak chat dan massage di medsos dari temannya yang mengucapkan cie cie sama dia. Karena dia merasa ga ada sesuatu yang terjadi pada dirinya hari ini, ya jadi penasaran, banyak ucapan selamat serta cacian makian dari teman-temannya. Karena dia di tag maka dia bisa tau kalo ada yang ga beres. Pas dibuka dia tambah kesal. Langsung ditelponnya Sania, tanpa salam dan basa basi, dia minta foto itu dihapus dari medsos milik Sania.


Memang benar pelukan itu terjadi, tapi ga sengaja. Saat mereka tanpa direncanakan, ketemu disalah satu toko buku, Sania jatuh kepleset kearahnya, saat itu lantai licin dan memang ada tulisan awas lantai licin di lantai. Refleks aja Dafi yang sedang nyari buku langsung memeluk karena memang Sania jatuh ke arah dia. Tapi Dafi langsung melepaskan saat dia sudah memastikan Sania bisa berdiri tegak kembali. Saat itu baik Sania maupun dirinya sama-sama mengucapkan kata maaf. Dafi kira hanya sebatas itu, ternyata kok malah ada foto, sepertinya memang sudah direncanakan kejadian di toko buku itu.


Selepas kerja, Dafi menelpon Sania ingin ketemu, awalnya akan ketemu di restoran, tapi lima menit kemudian dibatalkan oleh Dafi. Dia hanya ga mau terjebak dalam permainan Sania. Postingan belum juga dihapus oleh Sania. Dafi udah ga peduli sama semuanya. Baginya menemui Sania malah akan memperpanjang masalah yang ada.


Dilihatnya jam menunjukkan pukul lima sore, masih cerah langit sore ini. Dafi segera memacu mobilnya untuk pulang, karena kalo kesorean sedikit bisa terjebak macet.


πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€


Nuha ternyata mengajak Qeena buat menemui keluarga besar Iyus, rumahnya persis di perkampungan belakang pusat perbelanjaan di Tanah Abang.


Sebelumnya, Qeena diajak ke makam Babe Naim. Ini kali pertama Qeena diajak berziarah. Makamnya seperti kurang terurus baik. Banyak rerumputan tinggi dan tanaman liar yang belum dirapihkan petugas pemakaman.


"Ini makam Kakek kamu Qeena. Orang paling baik yang pernah Emak kenal selama hidup Emak. Andai beliau masih ada, mungkin beliau akan sayang sekali sama kamu. Hidup kamu ga akan seperti sekarang. Hari ini ... Emak mau kasih tau siapa keluarga kandung kamu Qeena. Seminggu yang lalu Emak bermimpi ketemu Babe Naim. Beliau ingin melihat kamu dan mengenalkan ke keluarganya. Mak pikir, inilah saatnya, khawatir Mak ga ada umur ... jadi kamu udah bisa kenal siapa keluarga kandung yang selama ini hanya menjadi sebuah pertanyaan kan?" ucap Nuha.


"Mak ... " Qeena mengusap punggung Nuha.


"Mak kenalin bukan karena Emak mau nyerahin kamu kesana, tapi Mak hanya mau kamu kenal aja. Tapi kalo udah tau, tetap sayang sama Emak ya" kata Nuha.


"Mak .. apapun yang terjadi, Qeena akan selalu sama Emak, mereka mungkin yang melahirkan Qeena, tapi Emaklah yang berjuang hingga hari ini buat Qeena" jawab Qeena sambil memeluk Nuha dari samping.


Bagai dejavu, langkah kaki Nuha berat berjalan menyusuri jalan sempit yang sudah banyak berubah. Dulu jalannya masih bisa dilalui mobil, tapi sekarang hanya bisa dilalui motor, jalan menjadi sempit karena sudah banyak dibangun kios-kios liar disepanjang jalan.

__ADS_1


" Ya Allah ... kuatkanlah aku mengenalkan Qeena ke keluarga Mas Iyus. Semoga ga bertemu sama Mas Iyus disana. Rasanya sakit itu masih terasa dan sulit dilupakan" ucap Nuha dalam hatinya.


Karena Qeena agak flu hari ini, dia memakai masker untuk menutupi hidung dan mulutnya. Jadi hanya terlihat matanya aja.


"Maaf Bu ... juragan Pao Cenglu dimana ya rumahnya? soalnya daerah sini udah berubah" tanya Nuha ke pedagang minuman.


"Pao cenglu mah udah lama bangkrut. Abis Babe meninggal .. ya sekitar setahunan dari situ dah terusan bangkrut, ga ada yang bisa urusin, anak buahnya pada bikin bakpau sendiri" ucap pedagang itu.


"Terus keluarganya kemana ya Bu?" ujar Nuha lagi.


"Anak-anak perempuannya mah kaya Bu ... mereka punya rumah sendiri. Kalo anak lelakinya ga jelas kemana rimbanya. Ibu siapanya?" tanya Pedagang.


"Saya saudaranya" jawab Nuha.


"Udah lama ya Bu ga kemari? kayanya udah lebih sepuluh tahunan kali pindah dari sini tuh Enyaknya" ucap Pedagang.


"Ada yang tau kalo Enyak pindah kemana?" ujar Nuha.


"Persisnya ga tau, tapi dengar-dengar pindah ke Bojonggede. Deket keluarganya Enyak, pan keluarganya dapat bongkaran dari belakang Ambassador. Saya mah baru pindah pas mereka pindahan, jadi belum sempat kenal" jawab pedagang.


"Jadi ga tau alamatnya ya?" tanya Nuha penasaran.


"Makasih Bu infonya" kata Nuha.


Baru aja Qeena dan Nuha minum sambil melepas lelah, Nuha melihat sosok yang amat sangat dikenalnya, Iyus.


Rupanya Iyus lagi main ke rumah temannya di daerah tersebut. Nuha buru-buru membayar dan mengajak Qeena pergi dari sana.


Iyus pun seperti melihat penampakan Nuha. Dia memacu motornya mendekati Nuha.


"Ayo cepat kita pergi" ujar Nuha sambil menarik tangannya Qeena.


"Ada apa Mak?" ucap Qeena yang ga paham kenapa Emaknya seperti ketakutan.


Padahal kakinya Nuha lagi sakit, tapi karena khawatir ketemu sama Iyus, dia seperti lupa akan sakitnya.


"Nuha ... Nuha ...." teriak Iyus sambil memacu motornya.


"Mak ada yang manggil" ingat Qeena masih sambil berlari.

__ADS_1


"Jangan nengok kebelakang Qeena. Terus cari jalan, kalo bisa cari jalan sempit yang ga bisa masuk motor" perintah Nuha.


Nuha dan Qeena berhasil melepaskan diri dari kejaran Iyus setelah mereka masuk ke pusat grosir Tanah Abang. Sambil mencari jalan menuju stasiun kereta.


Dengan nafas masih tersengal-sengal keduanya duduk di trotoar dekat pedagang minuman.


"Tadi siapa Mak? kok kayanya pernah denger suaranya" tanya Qeena.


"Udahlah ... jangan tanya-tanya, kaki Emak rasanya kram nih gara-gara lari kenceng. Kita harus ke stasiun, mau bubaran orang kerja pasti kereta padet banget penumpangnya" kata Nuha.


Qeena membantu Nuha jalan menuju stasiun. Walaupun dia bingung sama apa yang baru terjadi, muka Emaknya udah cukup memberi jawaban. Qeena menangkap ada ketakutan dan amarah di wajah Mak Nuha sekarang ini.


"Mak ... Mak gapapa?" tanya Qeena meyakinkan.


"Ya gapapa ... maaf ya kalo jadinya ga ketemu sama keluarga kandung kamu, abis mereka pindah tempat tinggal. Semoga suatu hari nanti kita bisa ketemu ya" harap Nuha sambil menutupi tentang Iyus yang baru diliatnya.


"Mak ... buat apa memaksakan diri hanya karena Mak bermimpi ketemu sama Kakek Naim? kalo Emak belum siap kenalin Qeena ke mereka, ga usah berpura-pura tegar dan ikhlas didepan Qeena" kata Qeena yang membuat Nuha tertegun.


"Ya Allah ... Qeena tau kalo hati ini rasanya belum ikhlas mengenalkan dia ke keluarganya. Kalo ditanya orang, selalu bisa bilang ikhlas Qeena berjumpa sama keluarganya. Tapi luka itu kembali terasa ketika melihat Mas Iyus ... luka itu masih ada dan terbuka, masih sulit rasanya berdamai sama keadaan. Maafin Emak ya Qeena, Mak kira akan kuat ... tapi Mak ga bisa" kata Nuha dalam hatinya.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Pak Dzul mengirimkan uang buat Qeena dan Nuha selama di Jakarta. Awalnya mau transfer ke Fajar, tapi Fajar ga bisa pulang hari ini karena ada ujian, jadi dia tidur di kost annya yang dekat kampus.


Akhirnya Pak Dzul transfer ke Dafi. Mau ga mau Dafi harus mampir ke kost an Qeena. Dafi telepon ke Qeena buat janjian ketemu di kost an, tapi Qeena bilang masih ada di stasiun Tanah Abang.


"Kamu masih di Stasiun kan?" tanya Dafi lewat sambungan telepon.


"Iya Mas" jawab Qeena.


"Kebetulan nih Mas masih dijalan, nanti kamu berhenti di stasiun Manggarai ya, Mas lewat sana" saran Dafi.


"Merepotkan aja Mas" jawab Qeena.


"Ini udah dekat Maghrib, biasanya bubaran orang kerja, kereta tuh padet. Apalagi di Manggarai, banyak yang naik. Nanti kamu kearah pintu keluar aja. Mas tunggu disana" perintah Dafi.


Sania beberapa kali telpon ke HP Dafi, sama Dafi direject, tadinya mau diblokir sekalian, tapi dia masih ga enak sama dokternya Rian. Jadi cukup direject aja.


Qeena bilang Nuha tentang saran Dafi, Nuha pun setuju. Ini memang menjadi pengalaman pertama kalinya Qeena naik kereta commuter line, kalo Nuha dulu saat masih jadi istrinya Iyus pernah diajak naik kereta. Qeena benar-benar menikmati pemandangan yang ada. Maklumlah walaupun pernah tinggal di kota metropolitan, hidupnya dulu hanya diseputaran kiosnya Mak Leha, wong liat Monas aja baru kemarin pas diajak keluarga Pak Dzul berolahraga.

__ADS_1


__ADS_2