ROTI BAKAR

ROTI BAKAR
* Slice 31, Berbicara


__ADS_3

Rian masih aja merajuk, Nuha makin diam dan menunduk, ga tau harus menjawab apa. Andai ada beras di rumahnya, mungkin sudah dia setujui keinginan Rian buat makan telur.


"Ya udah gini aja, kita cari makan malam diluar, semua ikut ya, nanti kita pesan telur buat Rian disana, gimana?" tanya Dafi menengahi.


"Ya .... mau... makan" jawab Rian antusias.


"Okeh boss, urusan makan gratis mah ga boleh ditolak" kata Fajar senang.


Qeena dan Nuha berpandangan. Orangtua Nuha juga diam aja menunggu keputusan Nuha.


"Gapapa Mbah ... Mak Nuha ... kan adat orang Jawa kalo ada tamu harus menyuguhkan sesuatu kan. Nah ini kami sudah disuguhi teh hangat dan timus. Tapi di Jawa juga ada ewuh pakewuhnya. Kalo kita dijamu maka sebisa mungkin gantian menjamu. Anggap aja ini sebagai balasan atas jamuan ini" ucap Dafi mencairkan suasana.


"Iya Mas ... tapi Mbah sudah ga bisa makan yang aneh-aneh" sahut Nuha.


"Kita cari makanan standar yang semua bisa menikmati aja ya Mak" jawab Dafi.


Akhirnya semua setuju. Ba'da Maghrib semua sudah rapih bersiap pergi. Banyak tetangga yang bisik-bisik. Mereka melihat ada dua lelaki kota yang tampangnya lumayan, apalagi Fajar yang kaya artis mukanya, kiyut.


Dafi meminta Fajar yang bawa mobil karena dari Jakarta sampe Wonogiri dia terus yang nyetir. Rasanya pegal aja dan mau santai. Mbah Akung duduk di bangku depan buat kasih petunjuk jalan, maklum mantan supir bus, jadi paham jalan. Di bangku tengah ada Mbah Uti, Nuha dan Rian yang ga mau lepas dari genggaman Nuha. Terpaksa Qeena duduk bareng Dafi di bangku paling belakang. Mana di bangku belakang ada kasur lipat tipis buat tidurnya Rian selama perjalanan. Mau ga mau, Dafi dan Qeena agak berdempetan duduknya.


Jalan desa yang masih sebagian aja yang bagus, selebihnya masih tanah bercampur batu. Pas melewati jalan yang belum rata, Dafi dan Qeena selalu bersenggolan. Dafi merasa ga nyaman juga lama-lama sama keadaan tersebut. Qeena belum paham gelagat kurang nyamannya Dafi, karena Qeena masih remaja tiga belas tahun yang masih polos, belum kenal rasa sama cowo, dia menganggap Dafi ya seperti kakaknya, sama seperti ke Fajar. Qeena masih menganggap kebaikan Fajar adalah sebuah rasa peduli terhadap seorang teman.


"Jar .. didepan berhenti dulu ya" teriak Dafi dari bangku belakang.


"Ada apa Mas? Ada yang mau dibeli?" tanya Fajar sambil masih nyetir.


"Mas yang bawa mobil aja. Kamu duduk dibelakang" kata Dafi.


Tentunya Fajar penuh semangat menepikan mobilnya. Kemudian tukar posisi sama Dafi. Fajar sangat happy bisa duduk dekat sama Qeena, apalagi pas dijalan ga rata. Bisalah sedikit modus mepet ke Qeena.


Beberapa kali Dafi coba berdehem buat mengingatkan Fajar biar ga kegenitan sama Qeena.


"Ehem ... ehem ..." Dafi kembali mengingatkan Fajar sambil melihat spion kearah kursi belakang.


"Mas Dafi tenggorokannya gatal ya?" tanya Nuha.


"Ga Bu, mungkin cape aja jadi ga enak. Nanti banyak minum juga sembuh" Dafi berusaha membuat semua orang ga curiga.


Fajar sebenarnya paham maksud Kakaknya, tapi namanya dekat sama orang yang disukai, pasti jadi lupa daratan.


Mereka memilih Restoran yang menyajikan makanan khas daerah. Semua masuk ke Restoran dan memilih makanan.

__ADS_1


Pas banget saat Dafi mau cuci tangan, Fajar baru aja keluar dari kamar mandi. Langsung Fajar ditarik sama Dafi.


"Jaga sikap bisa kan? geli deh liatnya, kaya om-om genit yang lagi deketin abege" ucap Dafi.


"Apaan sih Mas ... itu namanya kesempatan dalam kesempitan ... Hahaha. Lagian ya Mas .. om-om gimana sih, Qeena tuh cuma selisih lima tahun sama Fajar, nah kalo Mas baru tuh kaya om-om, kan selisihnya tujuh tahun" sahut Fajar.


"Pokoknya awas ya masih modus juga pulangnya" ancam Dafi.


"Ih kok terdengar nada cemburu ya, jangan bilang Mas suka sama dia ya, baru sadar ya kalo Qeena makin gede makin cantik?" goda Fajar.


"Jangan ngaco ya ngomongnya, pembahasan kita tuh jangan modus, ga ada hubungannya sama Mas" jawab Dafi.


"Pokoknya jangan main tikung menikung ya, Qeena itu udah milik Fajar" tegas Fajar berkata.


"Mas ga masalah kamu suka sama dia dan berniat serius nantinya. Tapi dia dan kamu bukan mahram. Dalam Islam, wanita ditempatkan dalam posisi yang amat mulia. Tidak boleh sembarang orang menyentuhnya, apalagi laki-laki yang bukan mahram. Melihat wanita aja kita dianjurkan untuk menundukkan pandangan karena dapat menimbulkan godaan syahwat. Apalagi menyentuh, tentu godaannya lebih dahsyat daripada pengaruh dari pandangan mata. Boleh bersentuhan dalam keadaan darurat dan sekadarnya saja, kaya pas nolong kecelakaan" papar Dafi.


"Mas ... ini kita mau makan, bukan dengerin ceramah Mas" sahut Dafi sambil ngeloyor menuju meja makan.


Setelah makan malam, kembali Dafi mengantar keluarga besar Nuha pulang ke rumah dan meminta ditemani melihat waduk Gajah Mungkur keesokan harinya. Kini yang duduk didepan adalah Fajar dan Dafi, Mbah Akungnya dibelakang bareng Qeena. Dafi beralasan biar Fajar tau jalan keluar dari kampungnya Qeena.


Sebelum pulang ke rumah, mumpung dijalan utama, Dafi menepikan mobilnya disalah satu minimarket dan meminta semua untuk menunggu di mobil. Sekitar 15 menit kemudian, Dafi keluar membawa banyak tentengan. Dimasukkannya semua plastik kebagian belakang mobil.


"Borong Mas? Kan kita di hotel bukan mau tinggal di rumah. Ini segala beras, gula, minyak sama mie instan dibeli. Mas mau pindahan? lagian kita masak dimana coba?" kata Fajar sambil ikut merapihkan plastik belanjaan yang dibawa Dafi. Dafi ga jawab apapun dan menutup pintu belakang setelah semua masuk. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan.


"Sudah malam Mak Nuha .. kami pamit dulu, besok kami akan datang lagi. Ini ada sedikit bingkisan, maaf ya kami datang tadi ga bawa apa-apa, karena khawatir Rian ga nyaman kalo banyak berhenti" basa basi Dafi.


"Pake repot-repot Mas Dafi ... Udah diajak makan, sekarang dikasih sembako, terimakasih ya" ucap Nuha.


"Sama-sama Mak ... harusnya Dafi yang ucapin makasih, selama ini Mak Nuha udah bantu Rian terapi. Apa yang kami bawa ini ga ada apa-apanya sama apa yang dilakukan Mak Nuha ... Oh ya Qeena .. makasih ya udah nyemangatin adik Mas, udah jauh berubah sekarang loh. Udah ga bermasalah sama guru BK lagi, udah ga ngerokok lagi dan yang paling penting tuh ibadahnya makin rajin" ucap Dafi tulus sambil menepuk pundaknya Fajar.


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–


Pak Dzul dan Bu Fia menghabiskan quality time weekend ini berdua di hotel. Banyak yang mereka bicarakan, tentang anak-anak tentunya.


Diusia mereka yang semakin bertambah, tentunya beda menikmati honeymoon, ga seperti pasangan muda yang banyak tancap gas. Kalo diusia seperti mereka lebih banyak ngobrol, bermesraan pun hanya sesekali aja.


"Bun ... kita udah makin tua, ntah sampai kapan kita bisa dampingin anak-anak. Sudah saatnya kita mereka mulai mandiri, mungkin Dafi dan Fajar sudah bisa kita lepas. Tapi Rian dan Izma perlu kita pelan-pelan lepas" buka Pak Dzul.


"Semua udah berjalan sebagaimana mestinya kok Yah, apalagi yang mau diajarin coba" jawab Bu Fia.


"Kita harus makin kuat buat membimbing Rian Bun ... dia anugerah istimewa dari Allah" ucap Pak Dzul sambil membelai rambut istrinya.

__ADS_1


"Dia ga sakit Yah ... kenapa semua menganggap dia sakit" ungkap Bu Fia menghibur diri.


"Ya ... Rian ga sakit, dia hanya berbeda dengan keistimewaannya. Sekarang keliatan banget kalo Rian udah enjoy sekolah ditempat yang semestinya Bun. Tolong Bunda dampingin dia seperti yang lain. Selama ini Bunda hanya memperhatikan Izma aja. Ketiga anak lelaki kita malah ga dapat perhatian dan kasih sayang Bunda secara utuh" kata Pak Dzul menasehati.


"Mereka kan laki-laki Yah, ga boleh berada dibawah ketiak Bundanya. Mereka harus strong" jawab Bu Fia.


"Betul kalo Bunda bilang mereka harus strong, tapi mereka butuh sentuhan Bunda. Emang Bunda rela kalo mereka mencari sosok wanita lain selain Bunda?" tanya Pak Dzul serius.


"Maksudnya Ayah mau cari sosok Ibu lagi gitu buat mereka?" tanya Bu Fia kepancing emosi.


"Bukan Ayah lah Bun ... Ayah udah cukup punya Bunda. Tapi bisa aja kan mereka bertemu dengan seorang wanita yang mampu memberikan kasih sayang layaknya seorang Ibu" ucap Pak Dzul.


Bu Fia terdiam memikirkan arah pembicaraan suaminya.


"Atau pernah ga kepikiran kalo mereka pada akhirnya akan cepat menikah karena merasa nyaman sama wanita tersebut? Yang mampu memberikan sebuah cinta yang mereka butuhkan? Anak-anak makin besar, sebentar lagi mereka akan mengenalkan seorang wanita ke kita" Pak Dzul bermain logika.


"Ga ada ya Yah cerita anak kita nikah muda. Mereka harus lulus kuliah dan kerja dulu. Emang nikah sekedar menghalalkan hubungan suami istri aja? Butuh persiapan matang" logika Bu Fia sewot.


"Bisa jadi kan Bun ... Kalo ketemu orang yang sayang sama mereka terus mereka ingin tetap bersama, kita mau bilang apa? ga mungkin kita halangi mereka kalo mereka udah siap. Malah lebih berbahaya kalo kita larang terus mereka berbuat nekad" ungkap Pak Dzul.


"Jangan aneh-aneh deh Yah ngomongnya, serem bayanginnya" kata Bu Fia.


"Makanya ... mumpung mereka belum menemukan sosok wanita itu, Bunda harus bisa merangkul mereka duluan. Tanamkan bahwa cinta yang sejati itu ya cinta Ibu ke anaknya. Sebagai patokan juga buat mereka mencari pendamping kelak" saran Pak Dzul.


Bu Fia mencerna baik-baik setiap perkataan suaminya. Beliau memang masih terjebak dengan doktrin mantu versus mertua yang menimpa teman-temannya, sehingga penting baginya kelak kalo anak-anak harus menikah dengan pilihannya agar ga timbul gesekan dikemudian hari.


Seorang ibu selalu ingin yang terbaik buat anak-anaknya. Saat sang anak sudah memasuki usia dewasa dan sudah waktunya menikah, ada banyak keinginan agar mereka menikah dengan orang yang tepat. Seorang ibu yang memiliki anak laki-laki pasti ingin agar anaknya menemukan wanita yang bisa memberi cinta tanpa embel-embel harta.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Akhirnya Dafi, Fajar dan Rian akan kembali ke Jakarta, cukup dua hari tiga malam mereka di Wonogiri, Rian harus kembali terapi lagi. Tadinya Rian ga mau berpisah sama Nuha. Tapi Dafi dan Fajar mampu membujuk Rian buat pulang dulu.


Fajar sedang becanda sama Qeena dan Rian, mereka lagi naik pohon jambu air dihalaman depan rumah. Rian paling bahagia. Karena memang Rian punya stok tenaga yang harus dihabiskan agar dia bisa tidur nantinya.


Nuha dan Dafi duduk di kebun belakang. Dafi tertarik sama pemandangan sawah dibelakang rumah.


"Mak Nuha ... terimakasih sudah kami repotkan. Enak disini suasananya, tapi kami harus kembali aktivitas" ucap Dafi.


"Emak malah yang banyak-banyak terimakasih, udah diajak makan di Restoran, terus dikasih sembako .. eh sekarang dikasih uang juga" jawab Nuha.


"Ini semua murni uang Dafi kok Mak .. jadi jangan khawatir nerimanya, ini bukan uang Ayah. Uang Ayah hanya dipake buat ongkos sama hotel aja kok" ucap Dafi.

__ADS_1


"Makasih Mas Dafi ... Sampaikan salam buat Nenek Sri, Ayah dan Bunda ya" ucap Nuha penuh haru.


__ADS_2