
Zahwa ditemani Bapaknya ketika menemui Dafi. Secara gentleman, Dafi meminta maaf atas segala yang terjadi.
"Kok bisa Mas khianatin Zahwa kaya gini" ucap Zahwa dengan marah.
"Semua terjadi diluar nalar kalo menurut Mas, tapi Mas ga punya bukti yang kuat buat membuktikan kalo Mas sama sekali ga tau kenapa bisa tidur bersama Qeena malam itu" ujar Dafi.
"Qeena? kok ga asing ya namanya. Kayanya pernah dengar dari Mas Dafi deh" tanya Zahwa.
"Qeena .. anak asuhnya Ayah" jawab Dafi.
"Kalo ga salah bukannya Fajar yang suka sama dia ya?" kata Zahwa meyakinkan.
"Ya .. " jawab Dafi lagi.
"Kok bisa malah Mas yang kejebak? mungkin ga sih Qeena mau jebak Fajar tapi malah salah sasaran ke Mas karena Fajar lagi ga ada di rumah?" selidik Zahwa.
"Kalo Qeena berbuat itu kayanya ga mungkin, lagi dia udah dua tahun lebih menghilang dari keluarga kami. Datang hari itu karena melihat medsosnya Fajar tentang kematian Nenek. Qeena itu sangat dekat sama Nenek, udah kaya cucunya sendiri" cerita Dafi.
"Apa motifnya coba sampe ada kejadian kaya gitu. Kok ya serba pas. Pas dia datang kembali ke rumah, pas juga Mas balik, lagian Mas bukannya langsung ke rumah Tante malah ke rumah .. jadi kan kejadian" sahut Zahwa.
"Siapa yang bakal tau sih kedepannya ada kejadian apa. Makanya Mas ketika datang kesini udah berniat akan cerita dan mencari solusi, tapi kamu pun mengalami pukulan yang berat akan kematian Ibu. Mas jadinya serba salah. Banyak pertimbangannya saat itu. Pada akhirnya Mas memutuskan buat melepaskan kamu. Karena itu adil buat kamu. Mas ga bisa menjamin apa malam itu Mas melakukannya atau ngga sama Qeena, semua diluar kesadaran Mas" lanjut Dafi.
"Mas nikahi karena takut dia hamil? kalo hamil juga yakin itu anak Mas? ini sih ada motif lain pastinya. Sekarang Mas bayangin deh, dua tahun ngilang tiba-tiba datang, pasti ada udang dibalik batu. Bisa jadi kan dia udah hamil dan akan menimpakan ke Fajar biar ada yang tanggung jawab" papar Zahwa.
"Astaghfirullahaladzim... Mas cukup mengenal Qeena seperti apa. Dia sangat menjaga pergaulannya" bela Dafi.
"Mas ... apa Mas yakin dua tahun menghilang dia ga berubah? masih seperti yang Mas kenal sebelumnya? manusia selalu bisa berubah Mas, apalagi kalo kondisi terdesak .. semua cara bisa dihalalkan" ujar Zahwa.
"Maaf ya Za .. wanita yang sekarang kamu hina itu adalah istri saya, sebagai seorang suami, saya pasti membelanya. Karena harga dirinya adalah harga diri saya juga" jawab Dafi yang mulai ga suka dengan pemikirannya Zahwa.
"Atau emang Mas aja yang udah mendua selama ini, secara diam-diam dibelakang Za Mas main mata sama dia" duga Zahwa.
"Kalo Mas mau mendua, mungkin udah sejak lama bisa Mas lakukan. Buat apa cepat-cepat ingin nikah muda kalo masih ngelirik yang lain. Intinya Mas udah menikahi Qeena, apapun alasannya pernikahan kami itu sudah takdir dari Allah. Ya benar pernikahan itu mungkin ada unsur paksaan, tapi kalo Mas ingat-ingat, almarhumah Nenek sampe dua kali meminta Mas menikahi Qeena agar dia bisa merasakan kasih sayang keluarga utuh, Mas memang dua kali menolak permintaan tersebut. Tapi dengan kejadian malam itu, seperti sebuah permintaan Nenek yang terkabul tapi dengan cara yang ga baik. Sekarang Mas meminta waktu untuk bertemu hanya untuk bilang minta maaf atas segala hal. Kita sudah merencanakan semua dengan baik tapi takdir berkata lain. Mas do'akan kamu mendapatkan pasangan yang lebih baik lagi dari Mas, yang bisa membahagiakan kamu dengan caranya sendiri. Saya juga meminta maaf ke keluarga besar ya Pak .. mohon disampaikan permintaan maaf dari saya. Tidak ada niat sedikitpun untuk mempermainkan Zahwa" ungkap Dafi.
"Ya .. Bapak paham. Sekarang kalian harus bisa saling legowo. Zahwa legowo kalo ternyata Dafi bukan takdirnya, demikian pula sebaliknya. Kalian harus sama-sama cepat move on. Apalagi Mas Dafi ini kan sudah punya istri, mungkin perlu segera mendaftarkan ke negara pernikahannya. Sama seperti Zahwa, mungkin diusia yang masih muda perlu banyak hal yang bisa dikejar. Zahwa kan masih lulusan D3, ga ada salahnya kuliah lagi ambil S1 atau mengembangkan karier dulu yang puas sebelum menikah. Menikah itu kan ga hanya sekedar hidup bersama, bukan sekedar i love you and you love me, banyak kewajiban dan hak yang harus dipenuhi didalamnya. Jujur sebagai orang tua ya sedih dan kecewa, tapi Bapak yakin ada hikmah dibalik ini semua. Mungkin kalo kalian bersama kedepannya akan ga baik buat kalian juga" nasehat Bapaknya Zahwa.
"Terimakasih sudah memahami saya, ga ada lagi yang saya bisa ucap selain minta maaf" jawab Dafi.
"Enak amat minta maaf karena membatalkan pernikahan. Saya manusia Mas yang punya hati dan perasaan. Harusnya Mas mikir sebelum setuju menikah sama Qeena" ngotot Zahwa.
__ADS_1
"Iya .. dari sudut siapapun, Mas memang salah. Manusia juga tempatnya salah dan lupa kan? semoga Mas bisa membetulkan sesuatu yang orang anggap salah. Sekali lagi saya mohon maaf ga bisa melanjutkan hubungan kita" kata Dafi.
Zahwa marah dan meninggalkan restoran, Bapaknya langsung menyusul.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Dafi kembali ke kantor selepas makan siang. Dia dipanggil ke ruangan pimpinannya.
"Pak Danish, baru saja saya dapat email dari pusat. Untuk penugasan sementara akan diperbantukan di Jakarta selama dua bulan kedepan, baru nanti lanjut ke Semarang selama setahun. Karena ini data yang akan masuk sangat banyak, jadi memerlukan banyak analis" papar Kepala Kantornya.
"Baik Pak, Alhamdulillah kalo memang keputusannya seperti itu" jawab Dafi tersenyum.
"Selambatnya tiga hari lagi Pak Danish sudah harus ada di pusat. Enak ya jadi bisa dekat sama istri" ledek Kepala Kantornya.
"Alhamdulillah .. jadi bisa sambil persiapan menuju pendaftaran ke KUA, kan enak jadi bisa diurus bareng-bareng. Akhirnya saya bisa merasakan ramadhan bersama keluarga. Biasanya ramadhan banyakan diperantauan" jawab Dafi lagi.
"Apalagi tahun ini udah ada yang nemenin tidur ya ...eh salah .. nemenin sahur ... hehehe. Kenapa harus diam-diam sih Pak Danish, menikah itu kan sesuatu yang baik. Apa karena kemarin Neneknya meninggal jadi semua dipercepat? menikah didepan jenazah kah? sama Mba Zahwa kan ya nikahnya?" tanya Kepala Kantornya yang ikut saat Dafi ngelamar Zahwa.
"Bukan Pak, bukan sama dia, makanya saya keep silent dulu sambil menyelesaikan urusan sama Zahwa" jawab Dafi.
"Serius? wah... gimana perasaannya ya Pak Danish ... mau nikahnya sama siapa malah nikahnya sama siapa. Permintaan Nenek pastinya ya?" lanjut Kepala Kantornya.
"Iya salah satunya ..." jawab Dafi sambil tersenyum.
"Anggap aja sudah jodohnya Pak. Semua terjadi dengan cepat" jawab Dafi malas kasih alasan.
"Pantes pas balik kesini tuh auranya kaya aura manten anyar, ternyata benar-benar manten anyar. Cantik yang mana nih Pak Danish?" goda Kepala Kantornya.
"Sama siapa nih? sama istri Bapak? hehehe" balik Dafi.
"Ya sama Mba Zahwa lah. Kalo istri saya mah pasti cantik banget menurut saya" ujar Kepala Kantornya.
"Cantik relatif kan ya, seperti tadi Bapak bilang, istri Bapak ya cantik versi Bapak tapi kan belum tentu menurut lelaki lain" kata Dafi.
"Coba saya liat fotonya?" kata Kepala Kantornya.
"Saya belum simpan fotonya versi cantiknya Pak. Nanti saya video call dulu ya, biar kenalan sama Bapak" ucap Dafi yang kemudian memutar nomer HP Qeena.
Sebelumnya Dafi sudah meminta Qeena buat pakai jilbab dulu kalo belum pakai karena akan dikenalin ke atasannya. Dafi juga meminta Qeena untuk menjawab dengan sopan
__ADS_1
"Assalamualaikum .." sapa Dafi.
"Waalaikumsalam .. ada apa Mas?" tanya Qeena yang baru aja balik dari pasar buat beli bahan-bahan kue.
"Cape banget kayanya" ledek Dafi.
"Abis dari pasar Mas, buat pesanan besok. Hari ini mau bikin selai srikaya dulu. Alhamdulillah ada pesanan juga" jawab Qeena dengan nada yang coba dibuat ceria. Padahal dia jarang semanis ini sama Dafi.
"Ini atasan Mas mau kenalan sama kamu" kata Dafi sambil menyerahkan HP nya.
"Assalamualaikum Pak..." sapa Qeena duluan. Ga percuma dulu suka jadi MC, jadi bisa menyapa dengan baik.
'Waalaikumsalam Bu Danish, lagi sibuk sepertinya, maaf kalo mengganggu ya, salam kenal dari kami semua disini. Saya mewakili yang lain mengucapkan selamat menempuh hidup baru, semoga samawa till Jannah" jawab Kepala Kantornya.
"Iya Pak makasih do'anya .. mungkin kita belum ada kesempatan bersua, nanti kalo saya kesana atau ada yang ke Jakarta, bisa janjian ketemu" kata Qeena.
"Insyaa Allah ... Usaha ya Bu disana?" tanya Kepala Kantornya.
"Masih usaha skala rumah saja Pak, hanya terima by orderan jadi belum setiap hari" jelas Qeena merendah.
"Bagus itu Bu, semua usaha kan mulainya dari kecil. Baik Bu .. silahkan beraktivitas kembali, saya kembalikan HP nya ke Pak Danish ya" ucap Kepala Kantornya sambil mengembalikan HP nya Dafi.
"Besok jadi orderannya?" lanjut Dafi.
"Ya Mas" jawab Qeena.
"Jangan kecapean, pokoknya sesuai PO aja bikinnya, nanti Mas telpon lagi, Mas kerja dulu. Wassalamu'alaikum" ucap Dafi.
"Waalaikumsalam" jawab Qeena.
Dafi meletakkan HP nya di kantong bajunya.
"Beneran bidadari yang turun dari khayangan" puji Kepala Kantornya.
"Cantik aslinya malah Pak, itu abis dari pasar aja, masih keringetan" jawab Dafi sambil tersenyum.
"Pantes ga nolak ya Pak Danish, saya juga ga bakalan nolak kalo dipaksa nikah sama yang kaya gitu" kata Kepala kantornya.
"Saya kenal udah dari dia kecil Pak, dia anak asuh Ayah saya dan yang kenalin ke keluarga ya almarhumah Nenek" jelas Dafi.
__ADS_1
"Pantes ya kaya udah akrab, ya apapun itu, selamat menempuh hidup baru, semoga samawa. Kapan rencananya akan mengadakan resepsinya?" tanya Kepala Kantornya.
"Insyaa Allah jika ga ada halangan ya setelah lebaran, melanjutkan persiapan yang sudah berjalan, hanya mengubah nama pengantinnya aja" jawab Dafi.