
Hari ini Rian kembali berulah, hampir aja Mba Parti jadi korbannya. Dia mau memperkosa Mba Parti. Jadi saat Rian disuruh mandi, dia menarik Mba Parti yang lagi ambilin bajunya, kemudian Mba Parti ditarik ke tempat tidur. Sudah hampir mau dicium, untung Mas Narko yang lagi bersihin kusen-kusen pintu ditiap kamar mendengar teriakannya Mba Parti. Saat Mas Narko masuk ke kamar Rian, Mba Parti udah ketakutan banget. Mas Narko yang narik tubuh Rian dari atas tubuhnya Mba Narti.
Pak Dzul dan Bu Fia yang ada di kamarnya juga langsung lari ke kamar Rian. Kondisi Rian tanpa busana selembar pun sedang dipegang sama Mas Narko. Pak Dzul langsung membawa Rian ke kamar mandi lagi. Sambil memandikan Rian yang masih ada sampo di kepalanya, Pak Dzul mencoba kasih wejangan yang simple ke Rian. Setelah mandi, Rian diminta untuk tidur aja.
Setelah semua aman terkendali, Bu Fia dan Pak Dzul kembali ke kamarnya.
"Yah .. Rian makin brutal lagi, sebulan ini aja udah mecahin TV, setrikaan sama dispenser. Tadi pagi, mesin cuci dimasukin uang koin katanya biar uangnya bersih. Eh sekarang berulah sama Parti. Terapi bukannya benar malah tambah error" ucap Bu Fia kesal.
"Dia kan udah dua puluh tahun. Wajar aja kalo dia punya ***** seksual. Tuh supir kamu bilangin jangan ngajarin yang macam-macam lagi ke Rian. Kan sejak kedatangannya, Rian jadi nonton yang nggak-nggak" jelas Pa Dzul.
"Iyus kan udah ga pernah ngobrol sama Rian lagi, sejak diancam sama Mas Dafi dan Fajar. Dia juga ga masuk ke rumah kok, cuma di teras depan aja" bela Bu Fia.
"Terus Rian liat dari mana coba adegan dewasa sampe mau melakukannya ke Parti?" tanya Pak Dzul.
"Kenapa sih setiap Rian berulah selalu Iyus yang disalahin? Rian kan bisa akses internet secara bebas" kata Bu Fia.
"Bunda emang susah dibilangin, telinganya udah ga mau nerima masukan kalo ada urusan sama Iyus. Atau jangan-jangan ada sesuatu diantara kalian yang Ayah ga tau?" selidik Pak Dzul.
"Ayah jangan nuduh-nuduh sembarangan ya, Bunda nih setia orangnya" kata Bu Fia.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
"Mak ... Alhamdulillah Qeena dapat rejeki, kemarin bayaran jadi MC di Edufarmnya Kak Damar turun, lumayan Mak, Qeena dapat uang lima ratus ribu, kita ke Jakarta yuk Mak. Kita tengokin Nenek Sri sama ke makam Mak Leha, Engkong .. " ujar Qeena.
"Kalo kita naik umum ga akan keuber sehari Qeena. Lagian mana cukup kita ke Jakarta bawa uang segitu terus kebanyak tempat pula" jelas Mak Nuha.
"Kita numpang tidur di rumah Mak Imah aja, kan cuma sebentar Mak disana. Atau kita bolak-balik aja selama dua hari" lanjut Qeena. Mak Nuha terdiam.
"Gimana Mak?" tanya Qeena lagi.
"Nanti Emak pikirkan ya" jawab Mak Nuha.
Tiap Qeena menyebutkan nama Imah, ada rasa belum ikhlas dalam hati Mak Nuha. Walaupun Mak Nuha juga belum tau apakah Imah yang dikenal Qeena adalah Imah Ibu kandungnya Qeena.
🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿
Aa' Zay lagi rada pusing, semua rumah jamurnya sedang banyak mengalami beberapa kendala.
Biaya produksi terus melambung tinggi, baik serbuk kayu, harga plastik PP buat baglog juga beranjak terus naik.
Selain itu harga jual jamur relatif masih rendah, menjadikan kombinasi biaya produksi yang terus melambung dan harga jual yang rendah membuat margin laba jadi tipis bahkan ada yang sampe merugi.
Serangan ulat yang bersembunyi di
balik plastik baglog juga menyulitkan, dengan iklim tropis membuat ulat cepat berkembang biak sehingga populasinya meledak.
Daya tahan pasca panen jamur termasuk rendah. Bahkan disimpan dalam lemari pendingin pun ga bisa bertahan lama.
Semakin sulit mendapatkan serbuk kayu bermutu juga menjadi kendala. Memang bisa pakai alternatif serbuk sengon, tapi baglog yang terbuat dari serbuk sengon cepat gembos (hanya bisa dipakai tiga bulan) kalo baglog dari serbuk kayu keras bisa mencapai lima bulan.
__ADS_1
Aa' Zay berbincang sama Agung dan Saino tentang situasi seperti ini.
"Dilema juga ya, kita tutup rumah jamur, kasian para pekerja dan mitra. Ga kita tutup juga tekor mulu, pekan kemarin aja rugi dua puluh juta karena baglog busuk" papar Aa' Zay.
"Biasanya bisa subsidi silang" kata Agung.
"Ini mah kebayakan disubsidi kalo jamur, udah tiga bulan loh" jawab Aa' Zay.
"Ya tutup aja Mas Jay ... daripada bikin ruwet, ganti deh bikin kolam pancing atau kolam renang gitu sekalian. Lumayan gede kan tuh tempatnya" sahut Saino.
"Ga segampang itu buka bisnis, ada studi kelayakan bisnis dulu, sebenarnya kalo mau bisa bernilai tinggi ya harus kita olah jadi panganan. Jadi ga perlu bergantung ke para pengepul jamur. Tapi bisnis apa ya, model kaya jamur crispy udah mulai turun" kata Aa' Zay.
"Coba nanti diskusi aja sama para petani jamur dan mitra, kita cari solusi terbaiknya gimana" saran Agung.
"Oke deh Gung, tolong di follow up ya" pinta Aa' Zay.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Akhirnya Pak Dzul disarankan oleh dokternya Rian untuk konsultasi ke Psikolog anak dan remaja. Kebetulan di Rumah Sakit ada juga, Pak Dzul pun menemui Psikolog setelah mengantar Rian terapi.
"Dorongan seksual untuk tertarik dengan lawan jenis bisa muncul pada siapa saja, termasuk dialami juga oleh anak-anak istimewa. Ketika bicara seksualitas, semua remaja dewasa baik dia memiliki autism spectrum disorder (ASD) atau tidak, mereka pasti memiliki dorongan **** yang merupakan naluri yang wajar dan alami" buka Psikolog.
"Jadi sudah alamiah ya.." jawab Pak Dzul sambil manggut-manggut.
"Benar Pak .. hanya saja pada individu dengan ASD, impuls kontrolnya rendah. Dalam artian mereka sulit mengendalikan dirinya ketika ada hasrat dan keinginan maka akan langsung dilakukan tanpa pikir panjang. Bahkan kapan dan dimana saja mereka bisa melakukan self stimulating behavior seperti masturbasi" lanjut Psikolog.
"Jadi solusinya bahwa ya?" tanya Pak Dzul serius.
"Jadi butuh pengawasan lebih ekstra lagi ya" ucap Pak Dzul.
"Ya Pak .. diajarkan juga bagian mana yang boleh dia sentuh dan tidak, baik untuk dirinya ataupun orang lain. Jadi solusi untuk anak Bapak saat ini lebih diperketat lagi. Ada yang harus concern dan mengajarkan ke dia secara berulang. Jangan pula ada tontonan yang menjurus ke yang berbau seksual serta diusahakan orang disekelilingnya tidak melakukan aktivitas sentuhan fisik kecuali bersalaman. Untuk orang tua jika ada ritual cium kening sebelum beraktivitas mungkin bisa dilakukan didalam kamar saja. Pelukan pun dihindari dulu agar tidak terekam oleh anak istimewa ini" saran Psikolog.
"Baik ... terimakasih atas waktunya" ujar Pak Dzul.
"Sama-sama Bapak .. semoga keluarga bisa saling mendukung demi sang buah hati" tutup Psikolog.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
"Ya udah nanti Kakak antar aja kalo mau ke Jakarta, kalo bawa mobil pribadi kan waktunya lebih leluasa" kata Damar setelah Qeena bercerita tentang rencananya.
"Tanya Emak dulu, kayanya masih ada yang Emak beratin, tapi ga tau apa. Soalnya baru dengar dari Mas Fajar, hari ini Nenek Sri udah bisa pulang ke rumah Pak Dzul" lanjut Qeena.
"Kamu masih berhubungan sama Mas Fajar?" tanya Damar cemburu.
"Ya kan sekedar nanya kabar tentang Nenek Sri, ga usah cemburu gitu kali, Qeena kenal Mas Fajar tuh dari kecil, jauh sebelum kenal sama Kak Damar. Yang penting kan Qeena udah memantapkan hati buat belajar terima Kak Damar. Ingat ... kepercayaan itu kunci utama dalam sebuah hubungan loh" ucap Qeena.
"Kakak percaya .. tapi kayanya kalo sama Mas Fajar ngga deh. Mungkin dari kamunya ga berpikir buat macam-macam, tapi dia kan masih ngarep pastinya" lanjut Damar.
"Woiii ...ga pagi, ga siang, ga sore, ga malam, pacaran terooosss" sapa Saino ngagetin.
__ADS_1
"Bang Sai ... orang mah datang ngucapin salam, ini malah bikin kaget orang" ucap Qeena.
"Nah itulah kalo orang udah bercinta ga ingat dunia... kaga liat nih leher udah panjang teriak salam dari tadi?" nyolot Saino.
"Waalaikumsalam ... ada apa Bang Sai?" tanya Damar.
"Qeena ... HP nya mati?" tanya Saino.
"Liat dulu ya..." jawab Qeena sambil mengambil tasnya, benar aja HP nya mati.
"Ada apa yang Bang Sai?" tanya Qeena.
"Ada yang nyariin tuh, orangnya ikut kesini, soalnya di rumah kamu ga ada orang" kata Saino.
Qeena keluar dari Klinik.
"Pakde... " ucap Qeena sambil menghampiri Kakak ipar Mak Nuha.
"Apa kabarnya Nduk" kata Pakde Mar.
"Alhamdulillah.. apik Pakde, mari masuk dulu ke Klinik, Qeena lagi kerja disini" jawab Qeena.
Setelah berbincang sebentar, kemudian Qeena minta ijin buat pulang cepat. Mak Nuha lagi ada pengajian, tapi sebentar lagi pulang.
Qeena pulang dibonceng sama Damar, Saino boncengan sama Pakde Mar.
Damar dan Saino ikut nunggu di rumahnya Qeena sampai Mak Nuha datang. Mereka pun hanya ngobrol-ngobrol ringan di teras. Biarpun saudara, tapi Pakde ini hanya seorang Ipar, jadi bukan mahramnya Qeena.
"Saya perlu bicara pribadi ... urusan keluarga, bisa masuk ga?" tanya Pakde Mar.
"Saya ga bisa memperbolehkan masuk Mas, khawatir ada fitnah nantinya" jawab Mak Nuha.
"Kita kan iparan Nuha ... apa salahnya?" kata Pakde Mar.
"Iya Mas .. kita memang iparan, tapi tetap ga bisa. Mas kan laki-laki. Lagipula ini Damar dan Bang Saino juga sudah seperti saudara. Bicara aja disini gapapa" lanjut Mak Nuha.
"Ga enaklah.. begini saja .. kita bertiga masuk, pintu kebuka. Mas Damar dan Mas Saino bisa berjaga di teras" usul Pakde Mar.
Akhirnya Damar dan Saino mempersilahkan mereka masuk.
"Jadi begini Nuha .. Mas kebetulan lagi di Jakarta, jadi bisa sekalian mampir. Mas dapat informasi kalo ada keluarga dari Jakarta nyari kamu sama Qeena" cerita Pakde Mar.
"Siapa Mas ?" tanya Mak Nuha.
"Irfan Yusran ... " jawab Pakde Mar dengan menyebutkan nama lengkap Iyus.
"Ada apa nyari kami?" tanya Mak Nuha yang jadi cemas.
"Dia datang bareng Ibunya, tujuannya mencari Qeena. Mereka datang khusus ke Wonogiri benar-benar punya niat baik ingin ketemu sama Qeena. Tapi kami ga bocorin keberadaan kamu disini" lanjut Pakde Mar.
__ADS_1
"Nama itu Bapaknya Qeena kan?" tanya Qeena.