ROTI BAKAR

ROTI BAKAR
* Slice 27, Luka itu


__ADS_3

Ga semua anak dapat merasakan kasih sayang dan kehangatan keluarga secara utuh. Bisa karena kematian, perceraian dan pernikahan baru kedua orangtuanyalah yang kadang membuat semua terjadi.


Sempat Nuha berpikir, apakah Qeena yang kehilangan kasih sayang dan kehangatan keluarga utuh, kelak dapat menjadi orangtua (Ibu) yang penuh kasih sayang dan dapat menciptakan kehangatan keluarga. Karena Nuha terkadang merasa ga mampu juga membesarkan Qeena seorang diri. Namanya anak sekolah kadang ada aja masalahnya, ingin rasanya Nuha berbagi cerita, tapi mau cerita sama siapa? pasangan ga ada, kalo cerita ke orang tua rasanya ga elok, apalagi mau berbagi sama Qeena, sesuatu yang ga mungkin. Nuha merasa belum menjadi Ibu yang baik karena belum bisa kasih yang terbaik buat Qeena, selama Qeena disampingnya, Nuha hanya bisa berbagi kesedihan dan kekurangan aja.


Nuha bukanlah seorang yang tegas, lebih banyak mengalah dan diam kalo ditindas. Mau ga mau Qeena pun besar dengan sifat yang hampir sama kaya Nuha.


Qeena adalah anak yang memiliki jiwa hampa dan gersang. Kondisi dan suasana "broken home" memang menjadi pemicu semangatnya untuk merubah nasib jadi lebih besar. Tapi apalah daya, dia masih belum bisa membantu untuk merubah nasib, sekecil ini pun dia sudah ikut memikirkan besok bisa makan atau bisa sekolah atau ngga.


Qeena selalu tekun dan rajin belajar di sekolah. Dengan segala keterbatasan fasilitas penunjang pendidikan, dia ga putus asa. Ga punya buku paket diluar jatah sekolah, oleh karena itu dia menyalin dari buku temannya. Padahal kalo mau mudah tinggal difotocopy, tapi ga mungkin baginya minta uang lebih ke Nuha, buat jajan aja belum tentu tiap hari dapat. Selain itu, Qeena mengikuti Nuha yang melaksanakan laku prihatin dengan puasa Senin - Kamis (awalnya demi irit jatah makan, tapi malah jadi kebiasaan), dia juga menjalankan sholat wajib dan sunnah malam agar Allah mempercepat buat merubah nasibnya. Walaupun semua tampak miris, Qeena selalu mencoba bahagia dipuing-puing terpaan hidupnya.


Ilmu parenting yang Nuha dapat hanya dari membaca buku yang dipinjam dari Bu Guru TK dan nasehat dari orang-orang yang sudah berpengalaman mendidik anak. Nuha sadar dia adalah Ibu yang menjadi pendidik utama dan pertama bagi anaknya dalam menanamkan kebiasaan, prinsip beragama, sopan santun, etika, kasih sayang, jiwa sosial, toleransi, tolong menolong dan menghargai pendapat.


Ketika dulu masih intensif ngobrol sama Pak Dzul, Nuha juga mendapatkan ilmu tambahan. Pandangan Pak Dzul tentang bagaimana orang tua menjadi figur utama bagi anak-anaknya, anak akan selalu mencontoh apapun yang dilakukan oleh orang tua. Walau ada masa yang terlewat karena karier, ketika berkumpul maka harus menjalin komunikasi yang efektif, menanamkan disiplin, mengenalkan agama, etika, sopan santun dan kebiasaan positif lainnya. Makanya dalam kondisi sesibuk apapun, Pak Dzul pasti meluangkan waktu buat anak-anak, karena anak ga seharusnya mendapat sisa waktu ketika orangtua sudah cape dari tempat kerja. Sangat ga bijaksana orang tua sibuk diluar rumah, anak-anak diserahkan ke pengasuhnya aja.


Inilah yang membuat Pak Dzul nyaman berbincang sama Nuha. Tipe Pak Dzul dengan pemikirannya yang dewasa dan berwawasan luas hanya ingin didengar dan Nuha dengan banyak keterbatasan mendapatkan banyak pencerahan.


Malah Pak Dzul pernah menjodohkan Nuha sama temannya, tapi Nuha menolak. Beberapa kali Pak Dzul mencoba lagi mengenalkan Nuha sama rekannya yang di Kalimantan. Tapi Nuha masih sama aja jawabannya.

__ADS_1


Pa Dzul dulu sampe menghubungi Nuha lewat telepon, menjelaskan tentang calon yang akan dikenalkannya. Ini sudah untuk yang kesekian kalinya Pak Dzul berniat mengenalkan calon pendamping buat Nuha. Tapi jawaban Nuha pun selalu itu-itu aja. Seakan dia sudah mati rasa sama yang namanya laki-laki. Pernah suatu hari dengan tegas Nuha memasang blokade agar Pak Dzul tidak menjodohkannya dengan siapapun.


"Saya udah pernah merasakan jatuh cinta. Mencintai dan dicintai, diperlakukan bak putri, merasakan kasih sayang dari pria yang saya anggap hebat. Saya juga mendapatkan mertua yang baik. Bersama suami, saya sudah pernah merangkai cerita indah dengan tujuan nantinya bisa bersama di dunia dan kelak juga sesyurga ... tapi rumah tangga yang kita jalani ga seindah skenario manusia. Orang yang saya cintai justru jadi orang yang paling menyakiti hati saya, orang yang harusnya bisa melindungi malah jadi orang yang kejam mengiris perasaan, orang yang harusnya jadi ladang pahala buat saya ... nyatanya menciptakan neraka siksaan batin tanpa jeda. Ketika saya meninggalkan rumah, kemudian atas bantuan Mas Dzul buat menggugat cerai di Pengadilan Agama, saat itu saya sudah bersumpah akan menutup hati dan pikiran saya dari laki-laki. Saya sudah ga mau disakiti lagi, sudah merasa nyaman hidup berdua dengan Qeena. Toh semua keluarga saya bisa menerima saya apa adanya. Seperti kata Mak Leha dulu ... hidup seperti roti bakar, walaupun mengalami proses yang menyiksa, pada akhirnya bisa punya nilai lebih tinggi dan lebih enak untuk dinikmati. Tugas saya sekarang membesarkan Qeena dan mengawalnya menemukan imam yang baik buat dia, jangan sampe salah pilih seperti saya. Jadi dengan serangkaian kisah hidup saya, cukup kan buat Mas Dzul berhenti menjodohkan saya dengan lelaki manapun" kata Nuha ke Pak Dzul berkali-kali setiap akan dijodohkan.


"Kegagalan bukan suatu hal yang manusia rencanakan Nuha ... tapi dengan kegagalan harusnya manusia bisa belajar. Itulah kenapa Allah menulis garis hidup kamu seperti itu. Allah yakin kamu mampu belajar dari sana. Kenapa ga mencoba membuka hati lagi? Toh lelaki yang saya kenalkan ke kamu bukan orang sembarangan, saya tau bagaimana orangnya. Qeena juga butuh sosok seorang Ayah yang bisa mengajarinya buat tegas dan lebih berani menjalani hidup. Kasih sayang seorang Ibu akan berbeda sama seorang Ayah. Apa kamu ga kasian sama Qeena? kalian juga ga bisa selamanya seperti ini, kalian berdua perlu dilindungi, diayomi dan ga perlu sekeras ini berjuang mencari nafkah" nasehat Pak Dzul saat itu.


"Ya .. saya paham maksudnya Mas, tapi saya udah ga berniat membangun rumah tangga baru. Saya pun udah tua, udah tiga puluh dua tahun, apa lagi yang saya cari Mas? Saya udah punya Qeena, kan kalo orang menerima saya itu harus sepaket sama Qeena. Belum tentu orang bisa menerima kami secara sepaket. Biarlah kami begini Mas, luka ini masih belum sembuh, masih terasa sakitnya. Trauma yang saya alami cukup membekas, sampe kering sudah air mata rasanya menangisi masa lalu. Qeena mungkin perlu kasih sayang seorang Ayah, makanya saya sedang belajar menjadi Ayahnya juga" ungkap Nuha.


"Tapi kamu ga boleh melawan takdir Allah, kelak kalo Allah masih kasih jodoh ya harus kamu terima. Mas ga maksa kok Nuha ... jalani aja hidupmu dengan bahagia. Mas do'akan kamu dan Qeena bisa lebih baik nantinya di Wonogiri. Kalo butuh bantuan, jangan sungkan buat hubungi saya atau Fajar. Kita udah kaya saudara, saat saya butuh dukungan dan tenaga, kamu ada digarda paling depan. Makanya saya pun akan menjadi garda terdepan kamu dan Qeena" ucap Pak Dzul.


Pak Dzul memang ga mau memaksakan kehendaknya pada Nuha lagi, semua sudah dibicarakan dulu. Nuha udah seperti adiknya sendiri, jadi tugasnya hanya membimbing tanpa mendikte hidup Nuha. Toh Nuha sudah semakin dewasa seiring perjalanan hidupnya.


Entah kenapa setiap usaha yang awalnya lancar-lancar aja, kalo udah dipegang Nuha pasti langsung sepi bahkan tutup. Nuha juga ga paham sama hal tersebut, dia udah coba mengikuti resep dari Ibunya, dia juga ramah sama pembeli. Kali ini isu bakso tikus yang jadi penyebabnya. Ada memang oknum di daerah sana yang melakukan praktek nakal seperti itu. Tapi kalo Nuha ga ikut-ikutan, dia lebih memilih mencampur daging ayam buat campuran daging sapi buat adonan bakso ketimbang berbuat curang.


Kakak-kakaknya, menyalahkan Nuha karena warung bakso jadi sepi dan bisa dibilang akan tutup.


Akhirnya mau ga mau, Nuha ikut bertani sama Bapaknya. Ibunya hanya di rumah aja karena penyakit asam urat, yang membuatnya susah buat beraktivitas di sawah. Sawahnya pun milik orang lain, Bapaknya Nuha hanya menggarap dengan sistem bagi hasil. Terkadang kalo libur sekolah, Qeena pun ikut ke sawah. Mencabut tanaman liar yang mengganggu pertumbuhan padi.

__ADS_1


Qeena dan Fajar masih berhubungan baik lewat telepon. Awal-awal Qeena baru pindah, hampir tiap hari mereka saling chat, lama kelamaan intensitasnya berkurang karena kesibukan Fajar dan Qeena sekolah. Fajar memang rutin mengisi paket data dan pulsa buat Qeena.


Sekarang sepulang sekolah, Qeena membantu jaga warung ga jauh dari rumahnya. Nuha sudah melarang Qeena cari uang, tapi Qeena tetep pada pendiriannya, ga mau berpangku tangan melihat kondisi seperti ini.


Qeena dan Nuha mengalah dengan makan nasi hanya sekali sehari, mendahulukan kedua orang tuanya bisa makan lebih banyak. Ga ada penghasilan lain selain bertani. Di desa memang ga banyak pekerjaan yang tersedia. Sebagai tambahan, Nuha mencoba membuat roti manis yang dibawa Qeena ke sekolah buat dijual ke temannya. Tapi kultur daerah yang merasa belum kenyang kalo hanya makan roti, kebanyakan akhirnya memilih jajan bakso dan mie ayam dari pada membeli roti.


"Kamu ga malu Qeena .. kalo ke sekolah bawa roti?" tanya Nuha saat itu.


"Gapapa Mak ... yang penting halal. Kasian Mbah Uti sama Mbah Akung, udah sakit-sakitan masih aja kerja di sawah . Nanti Qeena sekolah sampai SMP aja ya Mak. Kalo udah lulus, mau ikut kerja di pabrik, teman-teman bilang orang sini banyak kaya gitu, cuma sampe SMP" jelas Qeena.


"Bukannya harus SMA atau SMK kalo kerja di pabrik?" tanya Nuha.


"Bisa Mak .. jadi buruh kasar di pabrik tekstil. Tugasnya ya buang benang sama pasang kancing aja" jawab Qeena.


"Sekolah aja dululah Qeena, nanti Mak cari uangnya. Kamu harus maju, biar nanti orang ga ngerendahin kamu. Emak aja tamatan SMA, masa kamu anak jaman sekarang cuma tamatan SMP" nasehat Nuha.


"Tapi Mak ... mana tega Qeena liat Emak kerja di sawah, belum malamnya bikin roti buat titip ke warung, kalo laku semua, kalo ngga kan Emak impas aja jualannya. Uang hasil dari jaga warung udah Qeena kumpulin Mak. Nanti kelas dua SMP, ada study tour ke Jakarta. Liat Monas, TMII sama planetarium. Qeena mau ikut Mak, selama kita tinggal disana Qeena belum pernah ke tempat itu, baru ragunan aja dulu diajak sama tetangga" jelas Qeena.

__ADS_1


"Terserah kamu aja Qeena, oh ya gimana kabar Rian? lama ga dengar perkembangannya" tanya Nuha.


__ADS_2