ROTI BAKAR

ROTI BAKAR
* Slice 39, Pertemuan


__ADS_3

Qeena membawa nampan berisi sepiring nasi goreng, kopi dan air putih buat Iyus. Dia meletakkan nampan tersebut diatas meja teras.


"Pak ... silahkan sarapannya dimakan dulu" ucap Qeena dengan sopannya.


Iyus menghentikan mengelap kaca mobil. Dia terpana melihat kecantikan Qeena. Sebuah ciptaan Allah yang patut untuk dikagumi.


"Baru ya? Kayanya belum pernah liat ada disini" ucap Iyus membuka pembicaraan.


"Iya Pak ... saya baru datang kemarin" jawab Qeena.


"Kayanya masih kecil, kok udah kerja? Atau saudaranya Bu Fia?" tanya Iyus lagi.


"Bukan Pak .. saya kesini mau sekolah, dibiayain Om Dzul. Saya bukan saudara mereka" jawab Qeena menjelaskan.


"Namanya siapa? mukanya kok kaya ga asing kayanya" tanya Iyus.


"Nama saya Qeena Pak" jawab Qeena yang membuat Iyus agak kaget.


Qeena masih berdiri didekat meja teras.


"Qeena...." gumam Iyus hampir ga terdengar.


"Ada lagi yang mau diambilkan Pak?" tanya Qeena.


"Ga ... ga usah ... udah cukup" jawab Iyus.


Qeena pun pamit masuk ke rumah, dia mau menyelesaikan bebenah di dapur.


Iyus masih terdiam sambil melihat sosok Qeena hingga hilang dari pandangannya. Mukanya perpaduan muka Nuha dan Imah.


"Dia Fadhilla Shaqeena anak gw bukan ya? Wajahnya malah mirip kaya Nuha ... Tapi kenapa ga ada perasaan yang bergetar saat ngeliat dia ... ahhh cuma kesamaan nama aja kali ya..." tepis Iyus dalam batinnya.


Qeena lagi pakai sepatu dan duduk didepan kamarnya, mau bersiap ke sekolah, tapi masih terlalu pagi.


"Bapak yang didepan tadi kaya pernah liat ya, tapi dimana?" gumam Qeena dalam hati. Qeena masih berusaha keras mengingat, sambil memandang kearah kolam renang.


"Qeena ... sarapan dulu" ajak Fajar yang mengagetkan Qeena, hingga Qeena loncat dari duduknya.


"Astaghfirullah" jawab Qeena.


"Maaf ... maaf ... kaget ya"ujar Fajar.


"Iya ... kaget banget" jawab Qeena.


"Ngelamun apa sih pagi-pagi" goda Fajar.


"Ga ... nanti aja Qeena makannya, ga biasa sarapan" jawab Qeena.


"Mulailah diubah kebiasaan ga baiknya" nasehat Fajar.


"Mentang-mentang calon dokter ... udah pinter nasehatin" goda Qeena.


"Beneran ini, kan buat tenaga juga ...yuk sarapan" ajak Fajar lagi.


"Mas... bapak yang tadi didepan siapa ya?" tanya Qeena penasaran.

__ADS_1


"Yang lagi bersihin mobil?" tanya Fajar balik.


"Ya yang bersihin mobil" jawab Qeena.


"Supirnya Bunda .. Pak Iyus namanya.. kenapa? kenal?" jawab Fajar.


"Kaya pernah liat mukanya, tapi ga inget juga dimana kenalnya. Iyus ... Iyus .. kok rasanya familier banget namanya" kata Qeena.


"Beneran kenal?" ucap Fajar meyakinkan.


"Ga tau juga deh" ujar Qeena.


Bu Fia udah bersiap berangkat kerja, Dafi juga udah mau berangkat bawa mobil Pak Dzul.


"Mas ... Mas ... perlu banget ga hari ini pake mobil?" tanya Fajar ngejar Dafi.


"Perlu sih, nih liat banyak banget yang dibawa, mau ada presentasi jadi ga mungkin pake motor, banyak gini bawaan Mas" ucap Dafi.


"Oke deh .. pinjem motornya Mas aja deh" kata Fajar sambil mesem-mesem.


"Motor kamu kenapa?" tanya Dafi.


"Gapapa .. kan kerenan motor Mas yang baru, sporty gitu" jawab Fajar.


"Modus aja ... ga ada deh, biar bisa dipeluk ya sama Qeena ... sorry bro kebaca banget sih alasannya" ledek Dafi.


"Namanya juga usaha mas" kata Fajar mati kutu.


"Lagian repot-repot anterin, suruh naik ojol aja, belajar mandiri" kata Bu Fia.


"Kasian" jawab Fajar.


Kesepian dan kerinduan adalah hal yang akrab dirasakan oleh Qeena sebagai anak rantau. Diusia empat belas tahun, dia harus bisa menyelesaikan persoalannya sendiri. Qeena ga pernah menceritakan perlakuan Bu Fia terhadapnya ke Nuha. Bagi Qeena pasti akan menjadi kesedihan buat Emaknya kalo dikasih tau. Tekadnya sudah bulat, kepergian ke Jakarta tujuannya buat mengubah nasib keluarga.


Jauh dari orang tua adalah hal yang paling sulit dijalani karena ini kali pertama Nuha dan Qeena terpisah jauh. Dalam diam, Qeena punya mimpi yang sangat besar. Pastinya ada pengorbanan yang akan dilakukan, salah satunya menahan rindu pada Emaknya. Bila rindu mengetuk hati, kadang hanya tangis yang bisa dikeluarkan setiap malam.


Sudah dua bulan ini Qeena tinggal di rumah Pak Dzul, dia ga kunjung menempati kios karena penyewanya malah memperpanjang kontrak lagi. Padahal sudah ditolak sama Dafi, tapi tetep aja pedagang itu minta perpanjang waktu lagi mengingat dagangannya rame di kios itu.


Pak Dzul sebenarnya udah cape harus mendengar ocehan Bu Fia tentang Qeena, belum lagi Fajar yang benar-benar over protective terhadap Qeena sampe diantar setiap sekolah dan kalo dia ada waktu buat jemput pulang sekolah, maka akan dijemput.


Dafi pun juga udah mulai khawatir sama Rian yang tampak makin ga terkontrol syahwatnya ketika dekat dengan Qeena.


Sore hari, Pak Dzul, Dafi dan Fajar duduk di gazebo halaman depan, persis diatas kolam ikan. Qeena sedang membantu Mba Tinah nyiapin makan malam. Rian juga sedari tadi main di dapur. Bu Fia belum pulang kerja dan Izma asyik mendekam di kamarnya.


"Ayah perhatiin ada yang berbeda ga sama Rian? Udah dua kali ini Ayah ngeliat dia peluk dan cium tangan Qeena, semakin Qeena narik diri maka makin agresif, malah pernah sampe Qeena kena cakar" ungkap Pak Dzul.


"Anak begitu mana ngerti ***** sih Yah, dia pasti ga paham yang begituan" sahut Fajar.


"Mas juga udah pernah liat, ya paling tarik Riannya aja sih buat dialihkan. Biar gimana juga Rian itu kan lelaki yang udah baligh, pasti merasakan sensasi juga lah" jawab Dafi.


"Tau aja cewe cantik ya ... kayanya sama Mba Parti dia ga begitu" ungkap Fajar heran.


"Makanya Ayah heran, sama Izma atau Bunda juga biasa aja. Ini kayanya ada yang ga beres sama anak ini. Kaya ada input yang ga beres masuk ke otaknya. Terapi Rian sejauh ini gimana Mas perkembangannya? " tanya Pak Dzul.


"Alhamdulillah kata dokternya dan terapis, motoriknya Rian udah jauh berkembang. Megang gelas juga udah bisa bener dan ga asal banting. Ngomongnya emang belum jelas tapi udah bisa kita pahami arah pembicaraannya. Mulai bisa diajak bicara dua arah dan berani menatap kita selama berbicara. Sejak ditemani Qeena dia lebih kalem saat terapi" jelas Dafi.

__ADS_1


"Jadi apa rencana kita bisa dilanjutkan?" tanya Pak Dzul.


"Rencana apa Yah?" Fajar penasaran.


"Rencana menyatukan mereka" jawab Pak Dzul.


"Menyatukan gimana ya maksudnya?" makin Fajar ga paham arah pembicaraan Pak Dzul.


"Ayah punya rencana menikahkan mereka" jawab Pak Dzul santai.


"APPAAAA????" tanya Fajar kaget.


"Ada masalah?" jawab Pak Dzul.


"Ayah ...selama ini Fajar menilai Ayah adalah orang yang paling bijak, tapi kenapa begini Yah, berarti Qeena dibawa kesini untuk mengakrabkan diri sama Rian. Ayah mikir ga kalo Rian ini ada keistimewaan. Tega banget Ayah mau jadiin Qeena pendampingnya. Bukan ga sayang sama Rian, tapi ini semua benar-benar merugikan Qeena. Kalo tau rencana Ayah gitu, lebih baik dulu Fajar halangin niat Ayah nyekolahin Qeena disini" ucap Fajar sewot.


"Baiknya Ayah berpikir ulang. Rian ga paham hak dan kewajiban sebagai seorang suami. Qeena juga masih baru masuk SMA Yah, biarlah dia menikmati masa sekolahnya dulu, menuntaskan cita-cita dia dan keluarganya di kampung" tambah Dafi menengahi.


"Tapi nantinya Rian gimana? Ayah cuma khawatir kalo Ayah udah ga ada, Bunda kan ga perhatian sama Rian. Ngarepin kalian juga susah, kalo pendamping kalian bisa terima Rian, kalo ngga gimana? Terus Izma apalagi, kerjaannya mantengin film sama boyband yang cowonya kinyis-kinyis itu. Sekarang kalian punya solusi apa coba?" tantang Pak Dzul.


"Tapi Yah, ga gini juga lah. Intinya jangan sama Qeena" jawab Fajar.


"Karena kamu suka sama dia?" tanya Pak Dzul nembak Fajar.


"Ya .. malah Fajar ada rencana buat menjadikan dia istri. Bukan hanya itu Yah ... tapi kan ga fair buat Qeena kalo sama Rian, bukannya merendahkan Rian, tapi Rian masih belum bisa apa-apa sendiri. Qeena punya potensi besar, sayapnya sudah mulai mau mengembang, tega kita patahin sayapnya agar dia ga bisa terbang?" tanya Fajar berfilosofi.


"Qeenanya juga belum tentu mau kan Yah ... kebayang ga dia punya suami kaya Rian? Kenapa keistimewaan Rian harus bisa diterima Qeena, apa Rian juga paham akan tujuan Ayah biar Rian bisa ada yang urus?" Dafi kembali bersuara.


"Terus mau gimana lagi? kita ga punya pilihan" kata Pak Dzul.


"Bukan ga punya pilihan, tapi Ayah yang memaksakan" ujar Dafi yang mulai kesal sama ide Ayahnya.


Dafi masuk kedalam kamarnya. Merebahkan tubuhnya setelah lelah hati ini mulai kerja di sebuah kantor milik pemerintahan.


Baru aja dia mau berusaha memejamkan matanya. HP nya berbunyi. Ada nomer ga dikenal masuk. Dafi menerima panggilan tersebut.


"Assalamualaikum ... Kak... ini Rahma" sapa Rahma dari ujung sambungan telepon.


"Waalaikumsalam" jawab Dafi yang langsung duduk dan semangat. Suaranya Rahma halus sekali.


"Maaf ya udah sebulan baru hubungi Kakak. HP saya hilang, semua nomernya belum dibackup. Saya cari-cari Kak Dafi di kampus ga ketemu-ketemu. Di kampus juga ga ada yang kenal Kak Dafi. Sekalinya ada yang namanya Dafi malah bukan Kakak" cerita Rahma.


"Iya .. kalo di Kampus pake nama depan. kan ada di nametag kita" ucap Dafi.


"Nah pas Rahma tanya-tanya, ada yang rupanya bilang apa Kak Dafi yang dimaksud itu Kak Danish, ya akhirnya saya minta fotonya Kak Danish aja. Pas liat benar. Akhirnya saya minta nomer HP nya karena katanya Kakak udah lulus dan kerja" tambah Rahma.


"Iya" ucap Dafi.


"Saya mau balikin uangnya Kak, bisa saya transfer aja?" tanya Rahma.


"Gimana kalo kita ketemuan aja di kampus besok siang, kebetulan ada urusan kesana, jadi sekalian aja ketemu" saran Dafi.


"Boleh .. nanti janjian dimana ya Kak?" tanya Rahma lagi.


"Saya hubungin nanti dimananya ya" ujar Dafi.

__ADS_1


Sebenarnya Dafi ga ada urusan ke kampusnya, dia aja yang beralasan ke Rahma. Modus pengen ketemu lagi. Kebetulan aja besok dia ada tugas luar jadi waktunya bisa diatur.


Tujuan Dafi adalah meyakinkan hatinya lagi kalo dia udah menemukan wanita yang membuat hatinya bergetar.


__ADS_2