ROTI BAKAR

ROTI BAKAR
* Slice 60, Bangkit


__ADS_3

Iyus dan Niar benar-benar dimabok asmara, sama-sama lupa daratan hingga kebablasan berkali-kali hanya untuk memuaskan ***** belaka. Mereka lupa kalo sudah melanggar perintah Agama.


Keesokan harinya baru mereka piknik ke Taman Safari seperti pasangan suami istri yang baru menikah, tangan ga pernah lepas. Walaupun banyak mata memandang seperti pasangan Ayah dan anak.


"Sayang ... jangan lupa minum pil KB nya setiap hari sampai kamu haid. Daripada kebobolan" ujar Iyus.


"Iya Mas .." jawab Niar.


"Bulan depan kalo ini ga bobol, Mas cari lagi tempat buat kita puas bercinta kaya kemarin ya" ajak Iyus sambil mengusap pipinya Niar.


"Mending nikah aja Mas" tembak Niar.


"Ga sabar mau tiap hari ya ..." ledek Iyus.


"Iyaaaa ..." jawab Niar malu.


"Sabar ya sayang ... Enyak lagi sakit keras butuh banyak biaya. Toh kalo kita bisa bercinta sebulan sekali kenapa harus nikah buru-buru. Sama aja kan sayang, nikah juga tujuannya buat tidur bareng. Tanpa nikah aja kita bisa enak-enak .. hehehehe" ujar Iyus sambil mencium pipinya Niar secepat kilat.


"Niar sayang Mas... " kata Niar sambil mencium tangan Iyus.


"Masa cium tangan doang sih" ledek Iyus.


"Emang kurang kemarin sama tadi pagi?" tanya Niar.


"Kurang sayang... " jawab Iyus dengan gaya manja.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Izma sudah mulai masuk sekolah, pencarian Qeena pun masih berlanjut. Izma masih saling bertukar kabar sama Damar.


Fajar makin uring-uringan sama kehilangannya Qeena. Bahkan dia sudah nekat pergi ke Wonogiri sendiri hanya untuk memastikan Mak Nuha dan Qeena ga ada disana.


Dafi sedang rehat di kamarnya, dia lagi terserang flu karena habis keluar kota selama tiga hari dan cuacanya kurang bagus.


Fajar masuk ke kamarnya Dafi, berniat buat curhat. Dia langsung merebahkan tubuhnya disebelah Dafi yang masih sibuk membersihkan sisa bersinnya pakai tissue.


"Mas ... hampir sebulan jejaknya Qeena ga keliatan. Kemana dia ya Mas ... Fajar kangen banget" ucap Fajar putus asa.


"Ya gimana lagi, kita udah nyari. Ayah juga ga bolehin lapor polisi karena nanti menyeret nama Ayah. Ya udah .. kita ikhlasin dan kita do'akan semoga semua baik-baik aja. Mas yakin kok kalo mereka itu akan kuat menghadapi apapun berdua. Selama ini juga begitu, Mak Nuha selalu bisa survive disegala kondisi. Mas kagum sama kekuatan Mak Nuha ... sabarnya menghadapi semua cobaan ini seorang diri. Sebagai single parent, pasti berat kan posisi Mak Nuha. Qeena pun tumbuh menjadi gadis kuat seperti Emaknya. Mereka akan saling bahu membahu buat bertahan hidup. Kepergian mereka seperti ini pasti ada alasannya. Kita ga perlu mencari tau apa alasannya, karena alasan itulah yang membuat mereka memilih cara ini" nasehat Dafi.


"Mas ga ngerasain kehilangan Qeena tuh kaya separuh nyawa ditarik keluar" ucap Fajar.

__ADS_1


"Anggaplah Qeena bukan jodoh kamu kalo kalian akan terpisah dan ga bisa bersatu. Kalo nanti jodoh juga akan ketemu lagi, Allah tau kapan waktunya yang tepat. Sekarang tugas kamu ya memantaskan diri buat mempersiapkan menjemput jodoh kamu" lanjut Dafi.


"Terus Mas sendiri sama Rahma gimana? bubar gitu aja? ajak dong Rahma ketemu sama dokternya Rian, buat nama baik Mas juga kan" kata Fajar.


"Mas udah ke rumahnya kemarin sebelum dinas. Tetap dia mau fokus menuntaskan studinya. Ratusan ribu orang berebut di kursi yang sekarang dia tempati kan .. jadi ya dia harus berjuang menuntaskannya dengan baik" jawab Dafi.


"Menyerah gitu aja Mas? ga gentle banget sih" ujar Fajar.


Dafi hanya tersenyum kecut mendengar ocehan sang adik. Baginya ga perlu keluarganya tau kalo penyebab utama Rahma ga melanjutkan hubungan karena ketidaksetujuan orang tua Rahma setelah melihat Dafi punya adik seperti Rian.


Tanpa sengaja Bapaknya Rahma melihat Dafi mengantarkan Rian terapi disalah satu Rumah Sakit. Bapaknya Rahma langsung menanyakan ke Rahma tentang hal tersebut. Rahma emang sudah diceritakan sama Dafi, walaupun belum pernah ketemu Rian.


Postingan Sania menjadi alasan untuk Rahma meminta putus dari Dafi. Tipe Dafi yang menghitung segala probabilitas pun akhirnya terjawab. Saat pertemuan empat hari yang lalu sama Rahma, cukup buat Dafi punya alasan kuat buat mundur tanpa harus menyimpan asa lagi.


"Maaf Kak .. Bapak hanya khawatir kalo nantinya keturunan kita akan seperti adiknya Kak Dafi. Soalnya sepupu Rahma pun ada yang seperti itu, kita punya gen pembawa yang sama, khawatir nanti gennya lebih dominan dan kita punya anak seperti itu kan malah repot" ujar Rahma terus terang.


"Keluarga Kakak ga ada yang seperti Rian. Tapi Allah menguji keluarga kami dengan menganugerahkan Rian ditengah-tengah kami. Dia bukan aib keluarga, menerima saya berarti juga menerima Rian sebagai adik. Terima kasih atas kejujuran kamu. Jadi Kakak tau alasan pastinya dan ga mau menyimpan asa lagi ke kamu" ucap Dafi sok tegar.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Sudah sebulan Mak Nuha dan Qeena ada di Ciloto. Semua berjalan dengan baik. Qeena yang biasa pergi dari rumah jam enam lewat dan baru kembali sebelum Maghrib, ga pernah mengeluh apapun, ini semua dilakukan demi mengumpulkan rupiah bersama Emaknya.


Keluarga Nuha di Wonogiri sudah dikabarin kalo Nuha baik-baik aja walaupun ga mau menyebutkan dimana mereka berada saat ini. Nuha juga memberikan nomer HP nya Qeena yang baru tapi meminta untuk dirahasiakan dari pihak manapun termasuk keluarga Pak Dzul.


Ahad pagi ini Qeena sedang gosok pakaian keluarga Aa' Zay (menggosok pakaian aja, kalo dalaman Erin dan Aa' Zay dilakukan sendiri oleh Erin) di belakang dapur, Qeena emang maunya disitu sejak awal karena adem dan khawatir timbul fitnah kalo tiba-tiba Aa' Zay masuk kedalam rumah.


Erin dan anak-anak lagi main di halaman belakang sama keluarganya Saino dan Agung. Anak-anak main tenda-tendaan yang dibelikan oleh Pak Shaka.


Aa' Zay yang baru pulang ambil ikan, meletakkan ikan di dapur. Nuha yang membersihkan, hari libur gini Nuha ga terima orderan roti dan selai.


Nuha lagi bantuin masak di rumah Aa' Zay karena adik-adiknya Aa' Zay akan datang kesini. Erin pun membantu Mak Nuha memasak. Valencia dan istrinya Saino lagi memberikan roti bakar dan susu buat anak-anak serta menjaga anak-anak.


Saino dan Agung lagi ngajak ngobrol Qeena. Aa' Zay ikut gabung dengan duduk dipintu dapur.


"A' .. Erin udah bilang ke Qeena buat ikut homeschooling kaya Erin dulu. Cuma dua tahun kok dan ga tiap hari belajarnya. Bisa online pula, offlinenya kalo ujian per tiga bulan, itu juga deket sini kok ujiannya. Ga akan ganggu kerjaan dia" buka Erin.


"Bagus idenya .. ya begitu aja Qeena ... sayang kamu masih usia sekolah tapi putus sekolah. Aa' liat juga kamu cerdas cara bicaranya dan problem solvingnya. Berkas-berkas klinik sekarang rapih. Pencatatan gudang pun jadi ada. Kamu juga sumeh sama semua orang yang datang ke Klinik. Jadi Aa' rasa kamu punya potensi kedepannya buat makin maju" tambah Aa' Zay.


"Nanti gw yang daftarin ya Jay ... kan dulu Erin gw yang daftarin. Kalo ujian mah tenang aja Qeena, nanti Mas Agung anterin ketempatnya" timpal Agung.


"Masss .... tolong ambilin popok dong di rumah, adik pup nih, tadi lupa bawa buat stok" potong Valencia yang cemburu kalo Agung mulai tebar pesona ke Qeena.

__ADS_1


Agung beranjak pulang ke rumahnya.


"Mas Agung mah gitu Qeena, ikatan suami takut istri" ujar Saino dengan suara yang kecil.


"Bang Sainoooo ... ini anaknya minta buah, tolong petikin tuh pepaya terus kupasin" pinta istrinya Saino yang sama juga cemburuan kaya Valencia.


"Samanya berdua mah ... takut bini" ujar Aa' Zay sambil ketawa-ketawa.


"Jangan kebanyakan ngemeng Mas Jay, kalo Mba Erin ngambek .. bisa rame dunia persilatan" ucap Saino sambil bergegas mendekati pohon pepaya buat metik buahnya.


Tinggal Aa' Zay yang ngobrol sama Qeena. Tapi Erin udah merhatiin aja dari arah dapur. Kalo berani genit, Erin udah pasang kuda-kuda.


"Gimana ... mau ga ikut homeschooling? nanti didaftarin sama Agung" tanya Aa' Zay lagi.


"Saya ga enak A' ... terlalu banyak bantuan keluarga ini buat saya dan Emak. Nanti saya kumpulkan uang dulu aja buat sekolah lagi" ujar Qeena.


"Siapa yang mau kasih gratis coba? adalah itung-itungannya" ucap Aa' Zay.


"Maksudnya gimana ya A' ? Qeena ga paham" tanya Qeena.


"Gaji kamu di Klinik akan dipotong seperempatnya buat bayar homeschooling selama dua tahun. Nah kalo urusan kamu bantu di rumah ini mah urusan istri saya ya, dibicarakan aja masalah waktu dan lainnya sama istri saya" ujar Aa' Zay.


Pak Shaka datang ke rumah Aa' Zay naik sepeda. Para cucu-cucu berlarian mendekati Pak Shaka. Biasanya Pak Shaka akan membawa cemilan anak-anak tiap kali datang, bahkan beliau juga membawakan buat anaknya Agung dan Saino yang udah kaya cucunya sendiri.


Semua bersalaman sama Pak Shaka. Terus Pak Shaka duduk di bangku dekat Qeena sedang menyetrika.


"Kayanya lagi ngobrol serius nih?" tanya Pak Shaka.


"Ngobrol ringan aja kok Yah, lagi nawarin Homeschooling buat Qeena" ujar Aa' Zay.


"Bagus tuh ... Erin juga dulu begitu, ambil ajalah Qeena. Sayang kamu putus sekolah" jawab Pak Shaka.


"Ya Pak ... saya juga masih mau sekolah" jawab Qeena sopan.


Erin keluar membawa sepiring roti bakar isi selai srikaya dan teh tawar untuk sang Ayah.


"Roti ini selalu bikin kangen ya ... seminggu di Jakarta ga ada yang kaya gini nih, rotinya lembut, buat orang tua kaya Ayah yang giginya udah ga bagus mah enak banget, ga ngelawan. Apalagi srikayanya ... harum, ga terlalu manis dan gurihnya itu loh ... beda sama buatan pabrik. Stok buat di rumah kemarin kan bawa lima toples, masa udah habis aja. Doyan semua orang rumah" cerita Pak Shaka.


"Yang bikin kangen rotinya apa yang buatnya Yah?" bisik Aa' Zay meledek.


Pak Shaka pun tersedak makan roti setelah candaannya Aa' Zay. Erin keluar dari dapur.

__ADS_1


"Pelan-pelan makannya Yah" ucap Erin sambil meletakkan tissue di meja.


"Makanya Yah .. gigitnya kecil-kecil aja. Jangan khawatir Zay ambil rotinya, nanti kalo rotinya habis kan bisa order lagi, tuh pembuatnya ada didalam ... hehehe" lanjut Aa' Zay yang membuat Pak Shaka melotot. Aa' Zay makin ketawa puas.


__ADS_2