
"Hepi banget deh Mas .. dari kemarin kita berduaan terus, gitu dong ada perhatiannya sama istri" kata Qeena.
"Kalo Mas berduaan terus, kapan nyari duitnya? yang penting kan ada proporsi waktu yang seimbang. Kayanya sesibuk-sibuknya Mas tetap deh ada waktu ngobrol" jawab Dafi.
"Makasih ya udah bikin bahagia" kata Qeena.
"Makanya Mas ajak kamu jalan-jalan santai begini, biar kita fokus aja sama diri kita berdua. Ga mikirin kerjaan dan bisnis. Tapi udah mulai macet rupanya, barengan sih ya sama libur akhir tahun pegawai sama anak sekolah" ujar Dafi.
"Qeena belum berani nyupir ke jalan-jalan besar kaya gini Mas, kalo kemarin sekedar ke toko kue atau ke pasar udah berani walaupun masih didampingin sama Mas Anto" kata Qeena.
"Siapa yang nyuruh Neng nyetir, cukup duduk aja, menikmati pemandangan, ngajak ngobrol Mas biar ga ngantuk, nyuapin Mas kalo mulut iseng pengen ngunyah sesuatu" ucap Dafi.
Qeena mencium pipinya Dafi.
"Neng ... jangan mulai deh, ini kita baru checkout dari hotel jangan sampe check in lagi .. hehehe" kata Dafi.
"I love you Mas. Kata orang pemandangan hamparan gunung dan sawah itu indah, tapi bagi Qeena.. jatuh cinta berkali-kali sama Mas jauh lebih indah" rayu Qeena.
"Hahaha ... masuk Neng ... ada jamu diatasnya kuku, ternyata wajahmu yang selalu membekas dihatiku" sahut Dafi.
Mobil masuk kembali menuju tol Brebes Timur. Pembangunan jalan tol trans Jawa benar-benar mempercepat waktu sampai ketujuan di Pulau Jawa. Dari Brebes Timur langsung lanjut Pemalang - Batang -Semarang - Ungaran - Boyolali - Yogyakarta hanya sekitar enam jam non stop.
Sampe di rumah saudaranya, Dafi langsung sholat Dzuhur lalu tidur. Qeena berbincang sama Bulek dan Pakleknya Dafi di pendopo depan sambil makanin salak pondoh. Pakleknya Dafi punya usaha kebun salak pondoh. Tempat ini biasa dipakai buat kajian bersama tiap malam Jum'at.
"Lama ga ke Jakarta lagi, waktu Ayah ga ada juga ga bisa" tanya Qeena.
"Iya .. kami lagi umroh. Insyaa Allah Mas Dzul udah tenang, ga ada yang diberatin. Lagipula enak disini Qeena .. tenang" jawab Buleknya Dafi.
"Ya .. Jakarta semrawut" lanjut Qeena.
"Gimana Mba Fia sekarang? Lek dengar banyak berubah ya karena kehadiran kamu" tanya Pakleknya Dafi.
"Bukan karena Qeena Lek, tapi mungkin keadaan yang banyak mengubah Bunda, termasuk kehilangan Ayah" jawab Qeena.
ba Fia memang unik, sebenarnya ya dia baik, tapi memang ceplas-ceplos kalo ngomong, lebih sabar aja ngadepin mertua kamu" nasehat Pakleknya Dafi.
"Iya" jawab Qeena.
"Kayanya dari wajah kok keliatannya lagi banyak pikiran. Ada masalah?" tanya Buleknya Dafi.
"Ga ... ga ada apa-apa" kata Qeena.
"Pasti kepikiran karena belum kunjung hamil ya?" tembak Pakleknya Dafi.
"Tau darimana Lek?" Qeena malah balik bertanya.
"Mba Fia pernah telepon minta saran, katanya sejak Alifa hamil, kamu kayanya mulai berjarak sama Mba Fia. Beliau jadi merasa serba salah. Merhatiin mantu yang lagi hamil khawatir kamu ngerasa tersingkir, merhatiin kamu nanti takutnya Alifa ga keurus. Orangtuanya kan di Ciloto, di Jakarta cuma ada keluarga Fajar. Fajar sendiri masih dinas shifting" ucap Pakleknya Dafi.
Qeena diam, sulit baginya menjawab.
"Semua orang tua pasti ingin yang terbaik buat anaknya, mungkin maksudnya baik, hanya penyampaiannya aja yang kurang tepat. Ada nasehat Jawa yang bisa kamu pakai. Mbangun kromo ingkang satuhu, boten cekap bilih ngagem sepisan roso katresnan.Hanangin butuh pirang pirang katresnan lumeber ning pasangan uripmu siji kui (Pernikahan yang sukses tidak membutuhkan sekali jatuh cinta, tetapi berkali-kali jatuh cinta pada orang yang sama)" tambah Pakleknya Dafi.
__ADS_1
"Ya" jawab Qeena.
"Teruslah bergandengan tangan sama Mas Dafi. Pernikahan bukan sekedar mendapatkan keturunan, tapi ada beberapa nilai kehidupan yang bisa kamu dapatkan dalam pernikahan. Coba kamu ingat-ingat, apa kamu merasa lebih baik ketika sudah menikah dibandingkan saat masih sendiri?" tanya Pakleknya Dafi yang membuat Qeena jadi malu karena ga pandai mensyukuri nikmat Allah.
Masih banyak nasehat kehidupan yang diberikan pasangan senior ini ke Qeena. Ternyata Dafi udah bangun dan lagi ngobrol sama Fahmi, sepupunya yang usianya sepantaran Rian.
"Pacarku ra gelem masang potoku e Mas (pacar saya ga mau masang fotoku)" adu Fahmi.
"Nek pacarmu ra gelem, mungkin isin karo raimu .. hahaha (kalo ga mau, mungkin malu sama wajah kamu)" jawab Dafi.
"Serius ki Mas, resep e opo Mas, duwe bojo (punya istri) sing top markotop, Mba Qeena kui perfect ... ayu, sholeha, manutan" beber Fahmi.
"Jodoh" jawab Dafi singkat.
"Mbok aku di jodoh ke Mas, ono stock e maneh sing sewelas rolas karo Mba Qeena (ada stok lagi ga yang sebelas duabelas kaya Qeena)" ucap Fahami serius.
"Limited edition" jawab Dafi lagi.
🌺
Dafi dan Qeena bermalam disana, malam ini mereka banyak dapat pencerahan batin. Terutama mengenai anak. Qeena yang selama ini merasa tertekan karena merasa ga bisa memberikan anak ke Dafi, mulai mencair, banyak kisah yang pasangan ini ceritakan. Termasuk latar belakang Bu Fia. Jadinya Qeena pun paham, nasib Bu Fia lebih buruk dari nasibnya dulu. Bagaimana dulu keluarga besar Pak Dzul menentang keras pernikahan Pak Dzul dan Bu Fia, karena ga jelas bibit bebet bobot nya, tapi berjalannya waktu, Pak Dzul mampu merubah banyak Bu Fia, walaupun masih banyak minusnya. Hanya orang tua Pak Dzul yang setuju.
Dikeluarga besar Pak Dzul pun hanya mereka yang langsung punya anak dan jumlahnya banyak, yang lain lama menanti baru dapat anak. Jadi hal yang lumrah kalo di keluarga besar Pak Dzul ada pasangan yang masih belum kunjung hamil walaupun sudah lama menikah.
Didalam kamar tamu, Dafi dan Qeena istirahat karena besok akan lanjut ke Wonogiri. Bu Fia menelpon Qeena. Dafi yang angkat karena Qeena lagi ke kamar mandi. Berbincang sedikit tentang perjalanan mereka.
"Qeena.. Bunda minta maaf ya kalo kamu terasa hati. Ga ada niat Bunda mencibir bahkan membebani kamu biar cepat hamil" buka Bu Fia penuh sesal.
"Bunda berdo'a kalian secepatnya diberi kepercayaan. Bunda lebih perhatian ke Alifa bukan karena ga sayang sama kamu. Tapi kamu tau sendiri kan kalo Fajar tuh ga sesabar Mas Dafi. Bunda khawatir aja Alifa ga dipenuhi keinginannya bahkan dicuekin. Makanya Bunda bikinin yang dia mau. Kalo Mas Dafi mah Bunda yakin, dia bakalan perhatian dan sabar. Bunda sayang sama kamu Qeena. Bunda ga beda-bedain mantu sama anak, semua sama. Tapi Bunda cuma manusia biasa kan, yang pastinya punya khilaf sama omongan" sesal Bu Fia.
"Gapapa Bun, ga perlu sampe minta maaf, Qeena malah yang harusnya minta maaf ke Bunda karena udah jarang ngobrol. Sifat Qeena masih childish kali ya Bun, jadinya masih gampang baper. Tapi sekarang udah lebih baik kok. Jalan berdua sama Mas Dafi, mulai napak tilas dari kecil. Terus ketemu Paklek dan bulek, Alhamdulillah banyak petuah yang Qeena dapat. Berlibur sama Mas berdua juga makin mempererat rasa cinta diantara kita. Do'akan aja ya Bun.. kami berdua bisa lebih kuat menghadapi cobaan rumah tangga" pinta Qeena.
"Aamiin ya rabbal'alamin" jawab Bu Fia.
Lumayan lama mereka ngobrol ditelepon, kalo bukan karena Dafi yang berdehem berkali-kali, mungkin keduanya masih asyik ngobrol aja.
🍒
Posisi Dafi yang berada diantara Ibu dan Istri kadang membuat dilema. Bagaimana dia harus pandai-pandai mendamaikan keduanya agar ga menjadi masalah yang berlarut-larut, Dafi sudah menasehati Qeena dan sudah sharing sama Bu Fia juga. Tapi Dafi ga mau terkesan membela salah satunya, jadi cara terbaik adalah bagaimana keduanya merubah sikap satu sama lain. Bu Fia rupanya luluh juga sama perkataan Dafi, dan Qeena pun tampaknya sudah legowo. Apa yang Qeena punya hari ini jauh dari ekspektasinya dulu. Saat menikah Qeena sadar kalo Bu Fia bisa menjadi orang yang paling ga bisa menerimanya, tapi seiring waktu Bu Fia berubah dan sayang sama dia.
Saat dulu Qeena menetapkan hati buat Damar, dia malah menikah sama Dafi yang hanya dianggap seorang kakak. Tapi bersama Dafi banyak yang ia dapatkan, selain materi yang lebih dari cukup, perhatian dan cinta yang tumpah ruah, Dafi adalah sosok family man yang selalu hadir buat keluarga dan ga membedakan baik keluarga Qeena maupun keluarganya sendiri. Semua pasti dia bantu sesuai sama kemampuannya. Intinya dia lebih senang membantu keluarga yang masih mau usaha buat kerja.
🌺
Sesampainya di Wonogiri, Qeena tambah takjub, rumah Mbahnya udah bagus, dulu berdinding anyaman bambu sekarang sudah tembok batu bata. Lantainya pun sudah berubin, dulu masih peluran semen aja. Sebagian halaman dibangun rumah buat kakak-kakaknya Mak Nuha. Bagian samping lagi dibuat kedai bakso yang dulu pernah ada dan diperbaiki tempatnya.
Terakhir pulang kampung saat menikah, kondisinya belum seperti sekarang. Keluarga Mak Nuha menyambut mereka dengan baik. Bahkan Mbahnya bilang kalo sekarang sawahnya udah bertambah luasnya.
Qeena tau kalo dulu Dafi membeli dua petak sawah yang ga terlalu besar. Tapi sekarang katanya punya sampe sekitar tiga ratus meteran. Ternyata, kalo ada orang yang butuh uang, Mbah menginfokan ke Dafi buat nawarin sawah, kalo ada uang biasanya Dafi mau dan ambil sedikit-sedikit. Untuk itu semua memang Dafi harus super ngirit.
Tapi herannya ketika dia ngirit demi membantu keluarga Mak Nuha, malah akan diganti lagi sama Allah yang jauh lebih banyak. Ketika dia jual mobil yang biasa buat disewakan untuk bantu usaha Baksonya Mak Nuha, malah dia dapat undian mobil dari salah satu Bank, jadinya tetap aja dia punya mobil juga buat disewakan.
__ADS_1
Rencananya nanti ada kakaknya Mak Nuha yang akan usaha jual bibit dan pupuk serta peralatan bertani. Tapi untuk usaha yang ini, Dafi akan bagi hasil, kalo sawahnya Dafi hanya kepemilikan aja (sudah diatasnamakan Qeena) dia ga mau menikmati hasilnya karena buat kehidupan keluarga di Wonogiri.
"Jadi Mas semua yang bikin rumah jadi kaya gini?" tanya Qeena.
"Ya begitulah, tapi sekarang Mas cuma punya satu mobil sewa aja. Usaha jual beli mobil bekas juga belum banyak hasil, namanya jualan mobil ya, belum tentu ada yang beli sebulan sekali. Pokoknya jangan curiga kalo Mas dapat uang diluar gaji terus ga dikasih ke kamu, karena biasanya ya buat investasi lagi" jelas Dafi.
"Kok Mas PNS bisa punya banyak aset ya? ga korupsi kan?" selidik Qeena.
"Amit-amit deh. Mas tuh dari jaman jadi mahasiswa udah ikut project, bahkan sering ikut project perusahaan asing. Tau kan dibayar pake dollar, nah uangnya dibikin usaha jual beli mobil bekas. Dulu mah booming tuh dapat harga murah karena mobil cepat keluar model baru, Mas rapihin terus biasanya ditawarin ke karyawan kampus atau teman kerja Ayah. Alhamdulillah dapat untung dari situ mulai bikin kontrakan join sama Ayah. Alhamdulillah berkembang juga, terus beli lagi rumah buat disewain, begitu aja terus" jelas Dafi.
"Pasti Mas ngirit banget ya hidupnya?" ujar Qeena.
"Kayanya lebih ke super ngirit. Mas ga beli jam tangan mahal, tas ga branded, sepatu kerja merek lokal. Jarang makan di restoran, ya paling warteg aja. Ga ada biaya khusus hangout kaya buat ke Mall atau tempat wisata. Biasanya kalo ke tempat wisata yang masih gratis. Dulu teman Mas suka ngatain, tapi ya gapapa lah, toh sekarang Mas udah bisa nikmatin hasil dari yang Mas upayakan sepuluh tahun yang lalu" papar Dafi.
"Pinter tuh muter uangnya" sahut Qeena.
"Dulu kan masih bujangan, paling kasih Bunda sama adik-adik aja buat jajan. Mas jarang belanja sih ya, jadi duit utuh. Ya kadang gaji ga kemakan karena dapat uang lemburan, dapat uang kontrakan atau SPJ keluar kota. Terus Ayah yang ajarin main saham, itu dulu sempat dapat untung sampe dua ratus persen, tapi begitu dapat untung Mas ambil semua saham karena merasa ga sreg main saham. Akhirnya uang itu buat bangun rumah masa depan yang sekarang kita tempatin" jelas Dafi.
"Mas kok ga malu .. maaf ya Mas.. orang tau kalo Mas ini anaknya seorang pejabat eselon, karier Mas juga bagus dan selalu ketemu sama orang-orang yang punya kedudukanlah, bukannya first impression itu penting? Sekarang kalo penampilan Mas katro kan penilaian orang bisa jelek" ungkap Qeena penasaran.
"Kamu sama aja ya nilai orang dari apa yang dipakai atau melekat ditubuh kita" ledek Dafi.
"Ya Mas taulah maksud Qeena apa" jawab Qeena.
"I know ... tapi kalo Mas tuh selalu berpikir jangan orang menilai Mas dari apa yang Mas pakai, tapi first impressionnya Mas itu punya nilai lebih yang bisa diberikan untuk pekerjaan Mas. It's work" kata Dafi dengan pedenya.
"Sweet banget deh kalo Mas ngomong. Tapi sset Mas habis karena keluarga besar Qeena ya?" ucap Qeena sedih.
"Kata siapa habis? Ga habis tapi berubah bentuk. Berubah jadi rumah Mbah, jadi sawah, jadi usaha bakso dan yang akan datang berubah jadi pelengkapan tani. Kita keluarga Neng, ga ada tuh yang namanya keluarga istri atau keluarga suami, yang ada keluarga kita. Tapi selepas ini semua Mas serahin ke kamu. Rumah, sawah, mobil yang Mas punya akan diubah ke nama kamu semua. Sekarang baru sawah dan mobil yang atas nama kamu. Rumah nanti ya menyusul" kata Dafi.
"Mas ikhlas ngelakuin hal itu?" tanya Qeena.
"Insyaa Allah ikhlas pake banget. Banyak-banyak simpen aset buat apa juga Neng, asal kita cukup buat jalanin hidup aja udah lah, nanti malah berat pertanyaan di akhirat. Coba bayangin deh, kalo ditanya ... kamu punya harta buat apa? Lah kalo udah kaya gini kan jawabnya udah jelas.. ya Allah.. semua udah saya kasih istri saya, tanya sama dia aja ya .. hehehe" ujar Dafi santai.
Kadang Dafi memang ajaib kalo punya jawaban, selalu ada yang berbobot tapi dibalut dalam obrolan yang ringan.
"Ih Mas curanggg" protes Qeena.
"Curang dimananya? hehehe. Ya kan kalo udah atas nama kamu berarti di akhirat kamu yang ditanya" jawab Dafi.
"Bener begitu Mas?" tanya Qeena serius.
"Ya ga tau juga sih, ya pasti tiap-tiap kita akan ditanya Neng. Tapi sebenarnya tuh tujuan atas nama kamu, biar Mas ga punya pikiran macam-macam dan percaya kalo kamu bisa jaga apa yang Mas punya" kata Dafi.
"You're so perfect" puji Qeena
"No... Allah is perfect. Kyai di Pondok tuh selalu kasih wejangan. Hidup itu harus memberikan sebanyak-banyaknya manfaat buat ummat. Kita memang dianjurkan untuk mencari harta, bukan buat bersenang-senang di dunia, tapi untuk kemaslahatan ummat. Bukankah amal, shodaqoh, membangun Masjid, membangun pesantren semua butuh uang? Memang do'a harus, tapi ikhtiar kita sebagai manusia berjuang lewat harta pun harus. Ga ada kan Masjid yang langsung berdiri tanpa uang? Nantinya malah bisnis jual beli mobil milik Mas akan diserahkan ke pondok pesantren tempat Mas nyantri dulu. Biar mereka belajar jadi pengusaha" kata Dafi bahagia.
Qeena makin takjub sama Dafi.
"Kita akan ke Pesantren Mas juga?" tanya Qeena.
__ADS_1
"Rahasia dong... Pokoknya nikmati aja perjalanan honeymoon kita ini" jawab Dafi.